
Tidak ingin dikatai sebagai istri pecemburu, aku hanya mangut-mangut saja ketika sudah tahu berapa pin ponselnya. Ingin sekali mengobrak-abrik isi dalam gawai itu, tapi nanti saja, jika bang Yudha sudah terlelap mungkin.
Bang Yudha mendekat memangkas jarak antara kami. Ingin apa dia?
"Mama curiga? Abang nggak akan macam-macam, kok." Ternyata hanya ingin mengatakan itu.
Kata 'tidak akan macam-macam' membuat aku mengerutkan dahi, ada baiknya aku harus melupakan apa yang dilakukan bang Yudha kemarin dan berharap semua itu tidak akan terulang lagi.
"Wajar aja curiga, namanya cinta," balasku. Memang kenyataannya begitu. Dia tersenyum simpul mendengar pernyataanku.
"Iya, Abang janji," ujarnya penuh keyakinan seraya mengacungkan jari kelingkingnya untuk membuat janji padaku dan kami saling menautkan kelingking berjanji satu sama lain.
"Percaya sama Abang," pintanya diakhir pembicaraan kami dan aku mengangguk kecil.
Semua sudah usai, dari mulai memasak sampai membersihkan rumah. Beberapa kerabat masih duduk berkumpul berbincang hangat. Bang Yudha mengajakku untuk ikut duduk bersama mereka, apalah daya kuikuti saja meski hati ini sebenarnya tidak ingin berkumpul bersama mereka.
Bukan apa-apa, aku hanya tidak suka melihat Mona dan tante Nasri, termasuk ibu Indun yang juga kerabat ibu mertuaku. Mereka itu tadi menyindirku secara nyata, entah punya salah apa aku dengan mereka?
Aku duduk di samping bang Yudha, dengan mulut yang terkatup rapat tidak ingin banyak menyambung pembicaraan mereka.
"Setelah ini, acara tahlilan Ibu aku serahkan sama tante Sur, aku nggak bisa handle karena ada kerjaan diluar kota," imbuh bang Yudha disela pembicaraan.
"Iya, biar Tante aja yang urus," jawab tante Sur. Detik berikutnya, orang yang tak aku sukai menimpali ucapan tante Sur. "Biar kami aja, Yud. Cuma kami yang bisa kamu andalkan," kata tante Nasri. Yah, aku tahu wanita itu menyindirku lagi.
Hatiku mendadak tidak enak. Apa aku yang mudah terbawa suasana atau memang sindiran itu ditujukan untukku? Padahal, hanya bang Yudha yang akan pergi keluar kota dan aku tidak. Sebagai menantu, aku pun pasti akan membantu apa yang jadi kewajibanku di rumah ini tidak perlu menyindiri seperti itu.
Malas mendengar omongan mereka, aku pamit pada bang Yudha untuk tidur dan meninggalkan kumpulan tanpa hirau dengan tatapan tak suka yang dilayangkan Mona dan tante Nasri.
Kebetulan bang Yudha masih berkelakar di ruang keluarga dan inilah kesempatanku untuk melihat seluruh pesan, panggilan dan sebagainya yang ada di ponselnya. Siapa tahu dia masih ada menyimpan rahasia.
Chat dari aplikasi hijau kubuka, kugulir sampai bawah, tapi tidak menemukan chat mencurigakan seperti apa yang ada dalam otakku. Apa dia sudah menghapusnya? kugelengkan kepala berusaha mengusir pikiran negatif-ku terhadapnya.
Puas aku memeriksa ponsel bang Yudha, tapi tidak menemukan apapun di sana, jejak-jejak perselingkuhannya. Mungkinkah dia yang lihai menyembunyikan rahasia atau memang sudah tidak ada lagi hal mencurigakan seperti kemarin?
"Udah Tari, nggak usah banyak curiga!" Aku bergumam menekan diriku sendiri.
__ADS_1
Alhasil, kuletakan kembali ponsel bang Yudha setelah pencarianku nihil.
***
Pagi sekali aku sudah bangun, dan ini adalah hari ketiga kepergian ibu. Kami sengaja semalam tidak menginap karena hari ini bang Yudha akan berangkat ke Malang.
Kulihat jam di dinding sudah menunjukan pukul 07.00 pagi. Aku bergegas menuju kamar untuk membangunkan bang Yudha. Namun rupanya, suamiku itu sudah lama bangun karena dirinya sudah rapi berdiri di depan cermin seraya menyisir rambut, kemudian ditata dengan pomade.
Tubuhnya memang tidak se-sixpack atelit, tapi sudah termasuk idel dengan tinggi poster seperti itu, kulit kuning langsat sangat kontras dengan raut wajahnya yang disertai dengan alis tebal.
"Tumben udah bangun?" Aku nyeletuk seraya berjalan mendekat. Dia tidak menoleh masih fokus dengan tangan yang bergerak-gerak di atas kepala. "Abang ada alaram," jawabnya.
"Em ... jadi sekarang Abang ngandalin alaram buat bangun?" Tanpa malu aku memeluknya dari belakang. Aroma kuat dari parfum yang menempel di bajunya membuat aku menarik napas sedalam-dalamnya menghirup aroma ini. Sungguh, bang Yudha tidak pernah mengganti parfumnya, parfum yang sudah ia pakai sejak pertama kali bertemu denganku.
"Ma, nggak usah bantu Tante Sur kalau Mama lagi nggak enak badan," imbuhnya tiba-tiba. Memang beberapa kali aku batuk di belakang bang Yudha.
"Nggak, kok! Tari batuk karena banyak minum es kemarin," sahutku jujur. Akhirnya setelah bang Yudha siap, kuajak dirinya untuk sarapan dan ransel yang berisi tiga helai pakaiannya, aku bawa karena bang Yudha hanya dua hari saja berada di Malang.
Terbesit sedih ketika bang Yudha akan pergi karena selama ini, dia tidak pernah meninggalkanku jauh sampai berhari-hari.
***
Tidak secara langsung, dia terus menyindriku. Apa dia tidak takut susah melahirkan nanti karena banyak dosa, mengingat dirinya sudah hamil tua sekarang?
Namun, biarkanlah! Aku tidak ingin membuat keributan di suasana yang masih berduka ini. Dengan gesit aku membantu tante Sur, kubantu sebisanya karena selepas Ashar, aku ingin pergi keacara tujuh bulanan temanku.
Sibuk membantu tante Sur, tak sadar hari sudah menjelang sore. Aku pun pamit pada tante Sur, "Tan, aku pamit pulang ya? Mau ke acara teman, nggak enak kalau nggak datang."
Untunglah tante Sur orangnya pengertian, dia menyuruhku untuk cepat pulang meski masih banyak kerjaan yang belum selesai. Wajah Mona tak bisa pandang lagi, masam luar biasa.
***
Jujur saja, berkumpul dengan teman seperti ini membuatku iri. Aku iri melihat masing-masing dari temanku yang sudah menikah, mereka sudah memiliki anak, ada juga yang masih hamil. Sedangkan aku? Yah, aku tahu walaupun baru tiga bulan aku menikah dengan bang Yudha. Tetap saja aku iri.
Ada satu lagi yang membuatku terhenyak, kebanyakan temanku sudah menutup aurat setelah menikah dan hatiku merasa terketuk melihatnya.
__ADS_1
Linda yang terkenal tomboy saja, bagitu cantik dan feminim sekarang dengan hijab panjang yang menutupi kepalanya.
"Tar, kalau sempat besok-besok kita kumpul lagi di rumah aku." Linda menepuk pundakku sampai aku terkesiap.
"Iya. Boleh." Aku menyahut singkat. Linda pulang, selang beberapa menit aku pun pulang juga.
Sepanjang perjalanan aku memikirkan tentang hijab, rasa untuk menutup aurat tiba-tiba menggebu dalam diriku. Karena rasa itu, sebelum pulang ke rumah, aku singgah di salah satu toko yang menjual pakaian muslimah.
Di rumah, aku hanya punya beberpa helai kain saja untuk menutupi kepala jika ada acara kematian seperti kemarin. Menyedihkan! Sekarang aku akan membeli beberapa pasmina dan juga hijab segi empat untuk dipakai saat keluar rumah.
Aku yang tidak ada niatan sama sekali untuk memakai hijab, tiba-tiba saja langsung terbesit rasa itu. Akhirnya, kuyakini hati untuk menutup aurat meskipun masih belum sempurna.
***
Sepi melanda manakala bang Yudha sudah dua hari meninggalkan rumah dan aku juga, tentunya. Hari ini katanya dia pulang, tapi sudah sesore ini belum tampak batang hidungnya.
Demi menghilangkan rasa sepi, aku bertandang ke rumah bibi Astuti.
"Bibi, gimana kabarnya?" tanyaku. Semenjak ibu mertua meninggal, aku memang tidak mengunjungi bibi Astuti. Aku memang selalu mengunjungi wanita paruh baya yang hidup sendirian ini. Bibi Astuti adalah janda beranak satu yang telah lama ditinggal mati suami. Anak lelaki satu-satunya yang dia punya sedang jauh merantau ke tanah Sumatera.
Kerabatnya di sini hanya aku dan Amalia, kami berdua-lah yang sering mengunjunginya.
"Bibi baik, Nduk!" katanya menyahutiku.
Untung saja tidak ada Lia di sini jika tidak, aku akan pulang malam gara-gara mendengar ia menggibah.
Hampir senja, aku pamit pada bibi Astuti tidak lupa kuselipkan berbera lembar uang di tangannya.
Beberapa menit di jalan, tibalah aku di kompleks rumah kami. Dari jarak beberapa meter, aku melihat mobil yang familiar berbelok ke halaman rumah kami.
Aku tersenyum, itu suamiku. Kutarik gas motor agar cepat sampai juga di rumah. Benar saja, bang Yudha baru keluar dari mobil dan dia menoleh ketika aku masuk ke halaman rumah.
Kusetandarkan motor, lalu membuka helm. Matanya membulat melihat penampilanku kini. Ia shock sejenak, kemudian tercipta senyuman di antara kedua sudut bibirnya.
"Abang!" Aku berlari kecil, menghambur memeluk dia yang sudah aku rindukan.
__ADS_1
"Duh, cantik banget istri Abang!" pujinya. Aku tersanjung dengan pujian itu. Seperti orang bodoh, aku melongo ketika dia mengecup keningku sampai tiga kali, pipiku memerah.