Hijrahnya Mentari

Hijrahnya Mentari
Digendong Sampai Kamar


__ADS_3

POV Mentari


Musibah yang datang mendadak membuat pertengkaran kami sirna. Padahal tadi, setengah mati aku murka padanya. Jikalau bang Yudha berpikir masalah antara kami akan selesai begitu saja, jangan harap! Aku akan tetap menayakan tentang kebenaran perselingkuhan yang ia lakukan dengan SPG itu. Tapi nanti, setelah kondisi dan situasi berangsur pulih.


Jujur saja, untuk sekarang rasa iba yang aku limpahkan untuknya. Kehilangan sosok ibu jadi pukulan besar bagi bang Yudha, entah kenapa aku pun ikut merasakan apa yang dirasakannya? Mungkin karena, ibu mertua adalah orang yang sangat perhatian dan dekat dengan semua anak dan menantunya, tidak pernah membedakan sama sekali.


Teriris saat kubuka kain penutup wajah yang sudah pucat pasih. Kini, aku tak akan merasakan lagi bagaimana nikmatnya masakan yang dibuat dari tangan ibu.


Uraian air mata bang Yudha terus berjatuhan hingga membasahi kertas yang bertuliskan huruf hijaiyah itu.


"Bang udah," pintaku lirih seraya menyeka air matanya yang sudah berumuara di dagu.


Bang Yudha mendekatkan wajahnya di telingaku, ia berbisik, "Mama pulang aja, kunci mobil Abang taruh di kamar."


Pulang? Aku manusia yang punya hati dan perasaan tidak mungkin dalam keadaan berduka seperti ini aku pulang dan tidur dengan nyenyak di rumah, orang-orang akan mencibirku nanti.


"Kenapa Tari harus pulang, Bang? Tari nggak setega itu sama Abang." Kujawab dengan bisikan juga. Tetiba dia menggengam tanganku erat dan aku tahu makna dibalik gengaman ini.


Hari sudah semakin larut, beberapa tetangga yang datang beranjak pulang satu persatu dan tinggalah kami, para keluarga dan perangkat desa yang masih menunggu.


Sebagai inisiatif, aku ke dapur membuatkan seteko kopi untuk mereka yang begadang malam ini.


"Biar aku tolong, Kak." Pemilik suara itu tiba-tiba sudah berada di sampingku.


"Boleh," sahutku singkat pada perempuan yang lebih muda dariku. Dia Mona, istri dari adik iparku. Aku menyiapkan seteko kopi dan Mona menyusun beberapa gelas di atas nampan.


Kami membawanya ke depan rumah di mana beberapa orang sedang duduk menunggu pagi.


Bagi hantu bang Yudha tiba-tiba muncul di depan pintu dapur membuatku terperanjat dan hampir menumpahkan kopi.


"Abang itu suka banget nongol tiba-tiba," celetukku. Terdengar kekehan Mona yang lucu melihat kekagetanku tadi.


"Abang 'kan nggak tahu, Ma," sela bang Yudha. Mona keluar lebih dulu dan aku masih berdiri di ambang pintu berhadapan dengan suamiku.


"Abang mau kopi?" tawarku. Dia menolak, "Abang minum air putih aja." Memang itu lebih bagus karena suaranya sudah terdengar serak. Aku berlalu menghantarkan kopi ke depan, kemudian masuk ke kamar milik bang Yudha ketika masih bujangan dulu.

__ADS_1


Aku diserang kantuk, rasanya susah untuk menahan dan kuputuskan untuk tidur, walau sejenak. Baru ingin merebahkan tubuh, terdengar getaran dari sebuah ponsel, rupanya milik bang Yudha yang di atas bufet. Mumpung tidak ada dia, aku pun lekas meraih ponsel itu dan tampak nama Kak Randy di layarnya.


Siapa Kak Randy? Aku selalu penasaran dengan nama ini. Ada apakah gerangan menelepon sudah jam 02.00 malam begini?


Karena penasaran, segera kuterima telepon itu.


"Hallo!" sapaku. Namun, orang yang ada di seberang telepon hanya diam.


"Hallo! Ini siapa ya?" Baru menanyakan itu, panggilan telepon langsung terputus. Tidak tahu kenapa orang itu malah mematikan telepon tanpa bicara sepatah katapun. Aneh, kan? Aku pun curiga.


Mendengar derap langkah mendekat, sontak kuletakan kembali ponsel itu di atas bufet. Ternyata bang Yudha.


"Mama belum tidur?" tanyanya seraya masuk ke dalam.


"Ini juga mau tidur, habis cuci muka. Nggak apa-apakan Tari tidur bentar?" tanyaku. Sebenarnya tak enak hati bila tidur dalam keadaan seperti ini, tapi aku tak kuasa menahan kantuk.


"Siapa yang akan marah? Mama tidur aja," sahutnya. Aneh, aku malah tersenyum ketika bang Yudha menyahut begitu.


"Abang tidur kalau mengantuk," kataku, meski aku tahu dia tidak akan tidur. Dapat keberanian dari mana, aku mengusap sisa air matanya?


"Abang minta maaf," lirihnya lagi. Tidak terhitung sudah berapa kali dia mengatakan itu. Aku hanya menanggapinya dengan senyum tipis.


"Mama tidur aja," ujarnya pelan. Sebuah kecupan ia daratkan di keningku. Setelah sekian lama kurasakan kembali tanda selamat tidur darinya.


Aku yang bodoh atau dia yang lihai meluluhkan aku seperti ini? Hanya dengan sebuah kecupan, hatiku yang tadi panas mendadak dingin, sedingin es di pegunungan Everest.


"Abang, di samping Ibu," ujarnya sebelum meninggalkanku. Seperginya bang Yudha, aku memejamkan mata mencoba untuk tidur, tapi susah sekali padahal aku sangat mengantuk.


Suara dzikir yang tiada henti membuatku tidak bisa tidur, bukan tergangu dengan suaranya, tapi ada rasa yang menghenyakan hati katika mendengar kalimat-kalimat thayyibah itu, hingga tak sadar air mata meleleh begitu saja.


Pusing karena hanya bolak-balik di tempat tidur, aku bangun kembali ke ruangan di mana bang Yudha duduk bersimpuh di samping orang yang sangat ia sayangi.


"Abang!"


Dia mendongak menatapku, "Kok, nggak tidur?"

__ADS_1


Aku pun ikut duduk di sampingnya dan menyahut, "Ngantuk, tapi nggak bisa tidur."


Sontak bang Yudha meraih kepalaku dan diletakan di pundaknya. "Abang usap, biar Mama tambah ngantuk dan langsung tidur," ujarnya.


Lagi, aku mengulum bibir karena menahan senyum. Tidak mungkin kutampilkan senyum di depan jasad mertuaku. Dalam hati kuruntuki diri sendiri karena sudah menjadi wanita yang terlalu mudah terbawa suasana.


Terkadang, semuanya tak pernah sesuai dengan apa yang kita pikirkan dan inginkan. Seperti hubunganku dengan bang Yudha, sudah beberapa minggu ini kami seperti orang asing yang saling membutuhkan saja, sikap dingin bang Yudha-lah yang jadi penyebabnya. Tapi kini, kemesraan justru tercipta di saat duka sedang mendera.


Aku tidak munafik, aku suka dengan kelembutan yang bang Yudha berikan sekarang. Usapan ini membuat mataku kembali sayup-sayup ingin terpejam.


Bang Yudha menunduk memperhatikanku. "Mama itu ngantuk. Udah tidur, gih!" pintanya.


Aku berusaha membuka mata lebar-lebar ketika bang Yudha berujar seperti itu.


"Tari nggak ngantuk, kok!" sanggahku. Malu juga jika aku sendiri yang tidur, sementara yang lain masih betah duduk di sini, tak terkecuali dengan Mona.


"Ya udah, di sini aja kalau gitu."


Aku menurut, duduk di samping bang Yudha seperti posisi tadi menyandarkan kepala di pundaknya. Semacam habis menelan obat tidur, rasa mengantuk tak terbendung lagi sampai aku kalah dan rupanya tertidur juga.


***


Suara adzan melantun dari masjid yang tak jauh dari rumah ibu, membuat aku terbangun.


"Astaga!" Aku mendapati diri sudah di dalam kamar. Apa aku tidur berjalan?


Tak lama bang Yudha masuk ke kamar dengan wajahnya yang basah.


"Abang," panggilku pelan.


"Abang mau ke masjid dulu, Ma," ujarnya.


"Bang, kenapa Tari bisa tidur di kamar, bukannya tadi Tari di samping Abang?" Aku penasaran.


"Mama tidur, jadi Abang gendong Mama ke kamar. Nyenyak banget tidurnya sampai nggak sadar kalau lagi digendong."

__ADS_1


Mataku membola. Untung saja aku tidak sadar jika tidak, aku akan malu sekali ketika digendong ala pengantin baru di depan semua para pelayat.


"Nggak perlu malu, Ma. Kita suami istri, kok," imbuhnya seakan tahu apa yang aku pikirkan.


__ADS_2