
Rasa tadi menggebu, sekarang malah ciut ketika istri sah menelepon sang Kekasih. Sakit juga rasanya dianggap yang kedua seperti ini, tapi tidak mengapa. Semuanya serba uang, jangan hiarukan apapun demi kebutuhan hidup terpenuhi, lempar jauh-jauh rasa iba itu.
Telepon terputus setelah sekain menit berbincang. Suara riang anak Rio yang terdengar dari balik telepon nyisipkan sedikit perih dalam benak Tari. Anak kecil? Bagaimana jika itu anaknya? Bagaimana jika kebahagaiaan anaknya yang direnggut. Mulailah pertanyaan itu bermunculan dalam kepala Tari, berdenyut sudah kepalanya.
"Kamu kenapa, Tar?" Rio tak ayal bertanya tatkala Tari tertunduk memijat pangkal hidung.
"Kok, tiba-tiba pusing ya, Mas?" Tari mengeluh. Akibatnya Rio harus membatalkan acara makan malam mereka. Makanan yang sudah dipesan terpaksa dibungkus.
"Perlu ke rumah sakit, Tar?" tawar Rio. "Nggak usah, Mas!" Tari menolak. Bagaimanapun, Rio tak bisa abai. Ia berhenti di sebuah apotik untuk membelikan Tari obat. Bukan hanya obat, tapi Rio juga membelikan benda yang akan membuat Tari tercengang.
Sesampainya di apartemen, dirangkulnya Tari masuk ke dalam. Bungkusan makanan ia letakan di atas meja makan dan satu bungkusan kecil ia berikan pada Tari. "Sebelum minum obat test ini dulu," pinta Rio. Test? Apa yang harus di-test? Tekanan darah kah?
"Aku cuma pusing, Mas. Nggak perlu di-test-test," tukas Tari.
"Kamu nggak paham." Lantas, dibawanya Tari ke kamar mandi yang ada di dapur itu. Dipintanya secara gamblang agar Tari membuka pakaian bagaian bawah sampai habis dengan menyodorkan wadah kecil berbahan palstik.
"Buat apa ini, Mas?" Bingung Tari dibuatnya.
"Buka aja yang di plastik, aku yakin kamu nggak lugu-lugu amat tentang benda itu."
Tari tidak meraruh dugaan yang aneh-aneh apa isi dalam plastik hitam di tangannya.
"Mas, kok, ini?" Tari menatap bingung Rio di depannya yang tersenyum-senyum tak jelas. "Kenapa? Siapa tahu aja kamu udah ngisi, pertama kita emang pakai alat kontrasepsi, tapi ... apa kamu lupa yang kemaren-kemaren itu? Polos nggak pakai apa-apa."
__ADS_1
Entah ingin tertawa atau menangis dengan kekasihnya ini. Rio pun tidak akan mungkin selugu ini soal kehamilan.
"Lah, siapa di sini yang lugu? Nggak gitu-gitu amat kali! Baru aja empat hari ketemu dan celap-celup, Mas udah berpikiran aku hamil. Ngadi-ngadi kamu, Mas." Tak jadi test kehamilan, Tari meletakan testpack itu di lemari gantung depan westafel kamar mandi.
"Jujur aja, aku nggak berharap kamu hamil, Tar." Sebagai wanita nyeri sekali mendengar kalimat itu. Namun, Tari berusaha agar semuanya tidak ia jalankan dengan hati. Baginya, hubungan dirinya dan Rio hanya sebuah pelampiasan. "Santai aja, Mas. Aku juga nggak mau hamil," timpalnya dibarengi dengan senyum paksa. Iya, getir rasanya, sudah memang tidak bisa hamil, tidak diharapkan untuk hamil pula.
Iseng, Tari pun memberikan pertanyaan yang membuat Rio bungkam seribu bahasa. "Gimana kalau besok-besok aku hamil, Mas?"
Riskan bagi Rio pertanyaan yang Tari lontarkan. Ia pun bingung menjawab apa. Ingin jujur, takut Tari tersinggung jadilah kecewa. Ingin berbohong jangan pula memberikan harapan palsu.
"Aku belum kepikiran soal itu, Tar." Mengantung jawaban yang Rio berikan. Sudah jelas, Rio memang tidak menginginkan anak. Lebih tepatnya dari wanita simpanan macam Tari.
Sudah usai tanya-jawab mereka di kamar mandi, yang dilakukan sekarang menyantap makanan khas Jepang yang tadi tak sempat disantap.
"Kenapa kalau aku bulat, Mas? Kamu nggak mau lagi sama aku?" tanya Tari dengan mulut yang mengembung akibat satu Sushi ia masukan sekaligus ke mulut.
"Ogah! Aku mah cari simpanan baru!"
Tertawalah dua insan itu. Rio ingin memberikan testpack pada Tari untuk test kehamilan padahal, yang membutuhkan benda itu adalah istrinya, Jessica.
Wanita itu sudah dari sebulan yang lalu mengalami gejala-gejala kehamilan. Terakhir datang bulan, adalah bulan kemarin ketika terkahir berhubungan badan dengan Rio di saat masa subur.
Tadi pun ingin Jessica memberi tahu Rio tentang kehamilannya, tapi ia tunda sampai suaminya itu pulang agar bisa mengatakan secara langsung. Senyumnya merekah ketika membayangkan ekspresi bahagia yang nanti akan Rio tampilkan seperti pada kehamilan pertama dulu. Menyedihkan, padahal hampir setiap malam kekasihnya itu memadu kasih dengan wanita lain. Bergelut dalam satu selimut saling menghangatkan tubuh yang polos tanpa sehelai benang.
__ADS_1
Seperti sekarang, ******* dan erangan baru saja terdengar, adegan panas nan erotis selesai beberapa menit yang lalu. Aroma percintaan melekat di tubuh keduanya yang berpeluh.
Dada yang turun naik terengah itu membuat sang Jagoan gemas ingin ******* habis tanpa sisa buah sintal putih mulus tanpa cela.
Dari kulit hingga ke speri abu-abu berceceran hasil dari aktifitas panas mereka. Seperti biasa, kecupan di kening jadi penanda akhir kegiatan malam mereka dan seperti biasa pula Tari tak diizinkan untuk memakai kembali pakaiannya. Alasannya simple, karena pergumulan panas tidak pernah terjadi hanya sekali, paling minim dua kali putaran. Tidak ada penolakan, tidak ada bantahan meski perih sudah menguasai Tari di bawah sana.
Sang Surya menyingsing. Mata yang terpejam itu mengerejap pelan dan terbuka dengan semestinya. Sarapan pagi yang apik, yaitu memandangi wajah tampan yang masih nyenyak dalam tidur. Hidung yang berdiri tegak membuat Tari selalu ingin menyentuh pucuknya. Rahang tegas membingkai sempurna wajah oriental yang dimiliki kekasihnya itu.
Tak jemu rasanya memandang wajah rupawan. Sungguh Tari tersenyum, terbesit bahagia karena dalam dunia halusinasinya sosok suaminya ingin persis di drama Korea dan wajah kekasihnya sekarang beda tipis dengan salah satu aktor pujaannya. Alih-alih terus berkhayal, Tari mendadak bergidik, dalam dunia nyata Yudha-lah rupanya yang jadi suaminya. Berbanding terbalik.
Pelan-pelan Tari menyingkirkan tangan Rio yang ada di atas perutnya, perlahan ... jangan sampai membangunkan kekasih kesayangan.
Ketika hendak beranjak, tangan kokoh itu kembali bertengger di atas perut seakan tidak membiarkannya pergi. Memang, tidak dibiarkan oleh Rio.
"Mau ke mana?" Dengan mata terpejam Rio bertanya. "Mas udah bangun? Ih ... sengaja diam-diam wae!" Lengan sedikit berotot itu jadi sasaran cubitan Tari.
"Kamu sih, banyak gerak-gerak. Semalam malah merengek nggak mau gerak-gerak." Dan sekali lagi, Tari melayangkan cubitan akibat Rio berseloroh.
"Nggak mungkin bisa pergi gitu aja. Mana morning kiss-nya? Kiss dulu atuh!" Sengaja dikerucutkan bibir minta morning kiss dibagian benda kenyal itu. Sekoyong-koyong Tari mengecup dahi dan kedua pipi Rio membuat si empu melayangkan protes dengan mata yang terbuka lebar.
"Kurang lengkap! Aku nggak biarin kamu turun dari tempat tidur, Mentari-ku, sayangku."
Lucu, sampai Tari tertawa seraya menuruti apa keinginan pertama kekasihnya pagi ini. Bertubi-tubi Tari mengecup bibir tebal sensual di depannya.
__ADS_1
"Udah, yakin semangat aku kerja kalau kayak gini," tukas Rio terkekeh.