Hijrahnya Mentari

Hijrahnya Mentari
Sebuah Rencana


__ADS_3

Bab 34


Hampir setiap malam terdengar suara isakan yang sangat lirih, air mata penyesalan saban waktu bergulir mengiringi setiap ampunan. Mentari sungguh merasa dirinya adalah insan yang paling hina, hina karena semua kesalahan yang sengaja ia lakukan. Di saat begini, rindu pun selalu menyesapi, sosok siapa lagi, jika bukan sosok wanita yang sudah melahirkannya. Bagaimanpun dulu sang ibu kejam mengusirnya, tapi rasa sayang tidak akan pudar hanya sebab sebuah kesalahpahaman.


"Ya Allah, titip Ibu di sana." Sebait do'a itu selalu ia langitkan untuk sang wanita tercinta. Menjelang Subuh, setelah melakukan sholat malam, Tari duduk di pojok ruangan sempit itu, membaca beberapa buku tentang ilmu dan adab juga tentunya, jangan sampai jadi orang berilmu, tapi tidak beradab. 


Sudah lumayan banyak tumpukan buku serta hadist kiriman Linda. Semuanya tak terabaikan sama sekali, Tari selalu menyempatkan diri untuk membaca dan mempelajari beberapa buku yang sengaja Linda kirimkan. Alhamdullilah, asbab dari semua itu adalah Tari lebih memahami perihal agama. Dibacanya dengan seksama, atau terkadang menghafal beberapa ayat dalam Al-Qur'an. Dengan cara seperti itulah Tari menghabiskan waktu hingga tiga bulan berlalu. 


Selama tiga bulan berada dibalik jeruji besi, akhirnya Tari bisa menghirup udara segar diluar tembok tinggi menjulang yang mengurungnya. 


"Tari, hati-hati, ya." kawan sesama tahanan satu persatu memberikan ucapan pada Tari yang hari ini sudah mendapatkan kebebasan. Semua ini tak lain tak bukan adalah berkat campur tangan Rio kala itu. Menepiklah air mata Tari meninggalkan kawan yang selama ini jadi tempat segala keluh kesahnya.


"Aku pamit semuanya," balas Tari dengan air mata yang terus membanjiri pipi. Pelukan selamat tinggal begitu hangat mendekap semuanya. kini, Tari sudah berada berjalan menajuh dari rumah tahanan. Namun, ada yang membuatnya gunda-gulana, ke mana ia akan pergi setelah ini? Tidak akan ada lagi tempatnya untuk bernaung, bukankah masih ada bibi Astuti dan Amalia? Memang, tapi Tari sungguh belum siap untuk menceritakan apa yang sebenarnya sudah terjadi selama beberapa bulan ini.


Tari berjalan seorang diri dengan membawa satu tas besar yang berisi semua barang-barang miliknya. Allah itu maha baik dan selalu ada di saat seorang hamba membutuhkan pertolongan. Lewatlah Linda kala itu yang hendak mengisi tausiyah di rumah tahanan seperti mingu-minggu sebelumnya. Melihat sosok yang ia kenali berjalan seorang diri di trotoar, Linda menghentikan laju mobilnya, lalu melakukan putar arah.


Kontan saja Tari telonjak kaget ketika sebuah mobil putih berhenti di sebelahnya, dengan pandangan heran ia menatap ke arah kaca mobil yang gelap itu berusaha menerka siapa yang ada di dalamnya. 


Tamapk wanita cantik mengenakan gamis hitam keluar dari mobil, senyum Tari pun Terkembang melihat Linda yang berjalan menghampirinya. "Tari!" Tidak ada yang mengawali perjumpaan mereka pagi ini selain sebuah pelukan hangat. "Alhamdulillah, kamu udah keluar. Kenapa nggak kasih tahu? katanya kamu bebas hari Senin depan?" seloroh linda yang tampak senang.

__ADS_1


"Iya, katanya memang Senin depan, tapi rupanya hari Jum'at ini udah keluar," sahut Tari. 


"Masya Allah. Terus, kamu mau ke mana sekarang, biar aku antar?" Mendadak wajah Tari berubah murung mendengar apa yang linda ucapkan, ia pun tak tahu ke mana akan melabuhkan diri. sejurus kemudian, wajah murung tadi berganti dengan senyum cerah. Tari tak perlu merasa khawatir karena ia punya Allah yang akan selalu ada menolongnya, keyakinannya untuk itu sangatlah tinggi sehingga tak perlu mencemaskan setiap keadaan.


"Insya Allah, aku akan cari kontrakan dulu sambil cari kerjaan, Lin," sahutnya begitu tenang. Dan, Allah langsung menggerakan hati Linda untuk menampung Tari, ia juga meminta sahabatnya itu untuk menjadi pegawai di toko miliknya yang sekarang sudah memiliki 2 cabang. Bagaimana Reaksi Tari? Tentu saja dengan senang hati Tari akan menerima tawaran itu. 


"Terima kasih, Lin." sungguh luar biasa Tari senang. Maka, setelah Linda selesai melakukan tausiyah mereka akan pulang nanti. Berbinar mata Tari melihat Linda yang kini sedang mengisi tausiyah di depan puluhan tahanan wanita. Diceritakannya segala perjuangannya untuk meraih hidayah Allah hingga semua mata tak tahan untuk tidak mengeluarkan airnya. Mereka tersentuh atas perjuangan Linda dalam hijarhanya hingga bisa istiqomah seperti ini. Jujur, Linda bukan berasal dari keluarga yang taat agama, ia bukan wanita soleha yang orang pandang sekarang, ia adalah orang fakir ilmu yang sedang berusaha meraih ridho Allah.


Titik terdalam hati Tari sungguh sangat-sangat tersentuh. Jazbah-nya meningkat melihat kesungguhan Linda sampai Tari benar-benar terisak mengingat perjuangannya selama ini ternyata belum ada apa-apanya dibandingakn dengan Linda. Untuk itu, Tari akan bersungguh dalam mengamalkan agama, ia akan terus berjalan di atas jalan hidayah dan akan terus mengamalkan sunnah karena didalam sunnah terdapat kejayaan.


"Barang siapa yan berpegang teguh pada sunnahku dikala rusaknya umatku maka, baginya pahala seratus mati syahid." itulah yang disabdakan oleh Rasulullah Shallalallahu alaihi wassalam.


"Mari masuk!" silah Yani-ibu mertua Linda. Bersama Linda, Tari masuk dengan rasa sedikit malu. Ya ... maklum saja, karena Tari akan menumpang di rumah Linda untuk sementara waktu sampai dirinya bisa mengontrak rumah sendiri.


"Tari, kamu istirahat aja, nanti kita makan siang sama-sama," imbuh Linda seraya membawa Tari ke salah satu kamar kosong.


"Aku nggak capek, kok. Aku mau bantu masak, Lin." Tentu saja Tari akan menolak karena ia tahu diri bukanlah tamu agung di sini. Linda tidak melarang ataupun menyuruh Tari, ia sebisa mungkin membuat sahabatnya itu nyaman berada di rumah.


Sementara Linda berada di butiknya yang ada di depan rumah, Tari membantu bu Yani memasak. Wanita paruh baya itu teramat ramah membuat Tari semakin betah saja di sana. "Bu, mana lagi yang harus Tari bantu?"  tanyanya setelah selesai memotong sayuran. Bu Yani yang masih sibuk di depan penggorengan menyahut, "Kalau gitu, tolong tumis yang itu!" tunjuknya ke arah irisan bawang bombai dan kawan-kawannya. Tari mengangguk sigap dan segera menunaikan tugas yang diberikan ibu mertua Linda.

__ADS_1


Suara tumisan irisan bawang dan cabai terdengar memenuhi ruangan, perlahan-lahan harum aromanya melayang di udara dan menyeruak masuk ke indra penciuman. Spontan, aroma itu membuat Tari mendadak mual. Sebisa mungkin Tari menahan rasa itu sampai akhirnya ia benar-benar tak sanggup lagi dengan sesuatu yang meringsek ingin keluar dari perut. Ia pun berlari secepat kilat ke kamar mandi tak peduli dengan masaskannya yang sudah semakin berubah warna. 


Di dalam sana ia memuntahkan apa yang ingin dimuntahkannya, tapi sama sekali tidak ada apapun yang keluar, selain ludah. Bu Yani panik menghampiri Tari yang ada di kamar mandi, memijat-mijat pelan tengkuk Tari agar bisa sedikit melegakannya.


"Kamu kenapa Tari? Kamu masuk anggin?" tanya cemas Bu Yani. Masuk anggin? Tari rasa tidak, karena ia pun merasa dirinya baik-baik saja tanpa gejala demam ataupun sebagainya.


"A-aku ... nggak apa-apa, Bu. Cuma mual aja waktu cium bau tumisan bawang tadi," sahutnya. Alhasil, Bu Yani menyuruh Tari istirahat saja. Tak lama itu, masuklah Linda ke kamar Tari atas laporan mertuanya tadi.


"Tari, kamu kenapa?" tanyanya seraya membawa sebotol minyak kayu putih untuk meredakan rasa mual, mungkin juga pusing. Tari menggeleng pelan, pun tidak tahu dengan apa yang dirasakannya kini. 


"Mau ke rumah sakit nggak?" tawar Linda. Tari menggeleng. Sejurus kemudian, Tari melemparkan tatapan penuh tanda tanya pada Linda yang duduk di sebelahnya. 


"Apa jangan-jangan aku ...." Tari mengantung ucapannya membuat Linda penasaran setengah mati. "Lin, boleh aku keluar sebentar? ada yang pengen aku beli." Linda tak serta merta mengiyakan karena masih khawatir dengan keadaan Tari. Oleh sebab itu, Linda meminta Tari untuk pergi dengannya saja. Ke mana mereka pergi? Tentu saja Tari mengajak Linda pergi ke sebuah apotik untuk membeli testpack. Linda heran? Jangan ditanya lagi.


"Tar, kamu beli testpack?" Detik kemudian barulah Linda paham alasan Tari membeli testpack. Bukankah dulu Tari pernah bercerita tentang masa lalunya dengan Rio. Dengan segala dugaan Linda pun kembali membawa Tari pulang ke rumah.


Kini, di dalam kamar mandi Tari bersandar sedih manakala hasil testpack menunjukan dua garis merah yang artinya ia sedang mengandung buah cintanya dengan Rio. Tari yang tak kunjung keluar dari kamar mandi membuat Linda yang menunggu di luar jadi resah, tanpa menunggu izin Linda pun masuk ke kamar mandi dan mendapati Tari sedang menangis bersimpuh di lantai.


"Tari?" Segera Linda menghambur memeluk sahabatnya itu, testpack yang ada di tangan Tari membuat Linda melirik. Entah apalagi rencana Allah, tapi Tari tidak akan pernah berburuk sangka karena Allah adalah sebaik-baiknya perancang rencana. Padahal dulu, Tari sempat divonis dokter tidak akan bisa hamil, bahkan dirinya disarankan untuk mengangkat rahimnya ketika masih bersuamikan Yudha. Oleh sebab itu, ia dulu tidak pernah khawatir melakukan hubungan dengan Rio. Namun, Allah Mahakuasa atas segala-galanya.

__ADS_1


__ADS_2