Hijrahnya Mentari

Hijrahnya Mentari
Datang ke Nikahan Mantan


__ADS_3

Seluruh tubuh mengigil kedinginan, bibir pun tak luput bergetar. 


"Mana hakku …."  Ia tercekat, Suara tenggelam dalam bisingnya air hujan. Mata yang meriak hangat ia seka tak ingin lagi menumpahkan air mata.


Jangankan mendapatkan haknya, apa yang ia teriakan pun tidak ada yang menggubris. Pada akhirnya, Tari enyah dari sana membawa seluruh rasa marah bercampur kecewa. Ia bersumpah sampai mati tidak akan ikhlas atas hak yang tidak tertunaikan.


Dipacunya motor matic itu menyusuri jalanan di tengah derasnya hujan meninggalkan rumah yang dihuni oleh mantan suaminya.


Ke mana Tari pergi? Di mana ia akan tinggal di Ibukota ini? Hanya ada bibi Astuti yang siap menampungnya. 


"A-assalamu'alaikum." Mengatakan salam saja suaranya bergetar, rasanya dingin sekali. Bibi Astuti yang baru saja akan terlelap kembali membuka mata, ia menajamkan pendengaran karena takut salah dengar. Siapa yang datang malam-malam begini, hujan pula?


Sebelum membuka pintu, bibi Astuti sedikit mengintai dari balik kaca jendela depan. 


"Tari?" Dilihatnya itu Tari, segera bibi Astuti membuka pintu.


"Tari, kamu dari mana?" tanya bibi Astuti. Jelas heran wanita paruh baya itu melihat keponakannya datang dengan pakaian basah kuyup, wajah sembab dan hampir tengah malam.


Terlalu sakit, Tari tak sanggup menjawab ia sontak saja menghambur memeluk bibi Astuti untuk meleburkan segala rasa yang membuat dadanya sesak juga sebak.


Bibi Astuti tidak ingin bertanya, ia ingin Tari tenang terlebih dahulu. Diajaknya Tari masuk dan menyuruhnya untuk menganti pakaian. Sementara Tari berganti pakaian, bibi Astuti pergi ke dapur membuatkan keponakannya secangkir teh hangat.


Selang beberapa menit keluarlah Tari dari kamar menghampiri bibinya yang ada di dapur.


"Tari, duduk dulu sini, Bibi udah buatin kamu teh hangat." 


Tari duduk di depan meja dengan secangkir teh buatan bibi.


"Kamu dari mana? Dan apa yang udah terjadi?" tanya bibi Astuti memulai pembicaraan.


"Aku dari rumah Yudha, Bi." 


Cukup. Bibi Astuti tidak bertanya akan hal itu lagi, ia pun tahu Tari beberapa minggu ini bolak-balik menemui mantan suaminya, sudah seperti pengemis hanya untuk memintah haknya.

__ADS_1


"Nggak usah lagi minta uang kamu sama dia, Tari. Dia nggak akan tenang dan bahagia kalau udah makan hak orang lain," imbuh bibi Astuti. Tari pun mengangguk, ia juga tidak akan lagi meminta seperti pengemis pada mantan suaminya. Cukup kemarin-kemarin dan malam ini saja.


Hanya dapat gigit jari dari penjualan rumahnya, Tari pun akhirnya memilih untuk membuka usaha kecil-kecilan di depan rumah orang tuanya.


Pagi ini Tari pamit pada bibi Astuti untuk kembali ke Solo. "Bi, aku pulang ya? Jaga diri baik-baik. Motor aku tinggal pakai aja kalau Bibi mau." Bibi Astuti hanya mengangguk, setelahnya ia pergi untuk mengantar Tari sampai terminal.


"Tari, hati-hati. Sampaikan salam buat ibu kamu ya, Nak." Setelah pamitan cukup mengharukan itu, Tari pun masuk ke dalam bus. Jika bisa, ia bertekad dalam hati tidak ingin lagi menginjakan kakai di Ibukota karena terlalu sakit bila melihat tempat-tempat di mana dirinya dan Yudha dulu sering kunjungi.


Hari ini kedatangannya disambut bahagia oleh sang ibu. Marni senang anaknya kembali setelah hampir sebulan tidak tentu berita kabar anaknya itu.


Wajah kuyu dan murung membuat Marni jadi sedih, tapi ia tepis semua itu agar anaknya tidak semakin bersedih.


"Nak, tinggal aja di sini sama Ibu," pinta Marni sembari mengajak Tari masuk ke dalam. 


Di ruang tamu, Tari menangkap sosok pria yang duduk di sofa dengan rokok yang terjepit di mulutnya, ternyata ibunya tidaklah sendiri.


"Bu, siapa itu?" tanya Tari berbisik. Wajah Marni jadi sedikit merona atas pertanyaan itu, ia pun balas berbisik menyahuti anaknya, "Itu cuma teman Ibu."


Teman? Entahlah teman seperti apa? Jika bukan sekedar teman, bisa dikatakan keterlaluan Marni karena tanah kuburan suaminya pun belum kering, bahkan belum genap 40 hari suaminya meninggal, ia sudah mencari pengganti.


Mengenai apa yang akan ia lakukan selanjutnya, malam ini anak dan ibu itu duduk santai di depan rumah diterangi lampu kuning temaram.


"Bu, rencananya aku mau bikin warung kecil-kecilan untuk biaya hidup kita sehari-hari, Bu. Aku masih ada sedikit tabungan," ujarnya mengawali pembicaraan. Marni tidak bisa melakukan lebih, selain mendukung apa yang jadi keputusan anaknya. 


Ahkirnya, Tari membuka warung kecil dengan teras rumah orang tuanya sebagai tempatnya. Semua harus disyukuri, Tari senang karena jualannya lumayan laku ameski tidak mendapat untung banyak. 


Namun, jerih payahnya tidak bertahan lama karena Bandi, teman ibunya tempo hari selalu datang berkunjung dan kunjungannya itu selalu meningalkan hutang. Pria itu acap kali menghutang rokok dan berjanji akan membayar seminggu sekali. Janji tinggalah janji, setiap kali ditagih Bandi selalu berdalih akan membayarnya, begitulah terus sampai akhirnya Tari kesusahan untuk membalik modalnya kembali.


"Aku nggak suka kalau kayak gini! Aku juga butuh uang buat balik modal!" Kesal Tari sampai berteriak di depan Bandi, tapi yang diteriaki bagai orang tuli seakan tidak mendengar.


"Ya udah, Nak. Nanti Ibu yang akan bayar hutangnya," sela Marni.


"Kenapa Ibu yang harus bayar?" 

__ADS_1


Marni pun terdiam. Usaha baru saja berjalan setengah bulan, tapi harus terpaksa ditutup. Jangankan keuntungan, modal saja sudah tidak kembali.


Bukan tidak sakit kepala Tari memikirkan hal itu. Sekarang apa yang harus dilakukan jika sudah begini? Sisa tabungan masih sedikit dan tidak mungkin akan ditarik terus-menerus tanpa ada pemasukan.


Menghindari tatap muka dengan Marni dan Bandi, Tari pun memilih berjalan-jalan menyusuri tanah kelahirannya.


"Tari!" Merasa namanya dipanggil, Tari pun menoleh. Tampaklah seorang wanita melambainya yang duduk di sebuah warung kecil.


Tari tersenyum tatkala kenal betul siapa yang memanggilnya maka, dihampirilah wanita itu.


"Evi, gimana kabarnya?" tanya Tari yang langsung duduk di sebelah kawan masa kecilnya.


"Yah, gitu-gitu aja," jawabnya.


"Kamu gimana? Nggak tinggal di Jakarta lagi?"  Pertanyaan Evi membuat hati Tari kembali mendung kelabu. Alhasil, ia pun menceritakan perihal rumah tangganya yang sudah kandas, pun dengan keresahannya sekarang yang sedang bingung mencari pekerjaan apa.


"Kalau kamu mau, sih, jadi biduan panggilan aja. Sekali mangung lumayan loh, belum lagi nanti dapat saweran." Mendengarnya, semangat Tari sedikit bangkit. "Tapi, nggak boleh pakai jilbab gini, Tar," tambah Evi.


Menciutlah semangat Tari tadi, ia belum mengiyakan ajakan Evi, tapi sebagai jawabannya Tari pun meminta nomor ponsel Evi.


Sepulangnya dari menyusuri kampung, Tari duduk di kamar. Pikirannya sejak tadi tersita oleh tawaran yang diajukan temannya.


"Apa aku ikut aja ajakan Evi?" Tari justru bertanya pada diri sendiri karena terlalu dilema. Namun, lagi-lagi soal keadaan. Tari pun akhirnya setuju dengan tawaran Evi melepas jilbabnya dan menjadi biduan panggilan.


Kini, di hari Minggu ini Tari akan menjalani job pertamanya menjadi biduan panggilan, suara yang terbilang oke membuatnya percaya diri. 


Mobil Avanza yang membawa romongan biduan itu pergi dari kampung sampai ke kota dan kini mereka tiba di sebuah gedung khusus untuk resepsi pernikahan.


Baru saja sampai, mata Tari langsung merebak tatkala melihat pajangan foto preweding di pintu masuk. Namun, semua foto-foto itu tidak membuat Tari mengurungkan niatnya untuk menghibur pengantin yang tengah berbahagia dan juga para tamu undangan.


Kebetulan, orang yang pertama kali akan membawakan lagu pembuka adalah Tari. Meski ragu, Tari tetap melangkah ke atas panggung.


"Terima kasih. Sebelumnya, saya ingin mengucapkan dulu pada kedua pengantin baru. Semoga kalian bahagia dan rumah tangga langgeng selamanya."

__ADS_1


Demi apapun, Yudha langsung menoleh ketika mendengar suara yang sangat ia kenali. Matanya melebar, selebar-lebarnya ketika melihat mantan istri yang ada di atas panggung. 


__ADS_2