Hijrahnya Mentari

Hijrahnya Mentari
Pertengkaran Hebat


__ADS_3

Bab 31


Kesal minta ampun rasanya Irene mendengar kalimat tajam menusuk yang dilontarkan oleh Tari. Dari toilet, Irene berjalan dengan dada bergemuruh, dadanya terlihat naik-turun menahan rasa menyebalkan itu. 


"Tunggu aja kamu!" Irene bertekad dalam hati, entah apa nanti yang akan dilakukannya untuk membalas perlakuan mantan istri dari suaminya itu?


 Di depan Yudha dan Irene, Tari bersikap biasa saja seolah mereka tidak saling kenal. Tari sama sekali tak berlagak angkuh, ia sadar diri bila hanya wanita simpanan meskipun kedudukannya jauh di atas Irene dan Yudha.


"Mas, bisa jangan lama-lama, nggak? Aku pusing." Mendengar rengekan manja Tari pada Rio, Yudha mendengus pelan memalingkan wajah seketika. Ada apa? Apa dia panas dengan adegan mesra di depannya? Sedangkan Irene, mencemberutkan wajah karena dongkol melihat tingkah suaminya yang terlihat cemburu dengan mantan istri.


"Makan dulu, sayang. Pusinglah kalau nggak makan," imbuh Rio. Tari mencebik, tanpa protes ia lahap makan siangnya. Bukan tidak lapar, tapi ***** makan hilang melihat dua orang di depannya. 


Hanya Rio yang berceloteh ria berusaha mencairkan suasana yang terasa cangung dan beku. Dia satu-satunya orang yang tidak tahu dengan hubungan kelam tiga orang di depannya. Yah, sampai saat ini Rio belum tahu bahwa Tari adalah mantan istri Yudha. Entah bagaimana nanti reaksinya jikalau tahu tentang masa lalu Tari.


Makan siang yang tak mengenakan pun usai. Sebelum kembali ke kantor, Tari meminta untuk diantar pulang. Alhasil, Rio memerintah Yudha untuk mengantar Tari lebih dulu. Jangan sampai pusing semakin mendera kesayangannya itu.


Waktu yang ditempuh tidak lebih dari 20 menit, mobil berhenti di depan gedung apartemen. Yudha dan Irene menunggu di dalam mobil, Rio yang membawa Tari masuk ke apartemen.


"Benar-benar kelakuan Pak Rio!" Yudha mencibir. Tak sadar diri sekali dia dengan apa yang diucapkan, seakan sudah jadi suami idaman selama ini, jadi teladan bagi suami di seluruh jagat raya. Padahal, dialah sang pecinta wanita, Buaya rawa yang melabuhkan hati pada Buaya betina macam Irene.


Jika mendapat ajakan dari Rio, Yudha akan menolak, ia tidak ingin terjadi dua kali hal seperti ini, ia jera.


•••


Kemesraan Tari dan Rio semakin tampak saban hari, sampai Rio melupakan keluarga kecilnya yang sedang berada di Bandung.

__ADS_1


Tiga minggu tidak disambangi membuat Jessica merindu, ia merajuk tiap kali berbincang dengan suaminya via telepon. Hamil muda membuatnya ingin selalu dekat dengan suaminya, ingin dimanja dan dperhatikan.


Akhirnya, ia memutuskan untuk pergi ke Jakarta menemui suaminya karena anak mereka pun sudah teramat rindu dengan sosok ayah. Dari Bandung, Jesaica langsung mendatangi suaminya ke kantor karena ini masih jam kerja. Walau sudah sore, mungkin Rio belum pulang.


Kebetulan sekali hari ini Tari tidak ikut ke kantor akibat sakit kepala yang menyergapnya beberapa hari terakhir. 


"Sayang!" Rio yang sedang sibuk menatap laptop kaget dengan panggilan itu. Bukan menyambut dengan senyuman dan rasa bahagia, ia justru terpaku dengan mata yang nyaris melebar sempurna.


"Kok, ekspresinya gitu, sih?" Kecewa Jessica dengan ekpresi yang suaminya tampilkan. Detik berikutnya, Rio mengerjap seraya merubah mimik wajah.


Rio bangun dari duduknya menghampiri Jessica yang berdiri di ambang pintu bersama putra mereka. 


"Bukan gitu, sayang. Aku kagetlah kamu tiba-tiba datang nggak kasih kabar," elak Rio. Ia sedang susah payah sekarang menahan jantung yang berdebar tidak terkendali. Bagaimana misalnya jika tadi istrinya itu melihat Tari di kantor? Atau bagaimana jika berhadapan langsung di apartemen? Tidak bisa dibayangkan akan seperti apa jadinya, pecah perang dunia ketiga.


Digendongnya Abimanyu, anaknya yang berusia empat tahun itu bersamaan membawa istri masuk ke dalam.


Lelah, Jessica menghempaskan tubuhnya di sofa dalam ruangan itu, seraya menyahut, "Sengaja aja-mau kasih surprise. Lagian, kamu kenapa udah 3 minggu nggak pulang-pulang?" Merajukalah Jessica.


Rio berkilah dengan alasan dirinya sangat sibuk di sini mengurusi anak-anak asuhnya. Memang benar, tapi bukan hanya anak asuh, ada wanita asuh juga. Dalam kelakarnya bersama Jessica, Rio berpikir keras bagaimana mencari alasan agar tidak memboyong keluarga ke apartemen? Tari ada di sana maka, Jessica sudah pasti jangan sampai menginjakan kaki di sana. Mendadak sebuah ide terpintas. "Sayang, nginap di hotel aja, ya? Soalnya, apartemen lagi mau aku renovasi, cat dinding mau aku ganti," cetus Rio. Jessica tidak menaruh curiga apapun, ia menurut saja apa yang dikatakan suaminya.


"Adek sama Papa dulu, ya? Mama mau ke toilet sebentar," ujar Jessica.  Ia keluar ruangan dan pergi ke toilet. 


Para sales, spg berdatangan dari aktifitas di luar karena sebelum pulang mereka akan melakukan meeting akhir bulan. Irene pun kembali ke kantor bersama Yudha dan tak sengaja melihat istri atasaannya berjalan ke arah toilet.


"Bu Jess!" Mendengar namanya diserukan Jessica berhenti melangkah, lantas membalik badan. Seorang wanita muda dilihatnya mendekat.

__ADS_1


"Bu Jess ada di sini rupanya," celetuk Irene sok akrab. "Oh, Irene. Iya, baru aja aku datang, Ren." Niat Jessica ke toilet harus tertunda karena mulai terjadi pergibahan di sana. Inilah kesempatan Irene untuk memanas-manasi istri atasanya itu, tak segan ia mengadu soal Tari yang menjadi simpanan Rio. 


"Bu Jess nggak tahu aja, Pak Rio itu punya wanita simpanan, Bu. Dia itu bahkan hampir tiap hari datang ke kantor, lagaknya udah kayak istri Boss aja. Namanya Tari, Bu."


Siapa yang tidak panas mendengar kabar berita seperti ini. Jauh-jauh Jessica datang, tapi pil pahit ini yang harus ia terima. Anak kedua yang sedang dikandungnya tak menyurutkan Rio untuk menyimpan wanita lain. 


"Pantas aja Rio udah beberapa minggu nggak pulang!" Mendidih darah Jessica kini. Niat ingin ke toilet hilang sudah. Dirinya tak tahan lagi ingin mencecar sang suami dengan berbagai pertanyaan.


Entah memang karena nasib sial Tari kah? Secara kebetulan pula Tari datang sore ini ke kantor, maksudnya ingin mengajak Rio jalan-jalan karena merasa bosan sudah beberapa hari berdiam diri di apartemen. Masuklah Tari secara gamblang ke dalam kantor, tanpa curiga, tanpa ada firasat buruk.


Ia langsung menuju ruangan Rio yang mana Jessica sedang berjalan beriringan dengan Irene. Melihat Tari lewat mata Irene membulat.


"Berani banget dia datang ke kantor!" umpat Irene dalam hati. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas, Irene sontak memberi tahu Jessica, "Bu, itu Tari! Itu Tari! Wanita simpanan Pak Rio!"


Jessica yang sudah panas kini jadi terbakar. Kemarahannya berkobar ketika tahu simpanan suaminya datang ke kantor tanpa rasa malu. Tanpa basa-basi, dikejarnya Tari yang sudah masuk ke ruangan Rio, sedangkan Rio sudah naik ke lantai dua di mana ruangan meeting berada.


"Ya, nggak ada," keluh Tari ketika melihat ruangan kosong.


"Eh, pelakor!" Kaget setengah mati Tari mendengar Jessica berteriak lantang seperti itu. Jessica geram mendekati Tari dan langsung melayangkan tamparan. Mendapat tamparan begitu saja membuat Tari tak lantas diam, dia melawan untuk membela diri. Terjadilah pertengkaran dahsyat yang mana Irene ikut andil memukuli Tari.


Riuh satu kantor akibat pertengkaran istri sah dan wanita simpana. Seseorang langsung melapor pada Rio yang baru akan memulai meeting. Kaget setengah mati Rio mendengarnya.


Tidak terima dirinya dikeroyok sebisa mungkin Tari melawan. Di dorongnya Irene sekuat tenaga hingga wanita itu menabrak  meja sofa dan terjangkang ke belakang. 


Prang!

__ADS_1


Guci mini yang ada di meja menghantam kepala Jessica. Seketika darah mengucur. Dua wanita yang sedang hamil itu mengerang kesakitan, Jessica hampir pingsan akibat luka di kepala, sedangkan Irene sudah menangis kencang, ia kesakitan memegangi perut dengan darah yang terus mengalir dari pangkal paha.


Tari menguk ludah, ia terdiam dengan tubuh gemetar melihat keduanya mengerang kesakitan. "Jessica!" Teriakan Rio menggema tak ayal membuat yang lain menghambur ke tempat kejadian, begitupun Yudha. Ia sama terkejutnya melihat Irene terduduk di lantai dengan darah yang sudah membasahi span yang ia pakai.


__ADS_2