Hikayat Cinta

Hikayat Cinta
Part 10 Obat perangsang


__ADS_3

Masih dengan terkejut Laras menatap pintu penyambung antara kamarnya dan kamar Iyas,


"kenapa, masih tidak percaya...?"


"bukan... bukan begitu.. hanya saja, aku kagum baru kali ini ada kamar hotel seperti ini"


"ini kamar khusus keluargaku, setiap aku dan kedua orang tuaku berlibur kesini, kamar ini menjadi kamar kami, dengan begitu orang tua ku dengan leluasa mengawasi ku, apa kamu fikir, orang tuaku tidak mengawasi ku?"


"tidak enak juga ya jadi kamu, setidaknya aku beruntung, memiliki kebebasanku"


"baiklah... kamu sudah siap"


"sudah.."


"yuk..." Iyas memberikan tangannya, agar Laras mau menggandengnya, entah karena apa, Laras menerima tangan itu dengan senyuman, mereka berjalan beriringan sampai ketempat tujuan, disana sudah berkumpul beberapa orang berjas rapi dan beberapa wanita yang tidak di kenal Laras,


saat mereka melihat kedatangan Iyas mereka semua berdiri memberi hormat.


"silahkan kalian duduk"


mereka semua pun duduk,sesuai instruksi Iyas, begitupun dengan Laras, Laras melihat satu persatu dari wajah orang-orang itu, ia sedikit membaca kalau mereka tidak menyukai Laras sama sekali,mereka hanya penjilat, yang akan menghancurkan seseorang dari belakang, saat Iyas ingin memulai rapat sahamnya, Laras izin untuk ke toilet,


"jangan terlalu lama," ucap Iyas,


"baiklah" balas Laras dengan senyuman serta tepukan tangan di bahu Iyas,


Laras pun melangkah dan a


Iyas memulai rapatnya,


namun siapa sangka, seorang yang di anggap teman kadang adalah musuh yang paling berbahaya, lebih baik kita berhadapan dengan seorang musuh yang menyatakan perang, dari pada berhadapan dengan musuh yang pura-pura menjadi kawan,


saat Laras kembali dari toilet, ia tidak sengaja melihat wanita yang sedang duduk di hadapannya tadi memberikan obat di salah satu minuman yang di bawa pelayan, Laras hanya mengamati dan menandai gelas yang berisi obat itu, saat mereka sampai bersamaan dengan sampainya Laras, ia melihat pelayan itu memberi gelas yang ada obat nya di hadapan Iyas, seketika Laras mengerti sasaran mereka adalah Laras, obat apa yang mereka berikan, apakah obat untuk membunuh Laras???


tidak aku tidak bisa membiarkan itu terjadi, saat Laras ingin meminum jus dalam gelas itu, Laras menghentikannya, dan menukarnya dengan gelasnya sendiri, semua mata tertuju pada mereka terutama ke empat mata yang sedari tadi menginginkan Iyas meminum minuman itu,


"kenapa"tanya Iyas,


"tidak aku hanya menginginkan minuman ini, tidak apa-apa kan kalau di tukar denganku?"


"owh... baiklah.. minumlah, aku akan minum yang ini" ucap Iyas sambil mengambil jus milik Laras, Laras meminumnya sedikit lalu meletakkan nya kembali, Iyas pun memulai rapatnya, tubuh Laras mendadak menjadi gerah, panas, padahal AC masih menyala,


"kamu kenapa, kamu baik-baik saja kan? tanya Iyas, Laras hanya membalasnya dengan anggukan,


"tuan sepertinya, wanitamu sedang kurang enak badan, tidak apa-apa jika rapat ini kita lanjutkan besok"

__ADS_1


"tidak, aku tidak apa-apa, Yas... lanjutkan, selesaikan masalah ini hari ini juga, setelah ini, kau tidak boleh bertemu mereka lagi"


racauan Laras membuat Iyas terkejut dan gadis yang memberi obat itu menjadi sedikit khawatir,


Laras memberi pesan singkat kepada Iyas, hingga membuat Iyas, mempercepat rapatnya, dan menandatangi surat-surat itu, Laras berusaha menahan panas dalam tubuhnya, sedangkan Iyas, selalu melihat kearahnya, ada kecemasan dan amarah di wajahnya,


"baiklah tuan-tuan semua, rapat kita selesai, maafkan saya, saya tidak bisa berlama-lama karena wanitaku, sekaligus pengacara ku kurang sehat"


"kami mengerti tuan Iyas, terima kasih atas kebaikannya, karena masih memperkerjakan kami"


"baiklah, uji pekerjaan kalian di mulai dari besok, aku permisi dulu,"


Iyas langsung membopong Laras, yang sudah terlihat tidak nyaman,


"kau akan baik-baik saja,ada aku disini, setelah ini akan aku urus mereka"


"aku kepanasan Yas, badanku serasa gerah, mendekap mu seperti ini rasanya nyaman sekali Yas" racau Laras,


"Brayen... panggilkan dokter sekarang ke kamarku"


"baik tuan"


Iyas terus memopong Laras dalam pelukannya menuju ke kamarnya, ia membaringkan Laras di ranjang, saat Iyas ingin menjauh, Laras menarik dasi Iyaa, membuat Iyasterjatuh tepat di atasnya wajah mereka hampir bersentuhan,


"jangan pergi... lakukan seperti tadi.. aku nyaman"


"apa terlalu panas"


"panas sekali Yas, aku tidak kuat, kamu tidak lihat keringatku, hidupkan AC nya Yas..."


"aku sudah menambahkan suhu AC nya Ra...."


saat Iyas sibuk mempertahankan baju Laras yang hendak di lepas, seorang dokter masuk, dan segera memeriksa Laras,


"bagaimana dok, apa yang terjadi padanya, ia merasa sangat panas di tubuhnya"


"ini akibat pengaruh obat perangsang yang di minum tuan, anda tidak perlu khawatir"


"obat perangsang"


"ia tuan,istrimu baru minum obat perangsang,itu baik untuk kalian yang masih pasangan muda, apakah kau memberi obat itu karena istrimu tidak mau kau ajak berhubungan badan tuan?"


"apakah anda waras dok, "ucap kesal Iyas pada dokter itu,


"tuan, solusinya hanya satu, beri dia kepuasan maka obat itu akan hilang sendirinya, dan ini obat kasihkan setelah efek obat itu sudah tidak ada, agar staminanya menjadi stabil" ucap dokter itu sambil menyerahkan obat di tangan Iyas, lalu dokter itu meninggalkan ruangan itu dengan wajah yang menahan tawa,

__ADS_1


"cih... apakah kau membawa dokter sakit jiwa?" tanya Iyas kepada Brayen,


"tapi tuan yang di katakan dokter itu benar, ciri -ciri yang terjadi pada nona Laras sekarang karena obat itu, aku pernah membaca artikel itu sebelumnya,"


"tapi aku tidak mungkin melakukan hal itu dengannya"


"kenapa tuan, anda menyukai nona Laras, ini kesempatan bagus untuk mendapatkan dia tuan"


"apa kau fikir aku ini bajingan, katakan artikel yang kamu baca itu, apakah ada cara lain selain berhubungan badan untuk mengatasi obat itu?"


"ada tuan itu kalau pria yang begitu,mereka akan mandi air dingin, itu bisa mengurangi nafsu mereka tuan, anda bisa mencoba itu"


"benarkah..., baiklah sekarang kamu keluar, awas jika itu tidak berhasil, Oya jangan lupa urus orang yang melakukan ini, beri mereka hukuman"


"baik tuan, akan saya bereskan"


Brayen pun mengerti dengan perintah tuannya, hukumannya adalah sama dengan yang mereka lakukan, tentu... Iyas tidak akan membiarkan mereka tenang,


Iyas pun membawa Laras ke kamar mandi dan segera mengguyurnya dengan air dingin, tubuh Laras menggigil,


"Iyas.. apa yang kamu lakukan?"


"Rara... sadarlah... apa kamu bisa mengendalikan kamu sendiri sekarang"


"sudah Yas.. aku kedinginan"


Iyas pun mematikan shower dan memberikan handuk,


Iyas membawa Laras keluar dan mengambilkannya ganti baju,


"maafkan aku, aku terpaksa melakukan itu"


"tidak apa-apa, aku malah berterimakasih"


"siapa mereka kenapa mereka memberi ku obat perangsang, apa tujuan mereka?"


"apa kau masih tidak mengerti, mereka menginginkan kamu,seandainya kamu yang minum obat itu, mereka akan memberikan wanita itu di ranjang mu, setelah itu apa yang akan terjadi, jelas mereka akan meminta pertanggung jawaban kamu sebagai laki-laki yang sudah meniduri anak gadis orang"


"sialan... mengapa mereka serendah itu, rara, mengapa kau melakukan itu, bagaimana jika obat itu adalah obat untuk kematian ku?"


"berarti itu sudah takdirku, kita sudah berteman, jelas aku akan melakukan itu kepada temanku,"


Laras tersenyum pada Iyas, namun Iyas hanya membalas dengan senyum yang terpaksa,


*akan ku buat mereka menyesal, telah bermain dengan wanitaku*

__ADS_1


ucap Iyas dalam hatinya,.


__ADS_2