Hikayat Cinta

Hikayat Cinta
Part 24 Cinta Yang Manis


__ADS_3

Iyas tersenyum padaku,akupun begitu, jika aku boleh meminta, aku ingin Iyas menjadi milikku sekarang,milikku sah secara hukum dan agama kami, tapi masalah sepertinya akan datang lebih lama, membuat kami harus berjuang untuk menjaga hubungan ini agar tidak retan,


Mencintai seseorang memang mudah namun menjaga kesetiaan yang susah, karena akan ada banyak nyamuk pengganggu di sisinya, apalagi dengan pesona Iyaa yang memang sudah terkenal dalam dunia wanita,


Meski ku tau Iyaa bukanlah seperti yang di gosip kan, tapi perasaan takut akan kehilangannya sering muncul di hatiku, hah... apakah seperti ini ya saat jatuh cinta, apakah Iyas juga demikian?, apakah Iyas merasakan takut kehilangan aku juga? apakah Iyas juga merasakan kegelisahan ku? lama aku memikirkan hal itu membuat Iyas menatapku dengan heran,


"Kamu tidak apa-apa kan sayang?"tanyanya sambil memegang kedua tanganku, aku sadar dari lamunanku, akupun tersenyum membalas pegangan tangan Iyas, aku menggenggam kedua tangan Iyaa,


"Aku tidak apa-apa, hanya saja ada hal yang aku fikirkan, tapi itu juga tidak penting kok.."


"Benarkah... kamu tidak menyembunyikan sesuatu dariku kan..?"


"Tidak Yas .. mana berani aku menyembunyikan sesuatu dari kamu, aku ingin bertanya serius sama kamu"


"tentang Kasita...?"


"Bukan... tentang kita"ucapku serius memandang wajahnya,


"Apa.. tanyakan semua yang menjadi uneg-uneg hatimu, keluarkan semua beban hatimu"ucapnya dengan penuh keyakinan,


"Apakah kau mencintai ku...?"


"Tentu"


"Apakah kau selalu merindukan ku?"


"Selalu dan setiap waktu"


"Apakah kau takut kehilanganku?"


"Aku pernah kehilangan kamu satu kali, jadi aku tidak ingin lagi kehilanganmu"

__ADS_1


Reflek tubuhku langsung memeluk tubuh tegap Iyaa, aku eratkan pelukanku,


"Aku sangat mencintaimu Yas.... setiap hari aku selalu merasa takut, takut akan kehilangan kamu, takut kamu akan berpindah hati, takut... akan diriku yang akan kau campakkan"


Iyas membelai lembut kepalaku, ia menaruh dagunya tepat di atas kepalaku, kepalaku yang masih bersandar di dada bidangnya,


"Apakah kau tidak yakin kepadaku...apakah kau meragukan ku, jika begitu mari kita memulai... kita nikah saja"


Sejenak aku terdiam dengan ucapan Iyas yang tiba-tiba, seolah tanpa ia fikirkan terlebih dahulu,


"Kita nikah Ras.. setelah itu, tidak akan ada yang akan bisa memisahkan kita kecuali maut, dan kamu bisa menghilangkan semua rasa ketakutan hatimu, Laras... aku tidak mau kau meragukan ku, aku tidak mau di hatimu ada rasa curiga terhadapku, aku tidak mau kau merasa terbebani dengan masa laluku, Laras... aku emang sering berganti wanita untuk menemaniku, tapi bukan di ranjang sayang... aku tidak pernah menyentuh wanita manapun, kalau kau tidak percaya, kau tanyakan pada Brayen... dia selalu ada di sampingku, kau tau... saat aku kehilangan kendali, Brayen yang mengingatkan aku tentang mata elangku, yaitu kamu, mana bisa aku berpaling darimu, setelah lama aku mengharapkan kamu sayang"


Iyas memegang kedua pipiku dan menghadapkan wajahku ke wajahnya, mata kami terkunci dalam pandangan yang penuh arti, tangannya sangat hangat terasa di pipiku, ia mendekati wajahku, jantungku berdetak dengan lebih cepat dari biasanya, seakan tiada irama lagi selain bunyi detak jantung kami,


jarak antara wajah kami pun hanya tinggal sedikit, lama kelamaan hidung kamipun bersentuhan, sangat terasa nafas Iyas dan nafasku, ia berhenti saat hidung kami saling bersentuhan, kami menikmati suasana seperti ini, hingga kami menginginkan hal lebih, kini bibir kami yang berdekatan, dan saling bersentuhan, menikmati suasana malam yang dingin dengan keromantisan, sungguh aku tidak ingin malam ini berakhir, aku ingiin yang lebih, tapi .. aku masih bisa mengontrol diriku untuk tidak melakukan hal yang salah, begitupun dengan Iyas, aku tau dia juga menahan gejolak yang kini menyiksanya,


Nafasku pun terasa akan habis ku tatap wajahnya lagi, semakin hari wajah ini semakin membuatku gila,


Aku merasa dunia kini hanya milikku, aku bahagia tentu... malam sudah semakin larut aku tidak tau apakah Oma dan opa sudah pulang atau belum, aku tidur dalam pelukan Iyas, kita hanya tidur biasa tidak ada hal intim yang terjadi di antara kami selama di atas ranjang, Iyas benar-benar menjaga jarak denganku saat berada di ranjang, dan itu membuatku semakin mencintainya,


Kini rembulan sudah meninggalkan langit di ganti dengan sang Surya, Sabah raja sinar, aku menggeliatkan tubuhku saat cahaya matahari membuat mataku sedikit silau,


Kulihat Iyas, ia masih terlelap dalam tidurnya, aku dekati wajah yang sempurna itu, ku sentuh mata Iyas dengan jari telunjukku,lanjut kehidung mancungnya, lanjut ke bibir sensualnya, bahkan bibirnya lebih Indah dari punya seorang wanita, dia jauh lebih cantik dariku, ah... aku iri dengan ciptaan mu ini ya tuhan....


menyadari akan jam, aku segera beranjak meninggalkan Iyas dan membersihkan diri, setelah aku keluar dari kamar mandi, ku bangunkan Iyas.


"Sayang... bangun... sudah terang loh..."ucapku sambil mengelus rambutnya, kulihat ia menggeliat, terus kubelai kepalanya,


"Bangun... sayang..."ucapku lagi...


namun reaksi Iyas kini berbeda, ia menunjuk pipinya dengan jari telunjuk, aku mengerti isyaratnya itu, aku sering nonton drama-drama di tv, ku berikan ciuman pagiku di pipinya, dengan sulap matanya pun langsung terbuka,

__ADS_1


"Pagi sayang..."ucapnya seraya tangannya merangkul leherku dari depan, yang mana posisiku masih duduk di tepi ranjang bawah,


"Pagi juga sayang .. cepat bangun nanti kesiangan kekantornya"ucapku...


"Baiklah istriku sayang, suamimu ini akan bangun,"ucapnya sambil melepaskan tangannya dari leherku, dan bangun dari tidurnya,


"Aku kebawah ya, mau masak buat kamu"


"Baiklah, ingat aku mau masakan kamu bukan masakan bibik ya"


"Ok sayang"


kulihat Iyas berjalan menuju ke kamar mandi dan akupun keluar dari kamar, dan segera menuju ke dapur kulihat bibik yang biasa masak dirumah sudah sibuk di dapur bersama Oma,


"Pagi sayang..."ucap Oma


"Pagi juga Oma, semalam pulang jam berapa Oma, ?"tanya sambil mengambil bahan yang ingin aku buat untuk Iyas,


"maafkan Oma, semalam Oma pulangnya terlalu malam, Oma tidak tega untuk membangunkan mu sayang"


"pantesan Laras tidak tau,"


"Nona ingin masak apa, biar bibik saja"ucap bik inem selaku pembantu rumah namun tidak menetap dirumah, ia datang di pagi hari dan pulang di sore hari,


"bukan apa bik, Laras cuma ingin buat masakan seperti punya bibik, tapi buatan Laras, Iyas minta buatan ku bik,tidak apa-apa kan bik, jangan tersinggung ya, Iyas memang gitu kata mamanya"


"oh, tidak apa-apa non, bibik mengerti dia calon suami nona, pasti dia ingin tau masakan nona"imbuh pelayan rumahku itu,


"iya bik, semoga masakan Laras sama ya seperti masakan bibik"ucapku dengan tersenyum,


"nona sudah pintar masak mulai sejak kecil, pasti lebihh enak dari masakan bibik"ucap bik inem dengan diringi dengan senyuman

__ADS_1


__ADS_2