
Malam ini kami telusuri satu persatu toko, namun tidak ada satu kado pun yang cocok,
"mama tidak butuh kado apapun dari kita sayang, yang dia butuhkan hanya ini"
Iyas menunjukkan cincin pertunangan di depan mataku,
"maksudnya"tanyaku tak mengerti,
"kado terindah buat mama hanya lah kita, dia tidak minta apapun dari kita sayang, jadi usahlah kamu repot-repot cari kado untuk mama"
"tapi gak enak juga lah Yas"
lalu mataku tertuju pada suatu benda, mungkin tidak mahal tapi berguna buat Tante menurutku, ku bulatkan kalau aku ingin beli barang itu, dan Iyas pun menyetujui apa yang aku beli,
setelah kami dari toko, Iyas membawaku ke tempat makan aku heran, karena bukan resto yang ia tuju, tapi tempat makan lesehan, alias jalanan, aku makin mengagumi pria yang ada di sampingku ini,
"apakah kamu heran dengan ku, karena membawamu kemari?"
"bukan heran, tapi sediki terkejut, melihat kelas mu, kamu suka dengan tempat bersih"
"ini kesukaan mu sayang, dulu aku ingat, kau sering kali makan di tempat seperti ini, makanya aku membawamu kesini"
ya.. meski ku berusaha mengingat, semua ingatanku sudah kabur, hilang sejak kecelakaan itu, tidak ada satupun kenangan yang aku ingat, bahkan wajah Iyas pun aku tidak mengingatnya,
"Iyas, terima kasih ya,"
Iyas mencium keningku sekilas, seraya berkata,
"aku mencintai mu, apapun yang terjadi dan bagaimana pun nanti keadaanmu, aku akan selalu mencintaimu"
bahagia, pasti... wanita mana yang tidak akan bahagia bila prianya begitu mencintainya,
banyak mata yang memandang ke arah kami, mungkin mereka heran akan kami, dengan pakaian yang kami pakai, dan penampilan kami, serta kendaraan yang kami tumpangi, tentu membuat mereka bertanya-tanya,
"apa kau merasa terganggu sayang?"
"tidak"
tak berapa lama kemudian, makanan yang kami pesan sudah siap tersaji di hadapan kami, dengan laten Iyas memisahkan ikan dengan tulang-tulangnya, agar memudahkan aku untuk menyantapnya, sungguh sangat perhatian, kami menyantapnya dengan lahap, menikmati kebersamaan kami yang sederhana, sebenarnya kebahagiaan itu tidak perlu mewah cukup ada kasih sayang di dalamnya, hati kita akan terpuaskan,
__ADS_1
desiran angin malam semakin membuat tubuh kami kaku, Iyaa, menyadari dia pun membuka jasnya dan memakaikn ke tubuhku, tangannya sibuk menggenggam tanganku, memberi kehangatan,
ia pun membawaku ke dalam mobilnya, jam sudah menujukkan jam 11 malam, iapun mengantarkan ku pulang, kulihat ia seriang menguap tanda dia sangat mengantuk,
"kau terlihat begitu lelah?"tanyaku,
"tidak begitu, hanya saja cuaca hari ini yang tidak mendukungku"
"biar aku saja yang membawa mobilnya"
"tidak usah aku masih bisa kok"
ku tatap terus wajah Iyas yang terlihat lelah, tak berapa lama kemudian kami sampai di depan rumahku, kulihat keadaan rumah sudah sepi, mungkin oma dan opa sudah istirahat, ku ambil kunci rumah yang selalu ku bawa, ku ajak Iyas untuk masuk agar ngantuk nya bisa berkurang, namun di luar kendaliku, Iyas nylonong masuk ke dalam kamarku, terpaksa aku menutup pintu ruang tamu, dan mengejar arah Iyas,
"hei... apa yang kamu lakukan di kamarku"
"biarkan aku istirahat disini malam ini, aku janji gaakan macam-macam kok"ucap Iyas dengan mata terpejam, ku hembuskan nafasku, ku lepas sepatu Iyas yang tertidur dengan nyenyak di kasurku, kulihat jam sudah hampir jam 12, aku bersihkan diri dan berganti baju tidur, aku putuskan untuk tidur di sofa,
seperti dalam mimpi, ku merasa Iyas menggendongku dan meletakkan ku di tempat yang empuk, nyaman dan hangat, aku teruskan tidurku di tempat itu tanpa membuka mataku,
pagi telah tiba, saat aku terbangun, aku merasa aku memeluk sebuah guling besar yang menghangatkan, ku buka mataku,
"kenapa kamu berteriak sayang?"
"kamu... kenapa.."
"hei... jangan salahkan aku, kamu yang pindah kesini tadi malam dan memelukku"ucap Iyas yang entah dia berbohong atau berkata jujur, tapi seingatku, aku memang tidur di sofa, kok tiba-tiba ada di ranjang ku, ku tatap Iyas dengan penuh selidik, dia memalingkan wajahnya, entah apa yang di fikirkan pria di depanku ini,
"sayang, cuma tidur bareng kan, gak ngapai-ngapain juga kan?"ucapnya
di fikir-fikir iya juga sih, toh pakaian ku masih lengkap, dan tidak ada rasa sakit aneh yang seperti cerita orang-orang,
"baiklah, kamu bersihkan tubuhmu dulu, bau tau"
"cih, bau katanya, padahal semalaman kau peluk tubuhku ini"
"ya, itu karena aku kira kamu itu bantal guling tau"
"mana ada bantal guling seganteng aku"
__ADS_1
"udah sana, mandi"
ku dorong tubuh Iyas agar menjauh dari tubuhku, serasa malu diri ini, karena mengingat apa yang aku lakukan, tidur dengan posisi memeluknya, seperti anak kecil yang lagi meluk boneka, sungguh lucu dan memalukan,
*****
"jam berapa kalian pulang tadi malam, kok Oma tidka tau"ucap oma ku sambil menyajikan makanan di atas meja
"sekitar tengah malam kami nyampek sini Oma, terus Iyas terlihat sangat mengantuk, jadi terpaksa dia menginap disini,"ucapku sambil membantu Oma ku menyiapkan piring di atas meja,
"baiklah, bagaimana acara nanti malam yas, apakah sudah siap?"
"semua sudah di serahkan sama petugasnya Oma, kami cuma tinggal terima jadi"jawab Iyas dengan diringi senyumannya,
kini malam telah tiba, Laras berdandan dengan sangat anggun, tidak terlihat menor, namun sangat dan sangat elegan, baju berwarna gold, rambut tertata rapi dengan be beberapa aksesoris, sungguh wanita yang sempurna,
ya malam ini Iyas ingin mengumumkan hubungan mereka ke publik, tentu dia akan berpenampilan yang sempurna menurutnya,
mereka pun berangkat ke rumah Iyas , terlihat sudah banyak tamu yang berdatangan, mobil masuk dengan silih berganti, akhirnya Iyas dan keluarganya pun sampai, mereka di sambut hangat oleh tuan rumah,
"selamat ulang tahun Tante"
"terimakasih sayang"
Laras mencium kedua pipi nyonya Martha,
"silahkan masuk nyonya, tuan, nikmati acaranya semoga kalian nyaman,"
"ini suatu kehormatan bagi kami nyonya"
"mereka berbincang dengan di selingi senyum dan tawa, sesekali ku mencari sosok yang kini menjadi kekasihku, namun aku tidak melihat ujung hidungnya,
kemana.... ?tanyaku dalam hati,
suara pemandu acara pun terdengar jelas, nyonya Martha pamitan untuk meninggalkan kami, kami tersenyum sebagai tanda jawaban kami, terlihat nyonya Martha dan tuan Arya, yang terlihat begitu serasi, acara pemotongan kue pun di mulai namun Iyas masih tidak terlihat, dan nyonya Martha tidak keberatan dengan hal ketidak hadiran putrnya,
"baiklah, pertama saya ucapkan kepada kalian yang sudah meluangkan waktu untuk datang ke acara yang tidak berarti ini, tapi, malam ini bukanlah hal ulang tahun ku yang menjadi prioritas ku, tapi melainkan putraku, ia memberiku sebuah kado, yang gak pernah aku bayangkan sebelumnya, putraku, kemarilah nak"
semua mata tertuju kearah yang di lihat tuan Martha,
__ADS_1
deg... deg...deg...