
Hari pun berganti hari, Iyas kembali dengan wajah ramahnya, tidak ada tekanan, tidak ada amarah lagi, dia selalu tersenyum sepanjang hari, memikirkan rencananya yang ingin melamar Laras tanpa sepengetahuan mamanya, agar menjadi kejutan di hari ulang tahun mamanya yang sudah hampir,
"Ra... kita jadikan ketemuannya"
"jadi Yas, kamu tunggu saja di tempat, aku pasti hadir kok"
"baiklah... jaga dirimu" ucapan terakhir Iyas berhasil membuat Laras tersenyum,
"ehem..ehem... ada yang bahagia ni..., tumben selalu senyum-senyum saat menerima telfon, dari pacarnya ya"
goda teman kerjaku, yang memang selalu memperhatikan ku, ia bahkan mengatai ku gadis cantik yang tak laku, karena memang dari dulu aku tidak pernah pacaran, aneh tapi itu kenyataan nya, meski ku tau, ada satu pria kantor yang selau mendekatiku, tapi apalah daya, perasaan seseorang tidak bisa di paksa,
kini tiba saat nya pertemuan itu, aku memakai baju dress hitam, dengan rambutku di ikat sedikit berantakan, menambah kesan yang lebih cantik menurutku, dengan polesan make up tipis ku melajukan mobilku,
kulihat Iyas sudah duduk di tempat yang ia janjikan, tempat dimana tidak ada orang sama sekali hanya kita berdua, ia duduk di dasar rumput dengan sebuah karpet yang ia duduki, entah apa yang ada di fikiran Iyas saat ini, memilih tempat yang seperti ini,tapi sungguh aku sangat menyukai nya,
saat Iyas melihat ku datang, ia berdiri dan mendekat ke arahku, seketika dadaku bergemuruh gembira,dia bagaikan pangeran dan akulah putrinya, itu khayalanku, tapi khayalan akan tetap jadi khayalan, karena rasa tak percaya diriku yang terlalu,
"maaf, aku milih tempat seperti ini, ku harap kau menyukainya"
"sangat suka, bahkan sangat menyukainya,"
Iyas melepaskan jasnya dan menyelimuti ke tubuhku, ya saat ini aku pakai baju yang lengannya hanya sebahu,
"udaranya sangat dingin, duduklah, aku sudah menyiapkan semuanya" ucapnya sambil menuntunku untuk duduk di samping nya,sudah tersedia beberapa makanan diatas karpet, dan juga minuman serta cemilan lengkap dengan buah-buahan nya,
"kau yang menyiapkan ini semua"
"lalu kamu fikir siapa lagi, aku mulai tadi sore loh yang nyiapin ini,"
"terimaksih ya" ucapku sambil menyentuh tangannya dan menatap nya, Iyas juga menatap ku dan membalas senyumanku dengan genggaman nya,
"aku tidak pernah main-main jika masalah perasaanku Ra,aku sangat nyaman sama kamu, ah... aku tidak pandai membaut kata-kata romantis Ra, tapi intinya aku ingin menikahi mu, menjadikan mu satu-satunya istriku, ibu dari anak-anakku, mendampingiku dalam keadaan apapun, aku menginginkan kamu Ra..." ucap Iyas dengan serius,
__ADS_1
aku juga nyaman dengannya,tapi apa yang harus aku katakan, debaran jantungku bahkan sangat terdengar jelas, aku tau hatiku juga menginginkan ini, aku gugup, aku malu untuk mengatakan iya,aku memilih menatap Iyas dengan lekat, tiba-tiba Iyas merangkul ku, memasukkan tubuhku dalam dekapannya, menyandarkan kepalaku di dadanya, sungguh nyaman dan hangat,
"kau tidak perlu menjawab dengan kata-kata, cukup anggukkan kepala mu jika kau setuju dengan lamaran ku" ucapnya lagi sambil membelai rambutku dengan lembut,
aku mendongakkan kepalaku menatapnya seraya menganggukkan kepalaku, saat ia menyadari jawabanku, ia tersenyum bahagia dan mencium keningku dengan lembut,
"terimaksih Ra.... terimakasih karena sudah menerima, aku pasti akan berusaha menjadi yang terbaik untukmu"
ku eratkan pelukanku, seakan-akan aku menjadi bisu dalam pelukannya, apakah karena bahagia, atau karena gugup, tapi aku bahagia dengan suasana malam ini,
kami pun melepaskan pelukan kami, ku tersenyum padanya,
"bagaimana dengan keluarga mu"
"mama papa sangat menyukai mu, tentu mereka akan setuju, tapi aku ingin membuat kejutan untuk mama, ulang tahunnya sudah hampir, di saat itulah kita akan umumkan hubungan kita, sekaligus menjadi kado buat mama,"
"terimakasih Iyas, ku harap kau akan melakukan setiap janjimu, aku tidak tau dirimu, tapi kau sangat tau tentangku, ku harap kau bisa memaafkan ku jika aku ada salah nantinya,"
"apa yang kamu katakan, kau akan selalu benar di mataku"
tiba-tiba Iyas mengeluarkan ponselnya dan membuat foto dengan masih merangkul ku, jadinya sungguh di luar dugaan, sungguh indah, dengan suasana malam dekat danau dan lengkap dengan rembulan,
"kau suka, akan ku jadikan wallpaper mulai saat ini" ucapnya
"apakah tidak apa-apa, jika ada yang tau"
"kenapa, itu yang aku inginkan, aku ingin mereka tahu, kalau Laras sang pengacara terkenal, adalah kekasih ku, yang tidak boleh lagi di ganggu, milik Iyas Arora"
"hehehehe, memangnya siapa yang akan mengganggu ku Yas, tidak ada seorang pria pun yang mau dekat sama aku"
"benarkah, berarti calon istriku ini terlalu cantik, makanya tidak ada yang berani mendekatinya karena tidak ada yang bisa sebanding dengan wajah cantikmu ini, kecuali aku si pangeran Yas"
"hemmm... rasa percaya dirimu ini loh tuan Yas... makin menjadi... "
__ADS_1
mereka tertawa lepas, hingga malam semakin malam, Iyas memutuskan untuk mengantarkan Laras, sedangkan mobil Laras, ia menyuruh supirnya yang membawanya,
"terimakasih ya Yas untuk malam ini"
"sama-sama princess ku..."
"gak mampir dulu"
"ini sudah malam, kamu harus istirahat,"
"ok kalau begitu hati-hati ya di jalan?"
lamaran sederhana Iyas berjalan dengan lancar, hubungan mereka lancar, tidak ada hambatan sama sekali, membuat Iyas dan Laras merasa puas kini tugas mereka yang sesungguhnya, akan segera di mulai,
malam berjalan dengan senyuman kedua insan yang tenang, tak ada jalan yang lurus pasti akan ada bebatuan dan belokan, seperti itu juga kehidupan, tidak akan selalu tenang dan nyaman, aku sudah mengalami berbagai rintangan sejak kecil, aku yakin di balik ketenangan ini pasti akan ada cobaan dan aku harus mempersiapkan hal itu, di luaran sana banyak gadis yang mengincar Iyas, tentu mereka akan menyerang ku suatu saat nanti,
"sepertinya.. cucu Oma bahagia sekali, ada apa sayang, ceritakan ke Oma dong"
"ahh Oma, tidak kok, Laras biasa-biasa saja"
"mosok, beda loh ya pa"
"cucu opa selalu cantik, semoga selalu bahagia dan tersenyum seperti ini terus ya sayang"
"ingat pesan Oma dan opa, pertahankan apa yang menjadi hak mu, menjadi milikmu, apapun keadaanya"
"kenapa opa bilang begitu, apa Laras terlihat lemah"
"bukan begitu sayang, itu hanya nasehat, Oma dan opa sudah tua, tidak bisa terus-terusan menemanimu"
"jangan berkata begitu ah, Laras gak suka,"
dengan memalingkan wajahnya dari kedua orang tua di sampingnya, ..
__ADS_1
"Laras sayang... kami sangat menyayangimu"
ucap mereka berdua bersamaan