Hikayat Cinta

Hikayat Cinta
Part 40


__ADS_3

Terdengar ponsel Laras kini berdering saat ia lihat, tertera nama Iyyas.


"Bagaimana ... apakah semuanya berjalan dengan lancar ...?" tanya Iyyas


"Semuanya berjalan dengan lancar, aku pasti akan melakukan yang terbaik, terimakasih karena sudah ada untukku selama ini, aku tidak tahu ... bagaimana aku tanpa mu" ucap Laras.


"Laras, kau yang melakukan ini sendiri, meskipun tanpa aku ... kau pasti bisa melakukan nya, karena kau adalah seorang Laras, wanita kuat yang selalu ada di jalan kebenaran, Laras ... semangat lah ... Setelah ini kau harus mengistirahatkan tubuh dan juga otakmu, kau butuh ketenangan" ucap Ilyas yang mengerti bahwa Laras sudah bekerja keras selama ini.


Ia juga membebaskan semua tawanan yang ada di rumah tua itu.


Ia melakukan sendiri, tanpa minta bantuannya.


Ia hanya bersatu dengan kepolisian, karena itu akan aman dan bisa dijadikan bukti yang kuat.


Menyelamatkan ibunya Kasita dan juga Alina adalah langkah yang butuh tenaga, bagi seorang wanita seperti laras, namun ia sukses.


Dan yang membuat Laras lega adalah, ia mengetahui bahwa Ibunya Alina bukankah wanita jahat seperti yang di katakan Oma dan Opa nya.


"Oma, Opa ... aku sudah Bertemu dengan wanita itu, dia tidak sejahat yang kalian fikirkan" ucap Laras.


"Itu sekarang, Nak ... dulu ia hanya mengejar harta papa mu" ucap Omanya Laras.


"Semua orang punya salah dan punya kesempatan untuk berubah, itu juga termasuk Ibunya Kasita, Oma ... Opa ..


Laras akan memberikan apa yangs seharusnya mereka dapatkan, aku harap Oma dan Opa mendukung setiap yang aku lakukan, Oma ... Opa ... Laras hanya ingin hidup damai, tanpa ada rasa benci dan dendam, Laras lelah dengan semua hal yang Laras hadapi selama ini, dan juga laras ingin mendapatkan keluarga yang utuh, tanpa ada permusuhan" Laras tertunduk saat mengatakan hal itu, ia tahu ... itu akan membuat hati keduanya alan terluka, namun ... itu yang ingin Laras lakukan, mereka begitu setia pada Mama dan papanya, tapi ... menjalin hubungan baik apakah itu salah, harta bisa di cari tapi saudara dan keluarga, semuanya akan sulit kita dapat kan.


Laras menatap kedua orang tua itu, mereka tersenyum pada arah Laras seraya berkata.


"Kau kebanggaan kami, Nak ... kau pasti akan melakukan yang terbaik untuk dirimu sendiri, Laras ... semoga kau selalu bahagia,Nak" Omanya memeluk Laras dengan begitu sayang nya.

__ADS_1


Laras menangis dalam pelukan itu.


Ia merasa sangat lelah saat ini, hingga ia ingin beristirahat sejenak seperti yang Iyyas katakan, namun peperangan sebenarnya belum lah terjadi, persidangan itu akan menjadi awal pertempuran nya.


Hari semakin berjalan dengan begitu cepat, ia tidak bisa beristirahat dengan tenang, karena hari dimana ia akan menjadi pengacara dalam pihak yang bersalah.


Kedua mertuanya datang untuk memberinya dukungan.


"Iyyas akan datang sayang, lakukan yang terbaik yang menurut mu itu adalah yang baik, ingat ... kau adalah wanita kebanggaan kami semuanya" ucap Mama mertua nya.


"Terima kasih Ma ... pa ... tanpa kalian Laras jiga akan sulit melalui nya" ucap Laras,


"Kebenaran adalah hal yang harus di utamakan, tapi kau sekarang ada di pihak yang bersalah, papa harap kau bisa berfikir jernih dan tidak merugikan yang lain" nasehat papa mertuanya.


Laras tersenyum pada keduanya.


Di sana juga datang lah Kasita, Alina dan juga ibunya Alina.


Di ruangan itu juga ada Yoga, Dito dan juga mamanya.Laras sudah menceritakan semuanya pada Yoga, perihal kelakuan Mama nya juga, Yoga kini pasrah dengan hukuman Hakim, dan mengatakan pada Laras kalau dia setuju dengan semua yang Laras lakukan.


Yoga banyak diam, ia malu pada Alina, wanita cantik yang kini sedang menatap nya dengan penuh kebencian.


Tatapan itu jauh beda dengan terakhir kali ia lihat, dulu Alina menatapnya penuh dengan permohonan dan kesedihan.


Yoga malu jika ingat akan hari itu, Wanita tetaplah wanita lemah yang butuh sandaran dan bantuan lelaki, namun ... ia sebagai lelaki sudah gagal dalam menjaga seorang perempuan.


Akhirnya persidangan sudah di mulai, Iyyas datang di saat Laras sedang menyatakan semua yang harus ia katakan.


Iyyas tersenyum, wanita nya kini fokus dalam mengatakan hal kebenaran, persis masa saat sekolah dulu.

__ADS_1


Persidangan berjalan dengan lancar, karena Pengacara musuh sudah menyatakan kalau pihak nya lah yang bersalah, Dito diam, tapi tidak dengan mamanya.


"Saya membayar anda untuk mengatasi masalah saya, tapi kenapa anda malah menjerumuskan saya!" bentak mama nya Dito


"Karena yang anda sekap adalah mama saya, bagaimana saya bisa diam dan membiarkan anda menang ... !" Laras tidak kalah emosi pada Klein nya itu. betapa terkejutnya Mamanya Diri saat mengetahui hal itu.


Laras menatap wajah arogan itu.


"Ya ... wanita yang anda jual adalah kakak saya, dan ibunya anda sekap, Anda manusia apa bukan ... !" teriak Laras.


"Jika saya tidak punya hati, saya ingin sekali rasanya melakukan hal yang sama pada anda, menjual anda pada orang dan menyekap anda begitu lama"


Saat emosi Laras masih berkobar, Ibunya Alina datang dan memeluk nya.


"Kau bilang apa tadi, Nak ... aku ibumu ... ?" tanya Ibunya Alina dengan Derai air mata


"iya, Ma .. kau adalah mama ku, maafkan aku ...maafkan aku karena datang terlambat, maafkan aku atas kesalahan papa ku, maafkan mama ku karena telah merebut papa darimu" ucap Laras


"Mama mu tidak bersalah, dia tidak tahu akan tentang itu, kau tumbuh jadi wanita baik, itu karena mama mu orang yang baik" Ibunya Alina terus membelai Laras, sedangkan Ibunya Dito dan Dito sudah di bawa ke sel untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka.


Semua datang menghampiri Laras dan ibunya Alina, terutama Iyyas.


"Selamat Nona Laras, anda hebat" ucap Laras seraya merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Laras, tentu saja Laras langsung memeluk nya dengan tangisan bahagia nya.


"Nikahi aku sekarang, aku ingin. berhenti dari pekerjaan ini" ucap Laras seraya menatap Iyyas dengan wajah yang di penuhi dengan air mata.


"Aku akan segera menikahi mu, dan kau akan hanya bekerja untukku" Iyyas memeluk erat Laras, semua orang terharu, Lalu Laras melepaskan pelukan itu dan menghampiri Alina dan juga Kasita juga Ibunya.


"Ini semua Aset papa ku, kecuali rumah itu tidak bisa saya berikan, di sana banyak kenangan ku dan kedua orangtuaku serta ada Oma dan Opa ku, Kak ... terima lah ini" Laras menyerah kan beberapa berkas pada Alina.

__ADS_1


"Tidak, kau yang pentas, aku hanya ingin kebenaran ibuku terungkap, dan kau membantuku" Alina memeluk Laras dengan bahagia.


Semua kini telah bahagia.


__ADS_2