
Malam itu, aku rasa ada yang beda dari diriku sendiri, aku dan Iyas larut dalam pelukan dengan di iringi desiran angin malam, ku tatap wajahnya sejenak, ada kedamaian yang aku rasa, kini aku hapus semua tentang keburukan yang aku dengar dari media, aku tutup telingaku dari segala hal yang aku dengar tentang keburukannya, aku mencoba untuk percaya sepenuhnya, ke dia pria yang pertama kali membuatku merasa nyaman,
entah bagaimana cara kita berpacaran tapi beginilah menurutku, hari-hari kita lewati dengan kenyamanan, dan pengertian,
dia sudah beberapa kali ingin mengantar jemput ku pulang tapi aku selalu menolak, karena aku tidak mau hubunganku kandas karena ada nya rasa kebosanan,
"kamu mengerti maksudku kan?"tanyaku
"aku mengerti, kau takut jika aku selalu bersama mu aku akan merasakan bosan kepadamu, tapi percayalah aku tidak akan begitu"
"jika kita sudah menikah nantinya, barulah kau boleh mengantar jemput ku, bahkan ingin menemaniku di kantor juga tidak apa-apa"
ucapku sambil menggodanya,
"kalau sudah menikah... aku tidak membiarkan mu bergerak sedikit pun dari ranjang mengerti tuan putriku"
"kau bercanda Yas... "
"baiklah, cepat pulang, nanti malam aku jemput, kita beli kado buat mama,ok"
"baiklah, aku pulang dulu ya"
"hati-hati sayang"
tanpa ku menjawab aku mematikan ponselku dan segera keluar dari ruangan ku, namun tiba-tiba ada sebuah tangan yang menarikku hingga membuat langkahku terhenti
"Laras tunggu... kenapa akhir-akhir ini kau seolah-olah menjauh dariku"
"aku tidak menjauh Nando... aku seperti biasa, apa kita pernah lebih dekat seperti ini, tidak kan..kamu jangan aneh-aneh deh"ucapku sambil berusaha melepaskan pegangan tangannya,
"apa benar kau sudah pacaran dengan Yas, si playboy itu"
"pertama aku tidak tau kalau dia seorang playboy, tapi aku yakin, sekarang hanyalah aku wanitanya, ke dua, masalah aku pacaran dengan siapa tidak ada seorang pun yang bisa mengatur ku, lalu apa masalahmu dalam hal ini?
"Laras, aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu denganmu, aku selalu mendengar kalau dia selalu bosan dengan satu wanita, setelah ia menidurinya ia akan membuangnya seperti bekas yang menjijikkan, aku tidak mau kau mengalami hal itu"ucapnya penuh kecemasan,
"terimaksih Nando, karena sudah mencemaskan aku, tapi aku tidak semurahan itu, memberikan tubuhku pada orang yang belum menjadi suamiku, jadi kamu tenanglah, aku tidak akan menjadi seperti wanita yang menyedihkan itu, percayalah"
ku mencoba meyakini teman kantorku, yang dari dulu memang selalu mencari kesempatan untuk dekat denganku,
"baiklah kalau kau sudah yakin dengan hal itu, ku harap kau bisa jaga dirimu baik-baik,"
__ADS_1
"terimakasih, kalau begitu aku pamit dulu, sampai jumpa besok Nando"
aku pun melangkahkan kaki meninggalkan laki-laki yang menatapku dengan mata yang menyedihkan,
*****
"Laras"
"iya Oma"
"kita diundang dalam acara ulang tahun nya nyonya Martha, apakah kau sudah tau nak"
"sudah Oma, ini bentar lagi Laras, mau keluar buat beli kado untuk Tante Martha"
"Oma ikut ya"
"jangan Oma, Oma pergi sama opa saja, Laras sudah janji sama temen"ucapku dengan penuh kecemasan, bagaimana jika Oma beneran ikut, apa yang harus aku katakan pada Iyas nanti,
"Oma bercanda sayang, cepatlah nak Iyas sudah minta izin ke Oma tadi,Oma tidak akan mengganggu kalian, sepertinya, nyonya Martha tidak ingin kado apapun dari kalian dia sudah bahagia mendengar hubungan kalian nanti"
"Oma jangan ngomong sembarangan, bagaimana jika Tante Martha tidak merestui hubunganku,"
"cucu Oma sangat cantik,pasti nyonya Martha sangat menyukai mu nak"
kini malam telah tiba ku dengar deru mobil di bawah, kulihat dari kaca jendela kamarku, benar orang yang aku tunggu sudah datang, segera ku turun dari kamarku, terlihat ia yang baru di persilahkan masuk oleh pelayan rumahku,
"kau sudah datang, duduklah dulu, biar ku panggil Oma"ucapku dengan senyuman, berharap pria yang ada di hadapan ku ini selamanya akan menjadi milikku,
"baiklah sayang,"
kulihat putri ku berjalan meninggalkanku, memanggilkan Omanya yang kulihat baru keluar dari kamarnya, aku berdiri menyambut kehadirannya, ku cium tangannya,
"sudah datang nak, silahkan duduk" ucap Oma yang sudah berumur namun sangat elegan,
"Oma, aku berniat ingin membawa Laras keluar, jadi jika kami pulang lebih malam, kuharap Oma tidak mengkhawatirkan kami karena aku akan membawa Laras untuk acara temanku setelah membeli kado buat mama"
"Iyas... kok kamu tidak bilang kalau harus datang ke acara teman mu,aku kan tidak bersiap-siap untuk itu"
"tidak usah, tidak apa-apa, nanti kita atur di jalan"
"baiklah nak, hati-hati ku titip cucuku"
__ADS_1
"baik Oma, kalau begitu kami permisi dulu"
ku cium pipi oma ku, kulihat Iyas yang mencium tangan Oma ku, sungguh pria yang sopan bagiku,
di perjalanan aku tatap wajahnya, yang serius dalam mengemudi mobil nya,
"kau yakin akan membawaku ke acara temanmu dengan penampilan seperti ini"
"kau selalu cantik sayang, dalam penampilan apapun kau selalu cantik, ini bukan acara resmi kok, hanya ada urusan sebentar dengan mereka, kita beli kado dulu apa ke teman-teman ku dulu"
"ke teman-teman mu dulu dah Yas, biar kadonya nanti saja,"
"baiklah sayang, jangan tegang gitu dong, santai ya"Yas memegang tanganku dengan tangan satunya, sedangkan yang satunya fokus mengemudi mobil, dia menggenggam tanganku seakan tidak mau melepasnya, dengan sesekali kecupan di punggung tanganku, kami saling tersenyum memandang, saat ku rasa mobil telah berhenti di sebuah cafe,
Iyas turun dan membukakan pintu mobil untukku, kami masuk ia selalu menggenggam tanganku, kulihat ada beberapa orang yang melambaikan tangannya, yang ku pastikan mereka lah teman-teman nya Iyas, kami mendekat kearah itu, dan Iyas menyapa mereka,
"lama gak ngumpul, ini Laras kan Yas?"tanya salah satu temannya yang tidak aku kenal sama sekali,
"yo'i dia Laras, gadis kecil bermata elang ku, ayok duduk sayang"
Iyas membimbingku agar duduk di sampingnya,
"hai Ras... kamu gak ingat sama kami?"
"tidak..."jawabku dengan heran, berusaha mengingat siapa mereka,
"dia sempat kecelakaan dan hilang ingatan permanen, jadi dia tidak akan ingat kalian sampai kapanpun, makanya sekarang aku ajak dia kemari"
"lalu si ratu drama kemana"
"siapa ratu drama Yas"
"ah, itu...salah satu teman kita juga, dulu dia dekat denganmu, makanya dia berkata begitu"
aku tau ada sesuatu yang Iyas sembunyikan dariku, tapi aku sudah memutuskan untuk mempercayainya,
kami menikmati acara cafe itu, hingga kini aku terbiasa dengan mereka bahkan kami sudah saling menyapa, terasa bahagia punya banyak teman yang akrab, dulu... kenapa aku lebih suka menyendiri, sekarang, semenjak bertemu dengan Iyas, aku merasa banyak perubahan yang aku dapatkan dari diriku sendiri,
"teman-teman kami jalan dulu, ya, ada sesuatu yang ingin kamu beli, ingat lusa harus datang kerumah ku ok"
"ok Iyas"
__ADS_1
"ku siapkan kejutan untuk kalian"