Hikayat Cinta

Hikayat Cinta
Part 12 Cerita masa lalu 2


__ADS_3

Oma Margaret membawa Iyas ke dalam kamar Laras, dimana di kamar itu tertempel foto Laras dan Vita mereka tampak seperti dua gadis polos yang tersenyum bahagia,


"Laras adalah seorang bidadari kecil yang di titipkan oleh majikanku menjelang kematiannya, sejak saat itu aku dan suami bersumpah akan merawat nya dengan penuh kasih sayang, namun sebelum itu nyonya kami menitipkan anak gadis yang berusia 4 tahun dia adalah Vita, awalnya kami tidak menyadari akan perubahan sikap anak itu, yang mulanya baik dan lembut, kadang menjadi wanita yang mengerikan, Laras beberapa kali di buat celaka olehnya, kami memaklumi nya namun saat dia membuat Laras hilang ingatan, sejak saat itulah aku menyadari betapa tamaknya dia menjadi orang, dia melakukan tipuan muslihat, kelembutannya di depan Laras membuat Laras selalu mempercayai,


Dia di kabarkan sudah meninggal, namun aku dan opa nya masih meragukan hal itu, karena mayatnya masih belum di temukan, tapi lebih mencurigakan lagi, dia meninggalkan sepucuk surat yang isi nya, pesan terakhir dan seuntai gelang,


Kami sudah tua tidak tau apakah kami masih bisa menjaga Laras atau tidak, tapi aku melihat ibumu sangat menyukai Laras, hatiku sedikit lega, tapi ada keraguan, apakah kau pria yang akan menjaga Laras?, memberi perlindungan mu untuk nya?, jika Vita kembali apakah kau akan kembali padanya? aku masih memikirkan hal itu, jika Vita kembali dan kau kembali kepada Vita, bagaimana dengan Laras kami,"


Iyad melihat wajah yang sudah mulai mengkerut itu terlihat sangat menyedihkan, Iyas berjalan mendekat kepadanya, dan memberi pelukan agar orang tua di depannya menjadi tenang,


"Oma... aku berjanji padamu, dalam keadaan apapun aku akan berada di sisi Laras, menjaganya, dan melindunginya, luka itu di sebab kan oleh ku, aku akan menebusnya Oma, Oma jangan fikirkan itu lagi, masalah Vita, jika dia berani mencelakai Laras kembali, aku tidak akan membiarkan nya Oma, aku tidak akan lagi terperdaya oleh kelembutannya,"


"aku bisa tenang mendengar kata-kata mu nak, sungguh jika wanita itu kembali, buatlah Laras menjauh dari nya, kalau bisa sejauh mungkin, "


" Oma... Laras bukanlah wanita yang lemah,jika dia kembali akan ku tunjukkan di hadapan Laras sifat dia yang sebenarnya oma, setelah itu jika Laras melihat sifat aslinya, aku tau Laras tidak akan diam lagi, serahkan semuanya padaku, "


Iyas berusaha meyakinkan wanita tua itu, Iyas juga yakin jika Vita belum meninggal, karena tahun kemarin, ada salah satu temannya yang pernah melihat nya, di rumah sakit bersalin, namun saat Iyas mengecek nya, wanita itu sudah tidak ada,


sedangkan Laras masih sibuk dengan urusannya, ia terlihat sesekali tersenyum saat melihat ponselnya, yang tersirat pesan singkat,


*jangan lupa tersenyum*


begitulah pesan yang ia terima, siapa lagi kalau bukan Iyas yang mengirimnya,


tiba-tiba ponselnya berdering, ia mengangkatnya tanpa melihat nama yang tertera di layar nya,


ia meletakkan benda tipis itu di telinganya, dengan di tahan oleh lengannya, sedangkan kedua tangannya sibuk melihat-lihat berkas,


"aku sudah tersenyum Yas, pekerjaanku masih banyak, jadi bisakah kita ngobrolnya nanti saja"


"Hem... Hem... ini Tante loh sayang bukan Iyas...." jawab orang yang berada di balik ponsel, seketika berkas di tangannya langsung Laras taruh dan beralih melihat ke layar ponselnya, betapa malunya Laras saat dia tahu kalau yang menelfon bukanlah Iyas melainkan ibunya Iyas,


"maaf Tante .. Laras fikir tadi itu__"

__ADS_1


" tidak apa-apa sayang... apakah tadi iyas menelfonmu?"


"tidak Tante, hanya saja dia mengirim pesan yang tidak ada hentinya,"


"bagus... usaha yang lumayan"


"maksudnya Tante..."


"owh.. tidak ada maksud apa-apa kok sayang, Tante menelfon mu hanya ingin memastikan keadaan mu saja, bagaimana pamanmu tidak menyusahkan mu kan?"


" tidak Tante.. hanya saja permasalahan disini sedikit makan waktu,jika belum bisa teratasi kemungkinan kami 3hari disini"


"3 hari... lama berarti ya, huh bagaimana Iyas akan menahan perasaannya selama 3 hari kalau begini"


"maksudnya Tante... "tanya Laras yang tidak mengerti arah pembicaraan nyonya Martha itu,


" ah.. tidak kok sayang... kalau kau sudah kembali dari sana, Tante mau bicara hal penting denganmu, jadi... cepat selesaikan tugasmu ya"


"baiklah sayang... kamu jangan lupa sarapan, istirahat yang tepat,"


"ok Tante... Tante juga jaga kesehatan ya "


"tentu sayang, ya sudah bay... love you my baby"


Laras tertawa sambil mematikan ponselnya mendengar kata terakhir yang di lontarkan mamanya Iyas,


ya, Iyas juga sudah cerita ke mamanya, kalau dia berencana melamar Laras secepatnya, menceritakan bagaiman Laraa menyelamatkan nanya dari obat yang di berikan oleh musuhnya, mamanya Iyas semakin yakin dengan Laras, bahwa dialah wanita yang pantas untuk anaknya,


*mamanya Iyas begitu baik terhadapku, begitupun dengan papa nya, apakah Iyas menyukaiku karena kedua orang tuanya yang menyukaiku, ahh, Yas pria pertama yang membuatku merasa nyaman ada di dekatnya, apa aku juga menyukainya? semudah ini kah jatuh cinta.... ? ataukah ini hanya kekagumanku saja,*


malam sudah tiba, menggelapkan segala jalan, tertampak cahaya lampu remang, yang menjadi penuntun jalan, Laras berdiri di dekat jendela, mendekapkan tangannya di dadanya, menahan angin dingin yang masuk,


sejenak ia menatap langit, yang di terangi cahaya rembulan,

__ADS_1


"apakah kau belum tertidur" sebuah pesan masuk di ponselnya,


"belum,kau sendiri?"


percakapan pesan pun di akhiri dengan dering ponsel, ternyata Iyas menelfonnyaa,


"hallo, bagaimna kabarnya, apakah kasus nya sangat sulit"


"tidak juga, hanya saja dua hari ini aku di sibukkan dalam mencari bukti, karena saksi mata, sudah kabur, dengan uang suapnya, jadi repot untuk membuktikan kalau pamanmu tidak bersalah"


"apakah kau sudah menemukan petunjuk, perlu bantuanku?"


"tidak, aku bisa, aku pasti bisa melakukan sendiri,"


"baiklah... jika ada kesulitan, jangan sungkan... bicara padaku"


"baiklah tuan Iyas Arora"


mereka saling tertawa melepas kerinduan, namun sama-sama enggan mengungkapkan,


baru kali ini, mereka sama-sama tertawa lepas, setelah sekian lama tidak pernah melakukan sebuah candaan,


"ini sudah malam, istirahatlah.."


"ok, baiklah, kau juga, dah.. selamat malam Yas"


"selamat malam Ra"


perbincangan mereka pun berhenti saat jam sudah menunjukkan jam 11 malam, akhirnya, Laras kembali ke ranjang tidurnya, mematikan semua lampu yang menyala, dan menghidupkan lampu tidurnya, sejenak ia menatap lampu itu, lalu tersenyum sendiri,


begitu juga dengan Iyas, malam ini ia tidak keluar rumah, ataupun keluar kamarnya,ia menjadi anak yang baik malam ini,


tentu.. dia sudah menemukan mata elangnya, mata elang yang selama ini ia cari, ternyata berada dalam lingkungannya sendiri, menjadi pengacara keluarganya sendiri, sungguh membuatnya frustasi saat tidak menemukannya, dulu ia berfikir, jika ia mencari Vita, maka ia akan menemukan mata elangnya, namun ternyata tidak, hidup sudah berubah, bahaya pun selalu akan mengintai Laras,

__ADS_1


__ADS_2