
Iyas menyadari semua tindakannya akan terekam oleh kamera cctv, ia tidak takut akan hal lain, yang ia takuti kalau Laras tidak akan mempercayainya, saat ia lihat Kasita masih memilih baju, ia pamitan untuk ke kamar mandi, dan dilihatnya di kamar mandi juga ada cctv nya, Aneh benar-benar aneh menurut fikiran Iyas,
ia segera mengirimkan pesan singkat ke Laras, yang mengatakan bahwa dirinya kini masuk dalam jebakan Kasita,
Laras yang membaca pesan singkat itu menjadi gelisah,
"Sayang... aku masuk dalam jebakan Kasita, tapi aku akan menangani nya, asalkan satu, kau harus percaya akan setiap apa yang aku katakan,"
"kamu jangan khawatir aku percaya padamu 💯% percaya, "balas Laras
Tidak menunggu lagi, Iyas sudah keluar dari kamar mandi, dilihatnya Kasita yang sudah berbaring di ranjang tanpa sehelai kain pun, Iyas menelan Saliva nya, bagaiamana tidak, dia laki-laki normal yang punya hasrat dan nafsu,
"Iyas... ayo kita lakukan pesta malam ini"ucap Kasita seraya menarik telunjuk nya, memberi isyarat agar Iyas mendekatinya, seperti magnet, Iyas mendekat kearahnya, menatap setiap inci tubuh Kasita, itu membuat Kasita merasa bangga, karena ia tau Iyas begitu tertarik pada tubuhnya,
"kau menggodaku Sit?" ucap Iyas sambil matanya masih menatap tubuh Kasita,
"sayang...malam ini aku ingin menyerahkan semuanya, semua yang seharusnya aku berikan dari dulu, marilah kita nikmati malam ini dengan indah"ucapnya lagi,
jika aku terus begini maka aku akan masuk kedalam perangkap nya, dan tentu, meski Laras memahami dan mengerti tapi dunia akan mengartikan berbeda, jika dilanjutkan maka akan menjadi bumerang sendiri dalam hidup Iyas dan keluarga,
Iyas melihat dua gelas bir yang terletak di atas nakas, ia menyadari pasti akan ada hal yang terjadi jika ia terus berdiam,
ia pun dengan hati-hati menaruh obat di salah satu wadah bir itu dari belakang punggungnya,
lalu iapun mengambil dua gelas itu dan di berikan nya ke Kasita,
__ADS_1
"Minumlah dulu, ini kamu yang menyiapkan bukan...?"
"tentu sayang.. ini adalah minuman favoritmu ... aku khusus menyiapkan untukmu,"ucap Kasita sambil membenarkan duduknya,
Kasita pun meminum bir itu begitupun dengan Iyas, mereka menikmati minuman itu hingga akhirnya Kasita merasa sudah tidak kuat lagi begitupun dengan Iyas, namun Iyas berusaha menahan ke tidak kuatan nya, iapun menelfon brayen, agar membawa seseorang ke kamar Kasita, Brayen hanya bisa mengiyakan tugas dari atasannya tanpa harus bertanya,
Iyas menutup tubuh Kasita agar ia tidak terlalu tinggi menahan gejolaknya, tak lama kemudian orang yang di panggil Iyas sudah tiba diruangan itu,
Brayen yang melihat keadaan di depan matanya, menyimpan banyak pertanyaan namun iya tak sanggup tuk bertanya kepada atasannya itu,
"apa tugas saya tuan"ucap laki-laki yang di bawa Brayen keruangan itu,
"nikmatilah dia malam ini, berikan ia tanda di seluruh tubuhnya,"ucap Iyas dengan nada perintah,
"bukannya dia adalah kakak dari nona tuan"ucap Brayen
"kau sudah tertidur sayang... ya, gagal lagi, padahal aku ingin malam ini, huh sungguh Kasita yang tidak tau malu..."ucap kessal Iyas, lalu iapun menggendong tubuh Laras keatas hingga ke kamarnya,
*Laras... aku akan melakukan apapun agar tujuan ku tercapai, maafkan aku jika aku akan menyakitimu nantinya, aku harap kau tidak membenciku, aku melakukan apa yang harus aku lakukan, aku bukan dewa yang mempunyai hati bersih, sayang... ku harap kau mengerti dengan apa yang aku lakukan* ucap Iyas dalam hati seraya memandang wajah Laras.
Iyas pun pergi kekamar mandi untuk membersihkan dirinya, setelah berganti pakaian iapun tidur di samping Laras, ia memeluk tubuh mungil yang ada di sampingnya, karena hilang ingatannya, ia tidak ingat siapapun, termasuk siapa yang mencelakainya, sungguh membuat Iyas semakin marah akan tindakan Kasita, ingin rasanya ia langsung membalas apa yang telah Kasita lakukan, hanya karena dendam yang tidak jelas benar tidaknya kejadian dia langsung mengarahkan kemarahannya kepada Laras yang waktu itu tidak tau apa-apa,
ia mengamati setiap inci wajah Laras, alisnya yang tebal meski tanpa harus pakek warna alis, mata yang indah, bulu mata yang lentik, hidung meski gak begitu pessek tapi sesuai dengan wajahnya yang imut, bibirnya yang tipis wajah yang mulus tanpa make up sedikitpun membuat wajah itu terlihat sangat natural, itulah kelebihan Laras,
****
__ADS_1
"Pagi sayang... ucap Iyas saat melihat Laras menggeliatkan tubuhnya, betapa kagetnya Laras saat menyadari kalau ia berada bukan di kamarnya, ia mengamati setiap sudut kamar itu hingga pandangannya kembali ke arah Iyas yang sudah duduk di kursi dekat jendela,
"Iyas... aku... kok tiba-tiba ada disini, seingatku semalam .."
"kamu tertidur di sofa sayang, makanya aku bawa kamu kekamarku"ucap santai Iyas.
mendengar perkataan Iyas membuat Laras melihat badannya, menyadari semua pakaian nya masih lengkap ia pun merasa lega,
"kenapa sayang, apakah kau mengharapkan aku melakukan sesuatu kepadamu??"goda Iyas melihat tingkah Laras.
"tidak...tidak bukan begitu... ahh, sudah jam berapa ini, dan kamu jam berapa kamu pulang, kenapa aku seperti orang mabuk ya, tidak ingat apapun" ucap Laras.
"aku pulang jam 10 malam kok, bersiap-siap lah, nanti kita kekantor bareng, bajunya sudah aku siapkan tu" sambil menunjuk paper bag yang berada di sofa dekat tempat tidur, Laras tersenyum kepada Iyas, ia menjadi pria yang begitu perhatian,
"terimakasih ya, maaf merepotkan mu" ucap Laras,
"sama-sama sayang, kemaren kau melayaniku, sekarang giliranku, cepatlah bersiap-siap setelah itu kita turun, mama sudah menunggu kita"ucapnya lagi sambil menaruh koran yang ada di tangannya,
Laras pun turun dari ranjangnya dan segera membersihkan diri di kamar mandi, dan segera berpakaian rapi, mereka menuruni tangga bersama, mama Martha yang melihatnya tersenyum,
"kalian serasi banget sayang, sudah seperti pasangan suami istri yang baru nikah, ummm manis banget sih anak-anak mama" ucap mama Martha sambil mencubit kedua pipi Laras.
"mama sudah hentikan, kita bisa tellat ke kantor ni"ucap Iyas
"ma.. maaf ya, Laras kesiangan bangunnya, dan tidak bisa membantu mama dan bibik di dapur"ucap Laras dengan rasa malu,
__ADS_1
"tidak apa-apa sayang... mama suka, melihat kalian berdua seperti ini saja, mama sudah bahagia, ayo silahkan duduk sayang nikmati sarapannya ya, kamu harus makan banyak agar tidak gampang sakit"ucap Mama Martha tanpa berhenti, membuat Laras merasakan kasih sayang seorang mama, seorang mama yang hilang dari ingatan nya, namun Laras------ yakin kasih sayangnya sama seperti kasih sayang mama Martha,