Hikayat Cinta

Hikayat Cinta
Part 22


__ADS_3

Lamunanku terhalang saat suara Iyas terdengar di telingaku,


"sayang... kamu tidak apa-apa kan" ucap Iyas


"Iyas... kau sudah dengarkan apa yang dia katakan, apakah itu benar, papa ku yang membuat dia melakukan hal itu, Iyas.. aku akan menyelidiki semuanya ,aku ingin tau semua kisah itu yas" ucap Laras


"tenanglah... jangan gegabah pasti kita akan mencari tau itu sayang, tapi sebelum kita menyelidiki semuanya, sebaiknya kau datang padanya, cari tau semua keseluruhan ceritanya, nanti kita cocokkan dengan hasil penyelidikan kita, kamu tenang ya?" ucap Iyas menenangkan Laras


"Iyas..."suara tangis pun terdengar di telinga Iyas


"Laras, sudah... kamu tenang, jika kau yakin papa mu bukanlah orang seperti itu, maka yakinlah kalau semua yang di bicarakan Kasita itu palsu, sekarang kamu pulanglah, maafkan aku, sekarang aku tidak bisa menemani mu, aku lagi meeting online sekarang" ucap Iyas,


mendengar perkataan Iyas, Laras langsung menghapus air matanya, ia tidak mau membuat Iyas makin khawatir padanya,


"maafkan aku,karena sudah merepotkan mu" ucap Laras


"tidak sama sekali, sekarang aku mau mulai rapat lagi ya, kamu pulanglah" ucap Iyas


"baiklah, selamat bekerja, aku mencintaimu" ucap Laras


"aku mencintaimu juga" Ucap Iyas


merekapun mematikan ponsel rahasia mereka, Laras pun meninggalkan tempat itu, Iyas malah kehilangan konsentrasi karena baru kali ini ia mendengar Laras menangis,


'Ahh sialan... pasti karena terlalu rapuh ia menangis, ini pertama kalinya aku mendengar nya menangis, mana bisa aku tenang' umpat Bai dalam hati


"brayen.."teriaknya dari dalam ruangan,


mendengar suara atasannya memanggil, Brayen langsung masuk ke dalam,


"Ada yang bisa saya lakukan tuan" ucap Brayen


"kamu selidiki tentang ayah Laras, dan ibunya Kasita, kalau gak salah namanya Anita Nawawi, selidiki semuanya sedetail dan anak sebelum Kasita, aku ingin tau semuanya secepatnya," ucap Iyas


"baik tuan akan saya cari tau" ucap Brayen


Brayen pun meninggalkan ruangan Iyas dan melakukan tugasnya, sedangkan Iyas mulai fokus dengan meeting onlinenya, dengan pemegang saham yang ada di luar kota, dia dengan fokus mendengar laporan satu persatu dari karyawan nya, ia begitu luas mendengar laporan mereka,


"Baiklah... atas kerja keras kalian, perusahaan akan memberikan imbalan yang pantas, aku ingin saham kita akan terus naik, setidaknya 1persen tiap bulannya, aku tidak akan menuntut lebih setidaknya ada kemajuan sedikit" ucap Iyas


"baik Tuan, akan kami usahakan dengan sebaik mungkin dan memberikan tuan laporan yang memuaskan" ucap salah satu yang ikut rapat


"baiklah rapat kali ini aku tutup mulailah kerja kembali" ucap Iyas


akhirnya rapat pun selesai, Iyas bernafas lega, dan mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya, sambil menengadahkan wajahnya, terlihat di matanya bayangan Laras ,


'lama-lama aku bisa gila kalau begini terus, kalau terus-terusan begini, lebih baik aku nikahin saja Laras, biar aku tidak seperti ini terus' gumam Iyas


setiap bayangan Laras muncul dalam pikirannya, bagian bawahnya bereaksi, membuatnya selalu tersiksa sendiri,

__ADS_1


jam pun menunjukkan pukul 5 sore, akhirnya Iyas pamitan pulang dulu kepada papa nya,


"pa..Iyas pulang duluan"


"tumben.. kamu gak sakit kan Yas"


"ahh tidak kok pa..cuma Iyas ada urusan"


"apakah masalah Laras"


"bukan pa, kalau begitu aku pamit dulu pa"


Iyas pun berlalu dari hadapan ayahnya, ia berjalan dengan tergesa-gesa, ia menemui seseorang yang selama ini menjadi mata-mata nya dalam mencari keberadaan Kasita, ini menceritakan semua nya ke orang itu, dengan anggukan orang itu mengartikan kalau dirinya faham dengan apa yang di maksud tuannya,


"aku tidak mau kata gagal, jika kau diharuskan membunuh penghalang, bunuh saja, aku hanya ingin dengar kabar baik mengerti" ucap Iyas


"mengerti tuan" ucap orang itu


"lakukan, lebih cepat lebih baik" ucap Iyas


Iyas pun meninggalkan orang itu, sambil menghidupkan bluetooth di telinganya,


"sayang.. aku kerumah mu sekarang" ucap Iyas


"apakah ada sesuatu yang terjadi,kamu tidak apa-apa kan Yas" ucap panik Laras


"ih Yas .. bikin khawatir tau..." ucap Laras


"tapi beneran Lo... aku sangat merindukanmu, aku dalam perjalanan, aku lapar juga, buatkan aku makanan ya sayang" ucap Iyas


"baiklah... hati-hati, aku masak buat kamu ya" ucap Laras


"ok sayang" ucap Iyas


Laras pun keluar dari kamarnya, dan segera menuju ke dapur,


"Laras... ada apa sayang..."


"Oma... gak ada apa-apa kok, Laras cuma mau masak, Iyas mau mampir kesini, dan dia bilang lapar Oma" ucap Laras


"ah cucu Oma sudah seperti istri saja,"ucap oma nya


"apakah Laras sudah cocok menjadi istri Oma" ucap Laras


"sangat sayang, kamu berhak bahagia, ingat, perjuangkan kebahagiaan mu nak" ucap Oma nya


"pasti oma, aku masak dulu ya Oma" ucap Laras


"perlu Oma bantu sayang" ucap Oma nya

__ADS_1


"tidak perlu Oma, biar Laras masak sendiri,Laras juga ingin tau reaksi Iyas menikmati masakan Laras" ucap Laras


"oh baiklah... Oma ke atas dulu ya, mau ngasih wedang jahe ini buat opa" ucap Oma nya


"baiklah Oma" ucap Laras


Laras pun tersenyum ke Oma nya begitupun dengan Omanya, meski Laras ingin menanyakan apa yang di katakan Kasita, namun ia urungkan, ia takut akan melukai perasaan Omanya,


Laras pun memasak dengan serius ia menyicipi satu persatu masakannya, dia rasa sudah pas rasanya, namun ia masih gugup dengan rasa Iyas nantinya, bagaimana kalau Iyas tidak menyukainya, bagaimana kalau tidak sesuai dengan seleranya,


tentu meski gugup dan cemas, Laras terus menata masakannya di meja, belum ia selesai menatanya mobil Iyas sudah terparkir di depan rumahnya, mau tak mau dia berlari keluar menyambutnya, layaknya sang istri menyambut suami pulang kerja,


"sudah sampai" ucap Laras


"wah... aku benar-benar terharu ni, kamu sudah seperti istriku loh,yang sedang menungguku pulang kerja, karena terlalu bahagia mendengar suara mobilku datang kau berlarian menghampiriku, benarkan??" ucap Iyas menggoda Laras,


"oh ya, benarkah aku sudah sesuai dengan kriteria istri idaman mu?" tanya Laras


"tentu dari dulu malah, ngomong-ngomong udah selesai masaknya? aku lapar banget nih sayang" ucap Iyas memegang perutnya


"sudah dong, merekapun berjalan menuju keruang makan, saat mereka ingin duduk Oma dan opa nya terlihat menuruni tangga, dengan hormat Iyas membatalkan dirinya yang ingin duduk, ia berdiri kembali dan menyalami kedua orang tua itu,


"oma, opa" ucap Iyas menyalami keduanya


"Iyas... kami keluar dulu ya, titip Laras sebentar, dan makanlah dengan lahap, dia masaknya sendirian" ucap Oma nya Laras


"kalian tenang saja Oma, opa, aku akan menjaga Laras" ucap Iyas


"Oma dan opa mau kemana?"timpal Laras yang muncul dari belakang Iyas.


"Oma dan opa ada urusan sebentar sayang, ada undangan dari teman lama" ucap Opa


"iya sayang, Oma tinggal dulu ya, sudah ada Iyas yang menjagamu sekarang" ucap Oma nya


"Hem... baiklah....., hati-hati Oma opa" ucap Laras


"baik sayang, kami pamit dulu nak Iyas"


"hati-hati Oma opa"ucap Iyas,


berlalu lah kedua orang tua itu dari hadapan Iyas dan Laras, Iyas pun kembali duduk, dan Laras pun menyiapkan piring dan nasi di hadapan Iyas, dengan wajah yang tersenyum Iyas menggoda Laras, saat Laraa selesai menyiapkan makanan Iyas, Iyas menarik tubuh Laras hingga Laras terduduk di pangkuan Iyas,


"apa yang kau lakukan Yas?" ucap Laras


"aku ingin kau menyuapiku sayang" ucap Iyas


"hah... Yas... ini beneran kamu kan.. tumben kamu" ucap Laras


"apa gak boleh aku minta di manja sama calon istriku sendiri Hem" ucap Iyas.

__ADS_1


__ADS_2