Hikayat Cinta

Hikayat Cinta
Part 33 Permainan Kakak Adik


__ADS_3

Akupun keluar dari rumah mewah itu dengan perasaan tak menentu, dalam perjalanan aku hanya bisa termenung sambil memikirkan semua, dan membagi kefokusanku dalam menyetir mobil,


meski aku sudah fokus dengan jalanku namun tetap saja aku hampir menabrak orang yang melintasi jalan, untungnya aku masih bisa mengatasi setir mobilku,


aku membanting, setir mobilku kearah yang berlawanan, aku mengatur nafasku yang kini sudah tidak menentu,


"huh...sungguh membuat konsentrasi ku tidak terkendali, apa yang harus aku lakukan, kenapa sulit untuk mengungkap kasus ini, siapa tiara, siapa Alina, kau dan Kasita sungguh membuatku tidak tenang, tapi aku tidak akan menyerah, cepat atau lambat aku kan membongkar siapa kalian, dan Kasita kau akan membayar setiap apa yang kau katakan tentang papaku,"


aku mencengkram setir mobil, dan membalikkan ke jalan yang benar, kini ku lanjutkan lajuan mobilku, dan fokus kembali ke kantor disana aku sudah di tunggu oleh Reni yang dari tadi ku perhatikan sudah terlihat gelisah,


"ada apa, kau kelihatan cemas gitu" ucapku sambil meletakkan tas ku di atas mejaku,


"Laras... kau benar-benar kini telah mendapat lawan yang di luar kebiasaan mu"


"tidak usah bertele-tele gitu ah, katakan langsung, aku sekarang lagi gak mood untuk bicara tentang hal yang gak penting,"ucapku sambil menyadarkan tubuhku di sofa peristirahatan ku,


"kamu lihat kotak ini, ini kiriman dari seseorang buatmu dan kamu tau isi nya apa"


"baju, emas, aksesoris??"ucapku sambil memejamkan mataku,


"Laras kau jangan bercanda gitu, aku serius, ini isinya kepala ayam yang sudah di potong tau gak, darahnya aku ngeri liatnya raa...?"


"kamu gila ren, mana ada orang ngirim hal kayak gituan"ucapku sambil bangun dari tidurku,


"kalau kamu gak percaya, coba kamu liat sendiri,"ucap Reni sambil menyodorkan kotak yang sudah tak rapi lagi, aku coba mengambil kotak itu dan betapa kagetnya aku saat melihat isinya, dan langsung kulempar kesembarang arah, sungguh manusia yang tidak punya rasa jijik mengirim hal itu, dan ku lihat Reni menyerahkan kertas putih yang sudah terbuka amplopnya, ku baca isinya.


"Hai... pengacara... akhirnya aku menemukan alasan untuk beradu denganmu, adikku, akulah kakak kandungmu, jadi jangan dendam padaku, aku hanya ingin bertemu denganmu saja, hanya saja caraku ini mungkin akan membuatmu terkejut dan bahkan membuatmu takut, tapi kau sudah punya Iyas di sampingmu pasti kau tidak begitu takut denganku, adikku tidak perlu khawatir, kau akan baik-baik saja, aku hanya ingin bermain denganmu, aku hanya ingin membayar hari dimana kita tidak bisa bermain bersama, Laras...maafkan kakakmu ini ya, karena sudah membuatmu harus bekerja keras, tapi aku percaya adikku, dia dalah wanita kuat dan bermata elang, yang menjadi incaran Iyas Arora, sayang... kita akan bertemu sebelum persidangan oke"


aku terduduk lemas di sofa ku dengan mata yang masih gelap tanpa arah, aku tidak mengerti dengan semua ini, dia mengaku kakakku, tapi kenapa melakukan hal ini padaku, mengapa harus menyiksaku apa yang dia inginkan dariku,


"Kau sudah lihat sendiri kan, dia wanita yang gila seperti Kasita, mengapa kau berhadapan dengan dua wanita yang tidak waras Ras?"

__ADS_1


"ambilkan aku air putih.. "ucapku tanpa melihat ke arah Reni,


Reni dengan bergegas langsung memberikan


segelas air putih kepadaku,


"Laras kau jangan diam saja dong, fikirkan nasib kedua pangeran ku"ucapnya yang berhasil membuat kesadaran ku pulih,


"semuanya akan baik-baik saja Reni, kau jangan menambah kecemasanku dong,"


"tapi beneran Ras, wanita gila itu sudah keterlaluan dia bermain dengan kedua pangeran ku, aku tidak terima, aku harus bisa menghentikan rencana wanita gila itu"


" kamu tenang aku punya caraku sendiri, dia akan menemuiku, akan aku buat dia menemui ku sebelum waktunya, siapkan sidang ini secepatnya,"


"apakah kau gila, kau tidak punya bukti apapun"


"apakah kau meragukan ku ren"


akhirnya ia keluar dari ruangan ku, aku pun bersandar dan meneguk segelas air putih lagi, sungguh membuatku sangat terkejut, dia tau tentang semua yang aku lakukan , apakah disini ada orangnya, apakah hanya Nando yang mengenalnya, tidak... pasti ada orang lain.. tapi siapa... Reni... hanya dia yang tau kasus ini tapi tidak mungkin melihat sikapnya ...


sungguh ku terpuruk dalam lamunan, seakan raga ku hanyut terbakar, begitu besar api .. tak mungkin dapat ku sirami....


"ah... sungguh menyenangkan andai waktuku bisa sesantai ini dan benyanyi tapi...hah wanita itu sekarang sudah mengakui aku sebagai adiknya, adik tersayang dari mana, kau membuatku sibuk tau gak.... "ucap Laras sendiri.


tiba-tiba dering ponsel ku berbunyi, ku angkat ponselku tanpa kulihat siapa penelfon nya,


"hallo sayang .. "ucapnya yang tanpa ku lihat pasti suara Iyas


"hallo sayang... " suaraku yang lemah,


"apakah ada hal yang terjadi..."

__ADS_1


"iya, dia mengirimkan aku sebuah kotak, yang berisi kepala ayam, dan juga ada suratnya, huff... dia benar-benar, Iyas... dia akan menemui ku sebelum sidang, jadi... aku ingin mempercepat persidangan itu, aku ingin segera bertemu dengan nya,"


"benarkah... apa yang wanita itu katakan apakah dia mengancammu?"


"tidak... dia hanya ingin bermain denganku, menghabiskan waktu yang terlewat denganku"


"dengan cara apa kau akan menanganinya"


"aku punya caraku sendiri, Iyas... bahkan dia sangat mengenali dirimu, apakah dia salah satu wanita mu dulu"


"kau jangan ngacok, aku tidak pernah bermain dengan wanita gila"


"cih... lalu Kasita apakah dia wanita waras...???"


"sayang... itu masa lalu, aku tidak menyukainya... aku hanya..."


"hanya apa..."


"mengapa membahas masalah ini, ini bukan jurusan hukum mu, masak kau akan menghukum ku karena masalah itu sih, tapi gak apa-apa jika hukuman nya di dalam kamar aku ikhlas sungguh!!" ucap Iyas


"Iyas... halalin dulu kalau mau hukuman di kamar" ucap Laras


kami pun tertawa melepas ketegangan di antara kami, sungguh hari melelahkan , kami pun mengakhiri perbincangan kami dari ponsel, akhirnya aku benar-benar terlelap dalam tidur siangku, entah jam berapa aku terbangun karena merasa perutku sangat kelaparan,


"udah jam berapa..." kulihat jam sudah menunjukkan jam 2 siang, akhirnya aku memesan makanan online karena tidak mungkin aku akan keluar pada jam kerja begini, aku melihat semua teman-teman ku sedang fokus memeriksa laptopnya, dari ruangan satu dan ruangan lainnya,


saat mataku tertuju pada ruangan Nando, ia malah terlihat seperti laki-laki yang menyedihkan,


*kenapa aku malah memperhatikan dia, toh dia suaminya wanita itu, tapi kenapa laki-laki yang biasanya bertingkah konyol menjadi semenyedihkan ini,cih... masa bodo, aku harus fokus untuk Tiara atau alina, entahlah siapa dia, entah dia kakakku atau bukan aku hanya fokus untuk klienku dan kebenaran tentang papaku".


Gumam Laras dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2