Hikayat Cinta

Hikayat Cinta
Part 9 Ke Obsessian Nyonya Martha


__ADS_3

Ruangan masih terasa hening,saat kepergian wanita itu, Iyas yang menyadari tangannya masih memegang pergelangan tangan Laras tiba-tiba melepaskan nya seraya berkata:


"Maaf...bukan maksudku seperti itu, aku berhutang padamu"


"huff... tidak apa-apa, bagaimana ektingku"


"masih terlalu kaku sedikit" diiringi senyum di bibir Iyas mempersilahkan Laras agar berjalan di depannya,


kini hubungan mereka sedikit demi sedikit mulai dekat, Laras merasa nyaman berbincang dengan Iyas, begitupun dengan Iyas, ia merasa Iyas berbeda dengan wanita yang ia kenal selama ini,


"pakai sabuk pengaman mu," Iyas memakaikan sabuk pengaman untuk Laras, membuat wajah mereka berdua berdekatan, mata mereka saling berpandangan, mata yang selama ini Iyaa cari kini telah di temui,


"Terimakasih Yas,"


sedangkan kedua orang tua mereka saling bertemu yaitu nyonya Martha dan nyonya Margareta, mereka serius ingin menjodohkan kedua insan yang mereka asuh selama ini, sambil tertawa, mereka membicarakan anak mereka masing-masing, sesaat nyonya Margareta terdiam, membuat nyonya Martha menjadi penasaran,


"Nyonya, apakah anda baik-baik saja?"


"Dalam hidupku, hanya Laras yang tulus menyayangiku dan suamiku, aku tidak tau, nasib dia bagaimana kehidupannya setelah kami tidak ada, kami sudah tua,dia masih terlalu muda, jika memang nyonya menyukai cucuku, aku bisa lega meninggalkan dunia ini, dengan janji mu, aku bisa tenang"


Ucap sedih Oma nya Laraa, terlihat jelas di matanya, tersirat begitu banyak kecemasan.


"Nyonya, Aku serius dalam pilihanku, aku sangat menyukai cucumu, apapun keadaannya, bagaimanapun dia nantinya, aku dan suamiku, serta putraku akan selalu berdiri di sampingnya, aku melihat ketulusan dan cinta di matanya"


"Karena itulah, aku sangat mengkhawatirkan nya nyonya, karena dia terlalu baik, semua orang memanfaatkan kebaikannya"


***


Terlihat jelas pemandangan di langit saat Laras melihat dari jendela, fikirannya yang semula penuh dengan pekerjaan, kini menjadi rilex.

__ADS_1


"Kau menyukainya..?"


"Tentu, oh ya Yas, aku rasa kita pernah kenal, tapi aku tidak tau dimana?"


"Tentu, karean wajahku ini yang terlalu tampan, makanya kau tak asing dengan wajahku ini kan?"


"Aku tidak tau kalau seorang tuan Iyas Arora mempunyai sifat humoris dan rasa percaya diri yang besar, tapi ya, aku akui, kau memang sangat tampan, sehingga wanita seperti tadi tidak rela kalau engkau jauhi" tatap Laras pada Iyas yang juga menatap nya,


"Kau pasti mendengar rumor tentang ku kan, itu hak mu percaya atau tidak, tapi aku katakan hanya kepadamu, aku tidak seperti yang orang lain bicarakan,Rara... Kadang kita melindungi diri kita sendiri dengan cara memperburuk kita, kadang juga dengan cara yang lain, itu sudah privasi diri kita sendiri, sebenarnya aku muak dengan kehidupanku yang tidak ada arah, tidak ada tujuan, entahlah, mungkin karena hidupku yang membosankan, aku selalu bertemu dengan wanita yang ingin menyerahkan dirinya di ranjang, aku tidak sehina itu, menabur benih ke wanita yang tidak punya etika, aku ingin anak-anak ku terlahir dari wanita baik-baik, seperti kamu" ucap Iyas sambil menatap arah Laras, Laras yang menyadari itu merasa pipinya seakan merah, Semerah tomat.


"Kamu pasti bercanda Yas"


"Tidak, aku menyukaimu, menyukai kepribadianmu, menyukai sikapmu, tapi aku tidak tau rasa suka apa yang aku miliki ini, aku hanya ingin menjalani seperti ini bersamamu, apa kamu punya kekasih?"


"Tidak" dengan cepat Laras menggeleng kan kepalanya dan berkata "tidak",


"Kalau begitu bisakah kita menjalani hubungan ini aku tau ini mendadak, tapi... Aku tidak akan memaksa mu, aku ingin kau merasa nyaman denganku, aku tidak pandai merayu, tapi aku akan berusaha ingin menjadi seperti yang kamu mau"


"Jangan fikirkan, lupakan apa yang aku ucapkan tadi, jangan karena kata-kata ku, kau menjaga jarak denganku"


"Bukan begitu... Ini pertama kalinya ada seorang pria yang menyatakan perasaannya kepadaku, aku hanya tidak tau apa yang harus aku jawab, aku takut, jika ucapan ku salah" Laras melihat kearah Iyas yang juga menoleh kearahnya, Iyas memberi senyuman terhadapnya, membuat perasaan bersalah Laras memudar.


Tak terasa perjalanan mereka sudah sampai, pesawat yang mereka tumpangi sudah mendarat di bandara,


"Brayen... Jam pertemuan kita jam berapa?"


"Jam 8 malam nanti tuan,"


"Baiklah masih ada sisa untuk kita istirahat, atur kamar untuk nona Rara, maksudku nona Laras"

__ADS_1


"Baik tuan, mari non Rara"


Tiba-tiba tendangan di kaki brayen terasa sakit, ternyata Iyas yang menendangnya,


"Apa salah saya tuan"


"Hanya aku yang boleh memanggilnya Rara, mengerti..."


"Maaf kan saya tuan, tidak akan terulang lagi"


Brayen pun meninggalkan Iyas, di ruangannya, sedangkan Laras yang melihat dari kejauhan tidak mendengar perkataan mereka,


Akhirnya mereka pun beristirahat, terasa pegal semua badan Laras, ia merebahkan badannya di ranjang ukuran besar itu, teringat semua perkataan Iyas tentang perasaannya,


"Ahh... Apa dia serius menyatakan perasaannya? Apa aku salah dengar, pria se kerren dia menyatakan persaan kepada wanita sepertiku? Pasti dia hanya bercanda, ucap Laras yang terus menatap langit-langit kamar nya, sedangkan Iyas sudah membersihkan dirinya di kamar mandi, badannya tersa segar setelah kelelahan melandanya,


Ia melihat ponsel yang sudah banyak notifikasi menunggunya, ada beberapa panggilan tak terjawab, ada juga puluhan pesan yang masuk, kebanyaan itu dari mamanya, sungguh mamanya adalah wanita yang berkeinginan harus ia dapati, seperti kali ini, yang menginginkan Laras menjadi menantunya, sebenarnya mamanya tidak salah, melihat Laras yang tidak seperti wanita lain di zaman sekarang, Laras juga menyukainya, jadi meski tanpa perjodohan, Iyas tidak akan melepaskan wanita elangnya lagi,


Jam berjalan dengan sangat cepat, ternyata Laras tertidur tanpa membersihkan dirinya terlebih dahulu, ia tertidur dengan kaki yang bergelantungan di ranjang, tanpa ia sadari ada seseorang yang masuk ke dalam kamarnya, dan membenarkan posisi tidurnya, orang itu tersenyum menatap wajah yang tertidur pulas,


"Kau aka menjadi milikku, dan siapapun tidak akan ada lagi yang akan menjauhkan kita, termasuk kakakmu yang lembut itu, Rara, kau tidak mengingatku, tidak apa-apa, suatu saat kau akan ingat kepadaku, hanya aku yang akan kau ingat,"


Apa sebenarnya yang terjadi diantara mereka, dan apa yang terjadi di masa lalu, suatu saat semua akan terkuak, seiringnya waktu, jam sudah menunjukkan jam setengah 8 malam, Laras terbangun dari tidurnya, ia kaget saat posisi tidurnya sudah berubah, mungkin pelayan wanita yang membantunya membenarkan tidurnya,


Tanpa berfikir panjang, Laras menuju ke kamar mandi membersihkan dirinya, dan bersiap untuk mengadakan rapat, namun perutnya terasa kosong, karena dari siang belum terisi apapun.


"Kau sudah bangun.."


"Eh kamu keluar dari mana, kok bis masuk?"

__ADS_1


"Ruangan ini, ruangan khusus, bisa gabung dengan ruanganku yang ada disebelah, kau tidak menyadarinya?"


Laras menatap kearah yang di tunjuk Iyas, memang ada ruang penghubung, sungguh hotel yang baru ia temui.


__ADS_2