
Aku semakin menenggelamkan kepalaku di dada Iyas, terharu dengan setiap apa yang di katakan, aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan hidupku, kenapa seperti ini, apakah benar Alina adalah saudara kandungku saudara dengan satu ayah,
aku terus memeluk Iyas dalam dekapanku, Iyas memegang tanganku dan mengaitkan jari-jari nya ke jari-jari ku, hanya Iyas yang sekarang mendukungku, saat aku masih ada dalam dekapan Iyas, aku teringat dengan Oma dan opa, mereka pasti tau sesuatu tentang kisah papa dan ibunya alina,
tapi apakah mereka akan menceritakan kebenaran atau kah mereka akan menyembunyikan semuanya dariku seperti biasanya.
"bermalam lah disini,ini sudah larut" ucap Iyas sambil tangan satunya masih membelai kepalaku,
"tidak bisa, aku harus pulang ada sesuatu yang harus aku urus besok pagi"ucapku sambil mendongakkan kepalaku melihat ke wajah tampan Iyas,
"hal apa yang lebih penting dari keselamatan mu?"ucapnya, kau harus bermalam disini, aku tidak mau terjadi sesuatu denganmu di jalan,"
"sayang .... apakah kau meragukan kemampuan Laras..?"ucapku sambil menggoda Laras dengan tatapan nakal ku,
"tidak perlu menatapku seperti itu,"ucapnya sambil memalingkan wajahnya,
"lagian malam ini aku merasa takut jika bermalam disini"ucapku sambil membenarkan posisi dudukku,
"takut... apa yang kau takutkan"
"takut jika seorang Iyas tidak bisa lagi membiarkan seorang Laras istirahat dengan tenang"ucapku sambil menutup mulutku yang hendak tertawa, Iyas mendekatiku,dan berkata,
"apakah kau berfikir sejauh itu, tapi jika itu yang kau fikirkan, kenapa aku harus menyia-nyiakannya nya,"goda Iyas di telingaku, reflek aku langsung berdiri dari dudukku, dan membelai rambutku yang sedikit berantakan, aku tidak mau, orang tua Iyas berfikiran buruk tentangku, saat melihat keadaanku yang sedikit berantakan, saat aku ingin melangkahkan kakiku keluar dari ruangan Iyas, Iyas langsung menarik tanganku hingga aku jatuh dalam dekapannya.
"apakah kau tidak ingin mengucapkan selamat malam untuk kekasihmu ini Laras"ucapnya sambil membenamkan kepalanya di pelukan ku, aku langsung memeluk kepala Iyas dan mendaratkan ciuman di pucuk kepalanya seraya berkata,
__ADS_1
"selamat malam sayangku, selamat beristirahat, semoga mimpi indah"ucapku sambil menatap lekat pada manik matanya, Iyas tersenyum padaku, ku selalu berharap semoga tidak ada yang menghalangiku dan Iyas, hingga kami menua bersama nanti.
akupun berdiri dari pangkuan Iyas, dan Iyas mengantarkan ku sampai ke depan halaman rumahnya.
"kenapa tidak menginap saja sayang"ucap mertua perempuan ku.
"lain kali saja ma, besok Laras ada tugas, kalau begitu Laras pamit dulu ya ma, pa, Yas"ucapku,
"hati-hati, kalau sudah sampai segera kasih kabar"ucap Iyas, aku hanya menganggukkan kepalaku dan tersenyum kepada mereka.
akupun membawa mobilku keluar dari kawasan rumah Iyas yang terbilang besar, pantas saja yoga tadi seakan kaget mendengar kalau aku adalah tunangan Iyas, ternyata mereka adalah saingan bisnis, Dito, aku harus menyelidiki mu juga.
ucap Laras sambil mengemudi kan mobilnya, sedangkan Iyas menyuruh anak buahnya agar memastikan keselamatan Laras sampai kerumahnya.
sesampainya Laras di rumahnya ia langsung masuk kedalam rumahnya dan ternyata ada Oma dan opa nya yang masih belum tidur.
"tidak nak, kami menunggu mu, Iyas bilang kau pulang sendirian"
"dia menelfon kerumah"ucapku sambil duduk di antara kedua orang tua itu
"iya, beberapa menit yang lalu, kenapa tidak bermalam saja disana, sangat tidak baik anak perempuan pulang di malam hari"ucap Oma ku
"Oma, opa, ada sesuatu yang ingin Laras tanyakan sama kalian, aku harap kalian bisa menjawab pertanyaan ku ini dengan jujur"ucapku dengan serius, kulihat mereka masih belum mengantuk, jadi aku gunakan kesempatan ini untuk menanyakan perihal Alina
"Apa yang ingin kau tanyakan, jika hal tidak penting, kita bisa bicarakan besok"ucap opa ku yang hendak berdiri dari duduknya, namun segera aku hentikan dengan pertanyaan ku
__ADS_1
"Apakah benar Alina adalah saudaraku, anak dari papaku?" seketika mereka terdiam, sedangkan opa ku, mematung dari berdirinya.
"apakah benar, papa pernah punya anak dari wanita lain..?"lanjutku dengan pertanyaan ku.
"apakah benar, papa tidak mau menerima anak itu karena sudah ada aku dalam rahim ibuku..?"
mereka terus diam dan saling memandang
"kenapa kalian diam, apa yang kalian sembunyikan dariku, ini pertanyaan Alina, bukan masalah Kasita, Oma opa, katakan yang sebenarnya," ucapku memandang kedua orang tua yang ada di sampingku.
"kenapa kau tiba-tiba bertanya tentang hal itu, itu sudah masa lalu, dan orang yang kau sebut tadi bukanlah orang baik-baik, mereka hanya memanfaatkan papamu untuk kepentingan mereka"ucap opa ku yang kini duduk di sampingku.
"tapi anak itu tidak bersalah, mengapa harus mengorbankan kebahagiaan seorang anak"ucapku protes dengan apa yang mereka katakan.
"saat itu, papamu sedang mabuk berat, kami adalah pelayan pribadi papamu, saat kami melihat keadaan papamu yang mabuk, ada seorang wanita yang mengikutinya dari belakang, dia ..dia adalah ibunya wanita yang bernama Alina, dia meminta kami untuk tidak mengantarkan papamu kedalam kamar, karena dia sendiri yang akan membawa papamu, karena takut kamipun membiarkan wanita itu membawa papamu, setelah itu, terjadilah hal yang tidak kami duga, aku mendengar wanita itu berteriak, minta tolong namun saat kami ingin masuk kedalam kamar papa mu, pintunya terkunci, hingga kami mendengar Isak tangis wanita itu, ya papamu tidak sengaja memperkosa wanita itu, mungkin karena efek alkohol, tapi setelah itu papamu memberikannya uang yang begitu banyak, sebagai ganti, ia mengambil uang itu lalu pergi, kami mengira kejadian itu sudah menghilang sejak saat itu, dan ternyata dia kembali saat papa mu sudah berkeluarga dengan ibumu, wanita itu mengancam papamu akan membalas kan dendam terhadap putrinya yang tidak ingin papamu akui,"
"papa bersalah, dia bersalah Oma, dia sudah memperkosa, dia bersalah Oma, kenapa kalian membiarkan hal itu terjadi ..disini yang salah adalah papa,"ucapku dengan tangisan
"Laras papamu tidak bersalah, dia di jebak sayang .., dalam minumannya sudah di beri obat maka dari itu papa mu bisa melakukan hal itu"
"meski begitu...papa tetap bersalah, ia sudah menghamili seorang wanita, namun enggan untuk bertanggung jawab dan hanya memberinya uang, bagaimana jika hal itu terjadi padaku??"dengan masih tak percaya aku menutup mataku dengan kedua tanganku,
"lalu Kasita, apa yang kalian tau tentang dia"ucapku sinis menatap mereka.
"Kasita adalah Anak kedua wanita itu dari pernikahan nya, namun sama, laki-laki yang ia nikahi selalu menyiksanya, akhirnya, Kasita di titipkan di panti asuhan oleh Alina sendiri, dan menjadikan ia anak angkat papa mu, semua yang terjadi padamu, kecelakaan papamu, kecelakaanmu, semua ulah Kasita, sayang... biar bagaimanapun mereka salah,mereka orang jahat,"ucap oma ku
__ADS_1
"tidak Oma, mereka tidak sejahat itu, mereka melakukan hal itu karena hatinya yang terluka, mungkin jika aku berada di posisi mereka, aku akan melakukan hal yang sama"ucapku.