
Tanpa menjawab pertanyaan Oma nya, Laras pergi melanjutkan langkah kakinya yang tertahan karena omongan Omanya,
****
"sayang... bagaimana, kamu setuju gak, mama jodohkan sama pengacara cantik itu?"
"Rara, dia memang cantik ma, juga berpendidikan, dan juga baik, dan nilai plusnya, dia tidak pernah dekat sama seorang pria, tapi masalah menikah dengannya, Iyas rasa masih terlalu mendadak ma, biar kami saling mengenal dulu, jika mama memaksa, itu akan membuat kami semakin berjauhan,"
"benar kata putra mu, biarkan putramu mendekatinya secara normal, buatlah mereka menikah murni karena kemauan mereka,"
"aku tidak setuju dengan kalian, bagaimana kalau dia di lamar duluan sama yang lain, aku sudah banyak mendengar ibu-ibu arisan ku membicarakan Laras, aku tidak mau ya, gara-gara kalian aku akan jadi kehilangan menantuku" terdengar suara nyonya Martha yang berubah kecewa, dan gusar, terlihat buliran air mata di pipi nya,
"mama....kenapa sih akhir-akhir ini mama seperti anak kecil," gerutu Iyas menghadapi mamanya, ia tau kalau ini trik mamanya untuk meluluhkan kedua laki-laki di sampingnya itu,
"kamu janji ya, secepatnya kamu akan melamar dia,"
"ok ma, tapi beri waktu untuk Iyas ya"
"anak mama memanglah yang terbaik"
nyonya Martha memeluk lengan putra sampingnya,
sedangkan Laras tidak bisa tidur dengan nyenyak karena ucapan Oma nya,
"tumben Oma berkata seperti itu, apakah dia menyukai Yas, dia sih tampan, bahkan bisa di bilang sempurna, apalah aku ini, aku rasa tidak pantas berada di sampingnya, meski rumor banyak yang bilang, ia sering bergonta ganti wanita, tapi kulihat dia tidak seperti itu, apa aku yang salah ya, ahh, kakak...apakah dia pangeran yang kakak bicarakan di surat terakhir kakak,"
malam telah berlalu, pagi ini begitu cerah, tidak seperti biasanya, tiba-tiba dering ponsel Laras membangunkan tidurnya,
"hallo... dengan Laras disini"
"Baru bangun..?" tanya seseorang dari dalam ponsel,seketika Laras beranjak duduk dari tidurnya,
"eh tuan Yas ya... maaf ada apa keperluan apa "
"jam 8 nanty ke perusahaan ya ada sesuatu yang ingin aku diskusikan sama kamu, dan juga aku butuh seorang pengacara untuk pengalihan saham"
"Tuan Yas kan juga pengacara,"
"Rara, aku bukan pengacara sepertimu, aku hanya pengacara dalam kertas, aku tidak mengerti masalah hukum ok, aku tunggu di perusahaan"
tiba-tiba ponsel sudah mati,
__ADS_1
*huffttt main di matikan saja*
gerutu kesal Laras, yang masih dalam keadaan ngantuk, namun ia juga tidak bisa berbuat apa-apa, sudah tertulis jelas, kalau dia adalah pengacara pribadi keluarga Aurora dan juga perusahaannya, sudah tugasnya itu, akhirnya ia menyerah, dan segera membersihkan tubuhnya,
"sayang... ada pertemuan ya?"
"iya Oma,opa, "
"makannya yang banyak sayang, biar semangat"ucapan opanya yang sambil memasukkan sesuap nasi kedalam mulutnya,
"ok opa,"
merekapun menyelesaikan sarapan paginya dengan lahap,
"kalau begitu Laras berangkat dulu ya,"
"hati-hati sayang,"
Laras pun hilang dari pandangan Oma opa nya,
"apa yang kamu fikirkan,"
"kamu sudah tau, dari dulu cucumu tidak pernah dekat dengan pria, itu karena kakak nya yang menyuruhnya menunggu seseorang yang kakak nya fikir dia sangat cocok untuk Laras, "
"aku hanya cemas, jika pria itu tidak hadir, apa yang akan terjadi pada Laras, maka dari itu aku ingin mendekatkan dia dengan nak Iyas"
"kita lakukan seperti biasa, berikan dia kebebasan untuk memilih pasangannya, kita hanya bertugas menjaganya saja, kita tidak berhak atas hidupnya, ingat hidup kita hanya berkat dia, jadi berikan yang terbaik" ucap opa nya dengan penuh rasa,
"maka dari itu, karena aku banyak berhutang Budi dengan keluarganya, aku ingin melakukan yang terbaik untuknya, Mayat anak itu belum di temukan sampai sekarang, kita belum bisa menyimpulkan kematiannya, aku takut jika suatu saat dia datang dan mengacaukan hidup Laras lagi, membuat semua orang akan memanfaatkannya, tapi aku ingin pastikan, apakah nak Iyas menyukai Laras atau tidak, jika dia menyukai Laras, aku akan menceritakan semuanya, agar dia bersedia melindungi Laras setelah kita, keluarga mereka lebih pantas menjaganya"
mereka terlihat sedih, entah rahasia apa yang mereka simpan, hanya tuhan dan aku yang tau(author)
****
"selamat datang nona Rara"
"terimakasih tuan Yas..."
"silahkan duduk"
Laras pun duduk di kursi yang berada di hadapan Iyas,
__ADS_1
"ini dadakan,sebenarnya, pekerjaan ini seharusnya sudah selesai namun, aku membatalkan pekerjaan ini untuk menghadiri sidang, maka dari itu aku membuat keputusan dadakan, nona Rara, aku ada proyek di London, aku harap anda bisa ikut, pemindahan saham ini sangat penting, agar tidak terjadi masalah di kemudian hari"
"hanya mengurus pekerjaan kan tuan"
"tentu... lalu apa yang nona pikirkan, jika nona ingin bertamasya juga boleh tapi setelah pekerjaan selesai bagaimana"
"beneran tuan, ahh aku sudah lama sekali tidak pergi jalan-jalan, rasanya fikiranku ini sudah buntu, baiklah kapan kita akan berangkat?"
"hari ini, detik ini juga"
"whatt... tapi tuan aku belum bersiap-siap"
"aku sudah menyiapkan semuanya, jadi nona tinggal menikmati saja, kalau begitu.. kita keruangan papa, aku ingin bilang kalau aku dan nona akan berangkat,"
"baiklah tuan, tapi sebaiknya saya tidak ikut masuk tuan,"
"kenapa...takut... gak Bakal ngegigit juga kok"
tiba-tiba saat mereka masih asyik mengobrol, ada wanita yang nyelonong masuk, dengan di kejar scurity,
"Oyas, apa maksudmu menghindar dariku..." teriak wanita itu
"maaf tuan... wanita ini menerobos masuk, dan melawan kami tuan"
menyadari akan adanya Laras, Iyas menahan amarahnya, ia menjadi pria lain kali ini,
"tinggalkan dia pak, biarkan dia bicara,"
perintah Iyas, membuat scurity itu pergi meninggalkan ruangan Iyas,
"oh jadi karena wanita ini kamu menghindar dariku.. apa yang salah denganku.. apa.."
teriakan wanita itu masih menggema di ruangan Iyas, merasa tidak enak, Laras pun berpamitan keluar, baru kali ini ia menyaksikan adegan pertengkaran seorang kekasih, saat Laras ingin beranjak pergi, tangan Iyas menahannya, Iyas memegang pergelangan tangan Laras, hingga membuat langkah wanita itu terhenti,
"katakan apa yang ingin kau katakan, setelah itu keluarlah, semua orang tau, kamu hanya menemaniku minum, bukan untuk hal lain, apalagi menyentuhku, iya aku melakukan ini karena wanita ini, aku dan dia akan segera menikah jadi berhentilah mengganggu ku"
"Iyas, kau anggap apa aku ini, ingat aku ini putri dari seorang jendral, aku bisa saja membuat keluarga mu hancur" ancam wanita itu kepada Iyas,
"kau mengancam ku... silahkan lakukan apa yang ingin kamu lakukan, tapi kamu dan keluargamu tau siapa aku, jangan lupakan itu, sekarang enyahlah dari hadapan ku, kau sudah membuat calon istriku takut mengerti...."
"wanita ini.. kau yang membuat jarak di antara kami, kau harus merasakan apa yang aku rasakan, suatu saat kau akan di campakkan sama seperti yang aku rasakan, dan ingat... aku tidak akan tinggal diam, awas kau"
__ADS_1
tunjuk wanita itu ke arah Laras, Laras dengan tenang memerankan perannya, sebagai calon istri, wah... pantas di kasih piala dunia kelas ekting nih Laras.