
Aku lihat semua makanan yang sudah tersedia di meja depanku, benar ini memang makanan kesukaanku,dia masih mengingatnya???
"kau heran karena aku mengingat semuanya Laras? tentu...kau adik kesayanganku, mana mungkin aku melupakannya" ucap Sita
"aku tidak mengerti kak, kemana kamu selama ini, kenapa kau menghilang selama ini, dimana kau tinggal, bersama siapa kamu?" ucap Laras
"bukan itu yang seharusnya kau tanyakan Laras, seharusnya kau bertanya, mengapa aku hadir di saat malam pertunangan mu"ucap Sita
"aku tidak peduli dengan itu kak, bahkan kalau kau ingin membatalkan pertunangan itu, aku tidak perduli," ucap laras
"oh..benarkah?? Laras, aku menginginkan Iyas untuk masa depanku, saat aku dengar dia akan tunangan dengan mu, jujur aku sakit hati, apalagi kau yang mengambilnya dariku, kamu ingat dulu sebelum aku meninggalkan kota ini, aku pernah bilang akan ada seorang pangeran yang akan datang padamu, dan kamu kira itu adalah Iyas, hah... apa selama ini tidak ada pria yang mendekatimu selain Iyas??? pasti ada kan... dan aku tau itu, kenapa kau tak bersamanya, malah memilih Iyas yang menjadi keinginanku?? ucap sita
"kakak.... aku tidak mengerti dengan semua yang kau ucapkan, aku hanya ingin tau jawaban pertanyaan ku?" ucap Laras
"kau ingin tau aku ada dimana?? dan dengan siapa? aku dengan seorang pria, apa kau puas dengan jawabanku Laras...???"
sesaat Laras diam, tak menjawab hanya pandangan yang berarah pada pandangan Laras, dia memang terkejut tapi tidak begitu karena sudah mendengar dari Iyas sebelumnya, tentu... tentu Iyas juga mendengar kata yang di ucapkan Kasita, karena penyambung alat pendengaran mereka di aktifkan,
__ADS_1
"baiklah kak, mari kita nikmati makan siang kita,"ucap Laras
"ok adikku sayang, habiskan makananmu, jangan bilang kalau kakakmu ini kurang menyayangimu" ucap kasita
aku tak lagi menjawab ucapan kak sita, aku fokus dengan makananku, entahlah, apakah ini kakakku yang dulu atau bukan, aku lihat sekilas wajahnya, ia sama seperti dulu, terlihat tenang dan lembut, tapi mengapa semua teka-teki ini ada padanya,
entah berapa menita kami menikmati sarapan kami, hingga makanan di hadapanku tandas tak tersisa, ku minum es jeruk yang ada di hadapanku, begitu juga dengan kak Sita,
"Laras, aku masih ingat jelas, masa itu kamu selalu datang padaku, dan saat itu aku selalu menceritakan hubunganku dengan pria kekasihku dan itu adalah Iyas, kau tau perasaanku saat itu, saat itu aku merasa menang, karena orang yang paling berkuasa di kota ini lebih memilih aku dari pada kamu, itulah satu-satunya hal yang membuatku bangga, aku iri padamu, dari dulu sangat iri, saat aku dengar papa dan mama bilang kalau kau adalah harta paling berharga untuk mereka, kau tau... betapa sakitnya hati ini, tapi aku tahan saat itu, aku tau aku anak pungut seharusnya aku tidak meminta lebih dari itu, saat semua orang mengatakan kau adalah gadis sempurna, aku terluka, kurang apa diriku di bandingkan denganmu, sejak saat itu aku memintamu untuk menjadi seorang pengacara, seorang yang sangat di benci oleh orang lain, ah.. aku bahagia karena kau menurutinya, tapi kenyataannya di luar dugaanku, tapi itu tidak masalah, hal yang paling aku benci dari kamu adalah kalau kau memiliki semua yang aku inginkan, kau tau, saat Iyas mulai menanyakanmu, keberadaanmu, semua tentangmu,apa kau tau...betapa hancurnya hati ini, orang yang ku cintai dan berstatus kekasihmu menanyakan wanita lain, hah.. hal konyol yang sampai sekarang aku masih tergelak jika aku mengingatnya, Laras, aku tau kau ingin tau sifatku yang asli bukan..? ini lah aku, aku tidak menyukaimu, tapi mulai saat ini, kau resmi menjadi musuhku, akan aku ambil semua yang menjadi milikmu termasuk Iyas, akan aku ambil dia darimu segera, dan kau tau dengan cara apa aku akan menaklukkan dia?" ucap Laras dengan pertanyaan konyolnya.
"apakah kau akan menggunakan tubuhmu untuk menjebak Iyas?"
"kau percaya akan hal itu? seharusnya kau tau Iyas kalau sebenarnya Iyas bukan orang seperti itu kak"
"hah...semua pria itu sama Laras, kamu jangan naif, kamu ingat kata-kata kakakmu ini, jangan pernah percaya sama yang namanya laki-laki, mereka hanya menyukai tubuh kita, tidak ada cinta yang tulus dari mereka, buktinya sudah banyak termasuk papah mu Laras"
deg... deg... deg....
__ADS_1
seketika detak jantung Laras merasa terhenti, mengapa...mengapa bawa-bawa papa,
"tunggu.. tunggu kak,apa maksud kakak, kenapa bawa-bawa papa dalam hal ini?"
"kau ingin tau... aku sudah bilang semua laki-laki sama hanya menyukai tubuh kita bukan hati kita, kau tau kita bukan saudara, benar, tapi kakakku, dia adalah saudaramu, kakak kandungmu, tapi dengan kejam papa mu oh maksudnya papa kita tidak mengakuinya, dia bilang kalau ibuku adalah wanita ******, kau tahu Laras, sejak saat itu keadaan kakakku tidak normal, kelahirannya tidak normal, dan tidak ada perawatan medis yang ingin menanggung sakitnya, karena ketidak punyaan ibuku, sejak saat itu ibuku menikah dengan seorang laki-laki tua, demi menyembuhkan kakakku, ibuku menjadi istri yang baik dan ibu tiri yang baik, hingga akhirnya kakakku kembali sehat,"
"stop.. stop kak, ceritamu itu palsu, semua ceritamu itu adalah rekayasa mu, papaku bukan orang seperti itu, dia orang yang baik, dia tidak seperti yang kau bicarakan"
"oh..benarkah, kalau begitu... tanyakan pada orang tua yang sekarang ada dirumahmu, siapa mereka, apa benar mereka Oma dan opa kandungmu, hello... Laras....jangan bodoh, mereka itu bukan siapa-siapa kamu,kamu hanyalah wanita yang menyedihkan yang di tinggalkan oleh ibumu, akibat karma papamu," ucap Laras
"tidak kak... papa bukan orang seperti itu, kakak pasti salah faham sama papa," ucap Laras
"hei... kamu bukan orang bodoh, sekarang kamu adalah pengacara handal, tidak sulit bagimu untuk menguak sebuah misteri, huh tapi kau terlambat untuk menuntut dosa papa mu, karena dia sudah di panggil duluan sama yang di atas, Laras... Laras... kalau kau penasaran dengan kisah masa lalu, datanglah padaku, baiklah sekarang aku tinggal dulu, besok-besok kita pasti akan berjumpa lagi adikku tersayang" ucap Sita seraya berdiri dari duduknya.
Kasita meninggalkan Laras dengan terburu-buru, yang mana Laras masih terdiam dengan air matanya, ia masih dengan keadaan yang sama, menatap ke arah dimana tubuh Kasita sudah menghilang,
'apa ini... kenapa dengan semua ini .. aku ingin tau alasan Kasita melakukan itu, tapi kenapa malah aku mendapatkan kejutan lagi darinya, apa sebenarnya yang tidak aku ketahui, apa karena itu Kasita melakukan hal ini, apa semua yang di bicarakan nya adalah hal nyata, tidak.. papa ku adalah orang yang baik, aku tau itu, meski aku tidak ingat apa-apa tentang papa, tapi aku yakin akan hal itu,akan hal kalau papa ku adalah orang yang baik'
__ADS_1
Gumam Laras dalam hati.