
Mau tidak mau aku menyuapi Iyas dalam keadaan tubuhku masih di pangkuannya,sungguh hal memalukan namun aku menyukainya, ini adalah hal pertama Iyas melakukan keromantisan,entah apa yang terjadi padanya malam ini, aku rasa Iyas berbeda, selesai aku menyuapi Iyas dengan masakanku, kulihat dia tidak keberatan dengan rasanya, namun aku masih merasa penasaran tentang penilaian nya,
"Bagaimana rasanya Yas, kau menyukainya?"tanyaku dengan tangan melingkar di lehernya,
"Rasanya..sangat memuaskan sayang, apalagi kamu sendiri yang menyuapiku, rasanya ini adalah makanan terenak yang pernah aku makan"ucapnya dengan sekali-kali menciumiku,
"Ahh..benarkah syukurlah kalau kau menyukainya, awalnya aku khawatir kau tidak akan suka"
"bagaimana mungkin aku tidak suka dengan masakan calon istriku sendiri, Laras kau tidak sedih lagi kan?"tanya nya yang membuatku teringat akan hal tadi siang,
"Tidak,aku tidak sedih, hanya saja perkataan Kasita sangat menggangu ku"
"Kamu yang tenang, jangan terpancing, besok kamu datangi dia, aku sudah memerintahkan anak buahku untuk mencari tau semua tentang papamu dan masa lalunya,kita cocokkan nanti hasilnya, kamu seorang pengacara hebat,tentu kau tidak akan terpancing dengan hal sepele seperti ini"ucapnya sambil menaruh rambutku di belakang telingaku,benar perkataan dia sangat benar, aku seorang pengacara, aku tidak boleh terpancing dengan hal yang belum tentu kebenarannya, dan aku adalah seorang pengacara,ini adalah tugasku untuk menyelidiki dan siapa kakak Kasita yang di maksud hasil dari ibunya dan papa ku itu,dia perempuan atau laki-laki?
aku pun membereskan meja makan sedangkan Iyas duduk di ruang belakang dekat kolam renang, aku tau dia tidak akan pulang malam ini, karena mengetahui aku sendirian, setelah aku membereskan semua dan mencuci semua aku buatkan dia kopi hangat dan ku bawa kebelakang, kulihat ia tersenyum saat melihat kedatanganku, tiba-tiba dering ponselnya mengagetkannya, iapun langsung mengangkat ponselnya itu,
"hallo ma.."
"ada dimana?"
Iyas sengaja mengeraskan suara ponselnya,ku dengar suara Tante Martha
"Aku ada dirumah menantumu,dia sendirian dirumahnya makanya aku temani"ucapnya sambil mendekatiku, akupun meletakkan kopi di atas meja,
"Benarkah..?mama tidak percaya padamu,"ucap Tante Martha lagi,
"Kalau tidak percaya,silahkan ngomong sendiri sama menantu mu ma"
__ADS_1
Iyas memberikan ponselnya kepadaku,aku pun mengambil ponselnya, saat aku mau mengeluarkan suara,Iyas sudah memelukku dari belakang, menaruh dagunya di bahu kananku,
"hallo Tante .."ucapku
"hallo sayang...jadi benar...Iyas ada disana"
"iya tante,Iyas ada disini,maaf sudah membuat Tante khawatir tentang Iyas"ucapku tulus
"tidak apa-apa sayang,malah Tante senang kalau Iyas ada di sana,soalnya tadi papanya bilang kalau Iyas ada urusan dan itu bukan denganmu jadi itu Tante khawatir, eh.. kok masih manggil Tante sih, Panggi aku mama"ucapnya dengan nada perintah,
"Baik,ma..ma"ucapku dengan suara gugup, ada rasa bahagia saat mengucapkan hal itu, aku merindukan mamaku,mama yang mungkin selama ini memanjakanku, mama yang sangat peduli denganku, meski aku tak ingat lagi akan semua itu,
lama kami berbincang, selama aku mengobrol dengan mertuaku,Iyas tidak diam,dia selalu menciumiku, pipiku,leherku tidak luput dari ciumannya, meski terasa geli aku menyukainya, aku merasa Iyas benar-benar mencintaiku, aku merasakan ketulusannya,aku merasakan detak jantungnya saat bersamaku, ku matikan ponselnya saat ku dengar mertuaku menyudahi perbincangan kami,ku berikan ponsel itu, dan Iyas langsung meletakkan ponselnya di sakunya,
"minum dulu kopinya,nanti keburu dingin"ucapku sambil menatap dirinya yang melepaskan jasnya dan hanya menggunakan kemeja dan dasinya, kulihat ia tersenyum padaku sambil mengambil cangkir yang berisi kopi tersebut,
"Laras... aku mendambakanmu selama ini, maafkan aku karena datang terlambat"
"kau tidak salah, takdir yang telat mempertemukan kita, dan menjadikanmu mantan kekasih dari kakakku,"ucapku sambil menatap langit,
kurasakan nafasnya yang berada di leherku, hangat namun menggelikan, ku pegang tangannya yang melingkar di perutku, kunikmati kehangatan malam ini,
"apakah kau juga mencintaiku?"pertanyaan yang begitu konyol menurutku namun terasa sangat indah,
"tentu... jika aku tidak mencintaimu,mana bisa aku bertahan dengan keadaan seperti ini, karena ku mencintaimu aku melawan kakakku, yang hadir secara tiba-tiba,dengan misteri dan ambisi"
"maafkan aku karena aku pernah menjalin hubungan dengannya, tapi percayalah saat aku bertemu denganmu, pandanganku tidak pernah teralihkan, kau mata elang ku, se ekor singa ku, yang dari dulu sangat aku dambakan Ras"
__ADS_1
Bahagia... tentu,siapa yang tak bahagia mendengar pengakuan cinta dari sang kekasih, meski terkadang, kata-kata nya adalah hal yang gombal tapi aku suka,
"Pandanglah aku... hembuskan nafasmu... karena aku amat rindukanmu, janganlah jangan, kau jauh dariku... tanpa wajahmu... kelam duniaku..."ucapnya
"Kau bernyanyi untukku Yas...kalau tidak salah itu lagunya siapa ya,aku lupa pokoknya dari Malaysia iya kan...?"
"iya.. itu lagu dari Ayie floor88, kau suka, kalau suka lengkapi nanti lagunya"
"Bisikkan aku... katakan cintamu...karna suaramu..bersyair laguku... dendang kan aku,dengarkan padaku... dekap lah aku... wahai kekasih ku..."
Ku nikmati semua alunan lagu yang Iyas nyanyikan, meski ku tak tau lanjutannya, aku mencium sekilas pipi Iyas, aku juga ingin mengungkapkan perasaanku,tapi aku tidak tau dengan cara apa, tapi percayalah, aku sangat dan sangat mencintainya,
Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, dan kedua orang tua ku belum datang, ku suruh Iyas untuk membersihkan diri dulu, kusiapkan Iyas baju seadanya, ya baju milik papaku, baju kaos dan celana oblong, Iyas pun membersihkan diri di kamar mandi dan kusiapkan pakaiannya, dan terlihat pas di tubuh Iyas, mungkin tubuh mereka sama saat papa masih hidup, karena ukuran bajunya pas sekali, tidak kebesaran ataupun kekecilan, kulihat Iyas mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, ku raih handuk itu dan ku bantu mengeringkannya, saat mengeringkan rambut, ku lihat Ponselnya menyala, ada sebuah pesan masuk, kulihat nama yang tertera adalah Kasita,
"Ada pesan" ku raih ponsel Iyas dan ku sodorkan ke depannya,
"Bukalah, dan bacakan untukku"
mendapat kepercayaan seperti itu menambahkan cinta tersendiri dihatiku, berarti Iyas tidak menyembunyikan sesuatu apapun dariku, ku buka ponselnya namun terkunci dengan sebuah sandi,
"Sandinya tanggal ulang tahunmu sayang"ucapnya seakan mengerti kebingunganku, lalu ku tersenyum dan membuka kata sandi dengan tanggal ulang tahunku, dan benar saja kuncinya terbuka, dan walpaler ponselnya juga adalah fotoku, sungguh pria yang sangat manis, mustahil jika aku tidak ingin mempertahankan pria seperti dia,
"Apa isinya sayang"ucapannya membuyarkan lamunanku, akupun langsung membuka pesan itu,
"Besok temui aku di hotel XX jam 7 malam sayang"begitulah aku membacakan isi pesan dari Kasita untuk Iyas, kulihat Iyas mendongakkan kepalanya menatapku dengan lekat, mencari kecemburuan di mataku,
"Aku percaya padamu..."ucapku dengan senyuman dan kecupan sekilas di bibirnya
__ADS_1