
Tanpa terasa kami sudah lama berada di luar kantor, akhirnya Iyas mengantarkan ku kembali kekantor yang mana aku langsung menerima Omelan dari Reni,
"Sialan kamu, aku cari kemana-mana gak taunya lagi asyik pacaran, nyebelin banget sih"ucapnya dengan cemberut,
"Kan ada ponsel, kenapa gak hubungi aku kalau lagi mencari ku"ucapku santai sambil berjalan masuk kedalam kantor, sedangkan Iyas sudah berlalu dari kantorku,
Aku pun mulai fokus dengan pekerjaanku, begitupun dengan Reni, dengan sekali-kali aku mengirimkan tugas untuk menyelidiki tentang wanita itu kepada salah satu orang kepercayaan ku, tanpa mereka aku mungkin tidak bisa menyelesaikan setiap kasus yang aku tangani, entah dari mana mereka, awal aku bertemu dengan mereka pun aku tidak ingat, yang aku tahu mereka datang kepadaku dan selalu membantu kasus-kasus ku,tidak ada hubungan lain selain hubungan kerja di antara kami, bisa di bilang mereka adalah detektif rahasia yang aku punya,
"Kalian mengerti kan"?
"mengerti nona"
begitulah jawaban tegas mereka, tanpa bertanya mereka selalu menyelesaikan tugas mereka dengan rapi, mereka ada 5 orang 2laki-laki dan 3perempuan, mereka memiliki kemampuan masing masing, sungguh manusia-manusia yang berguna bagiku,
Ku lihat matahari sudah mulai terbenam, ku rapikan mejaku kembali dan bersiap untuk pulang, saat aku sampai di luar ruanganku, aku berpapasan dengan Nando yang kulihat berhenti tepat di hadapanku,
"Apa kau menerima kasus baru...?"tanyanya,
"iya,"jawabku singkat,
"Kalau bisa jangan terima kasus itu, karena kau tidak tau lagi berhadapan dengan siapa?"
"Oh iya, apakah tuan Nando tau siapa lawanku, dan aku tidak mau tau tentang itu, aku hanya tau jika yang bersalah akan di hukum, siapapun itu meskipun klienku sendiri mengerti..."
Akupun meninggalkan Nando sendiri yang masih menatap langkahku, entah apa yang di inginkan pria ini aku tudak mengerti, jika ia tau dengan kasus baruku, tentu dia akan terlibat, apa mungkin Nando menghawatirkan ku, ah tidak mungkin, kasus ini menyangkut wanita yang ada di foto itu,sial kenapa semuanya jadi kacau seperti ini, huh aku harus tenang, jangan terlalu di fikirkan, setiap masalah pasti ada jalan, yang satu belum terungkap timbul lagi masalah yang berhubungan dengan masalah yang lalu,
aku pun menaiki taxi menuju ke rumahku, aku menyandarkan kepalaku kesandaran kursi tiba-tiba dering ponsel ku mengalihkan pemikiranku,
__ADS_1
"Ya hallo.."ucapku dengan suara yang lelah,
"hai adikku sayang... wah... lagi menerima kasus baru ni, hati-hati loh ya, tidak semua lawan yang kau hadapi bisa kau kalahkan dengan mudah"
"Kau tahu... jelas, kau pasti terlibat dalam kasus ini, apakah wanita itu adalah wanita yang kau ceritakan? jika benar, maka aku yakin semua yang kau bicarakan tentang papa ku adalah hal yang palsu"
"hhahahahaha kau sungguh berfikiran seperti itu, jika apa yang aku katakan adalah benar apa yang akan kau taruhkan kepadaku?"
"jika memang papaku menelantarkan gadis itu dan terbukti jika gadis itu adalah anak kandung papa, maka akan aku serahkan semua aset yang papa tinggalkan untukku, tapi jika kau salah maka jangan salahkan aku jika aku melupakan kamu sebagai kakakku"
"hahhahahaha kau masih menganggap ku kakak, Laras...Laras .. kau jangan terlalu naif, jangan terlalu bodoh, jangan terlalu sok baik, kau sudah tau jelas siapa aku, dan tentunya kau sudah menemukan kotak yang aku simpan di kamarku itu kan, ahh lebih tepatnya mantan kamarku,Laras aku muak dengan sikap sok baikmu itu, aku benci kau yang sok menjadi wanita suci, Laras aku sangat benci dengan sikapmu itu kau mengerti itu kan .."
"aku tau .. karena kau sangat membenciku maka di situ aku menemukan cinta di hatimu, ku tahu kak, kau sangat menyayangiku makanya timbul rasa benci yang terlalu, cinta dan benci itu beda tipis hanya ego yang membedakan rasa itu"
Entah karena rasa kesal atau karena kataku benar tiba-tiba panggilan kami terputus, aku menghela nafas panjang tersimpan rasa sedih yang sangat amat di hatiku, hanya 2 tahun semua sudah merubah keadaan,
pertanyaan yang tak kunjung aku temukan jawaban, tanpa terasa akupun telah sampai di depan rumahku, aku langsung masuk kedalam rumahku dan segera berbaring di sofa ruang tamuku, rasanya aku sangat lelah hari ini, padahal aku tidak melakukan aktifitas apapun seharian ini,
aku pejamkan mataku melepas rasa lelah, tanpa terasa aku tertidur di sofa ruang tamu, saat aku terbangun aku sudah berada dalam kamar,
"ah... kok aku tiba-tiba di kamar ya, padahal seingatku tadi aku tidur di sofa, tidak mungkin kan kalau Oma atau opa yang gendong aku dari bawah,"
lama aku berfikir akhirnya aku pun membersihkan diri di kamar mandi dan segera turun ke bawah, saat aku sampai di bawah, aku melihat Iyas yang sedang ngobrol dengan opa dan Oma di ruang tamu,
"sudah bangun sayang"ucap oma ku menyadari kedatanganku,
"iya Oma, tadi siapa yang mindahin aku Oma?" tanyaku sambil mendaratkan tubuhku duduk di sofa,
__ADS_1
"tentu Iyas lah nak, masak Oma atau opa..., mana kuat gendong kamu yang sudah berat itu" ucap opa ku sambil melihat ke arahku, kulihat Iyas tersenyum kepadaku, aku pun membalas senyumannya,
"udah lama datangnya"tanyaku
"lumayanlah, aku jemput kamu di kantor tapi katanya kamu sudah pulang, jadi aku kemari untuk memastikan kau sudah sampai dirumah atau belum, saat aku ingin masuk kulihat kamu terbaring di sofa jadi .. ya udah aku pindahin kamu, lain kali kalau mau tidur di sofa pintunya di tutup dulu"ucapnya sambil membelai lembut rambutku,
"terimakasih ya, "
"sama-sama kau belum makan malam, sebaiknya makan dulu"
"kamu sudah makan..?" tanyaku,
"baru aja selesai sama Oma dan opa, nungguin kamu sampai mati kelaparan aku," sambil tertawa sedikit
"Makanlah sayang... Iyas sudah makan bersama kami tadi" ucap omaku,
"baiklah... aku tinggal dulu"
"kau terlihat sangat lelah, kau tidak apa-apa kan, kau sehatkan Ras..."tanya Iyas yang tiba-tiba, aku melihat kearahnya dan tersenyum padanya seraya berkata,
"Aku tidak apa-apa, hanya merasa lelah sedikit"ucapku,
aku pun melanjutkan langkah kakiku dan segera duduk di meja makan, namun aku tidak berselera sekali melihat makanan di hadapanku,saat aku ingin beranjak pergi Iyas memahami dan mendudukkanku kembali,
"kau tak selera makan..?"
aku hanya menganggukkan kepalaku, Iyas dengan telaten mengelus rambutku
__ADS_1
"biar aku yang suapi, selelah apapun dirimu, tapi kau harus tetap makan sayang, jaga kesehatanmu, bagaimana kau akan menangani kasusmu jika kau seperti ini, ayo makanlah sedikit,"sambil menyuapiku, akupun membuka mulutku dan mengunyah nasi yang di suapi Iyas, ini karena masakan bibi yang enak atau karena orang yang ku cintai yang menyuapiku, tapi rasanya nafsu makan ku yang tadi hilang kini telah kembali.