Hikayat Cinta

Hikayat Cinta
Part 7 Yas dan Rara


__ADS_3

Laras sudah siap dengan penampilannya, ia pun mendengar suara dari bawah, yang ia yakini kalau itu adalah tamu yang dia undang, terdengar suara Oma dan opa nya yang berbincang menyambut tamunya, ia pun memakai parfum dan segera turun,


"Itu anaknya sudah turun nyonya, silahkan duduk" ucap Oma Margaretta kepada tamunya yang masih tertegun menatap penampilan Laras,


"Benar-benar cantik kan pa" nyonya Martha memegang tangan tuan Arya mengisyaratkan kekagumannya terhadap wanita di hadapannya,


suaminya hanya menganggukkan kepala menghadapi keobsesian istrinya terhadap menantu idamannya ini,


"Selamat datang om, Tante, tuan Yas"


Laras menyalami satu persatu dari mereka , sungguh anak yang sopan,


"Nyonya pasti sangat mendidik Laras, dia tumbuh menjadi wanita yang cantik, ramah, sopan sukses lagi,"


"Laras memang dari kecil sudah menjadi anak yang mandiri nyonya, kami tidak lebih hanya teman dirumah ini, aku tidak pernah mengarahkan dia akan sesuatu, di dalam hidupnya, keputusan untuk hidupnya kami serahkan sendiri padanya,"


"Sungguh-sungguh anak yang patuh," begitulah ucapan nyonya Martha dan tuan Arya, sedangkan Iyas hanya menatap Laras yang duduk di depannya,


"Kalau begitu, silahkan di cicipi Tante, om, tuan Yas, nanti keburu dingin loh, ini masakan Laras loh tan,"


"Benarkah sayang... wah... udah pas buat jadi seorang istri donk" goda nyonya Martha yang berhasil membuat Laras tersipu malu, karena jangankan jadi istri, pacarpun tidak punya,


akhirnya mereka pun memulai makan malam pertama mereka,


"hemm sayang... masakan mu enak banget loh, kapan-kapan masak sama Tante ya dirumah" ucap Martha memuji masakan Laras,


"Baiklah Tante kalau ada kesempatan aku akan mampir kesana" balas Laras,


"Benar nak, masakan kamu ini enak sekali, Iyas, benarkan kata mama, papa "


"I..iy..iya ma, pa, masakan ini benar-benar enak kok" jawab Iyas dengan gugup


cih kenapa aku Segugup ini sih, Iyas menatap Laras yang kini fokus menghabiskan makanannya.


"hemm, Oma, bolehkan aku mengajak nona Laraa jalan-jalan di sekitar sini"


mendengar hal itu, Laras langsung melihat ke arah Iyas yang lagi tersenyum padanya,


"oh silahkan nak, Laras, bawa nak Iyas jalan-jalan nak" perintah Oma Margaret padanya

__ADS_1


"baiklah,Oma, opa, Tante, dan om kami tinggal dulu ya"


mereka tersenyum, membalas ucapan Laras, Iyas dan Laras pun menuju ruang belakang, disana terdapat taman kecil dan juga kolam renang mereka memilih berdiri di dekat sana, terlihat Laras yang memeluk lengannya sendiri karena kedinginan,akibat angin di malam hari,


"nona Laras, apakah anda satu-satunya di sini, maksudku, anda tidak punya saudara gitu" ucap Iyas memecahkan keheningan,


saat Iyas mau menjawab, Iyas menyelimuti tubuhnya dengan jas yang ia pakai, seraya berkata,


"Kulihat tubuhmu kedinginan, pakailah setidaknya bisa mengurangi rasa dinginnya itu"


Iyas melihat gelang yang di pakai Laras sebab itulah ia yakin kalau dia adalah si mata elang,


"aku punya satu saudara, dia kakakku, tapi tuhan mengambilnya terlebih dulu"


Seketika tubuh Iyas menjadi kaku karena keterkejutannya,


"Tahun itu, aku mengalami kecelakaan, yang mana membuatku hilang ingatan, aku di rawat di sini, sedangkan kakakku saat itu tidak bisa menyusul karena ada ujian akhir, saat ia mau kemari, pesawat yang ia tumpangi mengalami kecelakaan besar, mengakibatkan banyak penumpang meninggal, salah satunya adalah kakakku, meski jasadnya tidak di temukan, tapi... petugas sudah memfonis, bisa jadi tubuh kakakku terjatuh kedalam laut, atau bisa juga, hancur akibat ledakan, aku hanya melihatnya di foto kami, dia wanita yang sangat cantik"


Iyas masih tertegun dengan ceritanya, pantas wanita ini tidak mengingatnya, dia mengalami sakit pada tahun itu, dan dengan egoisnya di menyalahkannya karena pergi tanpa pamit, wanita yang saat itu menyandang sebagai kekasihnya, ia telah mengalami kecelakaan, namun hatinya berkata, "saat itu aku tidak menyadari perasaanku, benarkah aku menyukainya saat itu, mungkin aku hanya mengagumi kecantikannya, tidak ada sakit yang kurasakan saat mendengarnya kecelakaan, sedangkan mendengar tentang Laraa yang terbaring sakit, hatinya berdenyut meminta bertanggung jawab kemana dia saat itu" ..


"maafkan saya tuan, saya telah menceritakan tragedi kehidupan kami, sebenarnya aku tidak tau pasti, aku hanya mendengar cerita itu dari Oma, kalau anda sendiri bagaimana?, apakah anda punya saudara??"


"Aku punya seorang adik perempuan, sekarang masih kuliah di London, ngomong-ngomong panggil saja aku Iyas tidak usah memanggil dengan panggilan formal" imbuh Iyas yang kini melihat ke arah sampingnya, arah dimana Laras berdiri, pandangan mereka pun bertemu,


mereka saling melempar senyum, betapa indahnya malam ini,


seketika keadaan makin sunyi, hening, hanya suara desiran angin yang terdengar,


*****


"nyonya, bagaimana dengan pendapat anda" tanya langsung nyonya Martha kepada nyonya Margaret yang sedang asyik duduk berdua, melihat ke arah ke dua anak yang sangat mereka sayangi,


"saya tidak pernah memberi keputusan untuk cucuku nyonya, tapi saya selalu mendukung apapun keputusannya, masalah menjodohkan mereka, aku setuju nyonya, tapi masalah Laras setuju tidak nya, aku tidak bisa memastikannya,"


"tidak apa-apa nyonya, saya akan berusaha lagi untuk mendekatkan mereka, aku sangat menyukainya, bolehkah aku berharap nyonya.."


nyonya Martha menatap nyonya Margaret dengan tatapan penuh permohonan,


sejenak nyonya Margaretha berfikir,

__ADS_1


cucunya tidak pernah dekat dengan pria selama ini, ia melihat ada senyum di bibirnya, saat ia berbincang dengan Iyas, mungkin pria ini tepat untuknya, melihat orang tuanya, juga menyukai Laras, sudah jelas kehidupan Laras akan baik-baik saja di kemudian hari,


"baiklah Rara, aku pamit dulu, kamu istirahat lah,"


"baiklah, ini jas mu terima kasih"


senyum mereka sungguh oh membuat hatiku berhenti berdetak loh, mereka pasangan yang sangat serasi meski usianya selisih beberapa tahun namun mereka terlihat sangat cocok,


"sayang, lain hari bawalah Oma dan opa mu main keeumah tante, dan kamu, sering-sering lah main kerumah Tante, Tante sangat kesepian di rumah"


"ma jangan seperti anak kecil, Rara banyak kesibukan, tidak mungkin dia akan menemani mama sepanjang hari," selang Iyas yang melihat tindakan mamanya, mamanya menatap putranya b


penuh dengan senyuman,


"wah.. kalian sudah punya panggilan masing-masing ya, putra mama memanggilmu Rara sayang, kalau kamu manggil dia apa" tanya Martha kepada Laras, membuat Laras tersipu malu, kenapa mamanya Iyas menjadi seperti ini, biasanya dia adalah wanita yang tegas dan berwibawa, tapi kali ini...


"dia manggil aku Yas ma... sudahlah... ayo pulang, bikin malu ja ni mama"


"tuan, nyonya, maafkan kami, sikap istriku memang seperti ini"


"tidak apa-apa tuan, kami malah senang, dengan sikap nyonya, tidak ada kecanggungan di antara keluarga kita" sahut opanya Laras, yang rambutnya sudah banyak yang berwarna putih,


"baiklah kami permisi dulu, assalamualaikum"


"waalaikum salam"


mereka pun menghilang dari depan mata mereka, saat Laras ingin


beranjak naik ke kamarnya tiba- tiba


"sayang.... bagaimana pria itu sangat baik kan?" ucap Oma nya yang mencegah kakinya,


"maksud Oma, Yas???"


"jelas dong sayang siapa lagi??, masak tuan Arya sih"


" dia baik Oma, dia pria yang beda dengan dengan pria yang Laras kenal, yang lain ingin menjatuhkan martabat wanita, tapi dia ingin menjunjung martabat wanita, itu nilai plus dari Laras, kenapa Oma?"


"ah tidak sayang, kalau dia menjadi suamimu, pasti Oma bahagia"

__ADS_1


seketika Laras menatap Omanya, seakan tidak percaya dengan yang Omanya katakan


Hai... semua, mohon dukungannya ya teman-teman, like dan kominnya serta vote nya juga, jika berkenan, favorit kan karyaku ini.


__ADS_2