Hilang Tak Terganti

Hilang Tak Terganti
24


__ADS_3

di dalam mobil keduanya enggan berbicara, beberapa kali Brian mencoba untuk bicara tapi tak jadi,, zahra sendiri bukannya tidak tahu tingkah Brian cuma Zahra abaikan dia lebih memilih mengerjakan pekerjaannya dari pada mengobrol entah kenapa perkataan ayah Brian masih terngiang-ngiang. perasaannya mengatakan bahwa itu bukan candaan, entah dia yang baper atau kelewat percaya diri bahwa pak Bram menginginkannya menjadi menantu.


tak lama mobil sampai di sebuah perusahaan, Zahra turun dan mengucapkan terimakasih dan di balas anggukan Brian,lalu menghilang.


"ada apa dengannya,, kenapa sikapnya berubah" tanya Brian setelah Zahra menghilang dari pandangan.


"astagfirullah kenapa aku gak bisa konsentrasi,, Nadia tolong keruangan sebentar" pikiran Zahra yang kacau membutuhkan ketenangan.


"ada yang bisa saya bantu" tanya Nadia yang baru masuk.


"tolong kosongkan jadwal saya untuk sekarang dan besok,, saya lagi gak konsen untuk bekerja" perintah Aqila.


zahra bergegas pergi untuk menemui orang tuanya sekaligus mengunjungi anak Panti yang paling dia Rindu kan.


****


"Assalamu'alaikum"sapa Aqila yang baru sampai di dalam rumah orang tuanya.


" Waalaikumsalam "kedua wanita beda usia itu menoleh dan reflek menjatuhkan barang yang di pegang mereka saking kagetnya, mereka tak menyangka kalau orang yang selalu mereka rindukan berkunjung.


" nak kenapa gak ngabarin kalau mau kesini"tanya Kania yang baru saja melepaskan pelukan Zahra.


"iya non tahu gitu tadi bibi masakin kesukaan non Zahra" kata Bu Lina pada Zahra.


"Bu manggilnya biasa aja,, Zahra masih Zahra yang dulu kok, masih anak kesayangan ibu" kata Zahra sambil mencium punggung tangan dan memeluk Bu Lani.


Kania yang melihat bagimana Zahra memperlakukan Bu Lani pun tersenyum, benar kata Bu Lani dan ibu Panti kalau Zahra sangat baik,, tak pernah membedakan orang dan selalu menghormati dan membantu orang.


"mari masuk nak, kita makan siang bersama, mama akan telpon papa dan adik adikmu" Kania dan bu Lina membawa Zahra masuk.


"iya ma,,ya udah yuk kita masak sama-sama" Zahra mengajak keduanya memasuki dapur dengan memaksa sebab keduanya melarang Zahra memasuki dapur.


"jangan nak biar ibu dan mama aja yang masak, kamu istirahat aja kan baru datang" keduanya sama-sama melarang.

__ADS_1


"gak apa-apa mah, Bu,Zahra juga kangen masak, udah lama Zahra gak masak" Zahra memaksa,,dengan terpaksa bu Lina dan mama Kania mengiyakan keinginan Zahra.


mereka masak dengan diselingi obrolan santai khas wanita.


setelah beberapa saat makanan pun siap bertepatan dengan datangnya semua anggota keluarga Mahardika.


"apa kabar nak" tanya Riza yang baru memasuki rumah.


"baik pah" jawab Zahra sambil mencium punggung tangan Riza, hal tersebut kontan membuat Riza menegang sekaligus haru.


"apa kabar kak" sapa kedua adik dan adik iparnya.


"baik, kalian sendiri bagai mana" tanya balik Zahra.


"baik kak,,kakak kesini dengan siapa"tanya Rama.


"sendiri, memangnya kenapa? " heran Zahra.


"kirain sama pasangan" canda Bima.


semuanya langsung diam dan mulai makan.


setelah selesai semua berkumpul diruang keluarga.kecuali Kania dan citra mereka memilih lebih dulu mengunjungi Panti.


"kak bagaimana tentang kerja sama kita,apa kau puas" tanya Bima


"yaa,, sangat puas" jawab Zahra.


"hei jangan lupakan kerjakeras dan pengorbanan ku" Rama ikut menimpali dan dibalas tawa semua orang.


Riza diam sejenak melihat interaksi ke tiganya, dia bangga tentu saja pada anak-anaknya, jika dulu mungkin Riza akan mendukung anaknya, tapi kini ada sebagian dari sudut hatinya yang kosong.


setelah kejadian Zahra, dirinya kini merasa sendiri semua hartanya tak berarti kala hidupnya harus sepi.dia ingin kembali menjadi keluarga yang saling melengkapi.

__ADS_1


"nak apakah bisa kalau kau pindah lagi kesini" permintaan Riza menghentikan obrolan bisnis semuanya, dan menatap pokus pada sang Papa.


"maksudnya apakah kita bisa berkumpul kembali seperti dulu" Riza memperjelas keinginannya.


"maafkan kami pah,, kami akan coba


mengalihkan semuanya ke sini" jawab Zahra mewakili kedua adiknya.


senyum Riza mulai terbit setelah mendapat janji dari ketiganya.


***


Zahra memasuki Panti dengan senyum yang terus terkembang.


"assalamualaikum Bu" sapa Zahra pada ibu Panti dan langsung memeluknya.


Zahra bahagia melihat keadaan Panti yang sudah tercukupi.


Zahra memang sering mentransfer ke Panti tapi tanpa sepengetahuan ibu Panti.


"Nak kau datang hari ini,, ibu sangat senang dan berterima kasih pada Allah karena telah menyelamatkan mu" ibu Panti memeluk erat Zahra sambil menangis.


"iya Bu, Zahra amat menyesali keputusasaan Zahra dulu, Zahra minta maaf telah menyia-nyiakan Nasihat ibu untuk tetap sabar" tangis Zahra makin menjadi setelah peristiwa lalu teringat kembali.


"sudahlah Nak semua sudah berlalu cukup jadikan semuanya pembelajaran diri agar tak terulang pada diri dan juga orang lain" nasihat ibu Panti pada Zahra yang di angguki Zahra.


"Terima kasih Bu" kata Zahra makin kagum pada ibu Panti.


keduanya berkeliling dan berkenalan dengan anak Panti yang baru kemudian menyusul Kania dan citra untuk bercengkrama.


****


Hai Hai para pembaca semua terimakasih atas apresiasinya. semoga bisa dinikmati karyanya. dan bersedia memberikan like dan komennya.

__ADS_1


Terima kasih yaaa.


__ADS_2