Hilang Tak Terganti

Hilang Tak Terganti
41


__ADS_3

hari terus berganti, namun hati enggan menetapkan pilihan. hana dilema akan pilihannya antara memilih Bima atau meneruskan rencananya. semua sudah tersusun bahkan terlaksana dengan baik tinggal menunggu semuanya terbongkar dengan sendirinya.


sedangkan Zahra dan Brian sudah memantapkan pilihan untuk segera menikah.


persiapan bahkan sudah dilakukan oleh kedua keluarga mereka. bahkan sebelum ada kesepakatan diantara keduanya.


dengan sukacita keluarga besar Mahardika menyiapkan semuanya. tinggal satu bulan lagi menuju pernikahan mereka.


"Assalamu'alaikum Ai, kakak udah dilobi." chat Brian pada Zahra.


"Iya Kak, Aqila turun sekarang." dengan terburu-buru Zahra melangkah sambil membereskan penampilannya memasuki lift.


didalam lift dia bertemu dengan Ilyas yang baru selesai membahas proyek dengan Bima.


"Hai, kamu yang waktu itu mau dijodohkan sama saya kan?" tanya Ilyas memulai pembicaraan.


"hah, iya benar. kenapa ya?" Zahra bertanya heran karena itu kejadian lama menurutnya.


"saya mau minta maaf soal kejadian tersebut, waktu itu saya sedang kesal pada mama saya jadi berlaku tidak sopan sama kamu. maafkan kelakuan saya tempo lalu yaa."


"iya enggak apa-apa kok."


"kamu kerja disini?" tanya Ilyas basa-basi.


"enggak kok, saya hanya berkunjung. permisi tuan saya duluan." Zahra yang tak nyaman memilih segera pergi begitu pintu lift terbuka dan langsung mengajak Brian pergi.

__ADS_1


"itukan pria yang bersama Ara dulu." Ilyas terus menatap Brian dan Zahra sampai masuk ke mobil mereka.


"kenapa Ai kok ngos-ngosan gitu?" tanya Brian sambil menyeka keringat Zahra begitu memasuki mobil.


"enggak kenapa-napa Kak, sini Aqila juga bisa sendiri." Zahra merebut tisu yang di pegang Brian untuk menyeka keringatnya.


"ya sudah ayo kita berangkat." Brian melajukan mobilnya menuju butik langganan keluarga Zahra. di sana keduanya mencoba kebaya yang sudah keluarganya sepakati.


"maaf Nona tolong coba yang ini juga." pegawai butik menyerahkan satu gaun yang menurut Zahra agak terbuka.


"emang mama saya juga pesan yang ini yaa?" tanya Zahra yang membuat pelayan tersebut gelagapan.


"ah.. eh iya Nona" jawab gugup pegawai butik.


"oke." Zahra langsung memakai pakaian tersebut dan langsung didandani. begitupun Brian.


"cantik" bisik Brian di dekat telinga Zahra begitu selesai memutari tubuhnya.


"Kakak juga tampan." jawab Zahra sambil menunduk.


"benarkah?Ayo kita berangkat lagi."Brian menggandeng tangan Zahra menuju mobil.


" kak sebentar kita belum ganti baju." Zahra berbicara sambil mengikuti Brian.


"enggak usah ganti baju, tapi tunggu pakai jas kakak dulu." Brian memakaikan jasnya karena tak mau Zahra di lirik oleh pandangan nakal diluar sana.

__ADS_1


"tapi kita mau kemana dengan pakaian .seperti ini?" tanya Zahra..


"rahasia sayang" jawab Brian yang membuat pipi Zahra memerah.


Brian melajukan mobilnya menuju laut.


sesampainya di sana Zahra langsung di arahkan untuk berpose.


"ada apa ini Kak?"Zahra yang bingung kembali bertanya.


" Freeweding Ai, kakak mau yang spesial di pernikahan kita.Kakak juga ingin berperan dalam pernikahan kita. semuanya kan sudah di atur oleh keluarga kita cuma ini yang belum. jadi semoga kamu suka."


"suka Kak ini indah. semua terlihat sempurna. " jawab Zahra antusias.


"benarkah! Terima kasih" jawab Brian sambil memeluk Zahra dari belakang. karena reflek Zahra memegang tangan Brian yang melingkar di perutnya sambil menoleh kebelakang. pose itu langsung di ambil oleh sang fotografer karena menurutnya begitu sempurna. dengan bias senja di belakang mereka.


mereka terus berpose dengan berbagai gaya. setelah selesai Zahra tak mau pulang, dengan gaun yang melekat dibadan dia terus berlari memainkan ombak kecil yang menerpa kakinya. sedang Brian terus tersenyum melihat tingkah Zahra yang baru di lihatnya. dia begitu mengagumi sosok Zahra, senyumnya dan semua yang ada pada Zahra sore ini. Zahra begitu lepas mengekspresikan dirinya. tak lama Brian ikut menemani Zahra sambil memakaikan jasnya di pundak Zahra. malam itu Zahra sangat bahagia dengan kejutan yang Brian berikan.


"Terima kasih untuk semuanya Kak." kata Zahra di tengah perjalanannya menikmati laut sambil berpegang tangan.


"tak perlu berterima kasih, semua kakak lakukan untuk kebahagiaan kita."


"satu yang harus kamu tahu. kakak sangat mencintaimu." Brian menggenggam kedua tangan Zahra dan memeluknya.


tak lama keduanya pulang dengan senyum yang terus terukir di bibir keduanya.

__ADS_1


*****


Hai haihai. maaf yaa baru up lagi. penulisnya baru dapat ide nih. apa kabar semuanya semoga sehat semua yaa.


__ADS_2