
setelah keluarga Brian pergi semuanya kembali ke kamar masing-masing untuk istirahat. tapi dua orang kembar masih duduk di teras sedang bercengkrama dengan santai.
"Bima lo ada perasaan ya sama hana?" tanya Rama santai.
"panggil gue kakak, gue ini kakak lo."
"cuma beda 10 menit juga jawab aja.jangan ngalihin pertanyaan." Rama tak bisa dialihkan.
"entahlah Ram, gua ngerasa gak asing sama Hana, gua merasa tak tega sama dia. gue kasihan. sebelum ini kayaknya kita pernah kenal, tapi gak ingat?" jawab Bima.
"ohh.gue kira dia calon kakak ipar?"tanya Rama ingin memastikan perasaan kakaknya.
"bisa jadi. kalau dia mau?" jawab Bima.
"kayaknya dia baik, lihatkan tadi dia bisa deket loh dengan keluarga kita. bisa nyesuaiin diri dengan baik" kata Rama yang tadi sekilas mengamati Hana.
"iya ya, padahal dia orang dari kalangan biasa? tapi tadi di obrolan dia tampak masuk dan mengerti semua obrolan kita, kemarin pas masuk rumah juga dia biasa aja, gak ada tampang kagum atau kaget kaya orang biasa!" Bima merasa heran.
"ya udah, nanti gue bantu cari tahu." kata Rama kemudian berlalu. sedang Bima masih diam ditempatnya.
__ADS_1
***
Besoknya Zahra masih dikantor saat jam makan siang, tiba-tiba Bu Maya menelpon meminta bertemu. Zahra pun mengiyakan ajakan itu.
"Assalamu'alaikum Bu, maaf qila telat,"Zahra sudah tiba di rumah Bu Maya.
"tak apa Nak, duduklah kita mulai makannya." Bu Maya menghidangkan makanan untuk Zahra.
"Bu qila bisa sendiri," aqila merasa tak enak karena dilayani.
"tak apa Nak, kalau kamu sendiri nanti makannya sedikit." jawab Bu maya sambil tersenyum.
"mana pernah Qila makan sedikit kalau masakan ibu." Zahra mengerucutkan bibirnya.
"Nak, apakah selamanya kamu akan disini?" tanya maya yang sedang berbincang setelah makan.
"iya Bu. kasihan orang tua saya sendiri, si kembar sudah punya kesibukan sendiri." jawab Zahra sambil tersenyum.
"Apakah tak pernah berpikir ingin menikah? maaf ya Nak, ibu bicara begini karena khawatir dan peduli padamu."
__ADS_1
"iya Bu enggak kenapa-napa. entahlah Bu satu sisi saya enggak kepikiran, tapi sisi lain saya dipaksa harus mau karena usia yang tak lagi muda." Zahra tersenyum masam.
"Nak sebagai ibumu, ibu mendukung semua keputusanmu. tapi soal suami coba jadikan ini sebagai agendamu secepatnya. karena kamu sudah dewasa dan juga wanita!" Bu maya yang sudah menganggap Zahra anaknya khawatir dengan pemikiran Zahra yang seolah tidak mau berumahtangga.
"iya Bu Qila akan coba terbuka sama pria. jangan khawatir lagi." Zahra meyakinkan Bu maya.
"ya.segeralah cari suami, semoga dapat yang terbaik Nak." Bu Maya memeluk Zahra.
"ya Bu tolong doain Qila." pinta Zahra sambil melepas pelukan.
"selalu sayang. sekarang ayo kita jalan jalan siapa tahu dapat calon." Bu maya mengapit tangan Zahra untuk berdiri kemudian pergi.
"bentar Bu, kenapa langsung nyari yang gak pasti sih. mending nanti aja minta di cariin sama papa kali aja ada anak rekan bisnisnya yang masih sendiri."
"kamu mau kalau di jodohin?" tanya Maya antusias.
"ya tergantung, cocok enggaknya."
mereka berduapun pergi bersama jalan-jalan menghabiskan waktu Bu Maya yang cuma 3 hari di negara Zahra.
__ADS_1
***
tolong jangan lupa likenya jika suka. Terima kasih.