
suasana hikmat masih terasa, di sebuah mesjid tempat diadakannya ijab Kabul kedua makhluk yang saling mencintai.
setelah dinyatakan sah barulah keduanya di giring menuju singgasana, tamu yang hadir begitu terpukau oleh penampilan keduanya.
begitu pun dengan seorang pria yang tak bisa mengalihkan tatapannya dari mempelai wanita.
"Astagfirullah. ingat Ilyas dia bukan mahram mu." ucap Ilyas sambil mengelus dada sambil memejamkan mata.
sementara di tempatnya kedua mempelai sibuk dengan para tamu juga fotografer yang akan mengabadikan semua momen indah mereka.
di tengah padatnya acara sosok paruh baya dengan Aura kekuasaannya datang dan langsung menyapa keluarga Mahardika.
Zain tergopoh menemui wanita tersebut.
"kenapa tak mengabari Zain, kalau Ibu mau kemari"
"Aku ingin memberikan kejutan." jawab wanita yang bernama marwah tersebut.
"Ibu ini.. "
"sudahlah Zain jangan terus bertanya. lihat semua mata melihat kita."
Zain melihat sekeliling dan tersenyum pada semua tamu.
keluarga Mahardika semuanya diam melihat Zain, mereka bertanya siapa wanita itu? mengapa orang kepercayaannya bisa begitu hormat padanya.
tak lama Zain menghampiri Riza dan berbisik. Riza memberi kode pada keluarganya untuk mengikutinya, kecuali Zahra.
__ADS_1
"tuan perkenalkan ini Ibu Marwah. beliau adalah orang yang membesarkan saya. dan maaf juga tuan saya tidak jujur selama ini, saya sebenarnya adik Kak Marwan, meski bukan kandung. dan Ibu Marwah ini juga yang telah memberikan perusahaan dan kehidupan nona Zahra selama ini." Zain berkata sambil menunduk karena merasa bersalah.
Rahang Riza mengeras. tapi tak bisa berbuat apa-apa dia diam untuk menormalkan emosinya.
"maaf Nak, saya minta maaf atas semua kejadian di masa lalu. Ibu benar-benar tidak tahu kalau Marwan tega berbuat seperti itu. ditambah Zain tidak bisa memberitahu saya karena selama ini saya di luar negri sedang menyembuhkan penyakit saya." terang marwah. semua yang ada diruangan itu diam. mereka sibuk dengan pikiran dan perasaan mereka.
Riza menghirup nafas dalam.
"tak apa-apa Nyonya, kami berterima kasih atas semua kebaikan Nyonya pada Zahra. dengan kejadian waktu itu, kami jadi tahu betapa berharganya Zahra untuk kami dan bisa tahu kebenaran yang terjadi." meski terkejut dan marah karena merasa di bohongi. Riza belajar tuk memaafkan, toh itu semua terjadi juga ada campur tangan darinya yang terlalu mengedepankan egonya.
***
Setelah acara selesai Zahra dan Brian memilih duduk bersama keluarga mereka.
Zahra begitu terkejut setelah diberitahu kebenaran tentang Marwah.
"Nyonya. terimakasih untuk semua yang telah Nyonya dan Om Zain lakukan untuk Zahra. Zahra tidak tahu dengan cara apa kami membalas kebaikan Nyonya."
"sudahlah Oma. semua yang berlalu jangan lagi kita bahas.saya sudah memaafkan dan saya juga mau di maafkan." Zahra tersenyum lembut sambil menatap semua orang di sekelilingnya yang sedang menunduk karena rasa penyesalan mereka.
****
Bima datang ke kantor dengan semangat. setelah pernikahan Zahra keluarga mereka sepakat untuk berlibur 3 hari. Bima sudah mengajak Hana. tapi dia menolak ikut dengan alasan dia ingin mengunjungi Keluarganya juga.
"tak sabar rasanya ingin bertemu denganmu, Hana." Bima terus tersenyum sepanjang perjalanan. didalam lift pria bermata sipit itu merasa tak sabar.
sesampainya didepan ruangan Bima mematung karena tak dilihatnya Hana di mejanya.
__ADS_1
"mungkin dia belum tiba. aku yang terlalu semangat ingin bertemu." Bima masuk kedalam ruangan setelah menitipkan pesan pada asisten Hana untuk segera masuk begitu gadis itu datang.
tak lama seorang resepsionis datang menghampiri asisten Hana menyerahkan sebuah surat untuk Bima.
asisten Hana langsung menyerahkan surat tersebut.
"Maaf Pak, ada titipan dari Bu Hana untuk Pak Bima." setelah menaruh surat sang asisten berlalu meninggalkan Bima yang langsung membaca surat tersebut.
"tolong jadwal ulang semua pertemuan, hari ini, Kosongkan semua jadwal." setelah mengatakan perintah itu Bima pergi dengan terburu-buru.
"hah. ada apa sih kok pak Bima buru-buru begitu. ah sudahlah atur jadwal dulu sambil mencari alasan yang tepat untuk mengundurkan semua pertemuan."
Bima berdiri di depan sebuah rumah sederhana yang sudah terkunci.
"permisi, apakah pemilik rumah ini ada?" tanya Bima pada salah seorang tetangga.
"tadi pagi sudah pergi Pak. kayaknya mau pindah."
"pindah! pindah kemana ya Pak?" tanya Bima kaget sekaligus ketakutan.
"maaf Pak saya kurang tahu." jawab si bapak ramah.
"Terima kasih Pak. kalau begitu saya pamit dulu. Assalamu'alaikum." dengan panik Bima segera menghubungi orangnya agar segera menemukan keberadaan Hana.
"dimana kamu Hana? kenapa kamu pergi?"
****
__ADS_1
Kira-kira kemana ya Hana?
maaf semua saya baru sempat up.