
Zahra semakin Menghindar dari Brian,, dia tidak ingin kedekatannya dengan seorang pria menghambat karirnya, Zahra ingin memajukan lagi perusahaannya.
Terlebih lagi orang tuanya ingin perusahaannya di pindah ke negara orang tuanya berada membuat Zahra harus bekerja lebih keras,, dan karena alasan itu pula Zahra tak mau berhubungan dengan Brian atau lainnya.
tok.... tok... tok...
"masuk" jawab Zahra.
"permisi Bu ada pak Brian di luar, ingin bertemu ibu" Nadia mengutarakan tujuannya.
"persilahkan masuk" perintah Zahra.
Brian masuk dan duduk di sofa berhadapan dengan Zahra.
"apa kabar pak Brian" sapa Zahra.
"Baik,, Bu Aqila sendiri apa kabar,, kenapa saya merasa Ibu menghindar dari saya" tanya Brian langsung dengan tersenyum.
"Alhamdulilah saya baik,, maaf jika saya terlihat menghindari bapak,,belakangan ini saya sibuk" jawab Zahra dengan ekspresi dinginnya.
"ohh,,ibu saya ingin bertemu,,jika Bu Aqila punya waktu" kata Brian.
"iya saya akan kesana nanti jika sempat" Jawab Zahra.
"kenapa yaa kalau di kantor dia selalu berekspresi dingin,,beda banget sama pertama kali bertemu dan kalau di rumah" batin Brian yang sedikit tak nyaman dengan ekspresi Zahra.
mereka lalu membahas proyek yang sedang berjalan dan akan datang.
****
Zahra bertemu dengan kedua adiknya, Zahra ingin membahas kerja sama mereka sekaligus bertanya masalah perusahaan yang akan di pindahkan ke negara mereka.
Zahra sudah sampai di restoran tempat dia akan bertemu adiknya, di sana Bima sudah menunggu.
"Hai kak apa kabar" tanya Bima.
"Baik,, kamu sendiri bagaimana? " Jawab dan tanya Zahra.
"baik juga kak" jawab Bima.
"syukurlah, oh iya mana Rama" Zahra bertanya karena tidak melihat Rama
"gak tau kak, kita bahas aja dulu paling sebentar lagi juga datang" jawab Bima.
mereka mulai membahas kerja sama mereka tak lama Rama datang dengan nafas yang memburu.
"maaf kak telat" kata Rama lalu duduk.
"iya gak apa-apa" jawab Zahra.
__ADS_1
"ya gak papa gue ngertiin, sebagai calon ayah harus selalu menuruti ngidamnya sang istri" Bima mencandai adiknya.
"iya dong, emang elo gak laku" Rama membalas Bima.
"selamat yaa Rama kakak senang dengernya" jawab Zahra sambil tersenyum.
"iya kak,, Rama juga gak nyangka akan secepat ini,, Rama bahagia banget kak" binar mata Rama saat mengucapkannya..
"yuk kak kita lanjut kan pembahasannya"
Bima menyela pembicaraan tersebut.
ketiganya sibuk membahas pekerjaan mereka dan berdiskusi tentang kepindahan perusahaan mereka.
****
di sisi lain Bima belum bisa memastikan siapa Hana sebenarnya.
Meski kemarin dia sempat mengikuti mobil yang mereka tumpangi namun dia kehilangan jejak mereka.
Hari ini Bima sedikit terlambat dari biasanya,
di depan ruangannya sekertaris nya sudah duduk dan sedang mengerjakan sesuatu.
Bima mengembangkan senyum tanpa dia sadari.
Bima pun masuk ke ruangan nya setelah saling sapa dengan Hana.
"permisi pak hari ini ada meeting....... "
Hana menyebutkan semua jadwal Bima.
setelah keluar dia pun menyiapkan semua dokumen yang diperlukan Bima.
"tolong keruangan saya" panggil Bima melalui telephone.
Hana pun masuk keruangan Bima.
"permisi pak ada yang bisa saya bantu" tanya Hana.
"tolong siapkan berkas untuk nanti meeting, dan kamu ikut saya, Terima kasih" bima menyuruh Hana untuk bersiap.
"Baik pak,,sama-sama"jawab Hana lalu kembali ke tempat kerjanya.
tak lama Bima keluar dari ruangannya di ikuti Hana di belakangnya. setelah memasuki mobil Hana menyerahkan berkasnya pada Bima untuk di bahas kembali.
mereka telah sampai di tempat pertemuan.
" permisi Bu Zahra maaf atas keterlambatan nya"Hana menyapa investor perusahaannya.
__ADS_1
"tak apa duduklah" Jawab Zahra yang melegakan Hana.
mereka langsung memulai meeting mereka dengan Hana yang menjelaskan semuanya pada Zahra, sementara Bima memandang dengan binar bangga pada Hana.
setelah selesai Bima menyuruh Hana untuk pesan makanan apa pun yang dia mau sementara dirinya pindah meja bersama Zahra.
"apakah itu calon adik ipar kakak" tanya Zahra sambil tersenyum.
Bima yang sedang menatap Hana pun langsung memalingkan muka.
"apaan sih kak" kata Bima sambil tersenyum juga.
"kak apakah kakak sudah bicara pada mama dan papa, tentang perpindahan perusahaan kita" tanya Bima dengan serius.
"belum katanya mereka akan mengunjungi kita satu persatu tapi tidak tahu kapan" jawab Zahra.
"hah,, semoga mereka mengerti ya kak" Bima menatap Hana prustasi.
"tenang saja kakak pasti akan membujuk mereka, untuk kebahagiaan kamu" Zahra menenangkan Bima yang sangat tertekan.
"entahlah kak, aku tak tahu apa yang aku rasa, yang pasti aku seperti pernah mengenalnya dan tak mau dia menderita" Bima mengungkapkan isi hatinya pada Zahra.
"ya sudah yang penting jangan sampai memaksa untuk memilikinya jika dia tak suka, itu pesan kakak bantulah semampumu" pesan Zahra.
"Terima kasih Kak,, sudah mengingatkan" Bima lalu memeluk Zahra, mereka pun kembali ke meja Hana yang belum memakan apa pun pesanan mereka.
"kenapa tak makan,, makan lah saya tahu kamu lelah" Bima menyuruh Hana makan.
"i... iya" jawab Hana dengan gugup karena di perhatikan Zahra dan Bima.
"Bima,,, kakak gak jadi makan yaa kakak di tungguin nih sama temen kakak" pamit Zahra ingin memberikan kesempatan untuk Bima.
"iya kak,, kalau begitu hati-hati" kata Bima.
"terus pesanan ibu bagaimana" tanya polos Hana.
"gak apa-apa, nanti di makan Bima kakak pamit yaa" kata Zahra pada Hana yang sukses membuat Hana melongo.
membuat keduanya terkekeh.
"kami Bersaudara" jelas Bima yang melihat kebingungan Hana.
setelah Zahra berlalu keduanya makan dengan tenang.
******
maaf yaa jarang upload...
Terima kasih buat yang sudah mendukung karya saya..
__ADS_1
terimakasih juga like komennya...
☺☺☺☺