Hilang Tak Terganti

Hilang Tak Terganti
39


__ADS_3

"tak pernah terlintas tuk kembali tapi rasa yang tertinggal memaksaku tuk pergi mencari." Ilyas membatin.


***


siang ini Zahra ada janji temu dengan anak kenalan mamanya. atas persetujuan dirinya keluarganya sepakat untuk menjodohkan wanita dewasa tersebut.


Dengan setelan kantor yang modis cewek berambut panjang itu datang kesebuah restoran untuk makan siang sekaligus berkenalan. begitu tiba dia menelpon mamanya dan bertanya siapa nama dan ciri-ciri teman kencannya. setelah mendapat informasi dari orang tuanya dia melihat ke sekeliling dan reflek melotot saat melihat teman yang akan ditemui.


"kenapa dia ada disini sih" zahra berkata pelan.


"mah,, beneran dia orangnya?" tanya Zahra meyakinkan dan mengirim foto orang yang akan di temuinya. setelah di iyakan mamanya barulah dia menghampiri dengan setengah hati.


"maaf telat, dengan saudara Ilyas?" tanya zahra berpura-pura.


"ya, anda Aqila?" tanya balik Ilyas.


"ya." jawab singkat Zahra.


"maaf saya kesini atas permintaan ibu saya, saya sebenarnya tidak mencari pendamping karena saya sudah punya calon sendiri. so anda bisa mencari lelaki lain untuk di kencani. maaf saya permisi."Ilyas langsung berkata tanpa menatap wajah Zahra, membuat wanita tersebut menganga tak percaya dengan ucapan Ilyas.

__ADS_1


"dia enggak ngenalin saya?" tanya Zahra sambil tersenyum manis, karena tak susah untuk dia membatalkan kencan mereka.


dengan terus tersenyum dia memasuki kantornya membuat semua karyawan terpesona.


"Bu bos kayaknya seneng banget?" Nadia menghampiri zahra sambil menyipitkan matanya.


"emang.kenapaa iri, bilang." Zahra mencandai Nadia.


"kepo dong, ceria banget abis di lamar yaa?" candaan Nadia di balas pelototan Zahra.


"Apakah meja kerja Anda di sini Nona Nadia?" Nadia yang mengerti kalau Zahra tak mau bercerita, memilih pergi ke ruangannya sambil melambai pada Zahra.


****


dia rela di benci ibunya karena mengabaikan perjodohan tempo lalu. yang membuat ibunya marah dan mengusir dirinya.


sekarang dia tinggal disebuah apartemen, yang dia beli hasil menyisihkan sebagian gajinya.


"Ara maafkan Saya,ternyata cinta itu nyata Ara, rasa hampa semenjak dirimu tiada telah ku rasa." Ilyas terus berbicara sambil mengenang serpihan lampau yang tak terlupakan.

__ADS_1


Rasa yang dulu dia musnahkan ternyata membuat derita berkepanjangan, maaf yang belum sempat terucap menambah sesal makin mengakar. tangis bahkan jerit kehilangan tak mampu mengembalikan keadaan. Andai tak dapat di tuai.


dalam keputus asaan dia melihat sedikit harapan.


"Dia kan cowok yang makan dengan Ara, aku harus segera menyusulnya." Ilyas langsung berlari mengejar Brian yang akan memasuki lift.


"tunggu," Ilyas terus memanggil tapi terlambat, pintu lift sudah tertutup rapat begitu dia berhasil mencapainya.


"Ahh Ara. harus kemana lagi Aku mencari? tak lelahkah kau bersembunyi?"teriak Ilyas mengundang tanya di pikiran mereka yang melihatnya.


****


Zahra kini sedang saling berpelukan di Bandara. dirinya mengantar Bu Maya dan Brian pergi dari negaranya. sambil berjanji akan menyusul setelah punya waktu senggang. dia tak mengerti rasa apa yang ia punya. satu yang pasti rasa takut ditinggalkan dan kehilangan mulai dirasakan. semenjak papanya mulai mengenalkan kalau Brian adalah pilihan yang akan keluarganya jodohkan. dia belum bilang pada Brian karena takut tak diterima.


kejadian itu bermula saat dia tak sengaja mendengar percakapan keluarganya yang ingin Zahra segera menikah. dan dia akan menerima siapapun yang di jodohkan oleh keluarganya. dan keluarganya memutuskan untuk menjodohkan dia dengan Brian. karena melihat perlakuan baik yang diberikan Bu Maya pada Zahra.


***


maaf update nya dikit-dikit. tolong like dan komennya jika suka. Terima kasih semua yang sudah baca karya saya.

__ADS_1


__ADS_2