Hunter Gods And A False Goddess

Hunter Gods And A False Goddess
chapter 19


__ADS_3

"i... ini mustahil" ucap Ray


"sudahlah Ray, kau tidak perlu mempedulikan kami, kau pergi saja" ucap Lala


"mana mungkin aku meninggalkan kalian, kalian adalah teman terbaikku" ucap Ray


"sudahlah Ray, kau tidak perlu menyelamatkan kami, mungkin ini adalah jalan yang terbaik untuk kami" ucap Miu


"oyy kalian, apa kalian sudah lupa... ? " tanya Ray


"Ray apa maksudmu? " Zack bertanya balik


"aku adalah ketua kalian, dan kita adalah survivor, dan tugas kita hanyalah bertahan hidup sebisa mungkin, itulah survivor" ucap Ray


"dasar bodoh, bagaimana kau akan mengeluarkan kami, tidak bisa kan... " ucap Delft dengan nada tinggi


"oy Delft sudahlah, percaya saja, dia pasti bisa mengeluarkan kita dari sini" ucap Zack


"ada caranya kok" ucap dewi kematian


"bagaimana caranya, cepat katakan" ucap Ray


"baiklah akan ku katakan tapi ada syaratnya" ucap dewi itu


"apa syaratnya" ucap Ray


"satu, lepaskan aku dari kalung budak ini. kedua, berikan aku kekuatan yang sangat besar. ketiga, ajak aku ikut bersamamu" ucap dewi itu


"Ray jangan percaya padanya" ucap Miu


"sepakat, tapi kau jangan membebaniku" ucap Ray


"Ray apa yang kau lakukan" ucap Lala


"tidak akan" ucap dewi itu


"yasudah cepat katakan" ucap Ray


"dulu di suatu dunia, seseorang yang memecahkan penghalang ini tanpa menghancurkan jiwa, katanya orang itu menggunakan kekuatan yang lebih besar dari pada punyamu, aku dengar dari para dewa kekuatannya bisa menghancurkan ribuan alam semesta sementara kau baru bisa menghancurkan puluhan" ucap dewi itu


"apa tidak ada cara lain" ucap Ray


"pecahkan menggunakan otak" ucap dewi itu


"apa maksudmu" Ray bertanya lagi


"pikir saja sendiri, cepatlah lepaskan kalung budak ku" ucap dewi itu


"mereka sedang apasih" ucap Zack kepada Lala


"sepertinya cuma mengobrol biasa" ucap Lala,


lalu Ray melepaskan kalung budak yang ada di leher dewi itu lalu ia memberikan kekuatan yang setara dengan puluhan dewa,


"Ray, maaf maksudku tuan, terimakasih atas kebaikanmu" ucap dewi itu


"apa maksudmu, kau sudah ku bebaskan bukan, kenapa kau masih memanggilku tuan" tanya Ray kebingungan


"sudahlah tidak usah dipikirkan, oyy kadal terbang kemarilah" ucap dewi itu memanggil seseorang


"i... iya, aku kesana" ucap seorang gadis kecil


"si... siapa itu, imutnya" ucap Ray dari dalam hati


"oh jadi begitu, okeh mulai sekarang jangan berharap kau bisa menggunakan ku lagi" ucap Cia menggunakan telepati pada Ray


"Ci... Cia apa maksudmu" ucap Ray dengan telepati


"kenapa tuan" ucap dewi itu


"gapapa, jangan panggil tuan lah" ucap Ray


"emh... kalau begitu aku akan memanggilmu Ray tapi sebagai gantinya kau harus memberiku nama" ucap dewi itu


"eh... jika aku memberikannya nama itu berarti aku menjalin kontrak dengannya, jika aku berkontrak itu artinya dia akan mendapatkan separuh dari kekuatan asli ku" ucap Ray dalam hati


"ini cuman nama bodoh, memberikan nama bukan berarti kontrak" ucap dewi itu saat mendengar isi hati Ray


"ke... kenapa kau bisa tau" ucap Ray kebingungan


"Ray, isi hatimu bocor semua tuh" ucap Lala


"eh... kok bisa... " isi pikiran Ray


"maaf mengganggu, tapi untuk apa kau memanggilku" tanya gadis tadi memotong topik pembicaraan

__ADS_1


"oh ya, aku hampir melupakanmu, Ray perkenalkan dia adalah wyvern yang waktu itu kau biarkan lolos" ucap gadis itu


"eh... yang benar, kau tidak bohong kan" ucap Ray


"a... a... aku memang wyvern itu, oh ya... terimakasih untuk yang waktu itu, kau sudah membiarkanku hidup" ucap Ray


"tapi bagaimana kau bisa berbicara, selain itu kau juga menjadi manusia" tanya Ray


"sebenarnya aku di reinkarnasi menjadi wyvern, lalu saat kawanan ku di bantai aku memutuskan untuk mencari mangsa sendiri sampai suatu hari aku menemukan seorang lich, lich itu memberiku kemampuan menghisap jiwa, ia berkata kepadaku aku memberimu sebuah kemampuan, jadi gunakanlah sebaik mungkin, suatu saat kau akan menjadi seorang soul eater. lalu ia pergi begitu saja, lalu aku melanjutkan perjalananku dan aku menemukan ancient dragon yang sudah sekarat. lalu aku menghisap jiwanya tanpa ragu, saat aku berhasil menghisap nya aku merasakan kekuatan yang sangat mengerikan, dan sampai sekarang aku terus menghisap jiwa monster monster kuat" cerita dari gadis tersebut


"wah... kau sangat hebat dan keren, kau bisa memakan jiwa dan menjadikan kekuatan musuh menjadi milikmu" ucap Ray terkagum-kagum


"ta... tapi aku membutuhkan waktu untuk menghisap jiwa" ucap gadis itu


"oh gitu ya sayang sekali" ucap Ray merasa kecewa


"Ray cepat lakukan kontrak dengan gadis itu dan berikan dia nama, lalu kita pergi untuk mencari kekuatan yang lebih kuat" ucap dewi itu


"tapi~" ucap Ray


"sudahlah cepat lakukan" ucap dewi itu


"contract... " ucap Ray sembari mengulurkan tangannya,


lalu mendadak Ray merasa pusing setelah berkontrak dengan gadis wyvern itu,


"Ray apa kau baik baik saja" ucap Miu dari dalam penghalang khawatir pada Ray


"aku baik baik saja" ucap Ray


"hmm... kalau begitu namamu adalah Velline" ucap Ray


"terimakasih atar nama yang kau berikan tuan" ucap Vell


"sekarang apa" ucap Ray setelah memberi nama


"ayo Ray kita harus bergegas" ucap dewi itu


"kemana? " tanya Ray


"kita ke beast vilage dulu, jangan bertanya lagi dan cepat ikuti aku" ucap dewi itu


"iya... iya... Vell tolong jaga teman temanku" ucap Ray lalu pergi bersama dewi itu.


sesampainya mereka di sana Ray bertanya pada dewi itu "Phyllis, apa tujuan kita disini? "


"apa maksudmu? " tanya Ray


"kau tadi memanggilku Phyllis, itu berarti kau memberiku nama" ucap dewi itu kegirangan


"oh ya benar, aku lupa memberitahu namamu" ucap Ray


"terimakasih Ray... " ucap dewi itu kegirangan


"iya, tapi apa tujuan kita ke sini? " tanya Ray untuk yang kedua kalinya


"kita kesini untuk mengambil barang" ucap Phyllis


"oh, emangnya barang apa" ucap Ray


"Ray... " ???


Ray menengok saat mendengar seseorang memanggilnya,


"Lina" ucap Ray terkejut


"Ray bagaimana kabarmu" ucap Lina


"aku baik, bagaimana denganmu dan adikmu" ucap Ray


"aku dan adikku baik, Ray apa kau tau, sejak kau mengalahkan ouroboros adikku selalu berlatih menggunakan sabit, dia selalu bilang ingin menjadi seperti kau, Ray" ucap Lina


"maaf mengganggu topik, apa kau tau tempat pandai besi terhebat di desa ini? " tanya Phyllis


"oh, aku tau kok, ayo aku antar" ucap Lina


"terimakasih" ucap Ray


"iya gapapa, omong-omong dimana Miu dan yang lainnya" tanya Lina


"mereka sedang dikurung menggunakan penghalang yang terbuat dari jiwa" ucap Ray


"oh begitu ya, jadi sekarang apa tujuanmu" ucap Lina


"tujuanku sekarang hanya membebaskan mereka" ucap Ray

__ADS_1


"satu lagi, siapa dia? " tanya Lina


"perkenalkan namaku Phyllis, aku seorang dewi kematian, aku disini untuk membantu Ray dengan tujuan balas budi" ucap Phyllis


"apa maksudmu? " ucap Lina


"sebagai seorang pemburu dewa Ray pasti sangat benci padaku dan belum tentu mengampuni nyawaku, tapi justru dia malah memberiku kekuatan sekaligus nama" ucap Phyllis


"na... nama, Ray apa itu benar" tanya Lina


"iya, memang kenapa" tanya Ray dengan polosnya


"ka... kau tidak tau ya, sejarah mengatakan jika seorang manusia memberikan nama kepada seorang dewa maka manusia itu harus mati" penjelasan dari Lina


"sudahlah jangan memikirkan itu, sejarah hanyalah masa lalu lebih baik kita bergegas" ucap Phyllis


"kenapa kita harus buru-buru" ucap Ray


"energi sihirmu sudah menyebar di ratusan dunia, pasti akan terjadi banyak peperangan dengan tujuan memperebutkan energi sihir milikmu" ucap Phyllis


"jangan bilang dia alien" ucap Ray dalam hati


"Ray kau kenapa? " tanya Phyllis


"tidak, aku hanya memikirkan cara untuk mengeluarkan Miu" ucap Ray


"oh aku kira kau kenapa" ucap Phyllis


"oy kalian cepatlah" ucap Lina lalu mereka pergi ke tempat pandai besi terhebat di sana.


Saat mereka sampai, sekumpulan beastman ras kucing putih tampak sedang marah karena tidak puas dengan hasil dari senjata yang mereka beli dari seorang pandai besi,


"ada apa itu" ucap Ray


"entahlah, tapi sepertinya mereka sedang marah" ucap Lina


"paman penempa" ucap Lina memanggil seseorang


"oh, dik Lina rupanya" ucap seorang dwarf


"paman bagaimana kabarmu" tanya Lina


"aku baik, omong-omong Lina siapa dua orang itu" ucap paman dwarf itu


"oh, perkenalkan namaku Ray dan ini temanku Phyllis" ucap Ray


"Ray... sepertinya tidak asing" ucap paman dwarf itu


"paman, dia itu pemegang demon scythe" ucap Lina


"de... demon scythe, maafkan diriku ini yang mulia" ucap paman dwarf itu menunduk


"eh... paman tidak usah seperti itu, aku hanya manusia biasa" ucap Ray


"be... benarkah" ucap paman dwarf itu


"iya"


"terimakasih banyak, aku merasa sangat terhormat atas apa yang kau berikan padaku walau hanya sekedar kalimat" ucap paman dwarf itu


"paman, apa artefak pesanan kyotaka sudah selesai" tanya Phyllis


"oh kau yang akan mengambilnya ya, sebentar aku akan cari dulu" ucap paman itu lalu pergi


"Phyllis, omong-omong apa yang kau pesan dari dia? " tanya Lina


"aku hanya meme~" ucap Phyllis


"ini, artefak yang kau pesan" ucap paman itu menyela pembicaraan Phyllis dan Lina


"wah... topeng apa itu, sepertinya keren kalau kupakai" ucap Ray


"ini, aku memberinya untukmu" ucap Phyllis


"phy... apa kau serius, sepertinya ini bukan barang murah" ucap Ray


"sudahlah pakai saja" ucap Phyllis


"iya" ucap Ray lalu memakainya.


saat Ray memakainya ia mendengar suara seseorang,


"oy bocah" ucap seseorang


"si siapa kau, dimana kau berada" ucap Ray panik saat mendengar suara itu.

__ADS_1


>bersambung


__ADS_2