Hunter Gods And A False Goddess

Hunter Gods And A False Goddess
episode 39


__ADS_3

"hmm... anak kecil? " ucap Ray kebingungan


"lihat itu... " Liana menunjuk ke suatu arah


lalu Ray melihat sosok yang tampak seperti bayangan


"itu bukan anak kecil... " ucap Ray


"apa kau tidak bisa melihatnya, dia seorang anak kecil" ucap Liana


"Diabolos, apa kau tau sesuatu? " tanya Ray pada Diabolos melalui telepati


"sepertinya dia bukan manusia biasa" jawab Diabolos


"apa yang kau maksud, dimataku dia hanya sosok bayangan" ucap Ray


"sepertinya ada yang salah denganmu Ray" ucap Cia


"apa maksud kalian... " Ray kebingungan


"Ray kau kenapa? " tanya Liana


"tidak, aku hanya kepikiran soal pekerjaanku" ucap Ray


"kau ini... jangan terlalu memaksakan diri ya" ucap Liana menasihati


lalu Liana menghampiri sosok bayangan itu,


"hey nak, kau sedang apa di sini? " tanya Liana pada sosok bayangan itu,


lalu sosok bayangan itu tiba-tiba saja hilang dari pandangan mereka,


"dia hilang" ucap Ray


"aneh, tadi aku sedang berbicara dengan anak kecil tapi kenapa dia hilang begitu saja, apakah ini mimpi" ucap Liana


"Ray, aku rasa ada yang aneh di sini, apakah kita harus menyelidikinya" ucap Diabolos


"sudah kubilang kan, dia bukan manusia" ucap Ray


"Ray, kenapa kau diam saja? " tanya Liana


"oh, tidak, aku hanya merasa ada yang aneh" ucap Ray


"hmm... memang benar, dari tadi aku merasa ada yang aneh, di tambah lagi dengan anak kecil tadi" ucap Liana


"kau benar, untuk sementara lebih baik kita segel area ini" ucap Ray


"baiklah, apa yang bisa ku bantu" ucap Liana


"kalau begitu tolong gambarkan peta nya" ucap Ray


"peta, baiklah... " ucap Liana.


(di sisi lain)


saat Phyllis sedang di pasar membawa barang belanjaannya,

__ADS_1


"hm... kayaknya ada yang kurang deh... " Phyllis berbicara pada diri sendiri


"tapi aku rasa ini sudah semua... "


"seingatku Lina hanya menyuruhku membeli bumbu, tapi aku rasa ada yang kurang, tapi apa ya"


"sudahlah lebih baik aku pulang dan tanya ada yang kurang atau tidak" lalu Phyllis kembali ke rumah Lina membawa barang belanjaannya.


Saat Phyllis kembali,


"Lina... " Phyllis memanggil Lina yang tampak sedang bersiap di depan rumahnya


"kak Phyllis... " Sura memanggil Phyllis


"iya... " Phyllis merespon


"kak Phyllis kapan kita berangkat ke tempat kak Ray? " tanya Sura


"nanti ya... Lina apa ada yang kurang" ucap Phyllis lalu memberikan barangnya untuk di cek


"tidak kok, ini sudah komplit tidak ada yang kurang" ucap Lina


"omong-omong Lina, kenapa kau memakai perlengkapan petualang? " tanya Phyllis


"kau ini, begini-begini aku mantan petualang tau" ucap Lina


"kak Lina hebat" ucap Sura memuji Lina


"kau bisa saja Sura" ucap Lina lalu mereka tertawa bersama,


"hm... " Phyllis memperhatikan perlengkapan Lina


"tidak, aku hanya ingin tau kau memakai senjata apa" ucap Phyllis


"sebentar ya, aku ambil dulu" ucap Lina lalu masuk untuk mengambil perlengkapannya,


"Lina, kau pengguna dagger" ucap Phyllis


"ya, di desa ini akulah petarung terkuat" ucap Lina


"aku yakin kau hanya membual" ucap Phyllis mengejek


"kak Phyllis kau terlalu meremehkan kak Lina" ucap Sura


"oh begitukah, baiklah kalau begitu aku menantang mu untuk bertarung melawanku" ucap Phyllis menantang Lina,


"baiklah, aku terima" ucap Lina menerima tantangan dari Phyllis.


"Lina, sebelum mulai bertarung kau boleh menaruh tiga aturan" ucap Phyllis sambil mengeluarkan sabit kematiannya


"baiklah, pertama tidak boleh menggunakan sihir, kedua tidak boleh membuat lawan pingsan atau yang lebih parah dari pada itu, ketiga... jangan menahan diri... " ucap Lina lalu menyerang Phyllis dengan kecepatan tinggi,


lalu Phyllis memblokir serangan Lina menggunakan gagang sabit


"sayang sekali, walau kau cepat tetapi kau tidak bisa menandingi kecepatan berpikir ku" ucap Phyllis


"oh benarkah... "

__ADS_1


"kak Lina semangat... " Sura memberi semangat,


lalu Lina bergerak dengan cepat dan menipu pandangan Phyllis dengan cara lari ke kiri lalu kembali dan bergerak ke kanan sehingga mata Phyllis terkecoh oleh bayangan Lina,


lalu Phyllis mengayunkan sabit nya ke kiri, namun saat Phyllis sadar dagger milik Lina sudah berada di leher Phyllis,


"hm... Lina aku anggap kau pemenangnya, tapi lain kali aku akan mengalahkan mu dengan mudah, ingat itu baik baik" ucap Phyllis


"terserah kau saja, tapi asal kau tau aku mempunyai banyak taktik untuk menipu pandanganmu" ucap Lina


"kak Lina selamat... " Sura memberi selamat kepada Lina


"terimakasih... " ucap Lina


"Phyllis bisakah kita berangkat sekarang, sepertinya ini sudah waktunya" ucap Lina


"baiklah, ayo... " ucap Phyllis,


saat mereka akan meninggalkan desa, semua orang berkumpul untuk memberi salam perpisahan pada Lina, setelah itu mereka memulai perjalanan mereka ke Thanatos.


(di sisi lain)


setelah Ray dan Liana selesai menyegel area itu, mereka melanjutkan perjalanan mereka.


"Ray aku merasa seperti ada yang aneh dengan gua ini" ucap Liana secara tiba-tiba,


"sepertinya kau benar" ucap Ray


"Ray, aku ingin bicara sesuatu denganmu" ucap Liana


"hm... " ucap Liana


"sebenarnya aku... " Liana gugup


"sebenarnya aku suka padamu, berpacaran lah denganku" ucap Liana


"maaf aku tidak bisa, sudah ada perempuan lain di hatiku" ucap Ray


"begitu ya" ucap Liana sambil menahan rasa sakit


"Liana, maaf aku tidak bermaksud untuk... "


"tidak, tidak apa-apa, kau tidak perlu meminta maaf"


"ini juga salahku, aku terlalu buru-buru sedangkan hatiku belum siap untuk tersakiti dan akhirnya menjadi seperti ini" ucap Liana


lalu Ray hanya diam tak bisa berkata-kata,


"daripada kita membicarakan hal yang tidak penting, lebih baik kita pergi sekarang" ucap Liana


lalu Ray tersenyum mendengar kata-kata Liana


"Ray kau kenapa... " ucap Liana


"tidak, aku hanya sedikit terkejut, ayo jalan... "


"ya... ".

__ADS_1


>bersambung


__ADS_2