
saat Ray sedang berjalan, ia merasa seperti sedang di ikuti oleh seseorang,
"Liana bersiaplah, sepertinya kita akan kedatangan tamu" ucap Ray berbisik menyuruh Liana bersiap
"apa maksudmu? " tanya Liana,
pada saat itu juga terdengar suara langkah kaki yang seakan mendekati mereka berdua, Liana yang mendengarnya pun langsung menarik dagger nya dan memasang kuda-kuda,
"Liana sepertinya ada sekitar lima orang di sekitar kita" ucap Ray
"biar ku urus mereka, begini-begini aku ahli dagger loh" ucap Liana menyombongkan dirinya
"baiklah kuserahkan padamu" ucap Ray lalu masuk ke dalam dimensi ruang waktu dan memantau Liana di sana
"oy kalian keluarlah" ucap Liana
lalu tujuh orang mengenakan mantel berwarna gelap keluar dari kegelapan dan mengepung Liana, lalu Liana berdiri tegak dan merentangkan tangannya sambil memegang dagger, setelah itu, ia memejamkan matanya.
"majulah kalian... " Liana menantang mereka,
lalu mereka semua mulai menyerang Liana, namun walau Liana diserang, ia hanya diam dan mempertahankan posenya,
lalu semua orang yang mendekati Liana tertebas dengan sendirinya.
"sepertinya kemampuannya sudah tidak diragukan lagi" ucap Ray pada diri sendiri di dimensi ruang waktu.
saat Liana selesai mengalahkan mereka, Ray menghampiri Liana dan mengelus kepalanya,
"Ray... ada apa, kenapa kau tiba-tiba? " ucap Liana terkejut
"tidak kok, bukan apa-apa itu tadi hanya sebuah hadiah yang kuberikan untukmu karena telah mengalahkan mereka" ucap Ray
"tapi aku bukan anak kecil loh" ucap Liana
"hmm... ada apa... " ucap Ray
"tidak, bukan apa-apa" ucap Liana.
setelah itu, Ray membuka mantel yang ada pada mayat orang-orang tadi untuk mengetahui siapa mereka,
saat Ray membuka yang pertama, mayat itu tidak memiliki apapun kecuali tulang,
"apa ini" ucap Ray
"Ray sepertinya dia undead" Liana memberi tau Ray
lalu Ray membuka mantel yang lainnya sampai yang terakhir,
"semuanya undead" ucap Ray
"aneh sekali, undead menggunakan mantel dan menyerang layaknya manusia" ucap Liana
"ya, ini memang aneh" ucap Ray
"sepertinya misi kita bertambah lagi" ucap Liana
"sepertinya kau benar" ucap Liana, lalu Ray membakar para undead itu menggunakan sihirnya hingga menjadi debu, setelah itu Ray dan Liana melanjutkan.
tidak lama kemudian, saat Ray dan Liana sedang berjalan sambil memegang senjata guna untuk bersiap, di bawah mereka muncul sebuah lingkaran sihir yang memindahkan fisik mereka secara paksa.
__ADS_1
"lingkaran sihir... Liana pegangan yang kuat" ucap Ray lalu menggandeng tangan Liana
"Ray apa yang terjadi... " ucap Liana
"ce... " Ray mencoba membatalkan lingkaran sihir itu namun ia sudah terlambat.
saat Ray dan Liana sedang terkapar di tanah, sesosok bayangan menghampiri mereka.
saat sosok itu sudah berada di dekat mereka, Ray tersadar dan melihat ke segala arah dan sosok bayangan itupun menghilang dari sana.
"dimana ini? apa yang sebenarnya sudah terjadi? " Ray bertanya-tanya pada dirinya sendiri,
"Liana bangun... Liana... " Ray membangunkan Liana
"Ray... dimana kita... " ucap Liana
"sepertinya kita di teleportasi kan secara paksa" ucap Ray menduga-duga
"apa ada jalan keluar" ucap Liana
"untuk jalan keluar aku bisa saja ber teleportasi, tapi imajinasiku dalam mengingat tempat sangat buruk" ucap Ray
"apa maksudmu Ray, bukanya teleportasi itu menggunakan titik perpindahan" ucap Liana
"kau memang benar, tapi sihir perpindahan ku menggunakan konsep imajinasi atau memikirkan tempat yang akan kita tuju" ucap Ray
"jadi itu artinya kita harus mencari jalan keluar sendiri" ucap Liana
"begitulah, tapi aku mungkin bisa menggunakan sihirku untuk menemukannya" ucap Ray
"benarkah, kalau itu benar gunakanlah siapa tau itu adalah jalan keluar untuk kita" ucap Liana
"Ray tunggu... " Cia memotong pembicaraan mereka
"Liana tenanglah, itu suara Cia" ucap Ray
"nona Cia... " ucap Liana memanggil Cia dengan sebutan nona,
"Ray apakah kau bisa beristirahat sebentar di sini, aku akan ber evolusi sebentar, dengan itu kita bisa keluar dengan mudah karena evolusi ini akan memberikanku beberapa keahlian khusus" ucap Cia
"ba... baik" ucap Ray dengan sedikit meragukan Cia.
Beberapa saat kemudian.
"Ray, apa kau tidak bosan menunggu terus" ucap Liana
"sejujurnya aku bosan sih, tapi... " ucap Ray
"kalau begitu apa kau mau bermain satu permainan" Liana mengajak Ray bermain memainkan satu permainan
"bagaimana permainannya? " tanya Ray
"mudah, kau hanya perlu menatapku tanpa ekspresi, jika kau berekspresi atau berbicara maka aku menang tapi jika aku menyerah kau yang menang" ucap Liana menjelaskan peraturannya
"satu lagi, yang menang boleh melakukan apapun pada yang kalah, termasuk menyuruh" ucap Liana
"baiklah, aku pasti tidak akan kalah" ucap Ray menyombongkan dirinya
"begitukah... " ucap Liana
__ADS_1
"kalau begitu tiga.... dua.... satu..... " Liana menghitung mundur dan memulai permainan,
lalu Liana mencoba segala hal yang mungkin membuat Ray berekspresi, mulai dari membuat wajah lucu, menggoda dan yang lainnya,
"susah banget... " ucap Liana
"sepertinya aku kalah... " ucap Liana
"hm... sudah kubilang kan kalau aku tidak akan kalah" ucap Ray
"kau kena, sekarang aku pemenangnya" ucap Liana
"hah... bukannya kau mengaku kalah ya" ucap Liana
"omong kosong, aku hanya bilang sepertinya aku kalah, tapi bukan berarti aku mengaku kalah ya" ucap Liana
"huf, ternyata kau cukup jenis juga ya, kalau begitu silakan lakukan apa saja yang kau inginkan dariku" ucap Ray
"baiklah kalau begitu tolong pejamkan matamu ya" ucap Liana
"Liana tolong jangan lakukan hal yang aneh-aneh" ucap Ray
lalu Liana menyentuh rambut Ray dan mengelus kepalanya.
"Liana apa yang... " ucap Ray
"sudahlah nikmati saja"
"Ray apa kau lelah" ucap Liana,
"ya sedikit sih" ucap Ray
"kalau begitu, kita istirahat dulu di sini" ucap Liana
"ya... ".
(di sisi lain)
"Vell, sudah berapa lama kita terjebak di sini? " tanya Miu
"aku tidak tau karena sepertinya ada masalah dengan siklus waktu di seluruh dunia" ucap Vell
"masalah waktu? apa itu? " ucap Lala
"sepertinya waktu di seluruh dunia telah bercampur" ucap Vell
"apa maksudmu" ucap Delft
"begini, waktu di... " Vell mencoba menjelaskan
"biar aku saja... " Ifrit memotong omongan Vell
"seperti yang Vell katakan tadi kalau waktu di seluruh dunia telah bercampur, misalnya, di wilayah A dan B sudah siang, tapi di wilayah C, D dan E masih tengah malam, hal itu karena jarak C, D, E ke A dan B sama seperti kita memutari lingkaran 180°, saat waktu bercampur, di semua wilayah tidak jelas waktunya" penjelasan Ifrit
lalu Zack yang mendengar itupun menjadi gemetaran,
"Zack apa kau tau sesuatu? " tanya Seku,
namun Zack tetap diam walau Seku bertanya,
__ADS_1
"Zack... " Lala khawatir dengan Zack.
>bersambung