
"Lucia... tolong buatkan aku teh" Ray menyuruh Lucia membuat teh dengan suara kencang
"baiklah tunggu sebentar, aku akan segera membuatnya" ucap Lucia
lalu tiba-tiba Phyllis mendobrak pintu sambil membawa teh,
"Ray biar aku saja yang membuatkannya untukmu" ucap Phyllis
"oh baiklah" ucap Ray
lalu Phyllis menaruh tehnya di meja Ray, saat Ray angin meminumnya...
"ehm... "
"kenapa Phyllis? " Ray bertanya pada Phyllis
"tidak... " ucap Phyllis
lalu Ray meminum teh nya
"gak peka banget, padahal cuma mau denger terimakasih" isi hati Phyllis
"Phyllis terimakasih untuk teh nya, omong-omong kenapa kau memasang muka cemburu" ucap Ray
"tidak kok aku hanya memikirkan sesuatu, hehe... " ucap Phyllis lalu tersenyum
"terserah lah, jadi... bagaimana dengan orang orang itu" ucap Ray menanyakan para pedagang budak
"mereka sudah di jatuhi hukuman penjara seumur hidup, tidak disangka kau yang selalu merenggut nyawa orang sekarang malah ingin menyiksa orang" ucap Phyllis
"itu hal yang wajar kan, sekarang aku bukan lagi petualang melainkan seorang raja, wajar jika aku tidak membunuh mereka" ucap Ray
"kau ini... padahal kemarin kau menebas siapa saja yang menghalangimu" ucap Phyllis
"oh jadi kau ingin bilang kalau aku menjadi sangat payah begitu... " ucap Ray
"tidak juga... " ucap Phyllis,
lalu Ray mendadak menjadi sangat serius
"Phyllis... bisakah kau siapkan ruang rapat dan panggil semua jendral raja iblis" ucap Ray
"baiklah saya akan bicara dengan Lucia" ucap Phyllis lalu pergi
"sepertinya sudah saatnya aku membicarakan hal ini" ucap Ray dalam hati.
(sementara itu)
"Lucia... Ray tadi bersikap aneh, tampaknya dia akan membicarakan sesuatu yang sangat penting, dia menyuruhku memanggil semua jendral raja iblis dan menyuruhku untuk menyiapkan ruang rapat" ucap Phyllis menjelaskan
"baiklah, akan ku panggil mereka, tapi membutuhkan waktu karena mereka ada di kota petualang, mereka sedang menyelidiki sesuatu jadi mohon tunggu, untuk ruang rapat biar aku yang siapkan" ucap Lucia
"baik... jika kau membutuhkan bantuan maka panggil aku saja" ucap Phyllis,
lalu Phyllis melapor pada Ray bahwa membutuhkan waktu untuk bisa mengumpulkan para jendral raja iblis, sementara itu Lucia sedang menghubungi mereka lewat telepati.
(beberapa jam kemudian)
Ray, Phyllis dan empat jendral raja iblis berkumpul di ruang rapat,
"karena kita belum saling mengenal maka sebaiknya kita perkenalan dulu" ucap Ray
__ADS_1
"ehm... perkenalkan namaku Ray, aku adalah raja iblis pengguna demon scythe, dan ini Phyllis asistenku" ucap Ray
"namaku Jyn"
"namaku Leth"
"dan namaku Zeph",
"baiklah, karena kita sudah saling mengenal maka mari kita mulai" ucap Ray
"langsung ke point utama, sebenarnya aku berencana ingin mengorbankan diriku untuk melepas segel jiwa" penjelasan Ray
"apa yang anda katakan, anda baru saja menjadi raja di Thanatos tapi kenapa anda ingin mengorbankan diri anda sendiri" Leth berbicara pada Ray dengan nada tinggi
"Leth, tenanglah... " Lucia mencoba menenangkan Leth
"paduka, jika paduka ingin membebaskan seseorang dari segel jiwa kami bisa mencari orang yang berkenan" ucap Zeph
"terimakasih, tapi aku tidak akan mengorbankan rakyat-rakyatku" ucap Ray
"maaf jika lancang, jika yang mulia bersikeras untuk tetap mengorbankan diri anda maka apa kami boleh tau apa alasannya" ucap Jyn
"aku tidak ingin membiarkan rakyatku menjadi korban karena keegoisan ku, bagiku rakyatku adalah temanku, lagipula aku tidak tau bagaimana caranya mengatur satu kerajaan ini" ucap Ray
"lalu jika anda mengorbankan diri sendiri maka bagaimana dengan kerajaan ini, apakah kerajaan bisa makmur tanpa adanya raja, tidak kan? " ucap Leth dengan nada tinggi
"untuk hal itu aku sudah mengaturnya" ucap Ray dengan sangat tentang
"apa maksud anda? " tanya Leth
"apa kalian mengenal Delft? " tanya Ray
"ya, aku dengar dari Lucia dia juga pernah memimpin Thanatos" ucap Ray
"tapi bagaimana yang mulia bisa tau kalau namanya Delft, aku tidak pernah memberi tau namanya" ucap Lucia
"sebenarnya aku sudah tau dari awal karena dia adalah temanku, aku pernah mendengar masa lalunya, dan cerita kalian sangat berhubungan satu sama lain" ucap Ray
"jadi, anda berniat untuk menjadikan tuan Delft sebagai pengganti anda" tanya Jyn
"benar sekali" ucap Ray
"baiklah jika itu keputusan anda maka saya setuju" ucap Jyn
"Jyn... " Leth tampak terkejut
"baiklah saya juga setuju dengan keputusan yang mulia" ucap Zeph
"saya juga setuju dengan keputusan yang mulia" ucap Lucia
"apa boleh buat... saya sebagai jendral raja iblis, dengan hormat saya menyetujui keputusan anda, yang mulia" ucap Leth
"baiklah karena sudah diputuskan maka aku akan menjelaskan apa saja yang unggul gan kurang di negara ini" ucap Ray
"pertama, keuangan kerajaan, menurutku itu sangat sedikit karena kita membutuhkan biaya lebih untuk membangun tempat latihan baru" ucap Ray
"izin menjawab... " ucap Leth
"untuk biaya pembangunan semuanya di gratiskan jika itu demi kepentingan bersama" ucap Leth
"masalah keuangan beres, selanjutnya masalah pertahanan dan keamanan, seperti yang kita bahas tadi kita membutuhkan tempat latihan baru, saya juga mempunyai solusi yang bagus" ucap Ray
__ADS_1
"apa itu... " tanya Zeph
"berdasarkan penelitian ku, sepertinya semua orang di dunia ini menggunakan sistem level atau tingkatan" ucap Ray
"bisakah yang mulia menjelaskannya" ucap Jyn
"baiklah pada sistem ini kita bisa meningkatkan kekuatan kita dengan cara membunuh monster, dan aku berencana untuk mengadakan latihan dungeon" ucap Ray
"izin bicara... bagaimana caranya?" tanya Jyn
"mudah saja, kita akan mengadakan latihan khusus seminggu sekali di dungeon, jika ada bos dungeon yang muncul maka tunda latihannya dan lapor kepada pihak berwajib" ucap Ray
"baiklah saya akan sampaikan pada para prajurit" ucap Lucia
"baiklah selanjutnya sumber daya, menurut saya sumber daya kita masih kurang" ucap Ray
"izin bertanya... sumber daya apa yang kurang? " tanya Lucia
"sumber daya seperti logam besi dan material lainnya" jawab Ray
"benar juga, apa dari kalian ada yang memiliki ide bagus? " tanya Leth
"izin menyampaikan ide... kenapa tidak membuat senjata yang terbuat dari batu sihir, seperti legenda pembuatan demon scythe, dan kita akan menjadikan hal itu sebagai khas kerajaan kita" ucap Lucia
"kalau soal itu kenapa tidak tanyakan saja kepada Cia" ucap Phyllis
"benar juga, Cia bisa kau keluar sebentar" Ray menyuruh Cia menunjukan dirinya
"baiklah... " lalu Cia menunjukan wujud manusianya pada mereka
"untuk Lucia mohon diulangi" ucap Ray
"baiklah untuk sumber daya material kenapa tidak kita ganti dengan menggunakan batu sihir, seperti di legenda pembuatan demon scythe, dan kita bisa membuat hal itu menjadi ciri khas kerajaan kita" ucap Lucia
"begitu ya... tapi ada satu hal yang harus diperhatikan yaitu kemampuan para pandai besi" ucap Cia
"kalau soal itu tidak perlu diragukan lagi karena mayoritas bandai besi kami adalah dwarf ahli sihir" ucap Lucia
"masalah kedua adalah jiwa yang akan dijadikan tumbal" ucap Cia
"kalau itu gunakan saja monster dungeon atau bos dungeon" ucap Ray
"kalau begitu sekarang masalahnya hanya cara pembuatannya, tenang saja aku akan menjelaskan caranya nanti" ucap Cia
"baiklah material sudah selesai, sekarang bagaimana dengan pasokan makanan" ucap Ray
"masalah pasokan makanan sekarang sudah mulai membaik dan sepertinya kita hanya perlu menunggu waktu" ucap Lucia
"apa ini ada hubungannya dengan para pedagang budak kemarin" ucap Ray
"ya, menurut dari informasi yang saya dapat, mereka menangkap sejumlah besar petani dari desa yang berada di sebelah barat kerajaan" ucap Ray
"oh orang-orang itu ternyata" ucap Ray
"ada apa yang mulia? " tanya Lucia
"tidak... mari kita lanjut, baiklah sekarang tinggal kelebihan, menurutku kerajaan ini hanya mempunyai satu kelebihan tetapi itu bisa menguntungkan" ucap Ray
"kalau boleh tau apa kelebihannya? " tanya Leth.
>bersambung
__ADS_1