
"Ray sebaiknya jangan membuat kami penasaran, cepat beritahu apa kelebihan kerajaan ini" ucap Phyllis
"baiklah, kelebihan Thanatos ialah mungkin masyarakatnya" ucap Ray
"masyarakat... " Leth berpikir
"Baru-baru ini aku sering berkeliling Thanatos dan aku sangat terkesan dengan Rakyatnya, walaupun banyak yang kurang mampu tapi hampir tidak ada yang menindas sesama atau semacamnya" ucap Ray
"begitu ya, jadi bagaimana itu bisa berpengaruh pada semua kekurangan Thanatos" tanya Phyllis
"mudah saja, salah satunya keputusan bersama"
ucap Ray
"begitu ya" ucap Leth
"baiklah, karena aku sudah menjelaskan apa yang harus kita lakukan, mari kita tutup rapat hari ini dengan suatu penghormatan" ucap Ray
"kalian semua ikuti aku ya" ucap Ray lalu berdiri tegak dan mengepalkan tangan dan meletakan di dada lalu memejamkan mata, mereka yang melihat pun langsung mengikuti Ray termasuk Cia,
"penghormatan selesai" ucap Ray lalu mereka menurunkan tangan dan membuka mata tapi tidak dengan Cia,
"Cia itu sudah cukup, penghormatan sudah selesai" ucap Ray
"ini belum apa-apa aku masih bisa" ucap Cia dengan muka imut nya
"dik Cia kau terlalu imut... " ucap Leth saat melihat Cia melakukan penghormatan
"seperti malaikat... " ucap Lucia
"entah kenapa tapi, imut nya... " ucap Zeph dan Jyn secara bersamaan
"saking imutnya sampe pada kayak gitu, tapi Ray kenapa kau tidak terpengaruh" ucap Phyllis
"mungkin aku terlihat seperti itu tapi sebenarnya aku sama saja seperti mereka" ucap Ray
"eh... seriusan" Phyllis kebingungan.
saat mereka sudah keluar dari ruang rapat Phyllis bertanya pada Ray
"Ray omong-omong bagaimana dengan orang tua Liana? " tanya Phyllis
"sebenarnya mereka sudah melihat mayatnya dengan mata kepala mereka sendiri"
(saat Ray selesai menyelamatkan Nyke dan Pyke)
"kak Ray tunggu dulu, sepertinya aku melihat sesuatu di sana" ucap Pyke lalu berlari
"Pyke tunggu... " ucap Ray lalu mengikuti Pyke,
"ada apa Pyke? apa yang kau lihat? " tanya Nyke
"lihat ini, ini seperti milik ayah" ucap Pyke menunjukkan sebuah pedang pendek
"ini memang pedang milik ayah, berarti ayah masih hidup" ucap Nyke,
__ADS_1
"kalian tunggu dulu di sini ya" ucap Ray menyuruh mereka menunggu dan ia berjalan ke suatu tempat,
lalu Ray melihat dua mayat yang disandarkan pada dinding dungeon,
"sepertinya aku menemukan apa yang aku cari, tapi aku harus mengatakan apa pada Pyke dan Nyke? " Ray berbicara pada diri sendiri,
karena mereka berdua penasaran pada apa yang sedang Ray lakukan, mereka menghampiri Ray,
"kak Ray ada apa? " tanya Nyke
"kalian... kenapa kalian kesini... " ucap Ray
lalu mereka hanya terdiam saat melihat mayat orang tua mereka,
"Nyke, Pyke... " ucap Ray
"kak Ray, apa yang biasanya dilakukan para anak-anak jika orang tua mereka meninggal? " tanya Nyke menahan tangis
"benar juga, kalian harus kuat dan jangan menangis, jika kalian menangis maka mereka tidak akan tenang di sana, mengerti kan" ucap Ray
"nah sekarang coba kalian meminta maaf untuk yang terakhir kalinya, cobalah untuk mengungkapkan semua yang ingin kalian katakan kepada mereka, cepatlah" ucap Ray
lalu mereka mengatakan semua yang ingin mereka katakan kepada orang tua mereka sambil menahan tangis
"entah kenapa rasanya aku rindu pada ibu dan ayah" isi hati Ray
"saat itu, adalah saat yang paling bahagia, dimana aku, ayah dan ibu tertawa bersama, begitu juga saat aku kembali ke bumi, ayah dan ibu menyambut ku dengan sangat senang, saat dimana kita berkumpul dan kita bergurau, ayah... apa kau masih ingat saat aku meminta untuk memasak makan malam, kau dengan senang hati membantuku memasak, ibu mungkin kenangan kita agak samar, tapi aku tau apa yang kau rasakan saat aku di dalam kandunganmu" isi hati Ray
"ayah... ibu... semoga kalian bisa tenang di sana, kalian tidak perlu khawatir padaku, aku sudah mendapatkan banyak teman dan itu sudah cukup untukku" isi hati Ray,
"baguslah, mereka pasti sangat senang jika melihat kalian seperti ini, ingat ini baik-baik ya, kita harus bisa menerima kenyataan, kita harus terbiasa dengan kenyataan, kita tidak boleh lari dari kenyataan, kita tidak boleh kalah oleh kenyataan, jika kita ditakdirkan menjadi seseorang yang sangat bodoh, maka belajarlah agar kita bisa melawan kenyataan" ucap Ray
"jika kenyataan itu pahit, anggap saja itu sebagai sebuah motivasi agar kita terus melangkah maju"
"ingat ini baik-baik ya, jika kita tidak bisa mengubah kenyataan maka relakan dan Terima kenyataan itu meskipun pahit di hati"
"mengerti? " tanya Ray
"hm... " mereka mengangguk,
"oy kalian... cepatlah, kita hampir sampai nih" ucap seseorang
"iya tunggu sebentar... " ucap Ray
"Nyke, Pyke kalian duluan saja, nanti kakak akan menyusul" ucap Ray
"baik... " ucap mereka lalu pergi,
setelah itu Ray membaringkan mayat mayat itu, Ray juga menancapkan pedang pendek milik ayah mereka dan sebuah tongkat yang dibawa oleh ibu mereka di tempat mereka disandarkan sebagai rasa penghormatan,
"kurasa ini sudah cukup" ucap Ray
lalu Ray memasukan mereka ke dimensi ruang waktu dan membawa mereka ke permukaan.
saat di permukaan Ray menggali tanah untuk menguburkan mereka,
__ADS_1
saat mayat mereka sudah selesai dikuburkan mereka segera pulang sebelum fajar terbit.
(akhir cerita)
"jadi begitulah... " Ray selesai menjelaskan
"lalu bagaimana dengan Liana dan Tina" tanya Phyllis
"kalau soal mereka aku tidak tau, tapi semoga saja mereka bisa menerimanya" ucap Ray
(di sisi lain)
saat Liana sedang menyisiri rambut Tina Nyke dan Pyke menghampiri mereka dan mengajak mereka ke suatu tempat
"kakak, ayo ikut kami, sebentar saja... " ucap Pyke
"memang kalian mau kemana? " tanya Liana
"sudahlah ikut saja, Tina juga ya" ucap Pyke
"baiklah... tapi jangan lama-lama ya" ucap Liana lalu mereka pergi ke makam orang tua mereka.
saat mereka sedang berjalan,
"Nyke, Pyke kita mau kemana, kenapa kalian tidak memberitahu tujuan kita" tanya Tina
"Tina nanti juga kau akan tau" ucap Nyke
"kakak, kami mau bertanya" ucap Nyke
"kalian ingin bertanya apa" ucap Liana
"Pyke... " Nyke memanggil Pyke
"apa kakak sangat ingin bertemu dengan ayah dan ibu? " tanya Pyke
"tentu saja, tapi kenapa kalian mendadak menanyakan hal seperti itu" ucap Liana
"sudah sampai... " ucap Nyke lalu mereka berhenti
"tempat apa ini Nyke" ucap Liana
"Pyke, kenapa kau diam saja dan kenapa di sini ada makam, ini kan hutan, bukankah ini sangat aneh" ucap Tina
"makam, jangan-jangan... Pyke, Nyke jawab kakak kita sedang dimana, jawablah jangan diam saja" ucap Liana sambil meneteskan air mata
"kakak... " Tina mencoba menenangkan Liana
"diam lah dulu Tina kakak sedang berbicara" ucap Liana
"mereka ada di sana... " ucap Pyke sambil menahan tangisan
lalu Liana menoleh ke makam orang tua mereka, ia menangis di makam orang tua mereka,
setelah itu Pyke dan Nyke mencoba meniru kata-kata Ray untuk memenangkan Liana, begitu juga dengan Tina ia membantu menenangkan Liana.
__ADS_1
>bersambung