
Orang yang sudah mengajarinya tentang cinta dan kehilangan.
Cho Kyuhyun.
Pria itu duduk di belakang meja yang besar, bersandar di kursinya dengan nyaman. Dan kepalanya miring ke kanan saat matanya memandangi seluruh tubuh Lee Hyura. Rambutnya hitam segelap tengah malam, di potong dengan sempurna membingkai wajahnya yang kukuh.
Tampan bukanlah kata-kata yang bisa di gunakan untuk mendiskripsikan Cho Kyuhyun. Itu tidak akan pernah bisa. Seksi. Keren. Itu adalah kata-kata yang tepat untuknya. Pintu menutup di belakang Hyura, mengurungnya di dalam kantor bersamanya.
Kyuhyun bangkit dari tempat duduknya, berjalan ke arah Hyura dengan langkah pelan dan pasti. Dengan setiap langkah yang Kyuhyun ambil, Hyura menegang, tubuhnya tak berdaya untuk melakukan sebaliknya.
“Kyuhyun-ssi.”
“Ini sudah lama sekali.” Kata-katanya dalam, bergemuruh dalam kegelapan.
“Ya.”
“Silahkan duduk.” Meskipun tidak ada senyuman manis, Hyura tetap menurut. Dia duduk di sofa panjang dengan gugup, sedikit enggan menatap Kyuhyun yang menatapnya datar. Perlakuannya empat tahun silam tentu saja berbekas, Hyura bisa melihat itu dimata hitam Cho Kyuhyun. “Setelah sekian lama, aku kira kau sudah melupakanku.”
Hyura tersenyum canggung. “Maaf.”
__ADS_1
“Untuk?” Kyuhyun memiringkan matanya menyelidik, bukan hanya satu, Hyura sudah beberapa kali membuat hatinya sakit. Namun perlakuan Hyura yang terakhirlah yang membuat Kyuhyun sampai saat ini pun terus mengingat Hyura. “Maaf karena telah menggangguku atau maaf karena telah memperlakukanku tidak adil, Hyura-ssi?”
Ucapan dingin itu sukses membuat Hyura memejamkan mata, mencoba menghalau air mata yang bersiap turun jika saja dia mengungkapkan alasan mengapa dulu dia meninggalkan Kyuhyun.
“Itu kejadian yang lalu, aku tidak datang untuk membahas masalah itu.”
Kyuhyun mendengus, menyeringai untuk menghina Hyura yang sepertinya baik-baik saja setelah berhasil membuat tidurnya tidak nyenyak selama bertahun-tahun. Lihatlah gadis itu sekarang, meskipun lebih kurus dari terakhir kali mereka bertemu namun masih bisa melanjutkan hidup dengan bahagia.
“Katakan berapa yang kau butuhkan, aku akan segera menyiapkannya untukmu.”
“Oppa.”
Kekehan itu membuat Hyura terluka, empat tahun ternyata bisa merubah kepribadian seseorang. “Setelah dipikir-pikir lagi, kita bukanlah dua orang yang bisa memanggil satu sama lain dengan panggilan formal Hyura-ssi.”
“Lalu apa?”
“Datanglah ke rumah sakit Yeong Woo, lakukan tes darah.”
Kyuhyun sama sekali tidak mengerti dengan maksud ucapan Hyura.
__ADS_1
“Tes darah?”
“Aku memiliki seorang putri, dia menderita leukimia. Dia membutuhkan sumsum tulang yang cocok dengannya, aku tidak bisa melakukannya karena menderita infeksi.”
Membutuhkan perjuangan tidak sedikit untuk Hyura bisa mengucapkan hal tersebut, namun Kyuhyun sepertinya masih tidak mengerti dengan maksud ucapan gadis itu.
“Aku mengerti dengan apa yang kau inginkan, tapi ada hal yang tidak bisa ku mengerti. Didunia ini ada banyak orang yang bisa kau mintai bantuan, tapi kau malah datang padaku.”
Hyura memberanikan diri untuk menatap mata Kyuhyun. “Anak itu berusia 3 tahun.”
3 tahun.
Kyuhyun menajamkan matanya saat mengingat waktu perpisahan mereka, dengan datangnya Hyura maka sudah dapat dipastikan bahwa anak yang sedang gadis itu bicarakan adalah darah dan dagingnya.
“Kau melahirkan seorang putri? Dariku?”
Hyura tak sanggup lagi menahan air matanya, dia mengangguk mana kala ingatannya malayang pada Da Eun yang saat ini seorang diri memperjuangkan hidupnya. Anak yang bahkan belum mengerti bahwa penyakitnya itu cepat atau lambat bisa membuatnya mati.
Tidak ada yang bisa Hyura lakukan kecuali mendatangi Kyuhyun.
__ADS_1
“Aku tidak membutuhkan apapun lagi, tolong datang lah dan lakukan tes darah. Tidak ada lagi yang bisa ku lakukan untuk menyelamatkan hidupnya.”
“Pergilah.”