Hyura

Hyura
part 8


__ADS_3

Kyuhyun berdiri di balik jendela kaca yang tidak ditutup gorden, mencari letak ranjang tempat Da Eun berbaring. Saat itu Hyura sudah pulang, gadis itu terlihat duduk di salah satu kursi yang langsung menghadap pada anaknya.


Da Eun belum tidur meskipun sudah lebih dari jam sembilan malam, gadis kecil itu masih terlihat asik dengan buku dan krayon yang tergeletak di meja kecil dihadapannya. Entah apa yang menarik perhatiannya, namun dia mencoretkan krayon tersebut dengan hati-hati seolah ingin gambar yang dia hasilkan sangat bagus.


“Kenapa warna daunnya menjadi coklat seperti itu?”


“Bukankah daun di musim gugur berwarna merah dan coklat?”


Kyuhyun samar mendengar percakapan keduanya, dia masih mematung dengan tatapan yang tertuju pada Da Eun yang masih menggambar.


“Kau menyukai musim gugur?”


Da Eun mengangguk seraya tersenyum. “Eommaneun?”


“Eomma?” Lee Hyura bergumam sebentar sebelum menjawab pertanyaan Da Eun. “Musim dingin.”


“Wae?”


“Karena seseorang yang eomma sayangi lahir di musim dingin.”


Wajah Da Eun tiba-tiba saja berubah cerah. “Appa?”

__ADS_1


Hyura menggeleng. “Ani.”


“Nugu?”


Hyura belum menjawab pertanyaan Da Eun saat seorang perawat datang membawa nampan kecil berisi berbotol-botol obat yang harus Da Eun telan sebelum tidur. Raut wajah anak itu seketika berubah muram, melemparkan krayon yang dia pegang sedikit keras hingga jatuh ke lantai.


“Sirreo.”


“Da Eun-ah, apa yang eomma katakan tentang jalan-jalan setelah kau sembuh? Kau sudah berjanji.”


“Sirreo.”


Hyura tidak memiliki pilihan lain, dia membereskan meja di ranjang agar Da Eun bisa leluasa berbaring. Kedua tangannya langsung mencengkram tangan Da Eun yang menolak minum obat.


Disaat itulah Kyuhyun ingin berada disana untuk membantu Hyura, atau setidaknya menenangkan Da Eun yang menangis menolak menelan obatnya. Ada sekitar dua sendok obat yang harus Da Eun telan dengan susah payah, nafasnya pun seperti tersendat karena tangisnya tidak kunjung berhenti.


“Selesai.”


Da Eun seperti akan muntah, Hyura segera melepaskan cengkraman tangannya untuk meraih gelas yang tergeletak di atas nakas.


Apakah Da Eun selalu seperti itu jika sudah waktunya minum obat?

__ADS_1


Kyuhyun yang terduduk di ujung ranjangnya merasakan sesak entah karena alasan apa, anak umur tiga tahun yang seharusnya sedang menikmati masa kanak-kanaknya malah menderita diatas ranjang rumah sakit.


“Hyura-ya, apa yang harus aku lakukan?”


** Second Chance **


Kali ini Kyuhyun tidak datang dengan tangan kosong, ada sesuatu yang ingin dia berikan kepada Da Eun yang sudah banyak menarik perhatiannya. Dia sudah banyak berfikir, dia memutuskan untuk menunjukkan dirinya kepada Da Eun.


Kyuhyun berjalan pelan menuju kamar Da Eun, sebelumnya Kyuhyun sudah mencari anak itu di tempat kemarin dia bertemu dengannya.


Tapi, belum sempat Kyuhyun berbelok, secara tidak sengaja dia melihat seorang anak kecil sedang duduk sendirian di Sofa putih ruang bermain. Anak itu menunduk seperti tengah memperhatikan sesuatu.


Seketika senyum pun mengembang, jantungnya berdebar mana kala kakinya melangkah menghampiri anak itu.


Da Eun masih menunduk, Kyuhyun memutuskan untuk berjongkok.


“Anyeong.” Boneka pororo yang Kyuhyun bawa menghalangi pandangan Da Eun dari wajahnya. “Naneun, pororo-ya.”


Tidak pernah ada satu orang pun yang pernah mengajaknya bicara setelah Danies oppa, hanya ahjumma perawat dan nemo ahjussi. Karena Da Eun merasa tidak mengenali Kyuhyun, dia tidak membalas apapun yang Kyuhyun lakukan.


Merasa tidak mendapatkan respon yang dia harapkan, Kyuhyun menjauhkan boneka pororo itu dari hadapan wajahnya. Hal pertama yang Kyuhyun lihat adalah Da Eun yang menatapnya serius, seolah apa yang dia lakukan adalah hal teraneh yang pernah anak itu lihat.

__ADS_1


“Namamu Da Eun bukan?” Kyuhyun memulai dengan kikuk.


Tapi Da Eun mengangguk kecil,


__ADS_2