Hyura

Hyura
part 24


__ADS_3

Dengan kata lain Hyura tidak mungkin bisa bekerja lagi di tempat ini.


“Maafkan aku Hyura-ya.”


Menyembunyikan seluruh kebingungan dan kekhawatirannya Hyura menunjukkan senyuman menenangkan. “Tempat ini milikmu, kau tidak perlu meminta maaf padaku KyoRin-ah. Lalu bagaimana dengan hutangku padamu?”


“Apa kau mengkhawatirkan hal itu? tidak perlu terburu-buru, kau bisa membayarnya jika kau sudah punya uang. Itu uangku, Hyuk Jae oppa tidak memiliki masalah dengan itu.”


“Kalau begitu terima kasih Kyorin-ah.”


“Kami akan menutup Restaurantnya hari selasa besok.” Kyorin membuka sebuah laci dari meja disampingnya, mengeluarkan sebuah amplop dan menyodorkannya kepada Hyura. “Ini gajimu selama sebulan ini.”


“Terima kasih, terima kasih banyak Kyorin-ah.”


****


Sama seperti biasanya, kali ini pun Kyuhyun memilih untuk pulang ke rumah sakit ketimbang sendirian di Apartement. Siang tadi pun dia datang untuk bertemu dengan Da Eun, menemani gadis kecil itu makan makan siangnya serta bermain bersama. Hyura tidak ada saat itu.


Dan sampai sekarang pun masih belum pulang.


“Da Eun-ah.”


Gadis kecil itu menoleh dari lego yang tengah dia susun kepada Kyuhyun yang duduk di kursi disamping ranjangnya.


“Mau tinggal dengan Appa?”

__ADS_1


Baru beberapa minggu lalu Da Eun bisa bertemu dengan Kyuhyun, dalam pandangannya sebagai seorang anak dia berfikir bahwa ayahnya itu pasti mengajak dia serta sang ibu untuk tinggal bersama. Maka dengan ekspresi sedikit cerah dia mengangguk.


“Da Eun mau tinggal dengan Appa.”


“Benarkah?”


Da Eun mengangguk lagi. “Apa dirumah Appa ada banyak mainan?”


Kyuhyun masih belum memikirkan hal itu, dirumahnya tidak ada apapun yang bisa dimainkan oleh anak berusia 3 tahun. Bahkan boneka seukuran ibu jarinya pun tidak ada. Tapi, dia bisa mempersiapkan semua hal sembari menunggu kesembuhan Da Eun paska operasi.


“Ada banyak sekali mainan, semuanya untukmu.”


Anak itu mengepalkan tangan kanan dengan gembira. “Assa.”


Senyuman itu ternyata menular pada Kyuhyun yang kembali terkagum atas ekspresi Da Eun, pria itu bahkan memanjangkan tangan untuk mengusap ujung kepala putrinya itu karena gemas. Hyura pasti sudah merasakan perasaan seperti ini sejak kelahiran Da Eun, dan dia baru beberapa minggu ini mengalaminya.


“Sepertinya kau sedang sangat senang, Da Eun-ah.”


Lee Donghae datang dengan memakai gaun biru yang sudah disteril bersama salah seorang perawat yang membawa beberapa botol obat diatas benda yang terbuat dari alumunium.


“Nemo Ahjussi.”


Seolah mengabaikan Kyuhyun yang menatapnya kecut, Donghae menghampiri ranjang Da Eun. “Ibumu belum pulang?” Dan tampak sangat sengaja menanyakan Hyura yang masih belum pulang meskipun diluar sudah sangat gelap.


Untuk menjawab pertanyaan Nemo Ahjussi Da Eun menggeleng. “Ani.”

__ADS_1


Donghae mencondongkan tubuhnya untuk semakin dekat dengan anak itu, Da Eun selalu merengek tiap kali jadwal minum obatnya datang. “Sayangnya ini sudah waktunya kau minum obat, ahjumma perawat membawa beberapa sirup yang harus kau minum.”


Ekspresi bahagia anak itu lenyap, digantikan dengan raut sedih yang kentara. Anak itu bahkan menggeleng beberapa kali sebagai aksi penolakan, sampai kapan dia harus minum obat?


“Malam ini Da Eun tidak mau minum obat, Nemo Ahjussi.”


“Wae? Bukankah Da Eun bilang ingin sembuh? Ahjussi beritahu, kalau Da Eun sembuh Nemo Ahjussi tidak akan melarangmu makan banyak Ice Cream, kau juga bisa bermain di luar. Ayunan, perosotan, pasir. Semuanya. Bagaimana?”


Da Eun tetap menggeleng.


Donghae tampak tidak terlihat akan menyerah, dia sudah terlalu mengenal Da Eun. “Kalau begitu Nemo Ahjussi tidak akan mengembalikan boneka pororo yang Da Eun berikan waktu itu.”


“Aniya.”


Tidak ingin hanya diam saja Kyuhyun pun menyentuh kaki Da Eun yang terlipat untuk meminta perhatian, pria itu menekan siku tangan kirinya diatas ranjang sementara tangan kanannya berada di paha Da Eun. “Kalau Da Eun minum obat Appa akan memberikan banyak sekali mainan saat kita pulang nanti, Da Eun ingin mainan apa?”


“Boneka pororo yang sangat besar.” Da Eun menunjukkan seberapa besar boneka yang dia inginkan dengan kedua tangannya.


“Baiklah, Setelah kau keluar dari sini kita akan membeli boneka pororo yang sangat besar.”


“Arasseo.”


Da Eun menurut, dengan tangan kiri yang menggenggam tangan Kyuhyun anak itu menerima suapan obat sirup yang harus dia telan. Dia ingin menangis, tapi sentuhan tangan Kyuhyun di tangannya membuat dia kembali mengingat boneka pororo yang Kyuhyun janjikan.


Kalau dia menangis mungkin saja Kyuhyun tidak akan memberikannya.

__ADS_1


“Aigoo, anak pintar.”


Donghae menyodorkan botol minuman milik Da Eun. “Sekarang kau boleh tidur, nemo ahjussi akan kembali lagi besok.”


__ADS_2