
“Apa putraku ada didalam?”
Dalam balutan dress mahalnya Kim Eun Ji berdiri di depan meja sekretaris Cho Kyuhyun, Kim HyeRi. Wanita yang masih terlihat cantik meskipun sudah berumur setengah abad itu bertanya untuk memastikan bahwa putranya itu belum meninggalkan kantor.
“Setelah menerima tamu beliau belum keluar nyonya Cho.”
“Tamu?”
“Ya.”
“Baiklah, aku masuk.”
“Silahkan Nyonya.”
Meskipun Cho Kyuhyun pemilik perusahaan tersebut, Kim Eun Ji bukanlah orang yang patut diremehkan. Perusahaan besar sekelas Cho Industrie ada karena ada campur tangan dari keluarganya. Cho Ji Yoon hanya meneruskan, sama seperti apa yang Kyuhyun lakukan sekarang.
Semula Eun Ji menyangka akan menemukan Kyuhyun dalam keadaan yang sibuk atau setidaknya sedang sangat kesusahan karena masalah pekerjaan. Namun saat dia masuk, wanita itu menemukan Kyuhyun sedang berdiri dibelakang jendela besar menghadap pemandangan kota.
“Apa uang di sakumu akan bertambah banyak kalau kau berdiri disana, Kyuhyun-ah?”
Biasanya seorang ibu akan menyapa putranya dengan suara lembut, wanita ini sungguh berbeda. Uang adalah segalanya, dia akan menyingkirkan siapapun yang berpotensi menghancurkan kerajaan bisnisnya.
“Apa yang sedang kau lakukan?”
Kyuhyun berbalik, kembali ke mejanya seraya menatap sang ibu. “Hanya merasa bosan.”
Kim Eun Ji menghampiri meja Kyuhyun, menarik salah satu dari dua kursi lalu duduk setelah meletakkan tas branded yang dia beli saat liburan di Prancis minggu lalu.
“Semalam Hyena menghubungi eomma, dia bilang pesawatnya akan mendarat sekitar jam satu siang, eomma ingin kau menjemputnya ke bandara.”
__ADS_1
“Akan ku usahakan.” Kyuhyun menjawab dengan nada malas, memikirkan akan bertemu dengan Hyena saja sudah membuatnya kehilangan Mood. Ditambah dengan masalah yang Hyura bawa beberapa jam lalu, pikirannya sedang kacau. Bertemu dengan Hyena adalah jalan terburuk.
“Eomma tidak mau tahu, kau harus menjemput Hyena ke bandara. Setelah itu ajak dia makan malam, eomma sudah menentukan tanggal pertunangan kalian.”
“Eomma.”
“Kau sendiri yang memilih gadis itu untuk kau nikahi, ada apa lagi sekarang?”
Tidak ada gunanya berdebat, ibunya itu bukanlah orang yang akan menerima pendapat orang lain.
“Akan ku lakukan.”
“Kau harus bersikap layaknya anakku.”
*********
Da Eun terlelap dalam buaian Hyura, gadis manis yang belum merayakan ulang tahunnya itu tertidur dalam kedamaian setelah dokter Lee memeriksanya. Tangan kecilnya terkulai, sementara tangan yang lain berusaha menjangkau pinggang sang ibu untuk memeluknya.
Hyura mendaratkan sebuah ciuman manis di kening Da Eun, mengusap pipi pucat putrinya kemudian berusaha untuk turun dari ranjang yang dia tiduri. Da Eun memerlukan istirahat yang panjang.
“Nona kecil itu sudah tidur?”
Seraya menutup pintu ruang perawatan Da Eun, Hyura mengangguk. Lee Donghae yang selama ini telah banyak membantunya itu berdiri dengan kedua tangan masuk kedalam saku jubah putihnya. “Dia tidur sangat nyenyak.”
“Itu bagus untuknya.”
Lee Hyura tidak bisa membayangkan akan seperti apa hidupnya tanpa Lee Donghae, pria itu memperlakukannya dengan sangat baik di pertemuan pertama mereka. Lee Hyura yang tidak memiliki siapapun hidup terombang ambing setelah meninggalkan Kyuhyun. Kedinginan dan kelaparan adalah dua hal yang harus Hyura tahan disaat dirinya tengah mengandung Da Eun.
Buah cintanya dengan Cho Kyuhyun.
__ADS_1
“Apa kau berhasil bertemu dengan ayah Da Eun?”
Hyura menunduk, meremas tangannya untuk menghilangkan kegugupan. Tidak, bukan gugup. Hyura terlanjur berbohong dengan mengatakan bahwa ayah Da Eun tengah dipenjara sekarang. Hyura merasa sedikit takut.
“Eum, aku bertemu dengannya.”
“Lalu bagaimana? Apa dia bersedia menolongmu?”
Kenyataan perih itu kembali memukul telak, Cho Kyuhyun tidak memberinya maaf untuk semua kejadian yang telah lalu, bagaimana mungkin dia bersedia datang ke rumah sakit? Hyura sudah berusaha untuk membujuknya, namun hasilnya tetap nihil. Kyuhyun malah mengusirnya dengan kejam.
“Tidak, dia tidak bersedia.”
“Astaga.”
Lee Donghae yang menyandarkan tubuhnya kedinding menengadah, dia tengah menahan emosi. Berusaha untuk tidak segera mengumpat didepan Hyura yang menunduk bersedih. Ayah macam apa yang menolak untuk melakukan pemeriksaan disaat anaknya tengah sekarat seperti ini?
Pria itu pasti bukan manusia.
“Kita pikirkan cara yang lain, aku akan berusaha untuk mencari sumsum tulang yang cocok dengan Da Eun.”
Tangan Hyura terjulur untuk menggenggam tangan Donghae, kali ini tatapan gadis itu tertuju pada kedua iris hitam mata Donghae yang sayu. Hyura hampir putus asa, hampir tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan untuk menyelamatkan hartanya yang paling berharga.
“Aku mohon oppa, lakukan apapun untuk menolong Da Eun. Aku akan bekerja lebih keras lagi untuk membayar biayanya asalkan Da Eun bisa tetap disisiku.” Ada sebuah benda tak kasat mata yang terasa memukul dadanya, rasa sesak itu menimbulkan kesakitan. Dia tidak bisa bernafas tanpa adanya Da Eun disisinya. “Aku mohon, oppa. Hanya dia yang ku miliki di dunia ini, aku tidak akan sanggup kehilangan Da Eun. Tidak, aku tidak akan sanggup.”
Tidak ada hal lain yang akan orang lain lakukan selain melingkarkan tangannya di sekeliling tubuh Hyura, gadis itu begitu rapuh dan lemah. Hidupnya menjadi lebih berantakan setelah dokter memvonis Lee Da Eun mengidap Kanker darah stadium dua.
Tangannya mengusap punggung Hyura dengan lembut, sementara tangan yang lain masih memeluk tubuhnya. “Geokjeongma, Hyura-ya. Semuanya pasti akan baik-baik saja.”
Tangis yang tercipta itu untuk mengenang kembali kehadiran Da Eun di dalam hidupnya, bayi yang lahir di tanggal 16 september itu telah melengkapi hidupnya yang sendirian. Hyura tidak akan pernah berputus asa untuk kehidupan putrinya, apapun akan dia lakukan asalkan Lee Da Eun bisa tersenyum tanpa merasakan sakit.
__ADS_1
***