Hyura

Hyura
part 6


__ADS_3

Kyorin sedikit mengangguk. “Ya belum datang, mungkin mereka akan sedikit terlambat. Aku menyuruh mereka untuk datang di jam sembilan pagi, setelah kegiatan MT kemarin setidakya mereka membutuhkan sedikit lebih banyak waktu untuk beristirahat.”


Apple Orange mengadakan MT selama tiga malam dua hari disebuah Villa yang terletak di Jeolla selatan, dari jadwal yang sudah di susun jauh-jauh hari, seharusnya Lee Hyura ikut dalam rombongan. Namun karena kondisi kesehatan Da Eun yang tidak bisa di tinggalkan, Hyura terpaksa membatalkan keikutsertaannya.


“Pasti sangat menyenangkan.”


“Sangat menyenangkan, kalau kau ikut aku yakin kau pun akan menyukai bagaimana suasananya. Udara segar dengan pemandangan yang sangat indah, aku berjanji akan datang lagi kesana kalau ada kesempatan.”


“Aku ikut senang untukmu.”


Pertama kali Kyorin mengenal Hyura adalah tiga tahun lalu, Donghae membawa seorang wanita kurus yang dengan air mata berlinang menggendong putrinya yang masih berusia lima minggu. Bayi dalam dekapan wanita itu terlihat memerah karena sakit, kedinginan dalam selimut tipis yang Hyura pakaikan.


“Aku tidak tahu oppa menemukan wanita ini dimana, tapi oppa bisa memakainya.” Kyorin melirik Hyura sebelum berbalik untuk mengambil kunci rumahnya. “Sebentar.”


Tempat tinggal yang sudah Kyorin tempati selama berpuluh-puluh tahun akan segera dijual karena Hyuk Jae sudah menemukan tempat tinggal yang baru. Meskipun memiliki jarak yang tidak terlalu jauh dari rumah lamanya, rumah barunya lebih besar dan memiliki halaman.


“Ini.”

__ADS_1


Donghae menerima kunci yang Kyorin sodorkan untuk segera membawa Hyura dan bayinya masuk, kala itu Kyorin tidak keluar untuk menemani donghae menunjukkan rumahnya kepada Hyura, namun dalam sekali lihat saja seharusnya orang-orang sudah bisa menebak apa yang telah Hyura alami untuk bisa bernafas hingga detik ini.


Kyorin menggenggam tangan Hyura yang berada diatas meja kasir saat ingatan akan pertemuan pertama mereka kembali membayang, wajahnya menunjukkan senyuman, namun Hyura melihat perasaan lain yang terpancar dari mata wanita itu.


Perasaan iba, perasaan yang selalu Hyura lihat kala orang-orang disekitarnya mengingat setiap penderitaan yang telah dia hadapi.


“Bagaimana kondisi Da Eun? Apa kalian sudah menemukan donor yang cocok?”


Hyura menunduk kala ingatannya kembali memutar penolakan yang telah dia terima dari Kyuhyun, jangankan untuk membantunya menolong Da Eun, Kyuhyun bahkan tidak akan sudi lagi melihat wajahnya.


“Eonni.” Genggaman tangan Kyorin semakin erat saat mulutnya memanggil Hyura. “Bersabarlah, kalian pasti akan segera menemukannya. Da Eun anak yang manis dan baik, aku yakin tuhan juga sangat ingin melihat dia tersenyum tanpa terbebani apapun.”


“Sekarang aku benar-benar takut, aku tidak pernah berputus asa seperti ini. Aku merasa sudah tidak ada lagi harapan, aku pasti akan kehilangan Da Eun Kyorin-ah.”


Bulir-bulir bening itu menetes seiring dengan rintihan dan keluhan Hyura tentang putrinya, harapan terbesar yang sampai saat ini terus dia perjuangkan tanpa lelah.


“Jangan bicara seperti itu, eonni.”

__ADS_1


“Aku tidak bisa hidup tanpa Da Eun, aku akan melakukan apapun asalkan dia kembali seperti dulu.”


****


Kyuhyun sudah puluhan kali memikirkannya.


Saat dia datang beberapa saat lalu dia terus mengatakan pada dirinya sendiri untuk tidak datang ketempat ini, tapi, dia ingin melihat anak yang Hyura ceritakan kemarin. Dia ingin melihat putri yang selama ini tidak dia ketahui keberadaannya.


Hyura mencatatkan nama serta ruangan yang Da Eun pakai di kertas yang dia tinggalkan, Kyuhyun hanya perlu mencari bangsal anak di lantai tiga.


Kakinya melangkah pelan untuk mencari kamar Lee Da Eun.


“Da Eun-ah.”


Kyuhyun cepat-cepat berbalik, telinganya tidak mungkin salah. Dia mendengar seseorang memanggil nama Da Eun begitu lantang dari arah belakang.


“Nemo ahjussi.”

__ADS_1


__ADS_2