
Hyura dengan cepat menengadah, membuat air mata yang sudah menggenang itu turun dan jatuh dari wajah pucatnya.
“Kyuhyun-ssi, aku mohon.”
Kyuhyun akhirnya bangkit, menjauh dari Hyura dan berniat kembali ke mejanya saat dengan tiba-tiba tangannya dicengkram. Dengan tangis yang sama Hyura berlutut, memohon agar Kyuhyun mau menolongnya.
“Da Eun adalah hartaku yang paling berharga, kau tentu tahu aku tidak memiliki siapapun lagi didunia ini. Tolong, aku tidak bisa hidup tanpa dia. Tolong aku Kyuhyun-ssi.”
Tangan Kyuhyun terkepal erat, menahan segala perasaan yang bercampur aduk dihatinya. Ya tuhan, mengapa gadis ini harus datang lagi disaat dia sudah berjuang untuk kembali menata hatinya? Dan anak itu_
“Lepaskan.”
“Oppa.” Jeritan akan kesakitan dan takut yang Hyura rasakan luruh dalam permohonannya, dia berlutut. Berharap akan Kyuhyun yang sudi menolongnya. Tapi_
“Lepaskan aku.”
Hyura merasa seluruh kehidupannya tamat saat tangan Kyuhyun menghentak tangannya dengan keras, pria itu seolah tidak memperdulikan air mata dan permohonanan yang Hyura lakukan.
Dengan ekspresi tak terbaca pria itu kembali ke belakang mejanya, menekan sebuah tombol di telpon kemudian berbicara saat suara seorang wanita terdengar.
__ADS_1
“Tolong seret wanita ini dari ruanganku.”
“Ne_ne sajangnim.”
Dengan itu, seluruh kehidupan yang Hyura miliki benar-benar berakhir. Dia pasti akan kehilangan Da Eun.
****
“Anda baik-baik saja, nyonya?”
Hyura mulai kehilangan kekuatannya, dia berjalan keluar tanpa tenaga. Meski tangisnya telah berhenti, sakit dihatinya tak kunjung menghilang. Gadis itu hanya menggeleng kala pria yang tadi bertanya padanya itu datang dengan sebuah ekspresi kecemasan.
Hyura hanya menggeleng lemah, otaknya membeku, membayangkan akan kehilangan Da Eun yang selama ini menjadi sumber kekuatannya. Di anak tangga terakhir, akhirnya Hyura terjatuh. Dia duduk dengan sebuah tangisan yang sama. Wajah Da Eun yang dia miliki begitu menggemaskan pada awalnya, namun bulan-bulan berlalu setelah penyakit itu menggerogoti tubuh kecil putrinya, wajah Da Eun terus terlihat pucat.
“Nyonya.”
Tetes demi tetes air mata membasahi wajahnya. “Apa yang harus aku lakukan? apa lagi yang harus aku lakukan?”
Dalam balutan piyama biru cerahnya Lee Da Eun berjongkok, tangan kecilnya memanjang untuk menjangkau koin 500 won yang terselip dibawah sofa ruang tunggu rumah sakit. Sudah hampir sepuluh menit namun koin tersebut tidak kunjung dia dapatkan, padahal Da Eun hanya membutuhkan 500 won lagi untuk membeli Ice Cream strawberry kesukaannya.
__ADS_1
”Aghassi, perlu aku bantu?” Pria yang bertanya itu berjongkok, mengintip apa yang tengah Da Eun coba ambil. “Aigoo, setelah ini kau pasti akan mengendap-ngendap di belakang sofa.”
Da Eun merengut, menatap wajah pria berjubah putih yang selama ini memeriksanya. “Nemo Ahjussi yang memberitahu eomma?”
Lee Donghae tersenyum, menyerahkan uang 500 won kepada Da Eun yang masih bertingkah galak. “Itu karena kau tidak boleh memakan ice cream terlalu sering.
Seraya dihentak, Da Eun bangkit. “Aku memakannya hanya satu kali dalam satu minggu.” Da Eun dengan polos menunjukkan dua buah jarinya. Hal kecil yang tentu saja sukses membuat Donghae tertawa. “Itu tidak sering, nemo ahjussi.”
“Itu bukan satu tapi dua.”
“Maksudku satu kali dalam satu minggu, aku menunjukkannya agar nemo ahjussi mengerti.”
Ya terserah anak itu saja.
“Sekarang.” Donghae akhirnya bangkit. “Nona kita yang satu ini harus ada di atas tempat tidur, atau kau ingin paman menyuntikmu lagi?”
“Shirreo.”
Dengusan mengiringi kepergian Da Eun ke kamarnya, gadis itu memasang ekspresi galak yang anehnya malah membuat Donghae tertawa. Astaga, anak itu lucu sekali.
__ADS_1
hay semoga kalian suka atas karya ku. jngn lupa beri aku vote, kok agar aku bisa smngat nulis karya nya