
Selamat pagi sajangnim.” Sama seperti yang karyawan lain lakukan, Ryeowook pun membungkuk untuk menyapa Kyuhyun. Disaat itu lah dia melihat Da Eun yang juga berhenti melangkah.
Tahu bahwa Da Eun menjadi tanya besar, Kyuhyun akhirnya membuka suara. “Da Eun-ah, Insahae.”
Lee Da Eun telah banyak diajarkan sikap sopan santun oleh ibunya, dia tahu apa yang harus dia lakukan saat seseorang menyuruhnya untuk memberikan salam. Anak perempuan manis itu meletakkan dua telapak tangannya di perut kemudian membungkuk.
“Anyeonghaseyo.”
“Anak pintar.” Kyuhyun pun menghadiahi sebuah usapan pelan di kepala Da Eun yang tersenyum. “Namanya Da Eun, dia putriku.”
“Ye?”
“Ceritanya panjang.” Dan Kyuhyun sama sekali tidak memiliki Mood yang baik untuk menceritakan semua hal kepada Ryeowook saat ini. “Bukankah hari ini kita memiliki pertemuan penting dengan Kingdom star?”
“Sekretaris Lee Hyuk Jae sajangnim tadi menghubungiku, dia mengatakan terpaksa menunda pertemuan karena harus menemani istrinya yang akan melahirkan. Beliau berjanji akan mengganti hari ini dengan hari yang lain.”
“Baiklah. Apa ada yang lain?”
“Ibu anda kemarin menelpon, dia bertanya apa anda masuk kerja atau tidak.”
“Aku sudah bertemu dengannya.”
“Ne, sajangnim.”
Kemudian tanpa mengatakan apapun lagi Kyuhyun melangkah, dan hampir saja lupa jika ada seseorang yang tengah memperhatikan pemandangan luar dari ketinggin lebih dari 3 kaki. “Da Eun-ah, kajja.”
Da Eun berbalik kemudian bangkit masih dengan senyuman cerah, dia menggenggam tangan ayahnya yang terulur lalu melangkah disampingnya menuju ruangan yang pintunya masih tertutup.
Ruangan Kyuhyun yang luas menjadi tempat yang sangat asing untuk Da Eun, meskipun tempatnya sangat nyaman sayangnya sama sekali tidak ada mainan. Kyuhyun hanya menyuruh Da Eun duduk di Sofa sementara dirinya duduk di kursi kebesarannya.
Kyuhyun juga sengaja menyalakan TV agar anak itu tidak bosan.
Namun berjam-jam berlalu, Da Eun sudah memainkan apapun yang menarik perhatian. Dia juga sudah beberapa kali duduk di depan jendela untuk melihat mobil-mobil kecil yang melaju di jalanan.
Dia mulai bosan dan mulai lapar.
Tanpa meninggalkan boneka kelinci kesayangannya Da Eun menghampiri Kyuhyun di mejanya, dia berusaha duduk di kursi yang langsung menghadap pria itu.
“Bosan?”
__ADS_1
Kyuhyun melihat Da Eun mengangguk, kalau besok dia mengajak Da Eun lagi, dia tidak akan melupakan buku gambar dan krayon milik putrinya itu.
“Da Eun lapar tidak?”
Lagi-lagi Da Eun mengangguk.
“Da Eun mau makan apa?”
“Eomma masih lama kerjanya? Da Eun ingin makan bersama Eomma.”
“Da Eun-ah.”
Ekspresi Da Eun berubah saat membicarakan ibunya, dipungkiri atau tidak, sedikit banyaknya pasti Da Eun merindukan Lee Hyura. Tapi Kyuhyun akan berusah payah agar Da Eun bisa melupakan Lee Hyura, Da Eun tidak boleh bertemu lagi dengan ibunya itu.
Kyuhyun melirik jam di pergelangan tangan kirinya. “Kita pesan saja lagi.”
“Biar praktis kan Appa?”
Pria itu berdecak. “Ya, supaya praktis.”
Kyuhyun menyuruh Ryeowook datang ke ruangannya, menanyakan makanan apa yang cocok untuk anak kecil seperti Da Eun. Namun sepertinya Kyuhyun bertanya pada orang yang salah.
“Kau mau perut anakku terbakar?”
Lalu apa? Ryeowook tidak pernah satu atap dengan anak kecil, dia pun belum memiliki anak yang bisa dia khawatirkan makan dan minumnya. “Maafkan aku sajangnim, tapi aku sama sekali tidak tahu makanan apa yang cocok untuk anak anda ini.”
Da Eun yang tidak tahu apapun hanya mengedipkan kedua matanya lucu.
“Ah, Samgyetang.”
Ryeowook mengerutkan kening? Samgyetang?
“Tolong pesankan makanan itu saja, anak kecil biasanya makan dengan sup.”
“Baiklah, akan saya lakukan sajangnim.”
****
Apa Da Eun makan dengan baik?
__ADS_1
Sudahkah dia makan hari ini?
Apa Kyuhyun memberinya makan dengan benar?
Seluruh pikirannya sedetik pun tidak pernah lepas dari Da Eun, Hyura lupa untuk memberitahu Kyuhyun bahwa Da Eun alergi terhadap ginseng. Meskipun tidak parah namun tubuhnya akan ruam dan kadang juga demam.
“Apa aku membuatmu menunggu lama?”
Hyura sadar dari lamunan untuk mendongak pada Donghae yang baru saja datang, siang ini pria itu tidak mengenakan jubah putihnya sebagai seorang dokter, itu membuatnya lebih terlihat santai.
“Aniya Oppa.”
“Kau terlihat lebih pucat Hyura-ya.”
Tangan kanannya terangkat untuk memegang pipinya. “Benarkah? Mungkin karena dingin.”
Donghae bukan pria bodoh yang tidak tahu apapun, dia sudah berkecimpung didunia medis lebih dari lima tahun. Dalam sekali lihat saja dia tahu bahwa Hyura tidak baik-baik saja.
“Sudah makan kan?”
“Aku tidak berselera.”
“Sepertinya kau juga tidak tidur semalam.”
Hyura tidak bisa tidur, dia tidak bisa memejamkan mata karena rasa rindunya pada Da Eun.
“Kalau begitu makanlah, kau mau pesan apa?”
“Oppa saja, aku benar-benar tidak lapar.”
“Hyura-ya.”
“Aku sungguh-sungguh oppa, aku benar-benar tidak lapar.”
Donghae pun hanya bisa menghela nafas berat, dia kemudian mengeluarkan boneka pororo kecil milik Da Eun yang dulu anak itu titipkan kepadanya. Tidak, Da Eun tidak menitipkannya, Donghae lah yang mengambil boneka itu karena situasinya dulu.
“Ini milik Da Eun, aku lupa memberikannya saat dia pulang kemarin.”
Hyura menerima boneka itu dengan hati nelangsa. “Akan ku berikan padanya.”
__ADS_1
****