
Aku masih sibuk mencari baju untuk pergi nanti sore. Sebenarnya aku sangat penasaran apa yang mau Dokter Alam katakan padaku. Kenapa sampai mengajakku pergi ke suatu tempat segala. Mana aku nggak tahu juga tempatnya dimana.
Kenapa nggak ngomong langsung aja sih kemarin. Memang apa susahnya pake acara ngajak pergi segala. Bikin repot aja kan aku bingung mau pake baju apaan. Aku mengobrak-abrik isi lemariku. Aku lihat bajuku hanya itu-itu saja nggak ada yang bagus sama sekali.
Tiba-tiba Kak Alex masuk ke kamarku.
“ Astagfirullah dek kamu lagi ngapain kok bajunya diberantakin gitu?” tanyanya.
“ Lagi cari baju kak.” Kataku.
“ Itu semua kan juga baju tinggal pilih aja.” Katanya duduk diatas kasurku.
“ Nggak ada yang bagus kak.” Kataku.
“ Memangnya kamu mau kemana?” tanyanya.
“ Nggak tahu.” Kataku.
“ Kok nggak tahu sih?” tanyanya.
“ Iya aku nggak tahu kemarin Dokter Alam cuma bilang mau jemput nanti sore tapi aku nggak tahu mau pergi kemana.” Jelasku.
“ Kamu mau pergi sama Alam?” Tanya.
“ Heem, Kakak tahu nggak Dokter Alam mau ngajak pergi kemana?” tanyaku.
“ Mana kakak tahu kan kamu yang diajak?” tanyanya.
“ Itu dia masalahnya aku juga nggak tahu mau kemana. Memang kemarin malam Dokter Alam nggak cerita ke kakak?” tanyaku.
“ Nggak.” Katanya.
Aku sibuk memilih-milih pakaian lagi “ Pake itu aja dek bagus.” Katanya menunjuk dress yang ada ditangan kiriku. Sebuah dress berwarna pink dengan sebuah pita yang ada di pinggangnya.
“ Pake ini?” tanyaku.
Dia mengangguk “ Kamu kalo pake itu pasti cantik banget.” Katanya.
Aku memandangi dress yang ada ditanganku bagus juga sih “ Yaudah deh aku pake ini aja.” Kataku duduk disebelahnya.
Kami diam beberapa saat “ Kak.” Panggilku.
“ Heem.” Katanya.
“ Gimana kalo kakak nanti ikut kita pergi?” kataku.
“ Memangnya kenapa?” tanyanya.
“ Yah aku ngerasa nggak enak aja pergi berdua sama Dokter Alam.” Kataku.
“ Kamu nggak enak apa lagi kakak kan yang diajak kamu masak kakak ikut.” Katanya menolak.
“ Yah kalo gitu kakak ngikutin aja dari belakang memangnya kakak nggak takut kalo adikmu ini diapa-apain sama Dokter Alam.” Kataku.
“ Kamu tenang aja Alam itu orangnya baik dia nggak mungkin macem-macem kakak percaya kok sama dia.” Katanya.
Aku diam sejenak “ Udah nggak usah mikir yang macem-macem mending sekarang kamu mandi siap-siap gih pasti bentar lagi Alam dateng.” Katanya keluar kamarku.
Aku lihat jam didindingku sudah pukul 3 sore. Aku langsung bergegas mandi. Selesai mandi aku shalat terlebih dahulu setelah itu aku duduk didepan cermin untuk merias wajahku. 15 menit kemudian aku sudah selesai tinggal menunggu Dokter Alam datang.
Pintu kamarku diketuk dan Kak Alex langsung masuk kedalam.
“ Udah ditungguin kamu dek.” Katanya.
Aku mengangguk aku mengambil tasku dan segera keluar. Aku lihat Dokter Alam sedang duduk menungguku diruang tamu. Aku berjalan mendekatinya dan dia langsung menatapku. Aku jadi salah tingkah saat dia menatapku.
“ Kenapa Dok aneh ya?” tanyaku.
“ Nggak kamu cantik kok.” Katanya.
Aku menarik nafas lega kirain dandananku norak. Soalnya dia ngelihatinnya sampai nggak kedip gitu kan aku jadi berpikir yang nggak-nggak. Tapi untungnya yang aku pikirin salah dia malah memujiku dan itu membuat pipiku yang merah semakin merah.
“ Kita pergi sekarang.” Katanya.
Aku mengangguk “ Kak kita pergi dulu ya assalamualaikum.” Kataku.
“ Walaikumsalam.” Katanya.
“ Duluan ya Lex.” Kata Dokter Alam.
“ Iya Hati-hati.” Katanya sambil mengedipkan mata seperti memberikan sebuah isyarat.
Kami berjalan menuju mobilnya. Dia membukakan pintu untukku begitu aku sudah masuk dia langsung masuk kedalam mobil.
“ Emangnya mau kemana sih Dok?” tanyaku.
“ Nanti kamu juga tahu.” Katanya tersenyum.
Mobil sudah meninggalkan halaman rumahku. Jalanan hari ini lumayan ramai karena ini kan jam pulang kerja jadi banyak orang yang pulang ke rumah mereka untuk melepas lelah setelah seharian bekerja.
Kami berhenti karena lampu merah. Aku masih bertanya-tanya kemana sebenarnya Dokter Alam mau mengajakku pergi sudah sekitar setengah jam kami dalam perjalanan tapi belum sampai juga.
__ADS_1
“ Dok, kita mau kemana sih?” tanyaku untuk kedua kalinya.
“ Kamu tenang aja Nay sebentar lagi juga sampai tinggal belok kanan sekitar 15 menit udah sampai.” Katanya.
Aku mengangguk mengerti kembali memandangi jalanan . Lampu sudah berubah menjadi hijau Dokter Alam langsung melajukan mobilnya ke tempat tujuannya.
Benar sekitar 15 menit setelah belokan tadi kami memasuki sebuah gapura bertuliskan Selamat Datang di Taman Bunga Nusantara.
“ Taman bunga?” tanyaku.
Dia mengangguk lalu tersenyum. Mobil sudah terparkir dan kami langsung menuju pintu masuk. Setelah membeli tiket masuk kami segera masuk kedalam. Ketika pertama kami masuk kedalam taman kami disuguhkan pemandangan bunga celosia dengan warna merah yang cerah.
Kami berjalan lebih jauh kedalam taman disisi kananku terdapat bunga anggrek dengan berbagai warna. Sedangkan disisi kiriku terdapat bunga mawar juga dengan beraneka warna.
Aku merasa sangat senang sekali aku memang sangat menyukai bunga. Terutama bunga mawar aku sangat menyukainya walaupun banyak duri ditangkainya yang kadang membuat tanganku tertusuk. Tapi semua itu tak masalah karena bunganya yang indah membuatku tak menghiraukan duri ditangkainya.
“ Ya ampun bagus banget.” Kataku senang mengelilingi taman bunga itu bahkan aku sampai melupakan Dokter Alam.
“ Kamu seneng Nay?” tanyanya.
“ Seneng banget Dok udah lama aku pingin kesini tapi selalu nggak bisa karena nggak ada yang nemenin.” Katanya.
“ Sekarang kan udah saya temenin.” Katanya.
“ Iya makasih Dok, berkat Dokter saya bisa kesini.” Kataku berjalan disebelahnya.
Dia tersenyum kearahku aku membalas senyuman itu.
“ Masih ada yang lebih bagus. Ayo ikut saya!” katanya menarik tanganku.
Dia menarik tanganku dan berhenti tepat didepan hamparan bunga tulip. Aku tak bisa berhenti menatap bunganya sangat cantik sekali. Karena memiliki banyak warna dan semua bunga dirawat dengan baik.
“ Bagus kan Nay?” Tanyanya memandangku.
“ Iya bagus banget.” Jawabku tak henti mengagumi bunga tersebut.
“ Kamu tahu nggak disetiap warna dari bunga ini memiliki arti tersendiri.” Katanya memandang ke hamparan bunga tulip.
Aku mendongak kearahnya “ Kamu lihat bunga yang berwarna pink itu melambangkan kebahagiaan yang sempurna.” Katanya memandangku.
“ Maksudnya jika kita mau memberikan tulip itu pada seseorang berarti kita mengharapkan orang itu akan hidup dengan bahagia.” Katanya.
“ Kalo yang berwarna ungu itu artinya apa?” tanyaku.
“ Kalo yang ungu itu berarti kesetiaan maksudnya jika kita memberikan bunga itu pada pasangan kita itu berarti kita mengatakan akan selalu setia padanya .” katanya.
“ Kamu mau tahu bunga warna apa yang akan saya kasih ke kamu?” katanya.
Aku memandangnya “ Warna putih?” kataku.
“ Warna merah.” Katanya.
“ Kalo gitu warna putihnya buat Dokter aja.” Kataku dia hanya tersenyum.
“ Tapi kenapa warna merah?” tanyaku.
“ Karena itu melambangkan kasih sayang.” Katanya.
Aku memandangnya dengan tatapan kaget sekaligus bingung “ Sebenarnya ini yang mau saya sampaikan ke kamu Nay.” Katanya dengan tiba-tiba memegang kedua tanganku.
Aku hanya berdiri terpaku memandangnya “ Saya mau melamar kamu Nay.” Katanya.
Aku diam tak menjawab “ Saya ingin menghabiskan sisa hidup saya bersama kamu.” Katanya.
Aku masih tetap diam memandangnya “ Nay, kenapa diam aja?” tanyanya.
“ Soalnya saya bingung mau jawab apa.” Kataku.
“ Nggak usah bingung Nay tinggal jawab ya atau tidak.” Katanya sedikit tertawa.
“ Tapi kenapa saya Dok?” tanyaku.
Dia menarik nafas sebentar “ Karena setiap apa yang saya lakukan setiap saya sujud dan berdoa selalu kamu yang ada dipikiran saya.” Katanya.
Aku hampir saja menangis saat aku melihat ke matanya. Terlihat kesungguhan didalamnya kesungguhan yang tulus untukku hingga aku menangis saat menatapnya.
“ Kok nangis sih Nay?” katanya mengusap air mataku.
“ Nggak nggak papa kok. Aku cuma terharu aja nggak nyangka kalo Dokter bisa romantis juga.” Kataku tersenyum dan mengusap air mataku.
Dia ikut tersenyum kepadaku “ Jadi gimana Nay?” tanyanya.
Aku diam sejenak menarik nafas dan mengangguk “ Iya saya mau.” Kataku tersenyum.
“ Kamu serius Nay?” tanyanya memastikan.
Aku mengangguk dan dia langsung memelukku. Aku membalas pelukannya. Dia terus memelukku bahkan semakin erat hingga aku merasa sesak.
“ Dok, saya nggak bisa nafas.” Kataku.
Dia melepaskan pelukannya “ Maaf Nay.” Katanya.
__ADS_1
Aku tersenyum dia mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. Sebuah kotak kecil saat dibuka ternyata sebuah cincin. Aku terkejut melihatnya lalu tersenyum.
“ Mana tangan kamu.” Katanya.
Aku langsung mengulurkan tanganku dan dia memasangkan cincin itu dijari manisku. Aku memandang cincin yang ada dijariku sangat manis sekali, cincinnya juga pas dijariku. Aku tersenyum lalu memeluknya dia tampak terkejut karena tiba-tiba aku memeluknya. Namun dia membalas pelukanku.
“ Makasih Dok.” Kataku berbisik di telinganya.
“ Sama-sama.” Katanya memelukku lebih erat.
“ Kamu mau tahu nggak apa arti tulip warna putih?” tanyanya.
Kulepaskan pelukannya “ Apa?” tanyaku.
“ Permintaan maaf.” Katanya.
Aku langsung terkejut “ Serius Dok?” tanyaku tak percaya.
Dia mengangguk sambil tersenyum. Aku sama sekali tidak menyangka kalo ternyata itu arti dari bunga itu.
“ Udah nggak usah dipikirin kita pulang yuk malam.” Ajaknya.
Aku mengangguk kami berjalan sampai tempat parkir setelah masuk kami segera pergi meninggalkan tempat itu. Jalanan tidak terlalu ramai seperti tadi waktu kami berangkat . Jadi kami bisa pulang lebih cepat.
Tiba-tiba terdengar bunyi sesuatu dan itu berasal dari perutku. Aku sampai lupa dari tadi aku belum makan.
“ Kamu laper Nay?” tanyanya.
Aku mengangguk “ Yaudah kita cari makan dulu aja ya?” tanyanya.
“ Iya.” Kataku.
Mobil melaju menuju sebuah restoran. Setelah memarkir mobil kami segera masuk. Saat kami duduk pramusaji mendekat kearah kami . Setelah mencatat makanan yang kami pesan dia langsung pergi. Beberapa menit kemudian makanan kami sudah datang.
“ Akhirnya datang juga.” Kataku senang.
“ Silahkan dinikmati.” Kata pramusaji tersebut lalu pergi.
Aku langsung melahap makananku “ Pelan-pelan kalo makan Nay.” Katanya.
“ Iya, kamu beneran nggak mau makan?” tanyaku.
“ Nggak.” Katanya menyeruput kopinya.
“ Beneran nyesel lho kamu enak banget nasi gorengnya.” Kataku.
“ Nggak kamu aja aku udah kenyang.” Katanya.
“ Kenyang apanya orang dari tadi nggak makan apa-apa.” Kataku.
“ Ini coba makan dikit.” Kataku menyendokkan nasi goreng padanya.
“ Nggak usah kamu aja yang makan.” Katanya menolak.
“ Coba aja dikit enak lho.” Kataku.
“ Nggak usah Nay.” Katanya.
“ Nggak boleh nolak. Cepetan aku suapin!” kataku.
Dia memandang kearahku dan akhirnya mau membuka mulutnya “ Enak kan?” kataku.
Dia mengangguk “ Iya enak.” Katanya.
“ Dibilang juga apa enakkan nasi gorengnya sekarang coba sekali lagi.” Kataku menyendok nasi goreng lagi.
“ Udah Nay.” Katanya.
“ Nggak pokoknya dimakan kalo nggak aku marah nih.” Ancamku.
“ Emang kamu bisa marah?” katanya meremehkanku.
“ Bisa siapa bilang nggak bisa.” Kataku meletakan sendok makanku dan diam menatapnya.
Dia bukannya takut malah balas menatapku sambil tersenyum. Tiba-tiba dia mencubit hidungku
“ Aw! Sakit tahu.” Kataku.
“ Kamu nggak cocok kalo lagi marah.” Katanya.
“ Makanya makan ya satu sendok aja.” Kataku.
Dia mengangguk dan aku langsung menyuapinya. Setelah selesai makan kami langsung pulang ke rumah. Setelah sampai dirumah aku langsung masuk kedalam begitu dia pergi.
“ Kok jam segini baru pulang?” tanya Kak Alex.
“ Apaan sih Kak orang baru jam 8 kok.” Kataku.
“ Jam 8 itu udah malam adikku sayang.” Katanya.
“ Iya, maaf tadi mampir makan dulu.” Kataku.
__ADS_1
“ Terus mana makanannya kok kakak nggak dibeliin?” tanya.
“ Ih beli aja sendiri. Udah ah aku mau shalat dulu Bye.” Kataku berlari menuju kamar.