
Aku terbangun saat azan subuh. Aku bergegas menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu dan segera shalat. Setelah shalat aku segera menyiapkan untuk keperluanku dikampus nanti. Semalam aku tidak jadi menyiapkannya karena aku langsung tidur.
Setelah keperluanku sudah siap aku langsung pergi ke dapur. Aku ingin membuatkan nasi goreng untuk Hanabi karena kemarin aku lihat dia sangat suka dengan nasi goreng buatanku.
Aku segera menyiapkan bahan-bahan yang aku perlukan. Dan aku langsung mulai memasak. Aku memasak sangat banyak karena semakin untuk sarapan nanti. Setelah nasi goreng sudah siap aku langsung menggoreng telur. Semua sudah siap aku letakan diatas meja makan.
Kemudian aku kembali ke dapur. Aku masukan nasi goreng untuk Hanabi kedalam tempat makanku dan menghiasnya. Aku tambahkan beberapa lauk dan sayuran disana. Setelah selesai aku langsung kembali kemeja makan.
Bunda berjalan menuruni tangga menuju meja makan. Disusul Kak Alex yang ada dibelakangnya. Bunda mendekatiku sedangkan Kak Alex langsung duduk di kursinya.
“ Kamu yang masak semua?” tanya Bunda.
“ Iya Bun.” Kataku.
“ Kesambet apa kamu Nay pagi-pagi mau masak?” tanya Kak Alex.
“ Apaan sih Kak.” Kataku sebal memang sih aku biasanya tidak mau kalo diminta masak pagi-pagi karena kan aku harus berangkat kuliah. Tapi untuk hari ini berbeda untuk Hanabi aku nggak masalah kalo harus masak pagi hari.
Aku segera duduk ditempatku begitu pun Bunda juga duduk ditempatnya. Aku letakan bekal untuk Hanabi disampingku. Aku mengambil piring dan segera mengambil nasi goreng dan telur. Aku segera menyantapnya.
Tiba-tiba ponselku berbunyi sebuah pesan dari Dokter Alam.
Mas Alam.
Nay, aku udah didepan.
Aku segera menghabiskan makananku dan berlari menuju kamar untuk mengambil tasku.
“ Bun, Nayla berangkat dulu.” Kataku menyalaminya.
“ Berangkat dulu Kak.” Kataku juga menyalami tangannya.
Aku langsung keluar menuju mobil Dokter Alam.
“ Maaf mas, lama.” Kataku.
“ Nggak papa udah semua barang kamu nggak ada yang ketinggalan ?” tanyaku.
“ Nggak ada.” Kataku.
Tiba-tiba seseorang memelukku dari belakang “ Selamat pagi Kak Nayla.” Sapa Hanabi padaku.
“ Pagi sayang, kamu dari tadi disitu?” kataku mengelus pipinya.
Dia sudah sangat rapi dan cantik dengan menggunakan seragam sekolahnya dan sepatu hitam. Yang membuatnya cantik rambutnya dikucir dua. Wajahnya jadi tambah lucu kira-kira siapa yang mengucirnya kan bibi lagi pulang kampung. Apa Dokter Alam yang mengucirnya?
Aku menatapnya sambil tersenyum “ Kamu kenapa Nay?” tanyanya bingung.
“ Nggak papa.” Kataku sambil mencari bekal Hanabi yang ku buat tadi. Tapi aku tidak menemukannya pasti ketinggalan didalam.
“ Kita berangkat sekarang ya?” tanyanya.
“ Bentar mas ada yang ketinggalan.” Kataku menghentikannya dan langsung berlari keluar.
Aku kembali masuk kedalam rumah. Aku berlari menuju meja makan. Meja makan sudah sepi hanya ada Bunda yang sedang membereskan meja makan. Mungkin Kak Alex sedang ada dikamar untuk bersiap-sial berangkat kerja.
Aku melihat tempat makanku masih ada diatas meja. Dengan segera aku langsung mengambilnya.
“ Nay, kok balik lagi kenapa?” tanya Bunda.
__ADS_1
“ Ini Bun ketinggalan.” Kataku menunjukkan tempat makanku.
“ Oh kirain kenapa.” Kata Bunda.
“ Nggak papa kok Bun, Nayla berangkat dulu assalamualaikum.” Kataku berjalan keluar.
“ Walaikumsalam.” Jawab Bunda.
Aku berjalan menuju mobil dan langsung masuk kedalam.
“ Ayo mas jalan.” Kataku.
Dokter Alam langsung melajukan mobilnya meninggalkan rumahku.
“ Apa yang ketinggalan Nay?” tanya Dokter Alam.
“ Ini.” Kataku menunjukkan tempat makanku.
“ Itu apa Nay?” tanya Dokter Alam.
“ Ini bekal.” Kataku.
“ Kamu ke kampus bawa bekal?’ tanyanya.
“ Bukan buat aku buat Hanabi.” Kataku.
“ Buat Hana Kak?” katanya dari belakang.
“ Iya ini buat kamu makan disekolah.” Kataku menyerahkannya pada Hanabi.
Dengan senang hati Hanabi menerimanya dan langsung membukanya “ Nasi goleng.” Katanya.
Aku mengangguk “ Iya kamu suka kan?” tanyaku.
Aku memang sengaja membentuknya seperti kucing agar terlihat lebih imut. Aku melihat itu dari YouTube katanya anak-anak akan lebih senang kalo makanan mereka berbentuk sesuatu yang lucu.
“ Kak Alam lihat deh bentuknya kayak kucing.” Katanya menunjukkan belak itu pada Kakaknya.
“ Iya bentuknya lucu.” Katanya yang membuat Hanabi senang.
Hanabi terus menatap bekalnya sambil tersenyum. Aku senang melihatnya sedangkan Dokter Alam terus menatapku sambil sesekali menatap ke depan.
“ Mas, kalo lagi nyetir lihat ke depan.” Kataku yang masih menatap Hanabi.
“ Iya.” Katanya kembali fokus ke depan.
“ Hana bekalnya masukin dalam tas nanti waktu istirahat kamu makan ya.” Kataku.
“ Iya Kak.” Katanya mengambil tasnya dan memasukkan kotak makan itu kedalam tasnya.
Aku kembali menghadap ke depan dan Hanabi melanjutkan membaca buku cerita yang dia bawa tadi. Yah walaupun dia belum begitu lancar membaca.
Kami berhenti didepan gedung sekolah Hanabi. Dokter Alam langsung keluar untuk mengantarkan Hanabi masuk kedalam. Aku hanya menunggu didalam mobil. Beberapa menit kemudian dia kembali masuk kedalam mobil.
“ Udah mas?” tanyaku.
Dia mengangguk lalu menggunakan sabuk pengamannya dan segera meninggalkan sekolah Hanabi. Mobil menembus jalanan yang lumayan ramai. Maklum ini pagi hari banyak orang yang berangkat sekolah ataupun berangkat kerja.
“ Mas, memangnya kamu nggak telat tiap hari harus nganter aku dan Hana?” tanyaku.
__ADS_1
“ Nggak tenang aja.” Katanya.
“ Nanti kalo Hana pulang yang jemput siapa?” tanyaku.
“ Nanti aku yang jemput.” Katanya.
“ Kamu nggak kerja?” tanyaku.
“ Kerja, kamu tenang aja semua jadwalku sudah aku atur jadi aku masih bisa antar jemput Hanabi.” Katanya.
Aku hanya mengangguk. Dokter Alam terus melakukan mobilnya menuju kampusku. Beberapa menit kemudian kami sampai didepan kampus. Dari dalam mobil aku bisa melihat Neta yang juga baru turun dari mobilnya.
Aku langsung membuka kaca mobil untuk memanggilnya.
“ Neta.” Panggilku.
Dia berusaha mencari asal suara. Aku melambaikan tangan kepadanya dan dia balas melambai.
“ Tungguin.” Kataku.
“ Cepetan.” Teriaknya.
Aku langsung membereskan barang-barangku “ Mas aku masuk dulu ya?” kataku.
“ Iya hati-hati.” Katanya.
Aku berlari kearah Neta “ Kamu dianter siapa sih Nay?” tanyanya.
“ Sama Dokter Alam tuh masih orangnya.” Kataku sambil melambaikan tangan padanya yang masih didalam mobil.
Neta yang melihat itu langsung menundukkan kepala tanda memberi hormat pada Dokter Alam. Dokter Alam membalasnya dengan senyuman lalu pergi meninggalkan halaman kampus.
“ Ayo Net.” Kataku mengajaknya masuk.
Dia mengangguk dan berjalan disampingku.
“ Lo enak ya Nay ?” katanya tiba-tiba.
“ Enak apanya?” tanyaku.
“ Yah enak tiap hari dianter terus sama Dokter Alam.” Katanya.
Aku hanya tersenyum “ Sedangkan gue selalu berangkat sendiri sekalinya dianter yang nganter sopir gue. ” Katanya.
“ Sabar Net, Lo minta David anterin dong. ” Katanya.
“ Dia mana bisa nganter gue pagi-pagi begini? Dia itu kalo pagi harus langsung ke kafenya maklum bos yang rajin tiap hari di kafe terus.” Katanya.
Aku tertawa mendengar perkataannya. Pacar Neta itu seorang pengusaha Kafe. Dan dia itu orangnya sangat rajin ke kafe hampir tiap hari dia di kafe terus .
“ David kenapa sih Lo sibuk terus?” teriaknya.
Semua mata langsung menatap kearah kami. Aku langsung menyenggol tangannya dengan kasar.
“ Kenapa sih Nay?” tanyanya.
“ Jangan teriak-teriak malu dilihatin orang.” Kataku.
Neta menatap sekitar kami “ Iya maaf soalnya gue sebel banget sama David.” Katanya.
__ADS_1
“ Sabar aja Net ayo buruan masuk keburu Dokter Willy dateng.” Kataku menarik tangannya agar segera masuk ke kelas.
Kami masuk kedalam kelas beberapa menit kemudian Dokter Willy masuk kedalam kelas.