
Neta dan Dokter Rudi sedang duduk di taman. Neta memandang lurus ke depan dengan tatapan kosong. Dia kembali teringat dengan apa yang dilakukan David padanya. Dan itu membuat Neta kembali meneteskan air mata.
“Neta, kok kamu nangis lagi?” tanya Dokter Rudi.
Air mata Neta terus mengalir. “Kenapa sih cowok itu nyebelin? Nggak pernah ngertiin perasaan perempuan,” kata Neta pada Dokter Rudi.
“Nggak semua laki-laki seperti itu,” kata Dokter Rudi.
“Dokter Rudi bohong sama saya, buktinya kenapa saya berulang kali disakitin terus sama cowok dulu Sandi selingkuh dari saya dan sekarang David dia juga selingkuh dari saya, Sebenernya apa sih salah saya kenapa semua cowok yang saya suka selalu selingkuh dibelakang saya?” tanya Neta pada Dokter Rudi.
“Kamu nggak salah tapi mereka yang salah. Mereka tidak pernah bersyukur dengan apa yang mereka miliki orang seperti itu juga nggak pantes buat dapetin kamu,” kata Dokter Rudi.
Neta menatap Dokter Rudi. “Kamu orang yang baik sudah sepantasnya kamu mendapat laki-laki yang baik juga, bukan seperti mereka.” Kata Dokter Rudi juga menatap Neta.
“Dokter....” kata Neta kembali menangis.
Dokter Rudi tersenyum padanya. “Boleh saya pinjem bahunya?” tanya Neta dan langsung menyandarkan kepalanya di bahu Dokter Rudi.
Dia terus menangis di bahu Dokter Rudi. Dokter Rudi menepuk-nepuk pundaknya agar lebih tenang.
“Sudah, nggak perlu kamu tangisi lagi mereka nggak pantes buat kamu tangisi.” Kata Dokter Rudi menghapus air mata Neta.
“Dokter baik banget sama saya padahal saya udah bikin Dokter kesel.” Kata Neta teringat pada apa yang dia lakukan selama ini.
“Sudah nggak usah dibahas lagi soal itu,” kata Dokter Rudi.
“Saya minta maaf Dok,” kata Neta.
“Iya, saya sudah maafin kok kamu nggak usah pikirin lagi soal itu,” kata Dokter Rudi.
Neta mengangkat kepalanya dari bahu Dokter Rudi. Dia melihat baju Dokter Rudi yang basah karena air matanya.
“Dok, maaf gara-gara saya nangis terus baju Dokter jadi basah,” kata Neta.
“Nggak papa, yang penting sekarang kamu lebih tenang soal baju saya punya baju ganti kok di mobil,” kata Dokter Rudi.
“Sekali lagi maaf dok,” kata Neta.
“Iya nggak papa, Yaudah sekarang kamu saya anter pulang?” tanya Dokter Rudi.
“Sebenernya saya nggak mau pulang Dok, saya nggak mau kalo ketemu David,” kata Neta.
“Neta, kamu nggak boleh menghindar terus dari dia kamu harus hadapi dia, Bukti in kalo kamu itu bukan cewek lemah yang setelah putus langsung nangis,” kata Dokter Rudi.
“Dokter ngejek saya ya?” tanya Neta.
“Bukan seperti itu maksud saya,” kata Dokter Rudi.
“Saya paham kok dok, makasih buat semangatnya.” Kata Neta.
Neta berdiri menghadap Dokter Rudi.
__ADS_1
“Pokoknya mulai hari ini nggak ada yang namanya nangis karena cowok, perempuan harus kuat nggak boleh lemah kasihan dong ibu kita Kartini yang sudah berjuang untuk emansipasi wanita, Pokoknya nggak boleh lemah, Merdeka!” kata Neta sambil mengangkat tangannya.
Dokter Rudi tersenyum melihat tingkah Neta. Dokter Rudi berdiri. “Merdeka!” kata Dokter Rudi ikut mengangkat tangannya.
Mereka saling tertawa menertawakan tingkah mereka sendiri. Neta sudah lebih tenang dari yang tadi. Tidak tahu kenapa kalo dia bersama Dokter Rudi dia jadi lebih tenang.
“Yaudah, ayo! Saya antar kamu pulang.” Kata Dokter Rudi.
Neta mengangguk dan mengikuti Dokter Rudi menuju mobilnya. Dokter Rudi langsung melakukan mobilnya menuju rumah Neta. Tak berapa lama mereka sudah sampai didepan rumah Neta. Mereka berdua langsung turun dari mobil.
“Nggak mau masuk dulu dok?” tanya Neta.
“Nggak usah lain kali aja,” tolaknya.
“Oh yaudah saya masuk dulu,” kata Neta.
“Iya, inget jangan nangis lagi,” kata Dokter Rudi.
Neta tersenyum. “Iya, saya nggak akan nangis lagi,” katanya.
“Saya masuk ya Dok?” pamit Neta.
Dokter Rudi mengangguk. Neta berjalan pelan menuju rumahnya sambil berbalik badan untuk melihat Dokter Rudi. Dia melambaikan tangan pada Dokter Rudi dan Dokter Rudi membalasnya sambil tersenyum.
Neta kembali melangkah menuju rumahnya. Tiba-tiba di berhenti dan berbalik mendekati Dokter Rudi.
“Kok balik lagi?” tanya Dokter Rudi.
Dokter Rudi menepuk punggung Neta. “Iya sama-sama.”
Saat sedang berpelukan tiba-tiba ada seseorang yang memanggil Neta. Neta langsung melepas pelukannya dan langsung melihat kearah orang yang memanggilnya ternyata itu David. Dia berjalan mendekat dan langsung melayangkan tinjunya pada Dokter Rudi.
Neta kaget dan langsung membantu Dokter Rudi yang jatuh tersungkur. “Apa-apaan sih kamu?” tanya Neta.
“Kamu yang apa-apaan pelukan sama cowok lain aku ini pacar kamu Net,” kata David marah.
“Pacar?” kata Neta tertawa.
“Kenapa kamu ketawa?” tanya David.
“Aku heran aja sama kamu, setelah apa yang kamu lakuin sama Angel dibelakang aku kamu masih bisa bilang pacar aku?” tanya Neta.
David diam tidak bersuara. “Kenapa sekarang kamu diem aja? Bingung nggak bisa jawab?” tanah Neta.
“Itu semua salah paham, Net.” Kata David.
“Salah paham ya?” tanya Neta dengan senyuman mengejek.
“Iya semua itu salah paham Neta,” kata David
“Neta aku mohon kamu percaya sama aku,” kata David sambil menggenggam tangan Neta.
__ADS_1
“Salah paham apanya? Kamu pikir aku orang bodoh yang bisa kamu bohongi terus? Sudah jelas-jelas aku lihat kamu berdua sama Angel.” Kata Neta.
“Aku bisa jelasin semuanya,” kata David.
“Nggak perlu kamu jelasin lagi ini semua udah jelas, mulai sekarang kita putus dan jangan ganggu hidup aku lagi.” Kata Neta mendekati Dokter Rudi.
“Ayo! Dok saya obati luka dokter dulu.” Kata Neta membawa Dokter Rudi masuk kedalam rumahnya meninggalkan David.
“Apa gara-gara cowok itu kamu jadi kayak gini sama aku?” teriak David.
Neta berhenti melangkah berbalik kearah David. “Apa baiknya dia sampai kamu lebih milih dia dibanding aku? Palingan Cuma cowok yang nggak berguna” tanya David.
Neta sudah tidak bisa menahan lagi dia langsung menampar David. Dia tampak kaget tiba-tiba mendapat tamparan dari Neta.
“Itu buat kamu yang udah selingkuhi aku.” kata Neta dan kembali melayangkan tamparannya yang kedua ke pipi David yang satunya.
“Dan itu buat kamu karena kamu udah hina Dokter Rudi.” Kata Neta langsung pergi.
David masih tidak percaya pada apa yang dilakukan Neta. Setahunya Neta adalah orang yang sangat baik dia tidak pernah marah pada apapun yang telah dia lakukan.
Neta berbalik badan. “Oh iya ada yang lupa, jangan pernah kamu banding-banding in kamu sama Dokter Rudi, karena kalian berdua itu nggak sebanding Dokter Rudi jauh lebih baik dari pada kamu.” Kata Neta langsung membawa Dokter Rudi masuk.
Neta mendudukkan Dokter Rudi untuk duduk diruang tamu. Dia langsung menuju dapur untuk mengambil baskom, air es dan handuk untuk mengompres luka Dokter Rudi. Setelah itu dia langsung kembali keruang tamu.
Neta duduk menghadap Dokter Rudi. “Dok biar saya kompres lukanya.” Kata Neta memegang wajah Dokter Rudi.
Dokter Rudi meringis kesakitan. Neta menjadi kasihan pada Dokter Rudi karena dia Dokter Rudi jadi seperti ini.
“Dok, maafin saya ya gara-gara saya Dokter jadi seperti ini,” kata Neta.
“Nggak papa,” jawab Dokter Rudi.
“Tapi saya masih merasa bersalah Dok,” kata Neta.
“Udah saya nggak papa kok,” kata Dokter Rudi.
Neta diam sambil terus mengompres lupa Dokter Rudi.
“Oh iya tadi itu kamu keren banget udah kayak super Hero.” Kata Dokter Rudi mencoba menghibur Neta.
“Apaan sih Dok?” kata Neta tersenyum.
“Beneran saya nggak bohong, kamu lihat kan tadi David aja sampai diem aja nggak berani ngomong.” Kata Dokter Rudi tertawa.
Neta ikut tertawa. “Neta kamu nggak perlu sedih lagi karena saya janji saya akan selalu jagain kamu agar kamu bisa tetap tersenyum seperti ini.” Kata Dokter Rudi sambil menggenggam tangan Neta.
Neta langsung memeluk Dokter Rudi. “Makasih dok,” jawab Neta.
Dokter Rudi balas memeluknya.
***
__ADS_1