
Neta sedang duduk didalam kelas menunggu Nayla datang. Tapi sampai kelas selesai Nayla belum datang juga. Neta berjalan menuju keluar gerbang sambil terus mencoba menelepon Nayla tapi tidak diangkat.
“ Lo kemana sih Nay kok nggak angkat telepon gue?” katanya masih terus menelepon ponsel Nayla.
Dia mencoba untuk mengirim pesan ke Nayla. Saat sedang fokus pada ponselnya tak sengaja dia menabrak Dokter Rudi yang sedang berjalan didepannya hingga dia terjatuh.
“ Aduh kalo jalan tuh yang bener.” Marahnya.
Dokter Rudi berbalik badan menghadap Neta “ Siapa yang jalannya nggak bener?” tanyanya.
Neta hanya menunduk “ Maaf dok saya yang salah.” Katanya yang masih terduduk dilantai.
Dokter Rudi mengulurkan tangannya “ Ayo bangun.” Katanya.
Neta menatap tangan dan wajah Dokter Rudi secara bergantian “ Kok malah ngelihatin saya mau dibantuin nggak?” tanyanya.
Neta langsung mengulurkan tangannya. Dia berdiri merapikan pakaiannya “ Galak amat.” Katanya.
“ Apa?” tanya Dokter Rudi.
“ Nggak papa dok saya Cuma mau bilang makasih.” Katanya Neta menarik nafas lega untung Dokter Rudi tidak mendengar apa yang dia katakan tadi.
“ Lain kali kalo jalan hati-hati.” Kata Dokter Rudi.
“ Iya dok.” Kata Neta.
“ Oh iya temen kamu dirumah sakit kok kamu malah disini?” tanyanya.
“ Temen saya?” tanyanya bingung.
“ Iya si Nayla.” Katanya.
“ Hah! Nayla?” katanya berteriak .
Dokter Rudi menutup telinganya “ Nayla sakit apa dok?” tanyanya.
“ Dia ditabrak motor.” Katanya.
“ Hah! Ditabrak?” teriaknya lagi.
Dokter Rudi menutup telinganya lagi “ Kalo kamu teriak terus saya suruh kamu lari lapangan 50 kali.” katanya.
Neta langsung menutup mulutnya dengan tangan sambil menggelengkan kepala.
“ Nayla sekarang ada dirumah sakit Pelita. Kamu mau kesana kalo gitu bareng saya aja soalnya saya juga mau kesana?” tanyanya.
Neta masih menutup mulutnya dan hanya menatap Dokter Rudi.
“ Kalo ditanya itu jawab.” katanya.
“ Katanya tadi saya nggak boleh ngomong.” Kata Neta pelan.
“ Siapa yang bilang kamu nggak boleh ngomong?” tanyanya.
“ Tadi Dokter yang bilang.” Katanya.
“ Saya bilang kamu nggak boleh teriak bukannya nggak boleh ngomong makanya kalo orang lagi ngomong itu didengerin.” Katanya.
“ Iya maaf.” Katanya.
“ Jadi gimana kamu mau ikut nggak kalo nggak saya tinggal nih?” Katanya.
“ Iya dok saya ikut.” Katanya.
“ Yaudah ayo ke mobil saya.” Katanya.
Neta berjalan mengikuti Dokter Rudi menuju tempat parkir. Begitu sampai didepan mobilnya Dokter Rudi langsung membukakan pintu untuk Neta.
“ Masuk.” Kata Dokter Rudi.
“ Makasih.” Kata Neta langsung masuk kedalam.
Dokter Rudi berputar dan duduk didepan kemudi. Dia menggunakan sabuk pengaman. Dia diam menatap kearah Neta dan itu membuat Neta jadi salah tingkah.
“ Kenapa Dok?” tanya Neta.
“ Kamu mau mati?” tanya Dokter Alam.
“ Haaa...” katanya tak menyala kalo Dokter Rudi akan mengatakan itu.
“ Itu.” Katanya menatap kearah sabuk pengaman tapi sepertinya Neta tidak tahu apa yang dimaksud Dokter Rudi. Dokter Rudi mendekat kearah Neta dan meraih sabuk pengaman yang ada disampingnya. Neta tak bergerak sama sekali karena tak tahu harus bagaimana.
Setelah selesai memakaikan sabuk pengaman pada tubuh Neta. Dokter Rudi melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Selama didalam mobil tidak ada pembicaraan diantara mereka. 30 menit kemudian mereka sudah sampai ditempat parkir rumah sakit.
Dokter Rudi bersiap untuk keluar dari mobil. Tapi dia mengurungkan niatnya menatap Neta yang terdiam sambil memegang tali sabuk pengaman.
“ Kamu nggak mau turun?” tanya Dokter Rudi.
“ Udah sampai ya?” tanya Neta.
Dia langsung melepaskan sabuk pengaman yang ada pada tubuhnya dan segera keluar. Dokter Rudi langsung keluar dari mobilnya. Mereka berjalan beriringan menuju tempat Nayla.
***
Nayla membuka matanya dia melihat Dokter Alam yang tertidur disampingnya sambil memegang tangannya. Dia tersenyum dan menyentuh kepala Dokter Alam. Dan sepertinya itu membuatnya terbangun.
“ Kamu udah bangun Nay?” Kata Dokter Alam.
Aku menganggukkan kepala “ Kamu mau apa benar aku ambilin?” tanya Dokter Alam.
Aku menggelengkan kepala “ Apa ada yang sakit biar aku panggilan Dokter?” kata Dokter Alam mau keluar ruangan Nayla memegang tangannya.
“ Kenapa Nay?” tanya Dokter Alam.
“ Nggak usah mas aku baik-baik aja.” Kataku .
“ Beneran?” tanya Dokter Alam memastikan.
Aku mengangguk “ Gimana keadaan Hanabi?” Tanyaku.
“ Dia baik-baik aja.” Kata Dokter Alam.
“ Alhamdulillah kalo gitu.” Kataku.
“ Iya Nay udah kamu nggak usah mikirin itu lagi kamu istirahat aja biar cepet sembuh.” Kata Dokter Alam.
Aku mengangguk tiba-tiba ponsel Dokter Alam berbunyi dia langsung mengangkatnya.
“ Assalamualaikum.” Kata Dokter Alam.
“ Gue ada diruang UGD nih tapi Nayla nya nggak ada apa Nayla udah pindah ruangan ya?” tanya Dokter Rudi.
“ Iya kemarin malam dia dipindah kerang rawat jalan.” Kata Dokter Alam.
__ADS_1
“ Ruang apa Lam gue aku kesana?” tanya Dokter Rudi.
“ Mawar 06.” Kata Dokter Alam.
“ Oke gue kesana sekarang.” Kata Dokter Rudi.
Dokter Alam meletakan ponselnya diatas meja dan kembali memegang tangan Nayla.
“ Siapa mas?” tanyaku.
“ Si Rudi.” Kata Dokter Alam.
“ Dokter Rudi mau kesini?” tanyaku.
“ Iya.” Kata Dokter Alam.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan seseorang langsung masuk dan berteriak memanggil Nayla dan memeluknya.
“ Nayla.” Teriak Neta memeluk Nayla Dokter Rudi berjalan mendekat kearah Dokter Alam.
“ Ya Allah Nay Lo kok bisa sampai kayak gini sih?” tanyanya.
“ Terus kepala Lo kenapa kok diperban segala Lo nggak Gagat otak atau hilang ingatan kan?” Tanyanya.
“ Lo masih inget gue kan Nay?” tanyanya.
“ Nay jawab dong kok Lo diem aja sih?” tanyanya.
Dokter Alam dan Dokter Rudi hanya geleng-geleng melihat tingkah Neta.
“ Gimana gue mau jawab dari tadi Lo ngomong terus.” Kataku.
“ Iya kalo kamu banyak omong Nayla malah tambah sakit nanti.” Kata Dokter Rudi.
Aku dan Dokter Alam hanya tersenyum melihat ekspresi Neta yang sudah mulai berubah.
“ Iya maaf.” Kata Neta langsung terdiam.
“ Kalian kok bisa bareng sih?” Tanya Dokter Alam.
“ Iya tadi waktu dikampus aku kasih tahu dia kali Nayla dirumah sakit jadi aku tawari sekalian aja bareng kesini.” Kata Dokter Rudi.
“ Oh.” Kata Dokter Alam.
“ Nay kalo gitu kita berdua keluar dulu ya biar kalian bisa ngobrol.” Kata Dokter Alam.
Mereka berdua keluar dari kamar Nayla. Neta langsung menutup pintunya dan berlari duduk disamping Nayla.
“ Nay Lo tahu nggak Dokter Rudi itu orangnya nyebelin banget ya.” Kata Neta.
“ Nyebelin gimana?” Tanyaku.
“ Masak tadi waktu dia kasih tahu gue kalo Lo dirumah sakit kan gue teriak eh malah dimarahin malah gue sampai mau disuruh lari lapangan 50 kali.” Kata Neta.
“ Lagian Lo hobinya teriak-teriak sih.” Kataku.
“ Nay gue teriak karena gue kaget denger Lo masuk rumah sakit. gue itu khawatir sama Lo gue telepon nggak diangkat gue kirim pesan juga nggak dibales. Coba Lo bayangin gimana stresnya gue mikirin Lo.” Katanya.
“ Iya gue tahu Lo khawatir sama gue.” Kataku.
“ Makanya wajar kan kalo gue teriak-teriak cuma tuh Dokter aja yang nggak pengertian.” Katanya.
“ Dokter siapa?” tanyaku.
“ Jangan ngomong gitu Net ntar Lo suka sama Dokter Rudi baru tahu rasa.” Kataku menggodanya.
“ Gue suka sama Dokter Rudi?” tanyanya.
Aku mengangguk “ Ya nggak mungkinlah Nay gue itu udah punya si David yah biarpun dia nyebelin selalu milih kafe dari pada gue tapi gue tetep cinta dan sayang sama dia.” Kataku.
“ Iya iya terserah kamu.” Kataku.
Disisi lain Dokter Alam dan Dokter Rudi sedang duduk dikantin rumah sakit. Mereka mengobrol sambil meminum secangkir kopi.
“ Lo kenapa Rud kusut banget wajah Lo ?” tanya Dokter Alam.
“ Nggak papa.” Kata Dokter Rudi.
“ Lo lagi mikirin Neta ya?” Tanya Dokter Alam.
“ Neta siapa?” tanya Dokter Rudi.
“ Temen Nayla.” Kata Dokter Alam.
“ Jadi tuh cewek namanya Neta.” Kata Dokter Rudi.
“ Iya, Lo suka kan sama dia?” tanya Dokter Alam.
“ Gue suka sama bocah kayak dia nggak akan pernah. Cewek pecicilan kayak gitu nggak mungkin gue suka sama dia.” Kata Dokter Rudi.
“ Bagus deh kalo Lo nggak suka sama dia.” Kata Dokter Alam.
“ Memangnya kenapa?” Tanya Dokter Rudi sambil menyeruput kopinya.
“ Soalnya dia udah punya cowok.” Kata Dokter Alam.
Dokter Rudi langsung menyemburkan kopi yang ada di mulutnya “ Rud apa-apaan sih Lo? Basah nih baju gue.” Kata Dokter Alam.
“ Dia udah punya cowok?” tanya Dokter Rudi.
“ Iya.” Jawab Dokter Alam sambil membersihkan bajunya yang kena semburan kopi.
“ Oooo.” Kata Dokter Rudi.
“ Kenapa Lo cemburu? gue kasih tahu ini biar Lo nggak perlu berharap sama dia.” Kata Dokter Alam.
“ Siapa yang cemburu udah berapa kali gue bilang sama Lo gue nggak ada niatan buat deketin tuh bocah.” Kata Dokter Rudi.
“ Iya iya balik ke kamar Nayla yuk baju gue kotor nih gara-gara Lo .” Kata Dokter Alam.
“ Ayo.” Kata Rudi.
Dokter Alam dan Dokter Rudi berjalan menuju kamar Nayla. Saat sampai depan pintu kamar tak sengaja mereka mendengar percakapan Nayla dan Neta. Mereka mengurungkan niat untuk masuk dan memilih untuk berdiri didepan pintu mendengarkan percakapan mereka.
“ Inget Net Lo punya David jangan sampai Lo suka sama Dokter Rudi.” Kata Nayla.
“ Ya ampun Nay gue udah bilang betapa kali kalo gue nggak suka sama si Dokter nyebelin itu.” Kata Neta.
“ Kan gue Cuma mau ngingetin Lo aja.” Kata Nayla.
“ Lo tenang aja hati gue ini Cuma ada David kok dan nggak akan tergantikan oleh siapa pun apalagi sama tuh Dokter nyebelin.” Kata Neta.
“ Iya gue percaya.” Kata Nayla.
__ADS_1
Dokter Rudi yang mendengar perkataan era wajahnya langsung berubah menjadi kesal. Dia langsung membuka pintu kamar Nayla dan itu membuat Nayla dan Neta kaget.
“ Nay saya mau pamit pulang dulu.” Kata Dokter Rudi.
“ Iya Dok makasih udah kesini.” Kata Nayla.
Dokter Rudi berjalan menuju pintu namun dia menghentikan langkahnya.
“ Kamu mau bareng saya nggak?” Kata Dokter Rudi pada Neta.
“ Eh iya dok.” Kata Neta langsung mengambil tasnya.
“ Nay aku pulang dulu ya cepet sembuh.” Kata Neta mencium pipi Nayla.
“ Iya Net hati-hati.” Kata Nayla.
“ Assalamualaikum.” Kata Neta sedangkan Dokter Rudi sudah keluar terlebih dahulu.
“ Walaikumsalam.” Jawab Dokter Alam dan Nayla bersamaan.
Neta segera menyusul Dokter Rudi yang sudah menunggu didepan.
“ Kamu ngapain aja sih lama banget.” Kata Dokter Rudi yang sedang kesal setelah mendengar perkataan Neta tadi.
“ Aku pamit dulu sama Nayla kok Dokter malah marah sama saya?” Tanya Neta.
“ Nggak saya nggak marah saya Cuma tanya.” Kata Dokter Rudi.
“ Tadi itu Dokter marah kalo gitu saya nggak jadi pulang bareng Dokter saya naik taksi aja.” Kata Neta berlalu meninggalkan Dokter Rudi.
Dokter Rudi berjalan mendekati Neta dia merasa bersalah dengan apa yang telah dia lakukan padanya. Seharusnya dia tidak perlu marah karena Neta mengatakan hal itu karena mereka tidak memiliki hubungan. Tapi dia merasa tidak senang mendengar Neta membandingkannya dengan kekasihnya.
“ Ikut saya.” Kata Dokter Rudi menarik tangan Neta menuju mobilnya.
Neta berusaha melepaskan tangannya tapi Dokter Rudi malah merangkul pundaknya. Neta masih berusaha melepaskan tangan Dokter Rudi pada pundaknya tapi tidak bisa.
Begitu sampai didepan mobil Dokter Rudi membukakan pintu untuk Neta. Tapi Neta tidak mau masuk kedalam mobil itu.
“ Masuk! aku yang akan anter kamu pulang.” Kata Dokter Rudi.
“ Nggak dok makasih saya mau pulang sendiri.” Kata Neta berjalan menjauh.
Tidak disangka Dokter Rudi mengejarnya dan menarik tangannya kembali ke mobilnya.
“ Saya sudah bilang saya yang anter kamu pulang.” Kata Dokter Rudi.
“ Nggak perlu saya bisa pulang sendiri.” Kata Neta melepaskan genggaman Dokter Rudi.
Dokter Rudi berdiri sambil terus menatap Neta. Begitu pun Neta dia juga menatap Dokter Rudi dengan tatapan kesal. Dokter Rudi mendekat dan langsung mengangkat tubuh Neta. Neta sangat terkejut dan terus berteriak meminta untuk diturunkan.
“ Dok turunin saya.” Kata Neta.
Dokter Rudi tidak menghiraukannya tetap melangkah menuju mobilnya.
“ Dok turunin saya .” Kata Neta sekali lagi.
“ Nggak.” Kata Dokter Rudi.
Neta yang kesal akhirnya hanya diam membiarkan tubuhnya digendong oleh Dokter Rudi. Saat didepan mobil Dokter Rudi menurunkan tubuh Neta.
“ Masuk.” Kata Dokter Rudi.
“ Nggak mau.” Kata Neta.
“ Kamu mau saya gendong lagi?” ancam Dokter Rudi.
Neta langsung melangkah masuk kedalam mobil. Dokter Rudi segera masuk kedalam mobil dan menggunakan sabuk pengaman. Neta hanya diam saja bahkan dia tidak mengenakan sabuk pengamannya.
“ Sabuknya dipakai.” Kata Dokter Rudi.
“ Nggak perlu.” Kata Neta dengan nada kesal.
“ Apa mau saya yang pakaikan?” ancam Dokter Rudi.
Neta langsung mengenakan sabuk pengamannya “ Udah puas.” Kata Neta.
Dokter Rudi melajukan mobilnya menuju jalanan “ Rumah kamu mana?” tanya Dokter Rudi.
“ Saya turun depan situ aja biar saya naik taksi.” Kata Neta.
“ Nggak kamu berangkat sama saya juga pulang harus saya.” Kata Dokter Rudi.
“ Kenapa Dokter kayak gini sih sama saya?” tanya Neta.
“ Saya kenapa ?” tanya Dokter Rudi.
“ Dokter dari tadi maksa-maksa saya terus. Saya ini sudah punya pacar Dokter nggak bisa seenaknya maksa-maksa saya.” Kata Neta.
“ Saya tahu kamu sudah punya pacar.” Kata Dokter Rudi.
“ Kalo Dokter tahu kenapa Dokter terus maksa-maksa saya?” Tanya Neta.
“ Saya Cuma nganterin kamu pulang aja.” Kata Dokter Rudi.
“ Yaudah terserah Dokter aja.” Kata Neta.
***
“ Mas, baju kamu kenapa kok kotor sih?” tanyaku.
“ Nggak papa Cuma kena kopi aja.” Jawabnya.
“ Mas Dokter Rudi kenapa kok kayaknya wajahnya lagi kesal gitu?” Tanyaku.
“ Kayaknya sih dia kesal waktu denger omongan kalian berdua tadi.” Katanya.
“ Jadi Dokter Rudi denger semua omongan aku sama Neta? Termasuk waktu Neta ngatain Dokter Rudi?” tanyaku.
Dokter Alam mengangguk “ Pantes aja Dokter Rudi wajahnya nggak enak banget.” Kataku.
“ Iya gitu lah kalo menurutku kayaknya dia suka sama Neta.” Katanya.
“ Tapi kan Neta udah punya pacar mas.” Kataku.
“ Iya aku juga udah kasih tahu dia kalo si Neta udah punya pacar, terus dia bilang kalo dia nggak suka sama Neta.” Katanya.
“ Yah semoga aja yang Dokter Rudi itu bener ya mas.” Kataku.
“ Iya amin. Oh ya Nay nanti malam yang jaga kamu Alex soalnya besok pagi aku harus kerja.” Katanya.
“ Iya mas nggak papa.” Kataku.
Beberapa menit kemudian Kak Alex datang. Dokter Alam langsung pamit untuk pulang.
__ADS_1