I LOVE YOU BECAUSE ALLAH

I LOVE YOU BECAUSE ALLAH
BAB 30 : Penyakit Nayla


__ADS_3

Aku berjalan menuju kamarku. Aku sangat capek sekali ditambah lagi kepalaku yang pusing. Begitu aku masuk kedalam kamar aku langsung mengganti pakaianku dengan pakaian yang lebih santai.


Aku lirik jam didinding sudah pukul 3 lebih aku putuskan untuk shalat terlebih dahulu. Setelah shalat aku duduk diatas kasur tiba-tiba ponselku berbunyi. Aku lihat nama yang tertera dilayar ponsel Dokter Alam. Aku segera mengangkatnya.


“Assalamualaikum mas,” kataku.


“Walaikumsalam, kamu kemana aja aku jemput dikampus kamu nggak ada terus aku telepon juga nggak kamu angkat?” tanyanya.


“Maaf mas, aku lupa kabari kamu kalo aku tadi pulang duluan soalnya kepalaku sakit,” kataku.


“Sekarang gimana keadaan kamu?” tanyanya.


“Aku baik-baik aja mas,” kataku.


“Yaudah sekarang kamu istirahat aja, besok kamu berangkat kuliah?” tanyanya.


“Berangkat,” kataku.


“Besok aku jemput kamu ya,” katanya.


“Iya,” kataku.


“Yaudah kalo gitu assalamualaikum,” katanya.


“Walaikumsalam,” jawabku langsung menutup sambungan telepon.


Kuletakan ponselku diatas meja. Aku mengambil tasku untuk mengambil obat yang diberikan Dokter Nabila. Aku segera meminumnya. Setelah minum obat tersebut aku putuskan untuk tidur sebentar.


Tok-tok-tok


“Nayla bangun!” terdengar suara Kak Alex yang memanggilku.


Aku segera bangun untuk membukakan pintu.


“Ada apa Kak?”


“Ayo! Makan udah ditungguin bunda,” katanya.


“Iya,” kataku.


Aku tutup pintu kamarku dan berjalan mengikuti Kak Alex menuju meja makan. Bunda sudah duduk disana menunggu kami berdua. Begitu kami duduk kami langsung mengambil makanan masing-masing. Tidak seperti biasanya kali ini aku mengambil makanan hanya sedikit. Aku hanya merasa tidak nafsu untuk makan banyak hari ini. Aku masih memikirkan hasil CT Scan ku besok.


“Dek, tumben kamu makan sedikit?” tanya Kak Alex.


“Iya sayang kamu harus makan yang banyak!” kata Bunda.


“Nggak usah Nayla lagi nggak pingin makan banyak-banyak,” kataku.


“Kenapa diet?” tanya Kak Alex.


“Bukan, lagi nggak nafsu makan aja,” kataku.


“Yaudah terserah kamu tapi nabati kalo kamu laper bilang Bunda biar Bunda masakin,” kata Bunda.


“Iya Bun.” Kataku melanjutkan makan.


“Dek, tadi kamu kemana Alam sampai telepon kakak terus nanyain kamu?” tanyanya.


“Aku habis dari rumah sakit,” kataku.


Semua langsung berhenti makan dan berganti menatapku. “Kamu ngapain dirumah sakit?” tanya Kak Alex.


“Periksalah Kak masak nonton tinju,” kataku.


“Jangan bercanda Nayla,” kata Bunda.


“Iya maaf, Cuma pusing aja,” kataku.


“Terus Dokter Nabila bilang apa?” tanyanya.


“Hasilnya baru keluar besok tapi Dokter Nabila juga udah kasih obat sakit kepala kok jadi aman,” kataku.


“Syukur deh,” kata Kak Alex.


Kami melanjutkan makan lagi. Setelah selesai makan aku langsung kembali menuju kamarku. Aku tahu tasku untuk mengambil obat yang diberikan Dokter Nabila. Aku duduk diatas kasur dan langsung meminum obat tersebut. Setelah meminum obat aku langsung tertidur.

__ADS_1


Aku berjalan menuju mobil Dokter Alam. Begitu aku masuk dia menyambutku dengan senyuman. Aku membalas senyuman itu.


“Kita berangkat sekarang?” tanyanya.


Aku mengangguk dan mobil langsung meninggalkan rumah. Tiba-tiba aku teringat kalo aku belum meminum obat dari Dokter Nabila. Aku segera mengambilnya dari dalam tas.


“Mas, kamu punya air putih nggak?” tanyaku.


“Ada itu dibelakang,” katanya.


“Aku ambil ya?” tanyaku.


“Ambil aja,” katanya.


Aku mengambil botol air minum tersebut. Setelah itu mengambil obat dan langsung meminumnya.


“Kamu minum obat apa Nay?” tanyanya.


“Oh ini Cuma obat sakit kepala aja kok.” Kataku.


“Oh aku kira obat apa.” katanya kembali fokus ke depan.


Beberapa menit kemudian mobil Dokter Alam sudah ada didepan kampus.


“Aku masuk dulu ya mas,” kataku.


“Iya,” katanya.


Aku segera keluar dari mobilnya dan berlari menuju kelas. Didalam kelas sudah ramai dengan para mahasiswa yang baru saja masuk. Aku duduk ditempatku Neta langsung menghampiriku.


“Nay, Lo kok masuk memangnya Lo udah sehat?” tanyanya.


“Tenang aja gue baik-baik aja kok,” kataku.


Tiba-tiba Dokter Willy masuk semua segera duduk ditempatnya masing-masing. Dokter Willy kembali menjelaskan materi didepan. Setelah itu kami diminta untuk mengejar akan soal yang dia berikan.


3 jam berlalu kelas Dokter Willy akhirnya selesai juga. Semua segera mengumpulkan tugas yang diberikan Dokter Willy tadi. Dan langsung berjalan keluar kelas. Aku berjalan beriringan dengan Neta menuju kantin.


Begitu sampai disana kami mencari tempat duduk. Setelah itu kami segera memesan makanan.


Mang Cecep berjalan mendekati meja kami.


“Iya mbak mau pesen apa?” tanyanya.


“Saya mau mie ayam sama es teh,” katanya.


Mang Cecep langsung mencatat pesanan Neta. “Lo mau pesen apa Nay?” tanyanya padaku.


“Gue nasi ayam sama air putih aja,” kataku.


Mang Cecep langsung menulis pesananku.


“Ada lagi mbak?”


“Itu aja Mang,” kata Neta.


Mang Cecep segera pergi untuk membuatkan pesanan kami. Beberapa menit kemudian pesanan kami sudah datang.


“Makasih Mang,” kataku.


“Sama-sama mbak,” katanya langsung pergi.


Aku segera melahap makananku begitu pun dengan Neta. Setalah selesai makan aku ambil obat yang ada didalam tasku. Dan segera meminumnya.


“Lo minum obat apa Nay?” tanya Neta.


“Sakit kepala.” kataku kembali memasukkan obatku dalam tas.


“Oh,” jawabnya.


Tiba-tiba ponselku berbunyi. Aku lihat nama dilayar ponselku Dokter Nabila. Aku segera mengangkatnya.


“Assalamualaikum,” kataku.


“Walaikumsalam,” jawabnya.

__ADS_1


“Ada apa dok?” tanyaku.


“Hasil CT Scan kamu sudah keluar,” katanya.


“Baik dok saya kesana sekarang.” kataku langsung menutup telepon.


Aku mengambil dompetku dan mengeluarkan uang selembar lima puluh ribu.


“Ini Net tolong bayarin gue harus pergi sekarang.” Kataku berdiri.


“Eh Nay tunggu! Lo mau kemana?” tanyanya.


“Gue ada urusan sebentar,” kataku langsung berlari menuju gerbang kampus.


Begitu didepan gerbang aku langsung menghentikan sebuah taksi. Aku segera masuk kedalam dan menyebutkan alamat rumah sakit pelita. Tak lama akhirnya aku sampai didepan rumah sakit tersebut.


Aku segera membayar ongkos taksiku dan masuk kedalam rumah sakit. Aku berjalan menuju ruangan Dokter Nabila dalam hati aku terus berdoa agar hasilnya seperti yang aku harapkan. Aku ketuk pintu ruangan Dokter Nabila dan dia langsung memintaku untuk masuk.


“Silakan duduk!” katanya mempersilahkan aku duduk.


Aku segera duduk. “Giman dok hasilnya?” tanyaku.


Dokter Nabila menyerahkan hasil CT Scan itu padaku. Aku langsung membukanya.


“Disitu dinyatakan kalo kamu mengidap tumor otak,” katanya.


Rasanya seperti disambar petir tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Dokter Nabila. Dia mengatakan bahwa aku terkena tumor otak. Air mataku mulai mengalir.


“Bagaimana bisa dok?” tanyaku.


“Sepertinya ini karena kecelakaan yang kamu alami beberapa bulan lalu, kecelakaan itu mengakibatkan beberapa jaringan diotak kamu rusak,” katanya.


Air mataku terus mengalir. Aku masih tidak percaya dengan yang aku dengar. Rasanya aku sudah tidak punya harapan untuk hidup lagi.


Ya Allah kenapa kau memberi hamba cobaan seberat ini?, batinku.


“Apa saya bisa sembuh dok?” tanyaku.


“Untungnya tumor kamu masih stadium awal masih ada jalan operasi,” katanya.


“Operasi dok?” tanyaku.


“Iya lebih cepat kamu operasi itu lebih baik,” katanya.


Aku berpikir sejenak berusaha menenangkan pikiranku yang sedang kacau balau. Kalo aku operasi itu artinya Bunda dan Kak Alex akan tahu soal penyakitku ini. Aku tidak mau mereka sampai tahu tentang penyakitku ini.


Mereka pasti sangat sedih terlebih lagi kalo Bunda tahu dia pasti syok dan penyakit jantungnya bisa kumat.


Aku tidak aku kalo itu sampai terjadi. Aku menghapus air mataku.


“Nggak dok saya nggak bisa operasi,” kataku.


“Kenapa Nayla kalo kamu tidak segera dioperasi kamu bisa kehilangan nyawa kamu,” katanya.


“Pasti ada cara lain dok, kalo say operasi pasti kakak dan ibu saya akan tahu saya nggak mau mereka sampai tahu soal penyakit saya,” kataku kembali menangis.


“Tapi Nayla-” katanya


“Nggak dok saya nggak bisa,” kataku.


Dokter Nabila menghela nafas. “Baik kalo itu memang keputusan kamu saya akan kasih kamu obat untuk memperlambat perkembangan tumor kamu,” katanya.


“Makasih dok,” kataku menghapus air mataku.


“Tapi saya masih berharap kamu mau dioperasi,” katanya.


“Iya dok, kalo gitu saya permisi,” kataku beranjak pergi.


Aku keluar dari ruangan Dokter Nabila sambil memegang map berisi hasil CT Scan ku. Aku berjalan keluar rumah sakit sambil merayapi nasibku. Kenapa aku jadi seperti ini? Kenapa Allah memberiku cobaan seberat ini? Air mataku terus mengalir.


Aku duduk ditaman rumah sakit. Aku duduk sambil terus menangis memeluk hasil CT Scan ku. Yang aku pikiran sekarang ini adalah Kak Alex dan Bunda bagaimana reaksi mereka kalo sampai tahu aku mengidap penyakit mematikan.


Dan juga Dokter Alam bagaimana jika dia sampai tahu. Bagaimana dengan rencana pernikahan kami? Apa dia mau menerima keadaanku yang sekarang ini? Jika dia mau aku juga tidak tega meliatnya harus menderita harus hidup dengan seorang wanita yang penyakitan seperti aku. Aku yakin aku tidak bisa melakukan itu padanya dia. Dia pantas untuk bahagia bukannya harus mengurus orang yang penyakitan seperti aku ini.


Banyak sekali yang aku pikirkan saat ini. Apa yang harus aku lakukan. Tapi aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Yang bisa aku lakukan saat ini hanyalah menangis meratapi nasibku.

__ADS_1


__ADS_2