
Aku terbangun karena mendengar pintu kamarku terbuka. Aku lihat seorang suster masuk kedalam kamarku. Suster tersebut masuk untuk memberikan sarapan dan obat untukku. Setelah memberikan itu suster tersebut langsung pamit keluar.
Aku melihat sekelilingku tapi aku tidak melihat Kak Alex. Pintu kamarku kembali terbuka Kak Alex muncul dari balik pintu dia langsung duduk disampingku.
“ Nay udah bangun?” tanyanya.
Aku mengangguk sambil menyeruput sup yang diberikan suster tadi.
“ Kakak dari mana?” tanyaku.
“ Tadi habis angkat telepon.” Katanya.
“ Dari siapa?” tanyaku.
“ Kak Sasha dia minta maaf karena dia nggak bisa jenguk kamu soalnya dia lagi banyak kerjaan.” Katanya.
“ Oh nggak papa kok lagian aku juga aku udah sembuh.” Kataku.
“ Nay aku punya kabar gembira.” Katanya.
“ Kabar apa kak?” tanyaku.
“ Kata Dokter Nabila kamu besok udah bisa pulang.” Katanya.
“ Beneran Kak?” tanyaku meletakan sendokku.
“ Iya tinggal nunggu hasil tes kamu aja kalo kamu baik-baik saja habis itu kamu bisa pulang.” Katanya.
“ Alhamdulillah deh kalo gitu aku juga udah bosen disini terus kak.” Kataku.
“ Yaudah cepetan habis in makannya terus minum obatnya.” Katanya.
Aku kembali menantikan makananku tapi aku teringat pada Bunda. Aku belum melihat Bunda dari kemarin.
“ Kak Bunda dimana?” Tanyaku.
“ Dirumah Kakak yang minta biar Bunda dirumah aja.” Katanya.
Aku kembali melanjutkan makanku. Setelah selesai aku langsung meminum obat yang diberikan oleh suster tadi. Tiba-tiba aku merasa mengantuk pasti ini karena pengaruh obat yang aku minum. Aku memutuskan untuk tidur.
Sedangkan Kak Alex dia pamit untuk ke klinik sebentar karena ada yang harus dia urus disana. Begitu Kak Alex pergi aku langsung tidur.
Aku tertidur selama 3 jam setelah itu aku terbangun. Aku duduk menatap seluruh ruanganku. Aku bingung mau melakukan apa. Aku teringat pada ponselku aku mencoba untuk mencarinya dilaci meja.
Ternyata benar ponselku berada disana. Aku segera mengambilnya dan menghidupkan ponselku. Saat ponselku menyala terdapat banyak sekali pemberitahuan panggilan masuk dan juga pesan dari Neta. Ternyata benar yang dia katakan kalo kemarin dia meneleponku.
Aku mencoba mencari kontak Neta.
Drrrt... Drrrt... Drrrt...
Tapi dia tidak mengangkatnya pasti dia masuk dikelas makanya dia tidak mengangkat teleponku. Aku beralih mencari kontak Dokter Alam.
Drrrt... Drrrt... Drrrt....
Tapi dia juga tidak mengangkatnya apa dia masih sibuk? Ya sudahlah mungkin dia memang lagi sibuk makanya nggak bisa angkat telepon dariku. Tidak berapa lama ponselku berdering tertera nama Dokter Alam dilayar ponsel. Aku segera mengangkatnya.
“ Assalamualaikum Nay.” Katanya.
“ Walaikumsalam.” Kataku.
“ Ada apa Nay tadi mas lagi kerja ?” tanyanya.
“ Nggak papa mas aku cuma mau kasih tahu kalo besok aku udah bisa pulang.” Kataku.
__ADS_1
“ Alhamdulillah kalo gitu Nay, tapi memangnya kamu udah bener-bener sembuh?” tanyanya.
“ Kata Dokter Nabila sih tinggal nunggu hasil tes lab aku aja kalo aku baik-baik aja besok langsung bisa pulang.” Kataku.
“ Syukur deh kalo gitu.” Katanya.
“ Oh iya mas aku boleh minta sesuatu nggak sana kamu?” tanyaku.
“ Kamu bilang aja kamu mau apa?” tanyanya.
“ Kamu bisa nggak nanti kalo kesini ajak Hanabi aku pingin ketemu sama dia.” Kataku.
“ Iya nanti aku ajak dia kesana.” Katanya.
“ Makasih ya mas.” Kataku.
“ Iya sama-sama Yaudah Nay aku lanjut kerja dulu.” Katanya.
“ Yaudah sana kerja kumpulin uang yang banyak.” Kataku.
“ Iya assalamualaikum.” Katanya.
“ Walaikumsalam.” Kataku.
Begitu sambungan telepon tertutup aku letakan ponselku diatas meja. Dan kembali memejamkan mataku.
Aku sedang menunggu kedatangan Hanabi. Tadi Dokter Alam meneleponku dia memberitahu kalo dia dan Hanabi sedang perjalanan menuju kemari. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Hanabi. Aku ingin melihat keadaannya apa dia baik-baik saja.
Aku terus melihat kearah jam didinding kenapa mereka lama sekali. Tiba-tiba pintu kamarku terbuka tapi yang masuk bukan Dokter Alam dan Hanabi melainkan seorang suster yang memberikan aku obat. Aku memintanya untuk meletakan obat itu pada meja. Setelah meletakan obatnya suster itu langsung permisi untuk pergi.
Aku mengambil ponselku untuk menghubungi Dokter Alam. Aku ingin menanyakan sudah sampai mana mereka kenapa dari tadi tidak sampai juga.
Drrrt... Drrrt... Drrrt...
“Assalamualaikum Nay.” Katanya.
“ Walaikumsalam mas kamu udah sampai mana lama banget sih?” tanyaku.
“ Bentar lagi sampai Nay ini kita udah diparkiran.” Katanya.
“ Cepetan buruan kesini aku udah nggak sabar mau ketemu Hana.” Kataku.
“ Iya.” Katanya menutup telepon.
Aku letakan ponselku diatas meja. Beberapa menit kemudian pintu kamarku terbuka Dokter Alam muncul kemudian disusul Hanabi yang ada dibelakangnya.
“ Kak Nayla.” Teriaknya langsung menghampiriku.
“ Hana.” Kataku tersenyum senang langsung memeluknya.
“ Hana kangen banget sama kakak.” Katanya.
“ Kakak juga kangen banget sama kamu.” Kataku mengelus rambutnya.
“ Gimana keadaan kamu sayang?” tanyaku.
“ Hana baik-baik aja kak.” Tanyanya.
“ Syukur kalo kamu baik-baik aja.” Kataku.
“ Kak Nayla gimana?” tanyanya.
“ Kamu bisa lihat kan kalo kakak sekarang baik-baik aja.” Kataku.
__ADS_1
Dia mengangguk “ Hana takut banget waktu lihat Kakak kemarin.” Katanya kembali memelukku.
“ Kamu tenang aja kakak nggak papa kok.” Kataku menenangkannya.
Hana melepas pelukannya dan beralih pada Dokter Alam.
“ Kak kok diem aja?” tanyanya.
“ Nggak papa.” Jawabnya.
“ Mas kamu bawa apa?” tanyaku.
“ Ini buah buat kamu tadi Hana bilang kalo kamu suka sama buah apel makanya aku beliin.” Katanya.
“ Hana kok bisa tahu kalo kakak suka buah apel sih?” Tanyaku.
“ Hana waktu itu pernah lihat kakak makan apel.” Katanya.
“ Kapan Hana lihat kakak makan kok kakak nggak inget sih?” tanyaku.
“ Waktu Kak Nayla jemput Hana kakak kan makan didalam taksi.” Katanya.
“ Oh iya maaf kakak nggak inget.” Kataku.
“ Nay aku taruh meja ya?” tanya Dokter Alam.
Aku mengangguk “ Nay kok obat kamu belum kamu minum?” tanyanya.
“ Iya nanti aja mas.” Kataku.
“ Kamu kalo mau cepet sembuh harus minum obat tepat waktu.” Katanya.
“ Nggak papa mas nanti aja.” Kataku yang masih sibuk dengan Hanabi.
“ Nggak bisa Nayla kamu harus minum sekarang.” Katanya.
“ Nanti aja mas aku masih mau main sama Hana.” Kataku yang sibuk memainkan rambut Hanabi.
“ Nanti kamu lanjutin lagi mainnya sekarang kamu minum obatnya dulu.” Katanya menyerahkan obat itu padaku.
Aku menatapnya “ Kenapa kamu malah ngelihatin aku cepetan diminum obatnya.” Katanya menyerahkan segelas air putih.
“ Kamu kenapa cerewet sih mas kayak Dokter aja?” kataku.
“ Nayla kamu lupa ya kalo calon suamimu ini memang Dokter.” Katanya.
“ Calon suami?” tanyaku sambil menahan ketawa karena baru kali ini Dokter Alam mengatakan hal itu.
“ Iya memangnya kenapa aku kan memang calon suami kamu.” Katanya.
“ Nggak papa.” Kataku.
“ Yaudah buruan diminum obatnya.” Katanya.
“ Iya aku minum sekarang .” Kataku langsung menelan obat tersebut.
“ Mana coba aku lihat.” Katanya.
Aku langsung membuka mulutku “ Aaaaa... Udah diminum pak Dokter .” Kataku.
“ Bagus kalo gitu.” Katanya mengambil gelas dari tanganku dan meletakannya diatas meja.
Dan kembali duduk disampingku aku melanjutkan kegiatanku tadi yaitu bermain dengan Hanabi.
__ADS_1