I LOVE YOU BECAUSE ALLAH

I LOVE YOU BECAUSE ALLAH
BAB 32 : Berita Duka


__ADS_3

Aku masih duduk ditaman rumah sakit. Aku merasa enggan untuk pulang ke rumah. Apalagi dengan keadaanku sekarang ini pasti Bunda dan Kak Alex akan mengatakannya. Tiba-tiba ponselku berbunyi. Tertera nama Neta dilayar ponsel.


Aku hapus air mataku dan segera mengangkatnya. “Assalamualaikum, ada apa Net?”


“Walaikumsalam Nay, gawat!” katanya membuatku kaget.


“Gawat kenapa?” tanyaku.


“Dokter Alam Nay,” katanya.


Aku tambah khawatir apa terjadi sesuatu pada Dokter Alam.


“Dokter Alam kenapa Net? Lo jangan bikin gue takut dong,” kataku.


“Ibu Dokter Alam meninggal,” katanya.


“Apa? Lo tahu dari mana? Jangan asal ngomong kemarin gue ketemu sama mamanya dia baik-baik aja, Tolong Net jangan bercanda!” kataku mulai bingung.


“Gue serius Nayla tadi Dokter Rudi bilang sama gue kalo ibunya Dokter Alam meninggal, Ini sekarang gue ada dirumah Dokter Alam,” katanya.


Ya Allah cobaan apa lagi ini? Kenapa engkau memberikan hamba cobaan dua kali berturut-turut?, Kataku dalam hati.


“Halo Nay! Kok diem sih Lo mau kesini nggak?” katanya.


“Gue kesana sekarang,” kataku langsung menutup telepon.


Aku langsung berlari menuju luar rumah sakit. Aku harus segera sampai diruang Dokter Alam. Pasti dia sekarang ini sangat sedih. Apa lagi Hanabi dia pasti juga sedih. Aku menunggu cukup lama tapi tidak juga mendapat taksi.


“Gimana ini kenapa semua taksinya penuh?” tanyaku pada diriku sendiri.


Tak berapa lama akhirnya aku mendapatkan taksi. Aku segera menyebutkan alamat rumah Dokter Alam dan taksi itu langsung melaju. Aku ditaksi sudah tidak bisa menahan air mataku lagi. Aku berusaha menelepon Dokter Alam tapi tidak dijawab.


“Mas, kok nggak kamu angkat sih?” kataku pada diri sendiri.


Aku mencoba mencari nomor ponsel Kak Alex.


“Assalamualaikum Kak,”


“Walaikumsalam dek,”


“Kak sekarang dimana?” tanyaku.


“Kakak ada dirumah Alam, Kamu dimana?” tanyanya.


“Aku lagi dijalan mau kesana kak,” kataku.


“Yaudah buruan kesini Alam pasti butuhin kamu,” katanya.


“Iya kak,” kataku langsung menutup teleponnya.


Aku masukan ponselku kedalam tas. “Pak tolong lebih cepat lagi!” kataku pada supir taksi.


“Baik mbak.” Katanya langsung menancap gas.


Tak lama kemudian aku sampai didepan ruang Dokter Alam. Aku segera turun dari taksi. Aku lihat ada bendara kuning didepan rumahnya. Aku berjalan masuk kedalam rumahnya. Di halaman rumahnya sudah sangat ramai dengan orang-orang yang melayat.


Aku melangkah pelan masuk kedalam rumahnya. Didepan pintu aku bertemu dengan Kak Alex dan teman-temanya yang lain.


“Kamu udah Dateng dek?” tanya Kak Alex.


“Mana Dokter Alam?” tanyaku.


“Ada didalam,” katanya.


Aku kembali berjalan masuk kedalam rumah. Aku melihat Dokter Alam duduk didepan jenazah mama Ratna. Dia menangis sambil memeluk Hanabi. Hatiku merasa sangat sakit melihat laki-laki yang sangat aku cintai menangis seperti itu.


Aku berjalan perlahan mendekati mereka. Hanabi yang menyadari kedatanganku langsung berlari memelukku.


“Kak Nayla,” teriaknya berlari kedalam pelukanku.

__ADS_1


Aku balas memeluknya Dokter Alam melihat kearahku. Aku bisa melihat kedua matanya yang sembab karena menangis.


Aku jongkok didepan Hanabi. “ Sayang jangan nangis,” kataku menghapus air matanya.


“Kak Nayla mama Hana udah pergi, Hana nggak bisa peluk mama Hana lagi,” katanya sambil terus menangis.


Air mataku mengalir aku segera memelukku. “Hana jangan sedih terus biar mama Hana bisa tenang disurga,” kataku menepuk-nepuk pundaknya.


Aku melepas pelukannya dan menggandengnya mendekat pada Dokter Alam. Aku duduk disampingnya aku pandang tubuh mama Ratna yang sudah tidak bernyawa lagi. Walaupun kami hanya bertemu sekali tapi aku merasa sangat sedih kehilangan dia.


“Mas.” Panggilku memegang pundaknya.


Dokter Alam melihat kearahku. “Aku turut berduka cita ya,” kataku.


“Makasih Nay,” jawabnya.


Aku langsung memeluk Dokter Alam. “Kamu Harus kuat mas, ada aku disini.” kataku.


Dia mengangguk dan melepaskan pelukanku. Aku duduk sambil terus memeluk Hanabi. Dia dari tadi tidak mau melepaskan pelukannya dariku.


Jenazah mama Ratna telah selesai dishalatkan. Setalah itu kami langsung berangkat untuk segera memakamkan jenazah mama Ratna. Kami bersama-sama mengantar jenazah mama Ratna menuju peristirahatan terakhirnya.


Sesampainya disana jenazah mama Ratna langsung dikuburkan karena hari sudah mulai sore. Setelah selesai dimakankan kami melakukan doa untuk mama Ratna. Setelah itu satu persatu peziarah pergi meninggalkan akan mama Ratna hanya tinggal aku dan Dokter Alam.


Dokter Alam jongkok sambil memegang nisan mama Ratna.


“Mama yang tenang ya mama nggak usah khawatir Alam akan jaga Hana baik-baik,” katanya.


Air mataku ikut mengalir aku segera menghapusnya. Aku jongkok disamping Dokter Alam.


“Mas, ayo kita pulang udah mau sore,” kataku.


Dokter Alam menurut dan ikut pulang bersamaku. Aku terus menggandeng tangannya agar dia lebih tenang.


Sesampainya dirumah hanya ada beberapa teman-teman Dokter Alam. Setelah mereka pergi aku langsung memintanya untuk istirahat.


Dia mengangguk dan langsung berjalan menuju kamarnya. Kak Alex dan Bunda berjalan mendekatiku.


“Dek, kakak sama Bunda pulang duluan ya, kamu mau ikut pulang nggak?” kata Kak Alex.


“Bun, aku boleh nggak nginep disini? Soalnya aku nggak tega ninggalin Dokter Alam sendiri apalagi dia masih berduka,” kataku.


“Tapi kalian kan belum menikah nggak boleh tinggal serumah,” kata Bunda.


“Sekali ini aja Bun, lagian disini juga ada Bi Suci dan Hanabi.” Kataku.


“Bolehin aja Bun, Cuma buat kali ini aja kasihan Alam dan Hana pasti mereka butuh Nayla,” kata Kak Alex membujuk Bunda.


“Yaudah tapi kamu harus jaga diri jangan berbaur yang aneh-aneh,” kata Bunda.


“Iya Bun, makasih.” kataku memeluk Bunda.


“Kalo gitu kita pulang duluan Dek, Assalamualaikum.” Kata Kak Alex.


“Walaikumsalam,” jawabku.


Bunda dan Kak Alex sudah pergi. Disusul dengan Neta, Dokter Rudi dan beberapa tamu yang lain. Rumah sekarang sudah sepi aku berjalan menuju kamar Hanabi. Aku lihat dia sedang berbaring diatas tempat tidur. Aku berjalan mendekatinya pasti dia sangat kelelahan makanya dia bisa tidur senyenyak ini.


Aku mengecup keningnya dan berjalan keluar. Tiba-tiba aku merasa sakit dikepalaku lagi. Rasanya sakit sekali dan penglihatanku sedikit kabur. Aku berjalan pelan menuju ruang tengah untuk mengambil obatku.


Aku mencari obat yang ada didalam tasku. Lalu aku berjalan lagu menuju dapur untuk mengambil minum. Rasanya kepalaku bertambah sakit. Ditambah lagi dari tadi aku hampir saja jatuh karena penglihatanku yang kabut.


Sesampainya di dapur Bi Suci langsung membantuku. Dia memintaku untuk duduk.


“Non kenapa?” tanyanya.


“Kepala saya pusing, Tolong ambilin saya air putih!” kataku sambil memegang kepalaku.


Bi Suci langsung memberiku segelas air putih dan meminum iabt yang ada ditanganku.

__ADS_1


“Makasih Bi,” kataku.


“Sama-sama non,” katanya.


Bi Suci kembali menyiapkan makanan.


“Bi, itu buat siapa makanannya?” tanyaku.


“Ini buat Den Alam dari tadi dia belum makan non,” katanya.


“Kalo gitu biar saya aja yang bawa ke kamarnya.” Kataku meminta nampan yang dibawanya.


Bi Suci memberikannya kepadaku. Aku berjalan menuju kamar Dokter Alam.


Tok-tok tok


Tak Alma kemudian Dokter Alam muncul dengan matanya yang masih sembab.


“Kamu belum pulang?” tanyanya.


Aku menggeleng. “Boleh aku masuk” tanyaku.


Dia menyingkir dari depan pintu agar aku bisa lewat. Aku letakan nampan berisi makanan itu diatas meja. Aku segera duduk di sofa yang ada disana. Dokter Alam berjalan mendekatiku dia ikut duduk di sebelahku.


“Aku bawa makanan buat kamu, kata Bi Suci dari tadi aku belum makan?” kataku.


“Aku nggak laper Nay, kamu bawa aja makanannya keluar.” Katanya.


“Kamu kenapa mas?” tanyaku.


“Aku nggak papa,” katanya.


“Coba lihat aku!” kataku.


Dia melihat kearahku. “Kamu nggak bisa seperti ini terus kamu harus ikhlasin mama kamu, biar mama kamu juga tenang disana.” kataku mengusap kepalanya.


“Aku cuma belum bisa terima kalo mama ninggalin aku,” katanya kembali mengeluarkan air mata.


Aku langsung memeluknya. “Aku udah bilang sama kamu, kamu hanya perlu ikhlas menerimanya, jangan siksa diri kamu seperti ini mas kasihan Hana dia juga butuh kamu.”


“Iya Nay makasih karena kamu aku bisa bertahan,” katanya.


Air mataku mengalir. Harus bagaimana hamba Ya Allah? Hamba tidak bisa meninggalkan laki-laki yang hamba cintai dalam keadaan seperti ini, Tapi hamba juga tidak bisa membiarkannya hidup dengan perempuan yang penyakitan seperti hamba.


Dokter Alam melepas pelukanku. “Kenapa kamu jadi nangis Nay?” tanyanya.


“Nggak aku nggak nangis, Cuma kelilipan debu aja.” Kataku sambil mengucek-ucek mataku.


“Coba aku lihat.” Katanya sambil menatap mataku.


“Udah nggak papa kok mas, mending kamu makan aja sekarang,” kataku mengambil piring itu dan menyerahkan padanya.


“Aku makan nanti aja Nay,” tolaknya.


“Makan sekarang mas aku nggak mau kalo kamu sampai sakit, Aku suapin aja ya makannya?” kataku.


Dokter Alam melihat kearahku. “ Aaaaa.... Buka mulutnya mas! Satu sendok aja,” kataku mengangkat sendok.


Dokter Alam membuka mulutnya dan aku langsung menyuapinya. “Pinter, ini minum.” Kataku.


Dokter Alam mengambil air yang aku berikan dan meminumnya lalu meletakannya diatas meja.


“Buka mulutnya lagi!” kataku.


“Udah Nay, kamu tadi bilang Cuma satu sendok?” katanya.


“Satu sendok lagi,” kataku.


Dokter Alam kembali membuka mulutnya dan aku langsung menyuapinya. Aku merasa sedikit lega setidaknya ada sedikit makanan yang masuk dalam perutnya.

__ADS_1


__ADS_2