
Saat Dokter Alam pergi meninggalkan kelas aku segera mengejarnya.
“ Dokter tunggu.” Kataku berlari mendekati Dokter Alam.
“ Kamu ngapain lari-lari?” tanyanya.
“ Tunggu bentar dok.” Kataku sambil mengatur nafasku yang capek berlari.
“ Saya mau kasih ini.” Kataku menyerahkan amplop berisi uang yang diberikan Kak Alex tadi malam.
“ Ini apa?” tanyanya menerima amplop tersebut.
“ Itu uang dari Kak Alex katanya buat bayar benerin mobil kemarin.” Jelasku.
“ Kan saya udah bilang nggak usah diganti.” Katanya menyerahkan amplop itu lagi padaku.
“ Tapi ini dari Kak Alex dok tolong diterima.” Kataku memberikan amplop itu lagi.
“ Nggak perlu.” Katanya menyerahkannya lagi padaku.
Aku jadi capek sendiri lihat amplop itu bolak balik dari aku ke Dokter Alam dan begitu terus sebaliknya.
“ Tolong diterima dok kalo nggak nanti saya dimarahin Kak Alex .” kataku.
Dia menatap kearahku “ Tolong dok sekali ini aja bantuin saya.” Kataku.
“ Yaudah kali ini saya terima.” Katanya menerima amplop itu.
“ Makasih dok.” Kataku tersenyum senang.
“ Tolong sampaikan terima kasih saya ke Alex.” Katanya.
“ Siap dok.” Kataku.
“ Kalo gitu saya pergi dulu.” Katanya.
Aku mengangguk dan dia langsung pergi. Tiba-tiba aku teringat dompetku siapa tahu Dokter Alam tahu dimana dompetku.
“ Dokter tunggu.” Teriakku berlari kearahnya.
Dia menoleh “ Ada apa lagi?” tanyanya.
“ Saya mau tanya dok.” Kataku.
“ Tanya apa?” tanyanya.
“ Dokter lihat dompet saya nggak siapa tahu jatuh di mobil Dokter?” kataku.
“ Saya nggak tahu.” Katanya.
“ Kalo Dokter nggak tahu ya sudah maaf mengganggu waktu dokter.” Kataku langsung pergi menuju kantin karena Neta sudah menunggu disana.
Kuedarkan pandanganku ke seluruh kantin mencari sosok Neta. Kulihat dia sedang duduk ditempat paling pojok sedang menikmati makanannya. Aku berjalan mendekatinya dan segera duduk .
“ Lo dari mana sih Nay?” tanyanya.
“ Habis ketemu sama Dokter Alam.” Kataku.
“ Ngapain Lo ketemu Dokter Alam atau jangan-jangan kalian ada hubungan ya?” katanya.
“ Sembarangan kalo ngomong.” Kataku.
“ Habis mau ngapain lagi?” katanya.
“ Gue tuh disuruh Kak Alex kasih uang ke Dokter Alam buat ganti uang perbaikan mobilnya kemarin.” Kataku.
“ Oh cuma itu?” tanyanya tak percaya.
“ Iyalah mau apa lagi.” Kataku.
“ Hem...” katanya.
“ Udah ah gue mau persen makan aja laper tahu.” Kataku memanggil ibu penjual.
Setelah menunggu beberapa menit akhirnya makananku datang . Dan Aku segera menyantapnya sambil sesekali mengobrol dengan Neta.
***
Kuhempaskan tubuhku diatas kasur. Tiba-tiba ponselku berdering. Kulihat layar ponselku hanya nomor tidak dikenal.
“ Siapa sih ini?” Kataku menatap layar ponselku .
Ponselku masih terus berdering “ Angkat nggak ya? Tapi gue nggak kenal orang ini udah ah biarkan aja.” Kataku.
Tak terdengar lagi nada dering ponselku
“ Syukur deh udah mati.” Kataku memejamkan mataku sebentar.
Beberapa saat kemudian ponselku kembali berdering “ Siapa lagi sih?” kataku kesal.
Kulihat layar ponselku masih nomor yang sama.
“ Nih orang siapa sih orang gue nggak kenal telepon mulu.” Kataku .
Akhirnya aku putuskan untuk mengangkat telepon itu.
“ Halo siapa sih ini ganggu tahu nggak ?” kataku marah pada orang yang ada di seberang telepon.
“ Nay, ini saya Dokter Alam.” Kata orang tersebut.
Aku kaget sekali ternyata yang meneleponku Dokter Alam. Kira-kira ngapain Dokter Alam meneleponku? Terus dapet darimana nomorku?
“ Maaf dok tadi saya kira siapa?” kataku.
“ Nggak papa.” Jawabnya.
“ Ada apa dok?” tanyaku.
“ Kamu bilang dompet kamu hilangkan tadi saya dapet telepon dari bengkel yang kemarin katanya dompet kamu jatuh disana.” Katanya.
“ Oh makasih dok biar besok saya ambil disana.” Kataku.
“ Nggak perlu tadi saya udah ambil dompet kamu. Jadi, sekarang dompet kamu ada sama saya.” Katanya.
“ Makasih dok.” Kataku.
“ Iya sama-sama.” Jawabnya.
Sambungan telepon terputus. Akhirnya aku bisa bernafas dengan lega karena dompetku udah ketemu. Untung aja orang bengkel itu baik jadi dompetku bisa balik lagi deh.
***
Hari ini aku tidak ada kelas jadi aku bisa bersantai dirumah. Setelah shalat subuh tadi aku lanjutkan lagi tidurku. Dan aku kembali terbangun pukul 9 pagi. Aku sudah bilang ada bunda kalo hari ini aku tidak ada kelas jadi bunda tidak perlu membangunkan aku.
Setelah mandi aku langsung keluar kamar. Kulihat Kak Alex dan bunda sedang ada didapur sepertinya mereka lagi sibuk memasak. Tapi bukannya dimeja makan udah ada makanan buat apa masak lagi.
Sekedar info aja Kak Alex itu biarpun dia cowok tapi dia pinter banget kalo soal masak. Semua masakannya itu enak banget.
Aku berjalan mendekati mereka “ Pagi semua.” Kataku .
“ Pagi.” Jawab Kak Alex.
“ Lho kak bukannya dimeja udah ada makanan kok masak lagi?” Tanyaku.
“ Iya, soalnya temen-temen kakak pada mau kesini.” Katanya.
__ADS_1
“ Oh.” Kataku.
“ Kamu sendiri mau kemana bukanya hari ini kamu libur?” tanyanya.
“ Aku mau pergi sama Neta.” Kataku.
“ Kemana?” tanyanya.
“ Jalan-jalan.” Kataku.
“ Oh.” Katanya.
“ Kak, aku boleh pinjem mobilnya nggak?” tanyaku.
“ Boleh pakai aja itu kuncinya ada dimeja.” Katanya.
“ Makasih kak.” Kataku memeluknya.
“ Ya udah sana. Hati-hati!” katanya.
“ Iya, aku duluan ya Bun, Kak. Assalamualaikum.” Kataku.
“ Walaikumsalam.” Jawabnya.
Aku menyambar kunci yang ada dimeja. Aku berjalan menuju garasi mobil dan segera masuk kedalam mobilnya. Beberapa saat kemudian mobil sudah meninggalkan rumah. Jalanan hari ini cukup ramai tapi tidak seramai biasanya.
30 menit kemudian aku sudah sampai didepan rumah Neta. Aku segera mengambil ponselku untuk meneleponnya.
“ Halo Net, gue udah didepan rumah Lo nih.” Kataku.
“ Lo udah didepan?” tanyanya.
“ Iya, buruan keluar.” Kataku.
“ Oke.” Katanya.
Beberapa saat kemudian Neta sudah ada didalam mobil.
“ Tumben Lo bawa mobil?” tanyanya.
“ Iya soalnya lagi nggak dipakai Kak Alex.” Kataku dengan pandangan ke depan.
“ Emang Kak Alex nggak kerja?” tanyanya lagi.
“ Nggak katanya hari ini temen-temennya mau ke rumah.” Kataku.
“ Oh.” Katanya mengangguk.
“ Kita mau kemana dulu nih?” tanyaku.
“ Kita cari makan dulu gimana gue belum makan nih.” Katanya memegang perutnya.
“ Oke kita cari restoran deket sini aja.” Kataku.
Setelah lama mencari restoran akhirnya kami menemukannya. Kami langsung keluar dari mobil begitu kami masuk dan duduk seorang pramusaji mendekati meja kami.
“ Selamat pagi.” Sapa pramusaji itu.
“ Pagi.” Kataku.
“ Ada yang bisa saya bantu?” katanya dengan sopan.
“ Saya mau pesen nasi goreng sama minumnya jus jeruk.
Kalo Lo apa Net?” Kataku.
“ Sama aja tapi minumnya air putih aja.” Kataku.
“ Baik saya ulangi pesanannya dua nasi goreng minumnya jus jeruk dan air putih.” Katanya mengulang pesanan kami.
“ Nggak mbak cukup itu aja.” Kataku.
“ Mohon tunggu sebentar.” Katanya langsung pergi.
Beberapa menit kemudian makanan kami datang. Kami langsung menyantapnya. Setelah selesai makan aku segera membayar dan keluar dari restoran tersebut.
“ Sekarang kita mau kemana lagi Net?” tanyaku sambil menyalakan mobil.
“ Kita ke mall aja gimana? gue mau cari baju.” Katanya.
“ Oke.” Kataku.
Kulajukan mobilku menuju sebuah mall. Setelah memarkir mobil kami segera masuk kedalam gedung itu. Kami berjalan mengelilingi gedung tersebut.
“ Mau cari baju dimana Net?” tanyaku.
“ Hem, ke toko itu aja.” Katanya menunjuk sebuah toko baju.
Aku mengangguk dan kami masuk kedalam toko tersebut. Kami mengelilingi toko tersebut tapi sepertinya tidak ada baju yang cocok dengan Neta. Akhirnya kami menuju toko disebelahnya. Tapi Neta belum juga menemukan baju yang dia inginkan.
“ Kita mau kemana lagi Net ?” tanyaku yang mulai kesal.
“ Ditoko sebelah sana Nay.” Katanya.
“ Awas kalo sampai nggak jadi beli lagi gue tinggal.” Kataku.
“ Iya.” Katanya.
Kami masuk kedalam toko tersebut. Setelah lama berkeliling akhirnya Neta menemukan baju yang cocok untuknya. Pilihannya jatuh pada sebuah dress selutut berwarna merah.
Aku bersyukur karena Neta sudah menemukan baju yang dia inginkan soalnya aku udah capek banget dari tadi muter-muter mulu.
“ Udah Nay ayo pulang.” Katanya.
Kami berjalan menuju tempat parkir dan segera meninggalkan mal tersebut. Beberapa menit kemudian kami sampai didepan rumah Neta. Dia segera turun dari mobil.
“ Makasih ya Nay hati-hati.” Katanya.
Aku melambaikan tangan dan segera pergi meninggalkan rumahnya. Kumasukkan mobil digarasi saat aku mau masuk sebuah mobil berhenti didepan rumah. Seseorang turun dari mobil tersebut ternyata Dokter Alam.
Ngapain dia kesini?, Pikirku.
“ Assalamualaikum.” Katanya.
“ Walaikumsalam.” Jawabku.
“ Dokter ngapain disini?” tanyaku.
“ Ini dompet kamu.” Katanya menyerahkan dompetku.
“ Makasih.” Kataku menerima dompetku.
“ Seharusnya dokter nggak perlu kesini besok aja waktu dikampuskan bisa.” Kataku.
“ Nggak papa.” Katanya masih berdiri didepanku.
“ Dokter nungguin siapa kan dompetnya udah saya bawa?” tanyaku.
Tiba-tiba pintu terbuka Kak Alex muncul dibalik pintu.
“ Lam, kapan Lo dateng kenapa nggak masuk?” tanya Kak Alex.
“ Barusan.” Jawabnya.
Aku terkejut ternyata Dokter Alam kesini bukan mau ngembaliin dompetku tapi mau ketemu Kak Alex . Aku jadi malu karena udah kepedean banget.
__ADS_1
“ Udah ayo masuk.” Kata Kak Alex menarik tangan Dokter Alam masuk.
Dia berjalan masuk ketika lewat depanku dia tersenyum. Kututup wajahku dengan dompet soalnya malu banget.
“ Kamu juga ngapain disini ayo masuk.” Kata Kak Alex.
Aku berjalan masuk kedalam. Ternyata didalam sudah ada Kak Juna, Kak Rio, sama Kak Bobby mereka sedang duduk diruang tamu.
“ Hai baru nyampai Lam?” kata Kak Bobby.
“ Iya.” Katanya duduk disamping Kak Rio.
Kak Alex langsung duduk ditempatnya.
“ Hai Nayla dari mana kamu?” tanya Kak Juna
“ Habis pergi sama temen Kak.” Jawabku.
“ Oh habis pergi sama temen.” Katanya
“ Yaudah Kak aku k kamar dulu.” Pamitku.
“ Iya.” Jawab Kak Alex.
Aku langsung berlari ke kamar dan menutup pintunya. Aku bener-bener malu karena tadi udah kepedean banget aku kira Dokter Alam kesini cuma mau ngembaliin dompetku eh ternyata dia kesini mau ketemu Kak Alex .
Tok... Tok.... Tok...
“ Masuk aja.” Kataku.
Kak Alex langsung masuk kedalam “ Ayo dek turun kita makan bareng-bareng.” Katanya.
“ Iya ntar aku turun.” Kataku.
Kak Alex keluar dari kamarku. Aku langsung berdiri untuk berganti pakaian terlebih dahulu sebelum makan. Aku mengganti pakaianku dengan celana panjang dan kaus lengan pendek. Setelah sesekali aku langsung menuju meja makan.
Disana sangat ramai karena temen-temen Kak Alex pada ikut makan. Disana ternyata juga ada Kak Alex dia duduk disebelah Kak Alex. Aku langsung duduk disebelah bunda dan juga sebelah Dokter Alam. Aku tidak ada pilihan lain karena tinggal kursi itu yang kosong.
“ Hai Kak Sasha kapan datang kak?” tanyaku sambil mengambil nasi dan lauk.
Dia menghentikan makannya sejenak
“ Barusan kok.” Katanya.
“ Oh.” Kataku mengangguk sambil menyuapkan nasi kedalam mulutku.
Aku berusaha melahap makananku dengan cepat agar aku bisa segera masuk ke kamar. Tapi aku jadi dimarahi sama bunda.
“ Pelan-pelan kalo makan.” Kata bunda.
“ Iya Bun.” Kataku.
Sekarang aku mengurangi kecepatan makanku. Semua kembali sibuk dengan makanan masing-masing begitu juga denganku. Aku makan dengan perlahan-lahan sambil sesekali menyingkirkan rambutku yang setiap aku menunduk jatuh mengenai makanan.
Dan itu sepertinya mengganggu Kak Alex.
“ Dek, rambutnya diikat aja biar nggak masuk ke makanan.” Katanya.
Aku mengangguk dan berusaha mengikat rambutku dengan tanganku yang masih kotor karena makanan. Tiba-tiba tangan Dokter Alam meraih tanganku.
“ Biar saya bantu.” Katanya.
Aku hanya diam terpaku. Seolah-olah aku tak bisa bergerak sama sekali. Dokter Alam meraih rambutku dan mengikatnya dengan pelan. Setelah selesai dia melanjutkan makannya lagi.
“ Makasih.” Kataku.
Dia hanya mengangguk dan terus melanjutkan makannya. Aku sempat melihat semua orang yang ada dimeja makan memandang ke arah kami. Apalagi Kak Alex dan bunda mereka saling menatap dan kemudian tersenyum.
Setelah selesai makan aku langsung pamit untuk kembali ke kamar. Kututup pintu kamarku lalu menguncinya. Aku duduk dikasur sambil memegangi dadaku yang dari tadi berdetak tak menentu. Terbayang saat Dokter Alam mengikat rambutku membuat jantungku berdebar-debar. Rasanya jantungku mau copot.
***
“ Bun, kamu pulang dulu ya makasih makanannya.” Pamit Kak Juna.
“ Iya, hati-hati kalian.” Kata bunda.
“ Sasha juga pamit Bun.” Kata Kak Sasha.
“ Iya.” Kata bunda.
Mereka semua menyalami bunda satu persatu.
“ Alex anter keluar dulu ya Bun.” Kata Kak Alex.
Bunda mengangguk dan berjalan menuju kamarnya. Kak Alex dan yang lain berjalan keluar rumah.
“ Lex, aku pulang dulu ya.” Pamit Kak Sasha.
“ Nggak mau aku anter aja Sha?” Katanya.
“ Nggak usah aku bisa pulang sendiri.” Kata Kak Sasha.
Kak Sasha langsung pergi meninggalkan rumah. Begitu juga dengan Kak Juna, Kak Rio dan Kak Bobby mereka semua sudah pulang. Tinggal Dokter Alam dan Kak Alex.
“ Lex, gue pamit.” Kata Dokter Alam.
“ Eh tunggu Lam.” Cegah Kak Alex.
“ Kenapa?” tanya Dokter Alam.
“ Ada yang mau gue tanyain ke Lo.” Kata Kak Alex.
“ Tanya apaan?” kata Dokter Alam.
“ Lo suka kan sama adek gue.” Kata Kak Alex.
Dia langsung membelalak kaget “ Nggak sok tahu banget Lo Lex.” Kata Dokter Alam.
“ Udah nggak usah pura-pura deh kelihatan banget kok dari tingkah Lo.” Kata Kak Alex.
“ Masak kelihatan sih Lex?” tanya Dokter Alam.
Kak Alex mengangguk sambil tersenyum Kayaknya Nayla juga suka sama Lo .” kata Kak Alex.
“ Serius Lo Lex?” tanya Dokter Alam.
Kak Alex kembali mengangguk “ Gue dukung kok kalo Lo sama adek gue. Tapi sampai Lo nyakitin adek gue Lo harus berhadapan sama gue.” Kata Kak Alex.
Dokter Alam kembali kaget mendengar perkataan Kak Alex.
“ Udah sana Lo pulang” usir Kak Alex.
“ Lo ngusir gue ?” Kata Dokter Alam.
“ Iya Lo gue usir.” Kata Kak Alex mendorong Dokter Alam masuk kedalam mobilnya.
“ Iya gue pulang.” Kata Dokter Alam.
“ Hati-hati.” Kata Kak Alex.
“ Oke, Kakak ipar.” Kata Dokter Alam tersenyum.
“ Apaan sih Lo Lam.” Kata Kak Alex tertawa.
Mobil Dokter Alam meninggalkan halaman rumah. Kak Alex kembali masuk kedalam rumah.
__ADS_1