I LOVE YOU BECAUSE ALLAH

I LOVE YOU BECAUSE ALLAH
BAB 33 : Pernikahan Diundur


__ADS_3

Aku sedang membantu Bi Suci menyiapkan sarapan untuk Dokter Alma dan Hanabi. Aku berjalan menuju kamar Hanabi untuk membangunkannya.


“Hana, bangun sayang!” kataku.


Dia langsung membuka matanya. “Kak Nayla.”


“Selamat pagi sayang, ayo bangun kita sarapan dulu tapi sebelum itu kamu harus mandi dulu,” kataku.


“Hana bisa mandi sendiri?” tanyaku.


“Bisa kak,” jawabnya.


“Yaudah buruan mandi biar kakak siapin baju buat kamu,” kataku.


Hanabi beranjak dari tempat tidurnya untuk mandi. Aku membuka lemari bajunya dan mengambil baju yang akan dia kenakan. Setelah itu aku merapikan tempat tidurnya. Tak lama Hana keluar dari kamar mandi dengan memakai baju mandinya.


“Kak Nayla mana baju Hana?” tanyanya.


“Ini sayang.” kataku menyerahkan baju itu padanya.


Hanabi menerima baju itu dan segera kembali masuk dalam kamar mandi. Beberapa menit kemudian dia keluar sudah mengenakan baju.


“Hana sini biar kakak sisir rambutnya,” kataku.


Dia berjalan mendekatiku. Setelah selesai mengurus Hanabi aku langsung mengajaknya untuk sarapan. Aku memintanya untuk duduk dan aku langsung mengambilkan makanan untuknya. Dia menyantap makanannya dengan sangat lahap. Aku merasa senang melihatnya seperti itu.


Tak lama Dokter Alam turun dari kamarnya. Dia berjalan menuju meja makan. Dia tampak terkejut melihat aku ada dirumahnya. Soalnya Dokter Alam tidak tahu kalo aku sebenarnya menginap dirumahnya.


Semalam setelah dia selesai makan aku memintanya untuk tidur. Aku keluar kamarnya langsung menuju dapur untuk meletakan piring kotornya. Akhirnya Dokter Alma semalam menghabiskan semua makanannya.


Dia duduk disebelah Hanabi.


“Kamu dateng kapan ?” tanyanya.


“Aku kan nginep disini,” kataku.


“Kamu semalam tidur disini?” tanyanya.


Aku mengambilkan makan untuk Dokter Alam. “Iya.”


“Kok semalam kamu nggak bilang ke aku sih?” tanyanya.


Aku meletakan piring itu didepanya. “ Makan dulu.”


“Nayla,” kataku.


Aku kembali duduk ditempatku sambil mengambil makanan. “Udah makan aja mas!” kataku mulai menyantap makananku.


Selesai makan aku segera mengambil obatku. Aku menuang air putih sedikit kedalam gelasku. Lalu aku langsung meminum obatku. Dan tanpa aku sadari Dokter Alam dari tadi memperhatikanku.


“Kamu minum obat apa ?” tanyanya.


“Cuma sakit kepala aja kok mas,” kataku.


“Tapi kok banyak banget? Mana coba aku lihat obatnya!” kata Dokter Alam.

__ADS_1


Aku segera memasukkannya kedalam tasku. Aku tidak mau kalo Dokter Alam tahu obat yang aku minum tadi.


“Nay, boleh nggak kalo pernikahan kita diundur?” tanyanya.


“Boleh,” jawabku.


“Tumben kamu langsung mengiyakan biasanya kamu nolak,” katanya.


“Yah ini kan keadaannya berbeda kamu baru aja kehilangan mama kamu, masak aku masih mau maksa kamu buat cepet-cepet nikahin aku.” Kataku menyendokkan makanan kemulutku.


“Makasih ya Nay kamu udah ngertiin aku,” katanya.


“Iya sama-sama mas,” kataku.


Sebenarnya selain itu ada alasan lain kenapa aku setuju kalo pernikahan kami diundur. Aku sebenarnya ingin mengukur waktu pernikahan kami agar aku bisa mencari cara agar tidak ada yang tahu soal penyakitku.


Aku tidak mau kalo Dokter Alam tahu soal penyakitku dia tidak akan meninggalkanku dan itu artinya aku akan membuatnya menderita seumur hidupnya karena harus mengurusku. Dan aku tidak mau membuat laki-laki yang aku cintai menderita gara-gara aku.


Selesai makan Dokter Alam langsung mengantarku pulang ke rumah. Sesampainya didepan rumah aku langsung turun dari mobilnya.


“Mas, aku masuk duluan ya kami hati-hati dijalan jangan luak kamu harus makan.” kataku mengingatkannya.


“Iya calon Istriku.” katanya mengacak-acak rambutku.


Dalam hatiku aku merasa senang ketika Dokter Alam memanggilku seperti itu. Tapi disatu sisi aku sedih teringat akan penyakitku. Apa aku masih bisa mendengarnya lagi memanggilku seperti itu?


“Mas, berantakan.” Kataku merapikan rambutku.


“Maaf sini aku rapiin” katanya.


Dokter Alam merapikan rambutku yang berantakan karenanya. Namun tiba-tiba dia berhenti merapikan rambutku tapi malah menatapku.


“Masak sih?” tanyaku tak percaya.


Aku pegang rambutku dan benar yang dikatakan oleh Dokter Alam. Padahal aku memegang rambutku pelan namun rambut yang ada ditanganku lumayan banyak. Aku berpikir apa ini karena penyakitku makanya rambutku jadi rontok begini? Aku menatap Dokter Alam yang juga sedang menatapku menunggu jawaban dariku.


“Ini pasti gara-gara salah sampo deh,” kataku.


“Kok bisa?” tanyanya.


“Iya soalnya sompok habis terus aku minta sama kak Alex deh eh nggak tahunya malah rontok kayak gini,” kataku.


“Oh,” katanya.


“Yaudah aku masuk sekarang ya?” pamitku.


“Iya,” katanya.


Aku berjalan masuk menuju rumahku. Aku tidak melihat siap pun. Saat aku akan naik ke kamar aku bertemu dengan Kak Alex.


“Kamu udah pulang dek?” tanyanya.


“Iya kak,” kataku.


“Gimana keadaan Alam?” tanyanya.

__ADS_1


“Baik-bauk aja kok,” kataku.


“Alhamdulillah kalo kayak gitu,” katanya.


“Bunda mana kak?” tanyaku yang dari tadi tidak melihat Bunda.


“Lagi keluar bentar katanya” katanya.


“Kalo kakak mau kemana kok rapi banget?” tanyaku.


“Biasa mau ketemu Sasha.” Katanya sambil tersenyum.


“Yaudah kak, aku ke kamar dulu ya mau tidur lagi soalnya aku capek banget,” kataku.


“Yaudah sana naik!” katanya.


Aku berlari menaiki tangga menuju kamarku. Aku segera masuk dan mengunci pintunya. Aku duduk didepan cermin memandangi wajahku. Kupegang rambutku perlahan kenapa rambutku sekarang jadi rontok? Aku raih sisir yang ada didepanku. Kusisir rambutku dengan perlahan saat aku melihatinya ternyata banyak sekali rambutku yang ada disana. Aku terus menyisir rambutku dan semakin banyak pula rambut yang menempel pada sisir tersebut.


Air mataku mengalir ke apa aku jadi seperti ini? Kalo rambutku rontok terus seperti ini bisa-bisa rambutku habis. Aku terus menangis memandangi rambutku yang rontok. Tiba-tiba terdengar suara ketukan.


Tok-tok-tok


“Nayla,” terdengar suara Bunda.


“Iya Bun.” Kataku menghapus air mataku.


Aku beranjak dari tempat dudukku dan segera membukakan pintu.


“Ada apa Bun?” tanyaku.


“Kamu habis nangis kok mata kamu merah gitu?” tanyanya.


“Nggak siapa juga yang nangis,” kataku.


“Tapi mata kamu merah banget,” katanya.


“Ini Cuma kelilipan debu aja Bun,” kataku.


“Beneran?” tanyanya.


“Iya,” kataku.


“Kamu nggak bohongin Bunda kan? tanyanya.


“Nggak Bun, ada apa Bunda nyariin Nay?” tanyaku mencoba mengalihkan pembicaraan.


“Bunda mau suruh kamu makan, kamu udah makan belum?’ tanyanya.


“Udah kok Bun, tadi sarapan dirumah Dokter Alam,” kataku.


“Oh ya sudah kalo gitu,” katanya.


“Kalo gitu Nay masuk lagi ya Bun? Soalnya Nay ngantuk banget pingin tidur,” kataku.


“Iya, kalo gitu Bunda ke bawah ya?” katanya.

__ADS_1


Aku mengangguk begitu Bunda sudah pergi aku kembali masuk kedalam dan mengunci pintunya. Aku hempasan tubuhku ke tempat tidur. Aku pejamkan mataku aku sangat capek sekali memikirkan tentang penyakitku.


Bagaimana kalo suatu saat aku ketahuan pasti semua akan sedih . Aku tidak mau membuat orang-orang yang aku sayang sedih.


__ADS_2